
Taman milik Mira, inilah yang di tuju Aslen dan Lisa saat ini. Aslen akan menemui Tio di sini, karena mereka ada pekerjaan.
"Kenapa kesini? ini taman milik teman ku," ucap Susi kurang suka karena berada di taman milik Mira.
"Aku mau bertemu teman di sini," kata Aslen. Itu dia orangnya," Lanjutnya.
Aslen kemudian berjalan ke tempat di mana Tio berada, sedangkan Lisa mengikuti dari belakang. Tio saat ini duduk di sebuah gasebo yang ada di taman itu.
"Tio, kamu sudah lama menunggu? maaf aku terlambat," ucap Aslen.
"Aku juga baru datang, silahkan duduk," ucap Tio dengan ramah.
Aslen meminta maaf lagi, karena membawa Lisa ke tempat itu. Tio tidak mempermasalahkan keberadaan Lisa, yang penting pekerjaan bisa dia bahas saat ini juga.
"Proyek kita akan berjalan selama tiga bulan, kalau kinerja kamu bagus bisa mengajukan kontrak lagi. Nanti akan ada pemberitahuan dari kantor," jelas Tio.
"Baik, aku mengerti. Aku harus memulai dari mana?" tanya Aslen yang belum mengerti.
"Besok kita bahas di kantor, sekarang kita bahas strategi pemasaran dulu," kata Tio.
"Papah!" teriak Alya yang baru saja datang bersama Susi.
Tio menepuk jidatnya, sedangkan Aslen menghentikan ucapannya. Alya dan Susi semakin dekat dengannya, Tio tidak tau kalau anak dan istrinya akan ke taman.
"Kalian ngapain ke sini?" tanya Tio.
"Justru Mamah yang harus tanya, ngapain Papah ada di sini lagi?" ucap Susi.
"Kita ada pekerjaan," jawab Tio.
Tio memperkenalkan Aslen pada anak dan istrinya, agar tidak terjadi kesalahpahaman. Kadang Susi yang sering menduga-duga, padahal dugaannya tidak benar.
"Om, kalau ketemu Alya di jalan sapa aja ya? soalnya Alya sering lupa," kata Alya.
"Tentu saja gadis cantik," ucap Aslen sembari tersenyum.
"Alya, gak boleh gitu," kata Tio.
"Masih kecil saja sok kegenitan," sahut Susi tidak suka Aslen berbicara dengan Alya.
Susi melihat Lisa yang duduk di sebelah Aslen, dia sibuk dengan ponsel yang ada di tangannya. Lisa kemudian mengatakan kalau dia datang dengan Aslen, agar Susi tidak marah.
Susi kemudian berpamitan hendak menemui Mira, karena sudah dari tadi Mira menunggu. Dia juga tidak marah saat melihat Lisa, karena ada Aslen.
*
*
Clara datang ke rumah Aldo, dia ingin menginap untuk beberapa hari ke depan. Karena di rumah hanya sendiri , Aldo saat ini masih berada di kantor. Kalau tau Mamahnya datang pasti akan pulang, Aldo kebetulan saat ini juga sibuk dengan pekerjaan.
Di rumah Aldo, Clara saat ini sedang membersihkan rumah sambil ngomel-ngomel karena rumah Aldo yang kotor. Maklum Aldo hanya tinggal sendiri dan seorang laki-laki, jadi keadaan rumah seperti kapal pecah sudah biasa.
Malam hari Clara datang ke rumah Mira, seperti biasa dia selalu membawakan oleh-oleh untuk Mira setiap datang ke rumah Aldo. Kemudian Clara mengajak Lian untuk berbincang-bincang masalah bisnis, setelah Aldo kelihatan datang Clara baru pulang.
"Aldo, kenapa kamu baru pulang? mana Sandra," ucap Clara.
"Sandra tidak mau ikut ke sini, Mah. Dia menginap di hotel," kata Aldo.
"Do, Mamah mau tinggal di sini untuk beberapa hari. Boleh kan?" ucap Clara.
Aldo dengan senang hati memperbolehkan Mamahnya tinggal di rumahnya, karena dia bisa bebas tidak pulang lagi.
"Sebaiknya Mamah menetap di sini saja, dari pada tinggal sendiri," kata Aldo.
Maksud Aldo sebenarnya baik, dia melarang Mamahnya untuk pulang. Ia bisa dengan leluasa mengawasi Mamahnya, mengingat usia Clara yang sudah tidak muda lagi.
*
*
Pagi ini Raka sudah siap untuk pergi kesekolah, kali ini Alya juga sudah siap.
"Tumben kamu sudah siap, Al?" tanya Raka.
Mereka kemudian berangkat ke sekolah, sampai di sekolah Alya mengajak Raka untuk pergi ke kantin lebih dulu karena dia tadi tidak sarapan.
"Aku ada tugas yang belum selesai," tolak Raka.
Alya memang sengaja tidak sarapan, karena sudah siang itulah alasan ketika Susi yang bertanya.
Hilda dan Vila saat ini berada di kantin, saat tau Alya datang mereka sangat senang. Hilda juga berencana menceritakan semua soal Alya yang menghilang pada waktu mereka camping.
"Kenapa kamu bahas masalah itu lagi? aku sudah memaafkan siapa pun orangnya," ucap Alya.
"Lagian dia gak mau ngaku, padahal udah jelas. Kita juga gak bakal asal ngomong," sahut Vila.
"Udah deh! kalian gak boleh gitu," ucap Alya.
"Alya terlalu baik, orang jahat selalu di bela sama dia," ucap Hilda menimpali.
Alya memang tidak mau membahas yang sudah terjadi, dia sudah berkali-kali mengatakan hal itu.
Bel masuk kelas sudah berbunyi, itu tandanya waktu istirahat mereka sudah habis dan semua siswa berbondong-bondong masuk ke dalam kelas.
Ibu guru kali ini memberikan tugas belajar kelompok, dan setiap kelompok ada lima orang. Mereka akan di tugaskan mencari bunga yang tumbuh di hutan, rencananya besok kegiatan itu dilaksanakan.
"Raka, aku ikut kelompok kamu ya," ucap Alya mendatangi Raka yang duduk di mejanya.
"Gak! cewek harus sama cewek," kata Raka sebenarnya diperbolehkan tapi kali ini Raka ikut kelompok teman yang cowok.
"Aku ikut melisa ajalah," kata Alya.
"Terserah! aku gak tanya," ucap Raka.
Karena kesal dengan ucapan Raka, Alya melemparkan gulungan kertas tepat mengenai tangan Raka.
"Gak usah kaya anak kecil, cepat kembali ke tempat duduk mu," kata Raka.
Alya kemudian meninggalkan Raka dengan wajah di tekuk, dia lalu duduk di sebelah Melisa lagi. Hilda dan Vila ikut kelompok lain, tinggal Dania yang belum mendapatkan kelompok. Terpaksa dia ikut di kelompok Alya lagi, karena jumlah siswa tidak cukup di bagi lima jadi mereka hanya bertiga.
Pulang sekolah Dania mengajak Alya dan Melisa pergi ke rumahnya, dia ingin memperkenalkan pada orang tuanya. Alya dan Melisa pun mau pulang bareng ke rumah Dania.
"Raka, tolong bilang Mamah aku mau ke rumah Dania," kata Alya.
"Iya, entar aku bilang! ada lagi gak," kata Raka.
Tangan Alya memukul Raka, dan membuat Raka marah. Raka kemudian meninggalkan Alya yang kebetulan bersama Melisa dan Dania.
Di rumah Dania mereka berdua tampak kagum, rumah Dania sangat besar.
"Rumah mu bagus juga, Dania," kata Melisa.
"Ini rumah Nenek aku," ucap Dania yang ternyata membawa mereka ke rumah Ane.
"Kalian ini anak kampung ya? baru tau ada rumah gede gini," sahut Ane.
"Biasa aja, Nek! Rumah Kakek Raka lebih gede lagi," sahut Alya.
Ane menatap tajam Alya, dia seperti pernah melihat anak itu. Dalam hatinya bertanya-tanya, kemudian ia hendak bertanya tetapi telepon genggamnya berdering. Panggilan dari Lisa membuatnya mengurungkan niat untuk bertanya tentang Alya.
Dania lalu mengajak temannya masuk ke dalam kamar, mereka mulai membahas soal yang akan dikerjakan besok.
*
Sampai di rumah Raka langsung ke rumah Susi, dia memberitahu kalau Alya sedang bermain di tempat temannya.
"Teman siapa, Raka? kok kamu gak ikut," ucap Susi.
"Dania yang dulu pernah ke sini, Tante," kata Raka.
"Awas saja nanti sampai rumah, sudah berani main ke rumah temannya lagi," kata Susi.
Susi memang tidak suka kalau Alya sering keluar rumah, apalagi dengan orang yang tidak dikenalnya.