
Susi dan Tio berada di kamar sebelah, Susi marah karena tidak di beri tau akan memberikan kejutan pada Mira.
"Pah, kenapa Mamah tidak di kasih tau? kalau tau Mira ulang tahun kan bisa siapkan kado, baju untuk ke pesta. Ini penampilan Mamah kaya gini, kan malu sama orang banyak," kata Susi dengan kesal.
"Itu sudah Papah siapkan semua," kata Tio dengan santai sembari menunjukkan gaun dan sebuah kado.
"Eh... iya. Ini bagus sekali gaunnya," ucap Susi kemudian menempelkan gaun itu pada tubuhnya.
Tio kemudian menyuruh Susi untuk bersiap-siap, karena pasti lama kalau berdandan.
Mira dan Lian berjalan dengan berdampingan menuju ke tempat berlangsungnya pesta diadakan, para tamu yang di undang sudah berkumpul karena memang hanya kerabat dekat saja.
"Mah, jangan terlihat sedih gitu dong! kan ini hari bahagia, Mamah," ucap Raka sebenarnya kasihan melihat wajah Mamahnya yang pucat.
Mira lalu tersenyum ke arah Raka, walaupun dalam hati masih penasaran dengan wanita yang di sebut oleh suaminya. Dia berusaha akan menerima apapun yang terjadi, ketika bertemu dengan wanita itu.
"Sebentar ya, sayang. Aku ke sana dulu," kata Lian menunjuk ke arah seorang wanita yang sedang duduk.
Mira hanya bisa menganggukkan kepalanya, sebenarnya dia juga tidak ikhlas jika suaminya bersama wanita lain.
"Papah kurang kerjaan aja," ucap Raka sudah tau semua rencana Papahnya.
"Kenapa, sayang? Papah...
"Mira!" teriak Susi baru saja keluar dari kamar, dia tadi kelamaan menggunakan make-up.
Mira mengajak Susi ke tempat Lian berasa, karena diperhatikan dari tadi suaminya sangat asyik mengobrol dengan seorang wanita. Tio juga sedang bersama mereka, membuat Susi menjadi ikut kesal.
Susi datang-datang menjewer telinga suaminya tanpa melihat siapa yang sedang bersama suaminya, membuatnya menjadi pusat perhatian orang. Tio sangat malu, lalu mengajak istrinya pergi dari keramaian. Sedangkan Lian mengajak Mira duduk dan memperkenalkan pada wanita itu.
"Sayang, kenalkan ini wanita yang sering aku bicarakan dengan Tio," ucap Lian sembari tersenyum.
Tubuh Mira bergetar, sekujur tubuhnya terasa panas menahan amarah yang hampir saja meluap. Perlahan wanita itu menoleh ke arah Mira, Mira memperhatikan dengan seksama lalu memeluk wanita itu. Air mata keduanya menetes dari kedua matanya, lama sudah mereka tidak bertemu. Wanita tua yang masih terlihat sangat cantik itu adalah Clara, yang tak lain adalah Mamahnya Aldo.
"Tante, apa kabar? kenapa tidak bilang dulu kalau mau datang, Mira bisa masakan makanan kesukaan Tante," kata Mira.
"Kalau kamu tidak ulang tahun, Tante tidak akan kesini, sayang," ucap Clara.
Sudah hampir satu minggu Clara berada di hotel miliknya ini, Aldo saja tidak tau kalau Mamahnya datang. Clara sangat merindukan Mira, seperti merindukan anaknya sendiri.
"Sayang, urusan kita belum selesai," ucap Mira melotot ke arah Lian.
"Urusan! kalian pasti berencana akan memberikan cucu lagi ya," kata Clara.
"Pasti itu, Tante. Raka harus punya adik lagi," jawab Lian.
"Kalau Mamah punya anak lagi, Alya pasti tidak di sayang," ucapnya sembari mengerucutkan bibir.
Mereka semua tertawa lepas tanpa memikirkan Susi dan Tio yang saat ini sedang berada di kamar, entah apa yang mereka lakukan.
Lian kemudian meminta untuk memulai acaranya, karena keburu malam. Para tamu undangan juga sudah siap untuk mengikuti kelangsungan acara ulang tahun Mira.
*
*
"Apa yang Mamah lakukan? membuat malu saja," ucap Tio saat berada di kamar.
Tio kemudian menjelaskan siapa wanita tadi, Susi kaget dan tidak percaya kalau yang mereka temui adalah Clara. Dia tetap mengira kalau ada lagi selain Clara, karena Lian menyebutnya dengan wanita cantik.
"Tanya Lian kalau tidak percaya! ayo kita ke pesta Mira dulu, jangan merusak suasana, Mah," Kata Tio sembari menggandeng tangan istrinya.
Acara berlangsung dengan lancar, suasana yang sangat meriah membuat para tamu menikmati acara ini dengan rasa bahagia. Tak lupa ucapan selamat dari tamu membuat Mira terkesan, baru kali ini ulang tahunnya di rayakan dengan meriah. Biasanya hanya mereka rayakan dengan Lian dan Raka dengan kue seadanya.
"Dania, kok kamu bisa ada di sini?" tanya Alya di sela- sela menikmati hidangan yang tersedia.
"Yang ulang tahun istrinya teman Papah, jadi kita sekeluarga di undang," jawabannya ia datang bersama Fandy dan Linda.
Raka datang menemui mereka berdua, lalu mengajaknya untuk menikmati berbagai jenis makanan yang tersedia.
Awalnya Lian tidak akan merayakan ulang tahun istrinya, dia berencana untuk mengajak liburan saja. Tetapi Clara meminta izin untuk merayakan ulang tahun Mira.
Acara telah selesai, tak lupa Mira mengucapkan terimakasih pada Clara. Dia rela datang jauh-jauh hanya untuk merayakan ulang tahun Mira.
Clara justru sangat bahagia, bisa ikut menikmati acara ini sampai selesai. Mereka juga akan menginap semalam di hotel, karena sudah larut malam.
"Sayang, kadonya banyak sekali. Bagaimana kalau kita langsung membukanya," ucap Mira saat berada di dalam kamar hotel.
Lian mengajak Mira untuk membuka, tetapi Mira tidak mau karena sudah larut malam. Sudah waktunya untuk mengistirahatkan tubuh.
Keesokan harinya mereka semua berkemas untuk meninggalkan hotel milik Clara, ia juga meminta agar Clara datang kerumahnya.
"Tante, maafkan kejadian kemarin ya," kata Susi sedikit malu dengan Clara.
"Tidak apa-apa, Susi. Tante pasti juga akan melakukan hal yang sama, jika kejadian itu terjadi pada Tante," kata Clara.
Raka dan Alya kebetulan tidak masuk sekolah, karena pasti akan terlambat. Di tambah dengan Alya yang selalu bangun siang, karena kebiasaan buruk.
Mira sebenarnya tidak tega melihat Clara sendiri di hotel itu, tetapi diajak ke rumah Clara menolak.
"Mah, kenapa merayakan ulang tahun Mira?" tanya Aldo yang baru saja datang.
"Mamah ingin melihat Mira bahagia, dulu kamu malah menyakitinya bukan," kata Clara.
Aldo hanya tersenyum malu, teringat saat masih bersama dengan Mira. Dia memang selalu menyakiti Mira, walaupun sangat menyayangi Mira
Kasih sayang Aldo ke Mira begitu besar, dia baru menyadari setelah kehilangan Mira. Padahal dulu dia sangat berharap bisa hidup bersama.
*
*
Mira dan Lian saat ini sudah berada di rumahnya, rencana hari ini mereka akan membuka kado. Satu persatu kado mulai terbuka, Mira sangat bahagia sekali.
"Mah, ini dari siapa? kenapa tidak ada namanya," kata Lian memegang kado yang dia maksud.
"Gak tau, Pah. Mungkin teman Papah yang ngasih," ucap Mira.
Kemudian Mira melihat kado yang di bawa oleh Lian, kado itu belum dibuka hanya di lepas bungkusnya saja.
"Siapa yang ngirim ya? kenapa berat sekali," ucap Mira dalam hati. Mira penasaran dengan orang yang telah memberikan kado padanya.