Raka & Alya

Raka & Alya
Bab 25



"Dania, kenapa kamu tidak pernah mendengarkan kata Papah! Nenek kamu itu jahat," kata Fandy saat Dania sudah berada di rumah.


Fandy sudah pulang dari kantor dari tadi, kebetulan dia tanya pada Linda mencari Dania tetapi tidak ada di rumah. Kemudian Fandy menelpon Dania menyuruhnya untuk segera pulang, karena sudah petang.


Ternyata Dania sedang bersama Ane, membuat Fandy marah. Setelah Ane pulang Fandy marah pada Dania di depan Lisa dan Linda.


"Nenek sekarang hartanya banyak. Dia juga akan memberikan mewariskan buat Dania," kata Dania sambil menundukkan kepala.


"Kamu ini masih sekolah! belajar yang rajin, buat bangga orang tuamu," kata Fandy. Jangan memikirkan harta warisan," Lanjutnya.


"Pah, udah! Kasihan Dania, dia baru pulang," kata Linda sembari merangkul Dania.


Linda kemudian membawa Dania masuk ke dalam kamarnya, lalu menyuruhnya untuk beristirahat. Linda tau Dania pasti kecapean, ia juga berencana untuk menasehati Dania agar tidak memikirkan warisan.


"Fandy, kamu tidak perlu memarahi Dania seperti itu! Dania sudah besar, biarkan dia memilih mana yang terbaik untuk dirinya," kata Lisa setelah Linda pergi ke kamar dengan Dania.


"Aku tidak akan membiarkan anak ku seperti kamu! Bisanya menyusahkan orang lain," kata Fandy.


"Jaga ucapan kamu! wajar saja kalau aku menitipkan Dania padamu, dia anakmu," kata Lisa.


Fandy semakin tersulut emosinya mendengar perkataan Lisa, bahkan rasanya ingin sekali menampar Lisa. "Kamu ikut tinggal disini, kamu pikir bukan beban," ucapnya.


Linda mendengar Lisa dan Fandy bertengkar, ia pun segera meminta mereka berdua untuk menghentikan pertengkarannya. Dia malu kalau sampai ada tetangga yang mendengar, biasanya Linda dan Fandy tidak pernah bertengkar.


*


*


Alya sangat gelisah karena Mamah dan Papahnya belum juga sampai di rumah, saat ini dia masih berada di tempat Mira. Raka dari tadi hanya memperhatikan Alya yang sedang gelisah, sambil mengerjakan tugas dari sekolah.


"Alya, kerjakan tugasmu dulu," kata Raka.


"Nanti saja! aku mau pinjam buku kamu," ucap Alya.


Raka tidak akan meminjamkan bukunya, membiarkan Alya berfikir sendiri dan tidak bergantung pada siapapun. Alya mengerucutkan bibirnya karena tidak dipinjami buku oleh Raka, ia pun langsung mengerjakan sendiri.


"Raka, jawaban nomer lima apa? aku tidak bisa," ucapnya sembari mengigit batang pensilnya.


"Cari di bacaan ada jawabannya, yang teliti dong," ucap Raka yang saat ini sedang memainkan ponselnya.


Alya mencari jawabannya sendiri, karena Raka tidak mau membantu. Dia juga akan mengadukan ke Mamah Mira, soal Raka yang tidak mau membantunya mengerjakan tugas.


Tak lama kemudian terdengar suara mobil di luar rumah, Alya langsung menghentikan mengerjakan tugas dan berlari ke luar rumah.


"Papah, Mamah!" teriaknya sembari berlari dan memeluk Mira dan Lian secara bergantian.


Tio hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal melihat tingkah putrinya, Susi kemudian mengajak Tio untuk pulang ke rumah.


Setelah memeluk Mira dan Lian, ia berlari ke pelukan Susi dan Tio.


"Mah, kenapa Alya gak di ajak? gimana keadaan Tante Leny," ucapnya.


"Tante Leny sudah baikan, ayo kita pulang dulu," ucap Susi.


Alya kemudian berpamitan pada Mira dan Lian, lalu ikut pulang dulu ke rumahnya.


Di dalam rumah Mira tersenyum melihat Raka yang masih sibuk memainkan ponselnya, ia kesal melihat Mamahnya dan Alya.


Mira kemudian duduk di sebelah Raka, lalu memeluk anak semata wayangnya itu. Begitu juga dengan Lian, yang ikut memeluk Raka.


"Maafkan kita, Raka. Kemarin tidak sempat berpamitan," kata Lian sembari mengelus rambut anaknya.


"Sayang, kamu sudah makan belum?" tanya Mira dengan lembut.


Raka kebetulan memang dari tadi belum makan, kemudian Mira menyiapkan makanan untuk keluarganya dan keluarga Susi. Setelah selesai Lian memanggil Tio, Susi dan Alya untuk di ajak makan bersama. Saat ini Mira dan Raka sudah menunggu di meja makan.


"Mah, minggu depan sekolah mengadakan camping di hutan," kata Raka membuka percakapan dengan Mamahnya sambil menunggu Lian dan keluarga Tio.


"Harus ya, sayang?" tanya Mira yang sebenarnya tidak ikhlas jika di tinggal pergi camping.


"Iya, semua siswa harus ikut. Cuma dia hari aja kok, Mah," kata Raka.


Mira berpesan pada Raka agar selalu hati-hati dan tidak ceroboh saat di hutan, ia juga berpesan agar menjaga Alya juga.


"Dia udah besar pasti bisa jaga diri, Mah," kata Raka.


"Alya anak perempuan, Sayang! dia juga penakut," kata Mira.


Raka menceritakan waktu ia menakuti Alya dengan melemparkan botol, Mira menasehati Raka agar tidak mengulangi perbuatannya lagi. Tetapi Raka akan tetap mengulanginya lagi, agar Alya menjadi anak yang pemberani.


Setelah mereka semua berkumpul, makan malam pun di mulai. Alya mengambil makanan paling banyak, hingga membuatnya di tegur oleh Susi.


"Habiskan dulu! nanti baru nambah," kata Susi sembari melihat ke arah Alya yang sedang mengambil lauk lagi.


"Alya lapar, Mah. Ini pasti habis," jawabnya.


Di tengah-tengah makan perut Alya merasa sakit, ia kemudian menghentikan makannya karena sudah kenyang. Susi menyuruh Alya untuk segera menghabiskan makanannya, dia tidak mau tau perutnya sakit atau tidak. Alya akhirnya membawa pulang makanan yang tidak habis tadi, ia berjanji akan menghabiskan.


*


*


*


Pagi hari yang cerah, udara yang sejuk membuat Alya susah untuk dibangunkan dari tidurnya. Ia masih merasa ngantuk dan capek, Susi membangunkan Alya dengan mengoyak tubuhnya tetapi Alya tidak bangun juga.


"Alya, bangun! Raka sudah menunggu di depan!" teriak Susi.


Yang terbangun bukan Alya tetapi Tio, ia langsung menuju di mana istrinya berteriak dan menyuruhnya untuk bersabar. Tio akhirnya turun tangan membangunkan gadis cantiknya itu, Alya tetap tidak bangun.


"Suruh Raka berangkat dulu aja! Alya masih ngantuk," ucapnya kemudian membenarkan selimutnya.


Raka yang berada di depan rumah kemudian masuk ke dalam kamar Alya, ia membangunkan Alya dengan menarik selimutnya. Alya marah-marah pada Raka, tetapi setelah melihat ada Mamahnya dia langsung bangun dan masuk ke dalam kamar mandi.


Sampai di sekolah mereka hampir saja terlambat, Alya seperti biasanya menyalahkan Raka. Hari ini Raka hanya diam, dia malas berdebat dengan Alya.


Tadi malam Alya lupa membawa bukunya pulang dari rumah Raka, ia juga mengerjakan belum selesai.


"Raka, buku ku mana?" tanya Alya.


"Buku apa? ada di rumah mungkin," kata Raka.


Alya kemudian merebut tas Raka, dia mengambil bukunya yang ternyata ada di dalam tasnya. Ia kemudian memukul Raka dengan buku, sehingga membuatnya di panggil Bu guru untuk maju ke depan.


*


*


Mira saat ini sedang menyiram bunga di depan rumah, dia melihat Aldo yang menuju ke arahnya. Kemudian ia menghentikan kegiatannya. "Ada apa, Do? tumben datang kesini?" tanyanya.