Raka & Alya

Raka & Alya
Bab 6



Sore hari Alya baru sampai rumah, wajahnya tampak memerah. Dia sangat kelelahan pastinya, kemudian dia masuk ke dalam rumah. Alya merasakan kalau cacing dalam perutnya sudah mulai menari-nari, kemudian ia membuka tutup makanan di meja makan. Ternyata Mamahnya tidak memasak, lalu ia tutup kembali. Saat ini Susi tidak ada di rumah, tadi dia pergi di jemput Tio jadi belum sempat membuat makanan.


Rasa lapar tidak bisa dia tahan lagi, kemudian Alya datang ke rumah Mira. Di depan rumah Mira ada Raka dan Hanif, ia mengurungkan niatnya karena malu dengan Raka.


"Alya!" teriak Hanif tidak sengaja tadi melihat Alya hendak menuju ke arahnya.


Alya yang merasa di panggil berjalan menuju ke rumah Raka, dan duduk di kursi yang masih kosong. "Hanif, kamu main ke sini? mampir ke rumahku yuk," ucapnya.


"Ayo kita berangkat! nanti keburu petang," sahut Raka masih mendiamkan Alya.


"Masa Alya kita tinggal, bentar lagi dong," kata Hanif tidak enak dengan keberadaan Alya.


"Ada Mamah di rumah, tidak mungkin juga kita ajak dia," ucap Raka berdiri hendak pergi dari rumah.


"Pergi saja, aku sudah biasa sendiri," kata Alya menatap Raka.


"Kita pergi futsal dulu ya, Al! kapan -kapan kita ngobrol lagi," kata Hanif sembari tersenyum.


Raka dan Hanif kemudian pergi untuk bermain futsal di lapangan dekat komplek, Alya mengetuk pintu rumah Raka. Mira yang ada di dalam rumah segera membuka pintu untuk Alya.


"Sayang, sini masuk temani Mamah," kata Mira mengajak Alya masuk ke dalam rumah dan mengajaknya menonton televisi di ruang tengah.


"Mah, perut Alya sakit tadi belum makan di rumah tidak ada makanan," ucapnya seraya memenangi perutnya.


Mira lalu mengajak Alya ke ruang makan, kebetulan tadi sudah memasak banyak makanan. Alya memakan makanan itu dengan lahap, Mira melihatnya sembari tersenyum.


"Boleh nambah gak, Mah?" tanya Alya piringnya sudah bersih, ia makan tak tersisa sedikit pun.


"Tentu saja boleh, ini ambil lagi," kata Mira sembari memberikan piring berisi lauk yang ada di depannya pada Alya.


Alya menghabiskan sepiring nasi lagi, setelah kenyang ia membantu Mira membereskan meja makan dan mencuci piring. Mira melarang Alya melakukan semua, tetapi Alya tetap membantunya.


"Raka masih marah sama Alya, Mah," ucap Alya dengan tiba-tiba saat selesai mencuci piring.


"Kamu sabar ya, sayang. besok pasti Raka tidak marah lagi," kata Mira dengan lembut.


Alya kemudian memeluk Mira, setiap ada sesuatu pasti akan cerita ke Mira. Walaupun bukan anak kandung, Mira menyayangi Alya seperti anaknya sendiri.


*


*


Selesai bermain futsal Raka dan Hanif duduk lapangan untuk beristirahat, tubuh mereka masih basah dengan keringat.


"Raka, Hanif ini untuk kalian," ucap Dania yang kebetulan berada di tempat itu memberikan dia botol air mineral untuk mereka berdua.


Raka dan Hanif menerima minuman itu, lalu membuka tutupnya dan meminum.


"Terimakasih, Dania. Kamu kenapa bisa ada di sini?" tanya Raka.


"Kebetulan tadi lewat, aku melihat kalian," jelas Dania.


"Dania, sering-sering lewat ya," sahut Hanif.


Dania hanya tersenyum lalu meninggalkan mereka berdua, karena Papahnya sudah menunggu di mobil.


Raka kemudian mengajak pulang Hanif, sudah hampir petang juga. Raka takut membuat Mamahnya khawatir sedang Hanif takut di cari, maklum mereka berdua anak kesayangan.


"Raka, aku langsung pulang ya," kata Hanif setelah sampai di rumah Raka.


"Hati-hati ya, besok kita ketemu di sekolah," ucap Raka.


"Raka, kamu sudah pulang?" tanya Alya yang melewati ruangan itu.


"Iya," jawab Raka singkat kemudian masuk ke dalam kamar hendak membersihkan diri.


Alya merasa kalau sikap Raka berubah, tidak seperti biasanya. Padahal biasanya sangat ramah dan selalu care dengannya, Alya menjadi sedih. Kalau di ingat-ingat memang dia yang keterlaluan pada Raka, walaupun maksud Alya hanya bercanda tetapi membuat Raka marah.


"Sayang, jangan di ambil hati. Kamu tau kan, dari dulu Raka sikapnya memang dingin," kata Mira sembari tersenyum.


Alya hanya menganggukkan kepalanya, kemudian dia berpamitan untuk pulang karena Susi dan Tio sepertinya sudah datang.


"Mamah, dari mana saja? kenapa tidak bilang Alya kalau mau pergi?" tanya Alya saat sampai di rumah.


"Tadi ada perlu dengan Nenek, maafkan Mamah ya," ucap Susi sembari mengusap pundak Alya.


"Alya tadi pulang sekolah jalan kaki, Mah. sampai di rumah gak ada makanan, untung saja bisa makan di rumah Mamah Mira," jelasnya.


"Kenapa tidak membuat mie instan, Mamah udah siapin," kata Susi.


"Sayang, uang kamu habis? kenapa tidak naik taksi?" tanya Tio yang sedang duduk di sebelah anaknya.


Alya seperti Susi, dia juga sangat hemat dalam masalah keuangan. Kalau ke sekolah bareng Raka dia akan lebih hemat, karena uang sakunya utuh. Dia juga jarang ke kantin, kalau tidak di ajak teman atau di traktir temannya.


"Masih, Pah! tapi sayang kalau buat bayar," jawab Alya.


Alya kemudian masuk ke dalam kamarnya, dia hendak mengerjakan PR. Susi dan Tio masih mengobrol berdua di ruang tamu.


"Pah, kita dari dulu selalu merepotkan Mira. Mamah jadi tidak enak," kata Susi.


nak l


"Kenapa baru sekarang bilang tidak enak?" ucap Tio.


Susi mengatakan semenjak menjadi tetangga Mira, selalu merepotkan Mira terutama dalam mengurus anak. Alya menjadi lebih dekat dengan Mira, karena Mira sering menjaganya dari kecil.


Mira sendiri juga tidak pernah mempermasalahkan semua, dia justru senang berasa mempunyai dua anak. Walaupun keduanya sering berantem dari kecil, dia yakin mereka sangat menyayangi satu sama lain.


*


*


*


Raka pagi ini menunggu Alya di depan rumah, tetapi Alya takut kalau Raka masih marah. Alya justru menyuruh Raka untuk pergi lebih dulu, dia malah meminta Aldo untuk mengantarkannya.


"Raka, kamu duluan aja," ucap Alya saat keluar dari rumahnya.


"Apa? aku nungguin kamu beberapa menit disini, kamu suruh jalan dulu? oke kalau gitu," kata Raka kemudian menjalankan motornya.


Alya pergi ke rumah Aldo, dia meminta Aldo untuk mengantar ke sekolah. Susi yang melihat kejadian itu sangat geram dengan anaknya. Dia mau menegur tetapi di larang oleh suaminya, Susi tidak enak dengan Mira.


"Pah, lihat kelakuan anak kamu! bikin malu saja," kata Susi.


"Biarkan saja, Mah! anak muda masih labil," ucap Tio yang sedang duduk sembari menikmati kopinya.


"Anak sama Papah sama saja," kata Susi kesal kemudian melanjutkan untuk beres-beres rumah.


Tio berencana untuk menasehati Alya, agar tidak merepotkan Aldo lagi.