
"Dari dulu kamu tidak berubah, masih saja pantas menjadi orang miskin," kata Ane sembari melihat Mira dari atas sampai bawah.
"Sama seperti Tante, dari dulu selalu nyinyir sama Mira," ucap Susi dengan ketus.
"Ayo kita lanjut jalan, yang ada kita nanti malah ribut," sahut Mira mengajak Susi melanjutkan jalan kakinya.
"Kurang ajar kalian! ada orang tua ngomong tidak didengarkan," kata Ane sembari melotot ke arah Mira dan Susi.
Mira dan Susi tidak menghiraukan ucapan Ane lagi, mereka mempercepat jalan kakinya menuju ke swalayan. Sedangkan Ane memberhentikan mobilnya tepat di depan rumah Aldo, dia ingin mencari tau apakah Aldo masih sendiri atau sudah berkeluarga. Karena keadaan sekitar rumah Aldo sepi, ia kembali ke rumahnya.
Pulang dari swalayan Susi mendapatkan kabar kalau Leny adiknya sakit dan di bawa ke rumah sakit, Susi sangat panik. Dia langsung mengajak Mira untuk segera ke kampung.
"Mira, kamu temani aku. Kita harus cepat ke kampung sekarang juga," ucapnya saat berada di rumah Mira.
"Kamu tenang dulu! coba ceritakan apa yang terjadi di kampung," kata Mira dengan pelan.
"Leny... Mira," ucapnya dengan pelan lalu duduk bersimpuh di lantai.
"Leny kenapa? kamu tenang dulu," kata Mira menenangkan.
Susi kemudian menangis tersedu-sedu, ia teringat kebersamaannya dengan adiknya. Mira heran karena Susi tidak menjelaskan dengan jelas apa yang sebenarnya terjadi, Mira kemudian mengambil ponsel Susi yang tergeletak di lantai. Ternyata ada sebuah pesan yang mengatakan Leny sedang sakit, Mira kemudian bersiap-siap dan memberitahu suaminya dan Tio.
Lian dan Tio meminta mereka menunggu di rumah, karena mereka berdua akan segera pulang dari kantor. Mereka semua sangat panik, sehingga begitu sampai di rumah langsung bergegas ke kampung.
Di tengah perjalanan mereka baru ingat kalau anak mereka masih sekolah, mereka lupa tidak berpamitan lebih dahulu.
"Sayang, kamu sudah pamit sama Raka dan Alya?" tanya Lian sembari melajukan kendaraannya.
"Mamah sampai lupa sama mereka, gimana ini," ucap Mira kebingungan karena untuk putar balik sudah tidak memungkinkan lagi.
"Alya masih sakit lagi, kenapa tidak bilang kalian?" sahut Tio yang duduk di sebelah Lian.
Lian mempunyai ide, dia menghubungi orang kantor untuk memberitahu pada Raka dan Alya kalau mereka pergi ke kampung.
Susi masih menangis, dia takut adiknya sakit parah. Karena sudah lama mereka tidak bertemu juga, dia juga menyesal karena jarang mengunjungi adiknya. Padahal Tio dan Alya sering mengajaknya untuk ke kampung, tetapi Susi selalu beralasan kalau uangnya belum banyak.
*
*
"Raka, aku pulang bareng kamu ya," ucap Alya yang berjalan di belakang Raka.
"Hanif gimana? kan tadi kita tidak bareng," kata Raka.
"Kebetulan Mamah ku sudah menunggu di depan," sahut Hanif. Kalian pulang dulu saja, aku ada perlu dengan kepala sekolah," Lanjutnya.
Raka kemudian pulang dulu bareng dengan Alya, dengan mengendarai motor Raka.
"Al, kamu bisa naik tidak?" tanya Raka sudah siap melajukan motornya tinggal menunggu Alya naik ke atas motor.
"Bisa kok! ayo kita jalan," kata Alya yang sudah duduk di belakang Raka.
Raka mengendarai motornya dengan cepat, karena dia ingin segera sampai di rumah. Raka sangat lelah hari ini, tadi di sekolah habis bermain basket bersama teman-temannya.
Setelah sampai di rumah mereka bingung karena Mamahnya tidak ada di rumah, untung saja Raka membawa kunci cadangan.
"Berisik! ngapain teriak-teriak kaya lihat hantu saja," kata Raka dengan kesal.
"Mamah tidak ada di rumah, kemana ya," ucap Alya dengan wajah sedihnya.
Raka menghubungi Mamahnya dengan telepon rumah, tetapi tidak ada jawaban. Kemudian ia memenangkan Alya lebih dulu, agar tidak berisik
Tak lama kemudian ada orang kantor datang, ia memberitahukan pesan Lian tadi pada Raka
"Apa? Mamah sama Papah pergi ke kampung, aku tidak di ajak," ucapnya dengan wajah kesal.
"Jangan pura-pura nangis, aku aja yang repot ngurusin kamu entar," ucap Raka.
"Aku takut tidur di rumah sendiri," kata Alya sembari mengerucutkan bibirnya.
Raka meminta agar Alya saja yang tidur di rumahnya, kebetulan ada kamar kosong. Kalau di rumah Alya ia tidak mau, karena tidak terbiasa. Mereka kemudian pergi ke ruang makan, ternyata Mira belum memasak apapun terpaksa mereka harus memasak sendiri.
"Alya, kamu bisa masak tidak?" tanya Raka sembari memotong sayur.
"Buat mie aku bisa," jawab Alya sembari nyengir kuda.
Raka dengan kesal melemparkan batang sayur pada Alya, membuat Alya kesal.
"Besok aku bilang Mamah Mira," ucapnya sembari mengelap bekas lemparan sayur yang mengenai mukanya.
Raka hanya bisa menggoreng telur yang di campur dengan sayur, kebetulan Alya tidak suka dengan telur.
"Raka, kenapa kita tidak makan di cafe Papah Lian aja. Masa iya kita masak sendiri," ucap Alya sembari mengaduk nasi di piring yang tanpa lauk.
"Yang masak bukan Mamah, aku gak mau," kata Raka. Mira memang tidak pernah mengajari Raka untuk makan di cafe atau di luar rumah. Dia membiasakan Raka untuk makan nyatanya sendiri, sehingga soal makan dia tidak ambil pusing.
"Terus aku makan pakai lauk apa? aku tidak suka telur Raka," kata Alya.
"Cepat makan! sudah dibuatkan masih saja protes," kata Raka menatap Alya kesal.
Alya dengan terpaksa memakan telur goreng buatan Raka, ternyata rasanya enak membuatnya makan dengan lahap. Alya sampai nambah nasi lagi, kebetulan Mira tadi memasak nasi yang lumayan banyak.
Raka kemudian menasehati Alya, agar dia belajar memasak. Alya hanya menganggukkan kepalanya, dia paling malas jika harus memasak.
*
*
Hari sudah mulai petang tetapi Susi, Mira, Lian dan Tio belum juga sampai di tempat. Mereka terhalang hujan dan jalan yang macet. Mereka berencana untuk langsung ke rumah sakit, karena Susi yang sudah tidak sabar melihat keadaan adiknya.
Tio mengajak mereka untuk makan terlebih dahulu, tetapi Susi tidak mau.
"Nanti kalau kamu ikut sakit siapa yang akan menjaga Leny?" tanya Mira. Kita makan dulu saja," Lanjutannya.
Susi akhirnya mau untuk di ajak makan, walaupun hanya sedikit yang penting perut mereka terisi. Mereka dengan cepat menyelesaikan makan, karena harus melanjutkan perjalanan lagi. Rumah sakit tujuan mereka sudah dekat, rumah sakit itu berada di kota kecil lumayan jauh juga dari rumah Susi .
Lian melajukan mobilnya dengan cepat, sehingga mereka saat ini sudah berada di depan rumah sakit di mana Leny sedang di rawat. Susi dengan cepat turun dari mobil, ia langsung berlari menuju ke ruangan di mana Leny berada.
"Leny... " ucap Susi lirih.