Raka & Alya

Raka & Alya
Bab 54 TAMAT



Raka hari ini berangkat keluar negeri, karena keberangkatannya diajukan oleh Lian. Alya yang berada dibawah kolong meja milik Mira, tiba-tiba keluar dan memeluk Raka.


"Apaan kamu, Alya! main peluk aja," protes Raka.


"Raka, jangan lama-lama ya! aku kesepian disini pasti dimarahin Mamah terus," ucap Alya mengerucutkan bibir.


"Paling lama lima tahun, kalau gak kerja di sana," ujar Raka.


Lian memberitahu kalau pesawatnya satu jam lagi berangkat, mereka kemudian mengantarkan Raka ke bandara. Alya juga tidak mau kalah, didalam mobil ia duduk disebelah Raka.


"Om, Alya boleh nyusul Raka gak kapan-kapan kalau punya uang?" tanya Alya dengan wajah mengiba.


"Tentu saja boleh! kamu berani berangkat sendiri?" ucap Lian.


Sepertinya salah memberikan pertanyaan pada Alya, karena dia anak yang nekad pasti berani. Sekarang dia juga berencana hendak kuliah mengambil jurusan bahasa asing, agar lancar saat pergi ke luar negeri.


"Sayang, kehidupan diluar negeri tidak sama seperti disini jadi jangan pergi sendiri ya? memangnya gak takut kalau dibawa orang tidak dikenal dan gak bisa balik lagi," ucap Mira.


"Biarin aja Mah, dibilangin juga bandel," ucap Raka.


Akhirnya mereka sampai juga di bandara, Alya memeluk Raka lagi. Raka bukannya senang, tetapi malah menyuruh Alya untuk melepaskan.


"Malu dilihat banyak orang, Al! kaya kita gak akan pernah ketemu aja," ucap Raka.


"Raka! kamu ngeselin bukannya sedih mau berpisah malah marah-marah," kata Alya melepas pelukannya.


Raka kemudian berpamitan pada Alya dan kedua orang tuanya, karena pesawat sebentar lagi akan segera berangkat. Alya menangis, sebenarnya tidak ingin Raka sampai pergi. Mira dan Lian lalu menenangkan Alya, mereka mengajak makan ke mall agar lupa dengan Raka tetapi raut wajah Alya tidak bisa membohongi kalau dia sedang sedih.


Sampai di rumah Alya tidak mau pulang ke rumah Susi, dia memilih tinggal bersama Mira dan Lian. Susi dan Tio sebenarnya tidak enak dengan Mira, tetapi mau gimana lagi karena Alya begitu keras kepala.


Keadaan Alya tidak juga membaik, dia sampai tidak mau makan karena Raka pergi. Mira dan Susi terus menyemangati Alya agar mau kuliah dan bersemangat menjalani kehidupan tanpa Raka.


Lian dan Mira juga memutuskan untuk pindah rumah, jadi Alya semakin merasa kesepian. Tetapi mereka melakukan semua demi kebaikan Alya.


"Mamah Mira, kenapa juga tega meninggalkan Alya," protes Alya merasa kehilangan orang yang dia sayangi.


"Sayang, Mamah ikut kerja Om! lagian Raka juga ada di luar negeri, masa Mamah gak nemenin Om," kata Mira.


Sebenarnya Mira pindah agar Alya tidak menanyakan soal Raka lagi, mungkin dengan cara ini Alya tidak akan lagi merengek minta diantar keluar negeri.


"Mamah, Om, jangan pernah lupain kita ya," ucap Alya dengan raut wajah sedihnya.


"Tenang, Alya! begitu Raka pulang kita langsung datang kesini," kata Lian.


Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Kini Alya sudah bisa menerima kenyataan itu, orang terdekatnya tak selamanya akan selalu ada untuk dirinya. Alya sudah ikhlas, Raka pergi demi menggapai cita-citanya.


Alya meneruskan kuliah di universitas yang sama dengan Dania dan Melisa, sampai sekarang mereka masih berteman dengan baik.


"Alya, nanti pulang kerja langsung pulang ke rumah ya," ucap Susi.


"Ada apa, Mah? biasanya Alya juga langsung pulang ke rumah," kata Alya kemudian berangkat untuk kuliah. Kini Alya sudah bisa mandiri, dia kuliah sambil berkerja di sebuah mall. Padahal Tio sudah melarang Alya untuk tidak berkerja, agar fokus dengan kuliahnya.


Selesai kuliah rencananya Alya hendak berkerja di kantor Papahnya, tetapi Susi tidak setuju takut Alya seenaknya.


***


Empat tahun telah berlalu.


"Sayang, kami harus tersenyum! bagaimana nanti kalau calon suamimu melihat kamu murung," ucap Susi dengan lembut.


"Mah, kenapa Papah tega menjodohkan Alya dengan orang yang belum Alya kenal. Kalau Alya tidak bisa mencintai dan menerimanya, hanya akan menimbulkan perceraian," ucap Alya.


Hari ini adalah hari paling membahagiakan untuk keluarga Tio, yaitu acara perjodohan Alya. Tetapi tidak buat Alya, dia merasa sangat sedih karena tidak tau siapa jodohnya.


"Terimakasih, Om! sudah menyempatkan diri datang ke acara gak jelas ini," kata Alya mengerucutkan bibirnya.


Aldo menepuk pundak Alya, lalu tersenyum dan berpamitan pulang ke rumah.


"Mah, boleh Alya meminta satu persyaratan?" tanya Alya penuh harap.


"Jangan aneh-aneh, ayo cepat siap-siap! sebentar lagi calon suami kamu datang," ucap Susi.


"Kenapa tidak mengundang Raka, Mamah Mira, Om Lian? kan mereka sudah seperti keluarga kita sendiri, Mah," ucap Alya.


"Mereka tidak bisa di hubungi," kata Susi.


Hati Alya sangat kecewa, karena di hari kebahagiannya orang yang sudah dia anggap seperti keluarga tidak bisa hadir.


Tio kemudian memanggil Alya, dia mengatakan kalau calon suaminya sudah datang. Alya sangat takut, menerima calon suaminya ini.


"Alya, kamu jangan keluar kamar ya! tunggu Mamah panggil kamu.


Alya hanya bisa menganggukkan kepalanya, dia berfikir hendak kabur tetapi tidak tega dengan orangtuanya karena sama saja mempermalukan. Alya pasrah dengan keputusan orangtuanya saat ini.


Dari luar kamar sepertinya calon suaminya sudah datang, Alya hanya bisa mendengarkan percakapan orangtuanya dari dalam kamar.


Tak lama kemudian Susi memanggil Alya, agar mau menemui calon suaminya.


"Mah, Alya gak siap," ucap Alya.


"Sayang, percayalah sama Mamah! kamu pasti akan hidup bahagia dengan laki-laki pilihan Mamah.


Susi mengajak Alya menemui calon suaminya, tetapi Alya lihat adalah Raka dan keluarganya.


"Raka!" ucap Alya kaget. Raka sangat berbeda sekarang, dia tumbuh menjadi laki-laki yang sangat tampan dan terlihat dingin.


"Iya, aku Raka," ucap Raka.


"Aku kira Mamah gak undang kamu! tau gak kalau aku mau dijodohin," ucap Alya.


Raka hanya tersenyum, mendengar ucapan Alya. Alya lalu memeluk Mira dan Lian secara bergantian. Mereka kemudian mengobrol, sampai membuat Lian belum ada kesempatan untuk mengungkapkan maksud kedatangannya.


Dalam hati Alya sangat bersyukur karena calon suaminya tidak datang, dia lalu duduk disebelah Raka.


"Alya, sebenarnya kita datang ke sini untuk menepati janji Om dulu! waktu mengatakan kalau Raka pulang kita mau kesini," ucap Lian.


"Iya, Om! terimakasih Om, Tante, dan Raka sudah menyempatkan untuk datang ke acara perjodohan Alya dengan gak tau siapa," ucap Alya.


Mereka semua menahan tawanya, karena Alya belum paham. Setelah Mira memberitahu Alya, dia malah kaget seakan tidak percaya.


Alya lalu menarik Raka ke dalam, dia bertanya kepada Raka apakah benar perjodohan ini. Raka mengiyakan ucapan Alya, dia juga tidak menolak apa yang sudah menjadi keputusan orang tuanya.


"Kalian mau kan kita jodohkan?" tanya Lian kepada Alya dan Raka.


"Iya, Om." jawab Alya melirik Raka yang hanya diam tanpa ekspresi.


Raka kemudian memberikan cincin untuk Alya, mereka juga sudah menentukan hari pernikahan mereka.


Alya langsung memeluk Raka, dia tidak menyangka calon suaminya adalah orang yang ternyata sudah dia kenal.


"Alya! belum sah!" teriak Mira dan Susi secara bersamaan sedang Lian dan Tio menutup telinga mereka.


...SELESAI...