
Susi menghadang Alya di depan rumah, putri kesayangannya selalu bikin darah mendidih. Tak lama kemudian Alya pulang.
"Dari mana aja?" tanya Susi dengan ketus.
"Tempat Dania, Mah. Bahas pelajaran buat besok, rencananya kita mau ke hutan," jelas Alya.
"Apa? ke hutan! ngapain, tiap hari kamu keluyuran terus sekarang," kata Susi.
"Mamah, kebiasaan deh! Alya belum masuk rumah sudah diomelin," kata Alya kemudian masuk ke dalam rumah dan merebahkan tubuhnya di sofa.
Susi hanya bisa menggelengkan kepalanya, melihat putri cantiknya.
Tok... tok... tok...
Suara ketukan pintu membuat Alya harus bangun lalu membuka pintu, ternyata Tio baru pulang dari kerja.
"Papah!" teriak Alya kegirangan.
Tio melihat Alya yang masih pakai baju seragam sekolah. "Kok masih pakai seragam," ucapnya.
"Alya baru pulang dari rumah Dania, Pah," kata Alya lalu mengajak Tio masuk ke dalam rumah. Alya kemudian pergi ke dapur untuk membuatkan kopi Tio.
"Pah, ini minumnya," kata Alya meletakkan secangkir kopi di meja.
"Makasih ya, sayang," ucap Tio. Mamah mana?" Lanjutnya.
"Ada di dapur, Pah," kata Alya kemudian masuk ke dalam kamar untuk mandi dan ganti baju.
Selesai memasak Susi menemui suaminya, ia menceritakan kalau Alya tadi ke rumah temannya. Tio tidak mempermasalahkan anaknya mau ke mana, baginya yang terpenting bisa menjaga diri.
"Mamah, jangan marah terus. Alya sudah besar, biarkan dia dengan pemikirannya sendiri," kata Tio.
"Mamah hanya khawatir kalau anak kita kenapa-napa, soalnya pergi gak sama Raka," ucap Susi.
"Kasihan Raka dong, Mah! kalau harus ngawasin Alya terus," kata Tio.
Susi berfikir sejenak, apa kata suaminya ada benarnya. Tidak mungkin juga mereka akan menyuruh Raka untuk mengawasi Susi, Raka punya urusan sendiri.
"Mulai sekarang biarkan anak kita mandiri, Mah. Papah yakin Alya bisa jaga diri," ucap Tio lalu memeluk istrinya.
"Papah, kok peluk Mamah! Alya gak di peluk nih," ucapnya sembari mengerucutkan bibir.
"Kamu dah gede, Alya," kata Susi.
Tio kemudian menyuruh Alya untuk mendekat, lalu memeluk keduanya. Dua wanita yang sangat ia cintai di sepanjang hidupnya.
*
*
Rumah Mira.
"Mah, Pah, besok Raka ada kegiatan ke hutan lagi. Ada guru pembimbing juga, kok," ucap Raka.
"Nginep gak, Sayang?" tanya Mira dengan lembut.
"Engga kok, Mah. Cuma pas jam pelajaran aja," kata Raka.
"Sama Alya juga?" sahut Lian.
"Iya, Pah. Tapi kita gak satu tim, males Raka sama cewek," ucap Raka.
"Jangan gitu dong, gak baik," kata Mira.
Lian berpesan pada Raka agar menjaga Alya dengan baik, bagaimana pun sikapnya. Alya masih polos dan manja, kalau tidak di jelaskan atau mengalami sendiri belum percaya.
Raka menggaruk kepalanya yang tidak gatal, tapi apa yang menjadi perintah orang tuanya dia sebisa mungkin menurutinya.
"Pah, Alya sudah besar! masa Raka suruh jagain dia terus," kata Raka.
"Sayang, Alya sudah Mamah anggap sebagai anak sendiri. Dia saudara kamu, tolong jaga dia ya," kata Mira sembari mengelus kepala Raka.
Raka tersenyum, tugas berat baginya. Karena sikap Alya yang seperti anak kecil pasti susah untuk di atur, tetapi dia akan berusaha semampunya.
🥀🥀🥀
Keesokan harinya Raka sudah menunggu Alya di depan rumah, Raka mengingatkan Alya agar peralatan yang akan dia bawa tidak lupa.
"Bensinnya habis, Al. Naik angkot kita," ucap Raka.
"Kenapa tidak bilang dari tadi! aku kan bisa minta di antar Papah," ucapnya.
Raka kemudian membawa pulang motornya, dia meminta izin Mamahnya untuk meminjam mobil. Mira memperbolehkan, karena memang mobilnya punya Raka.
Alya sangat senang melihat Raka membawa mobilnya, lalu dia masuk ke dalam mobil.
"Kok gak dari dulu bawa mobil," ucap Alya.
"Enakan kamu nanti, nebeng terus," ketus Raka.
Alya lalu memukul tangan Raka dengan keras, hingga Raka merasa kesakitan.
"Minta maaf gak nih! kalau gak, naik angkot sana," kata Raka melotot ke arah Alya.
Alya menundukkan kepalanya, baru kali ini Raka terlihat sangat marah. Kemudian dia meminta maaf pada Raka dengan sopan.
Raka kemudian melajukan mobilnya menuju sekolah, setelah sampai Raka berpesan pada Alya agar tidak melakukan hal yang membahayakan dirinya saat di hutan.
Semua siswa saat ini sudah berkumpul di depan sekolah, mereka menunggu bus yang akan membawa mereka ke hutan.
"Alya, ingat jangan bikin ulah," kata Raka.
"Iya," jawab Alya singkat.
"Perhatian banget kamu, Raka," kata Vila.
Raka hanya diam, lalu kembali ke kelompoknya yang dari tadi sudah menunggu kedatangannya.
"Raka kenapa? tumben dia diem," kata Hilda.
"Bukannya dari dulu dia sok cool," kata Alya kesal
dengan Raka.
Vila dan Hilda masih meledek Alya, begitu juga dengan Melisa. Dania juga hanya diam saja, sepertinya ia malu pada Vila dan Hilda.
Bus yang mereka tunggu sudah datang, untuk menuju ke hutan membutuhkan waktu sekitar tiga puluh menit. Di perjalanan mereka dapat menikmati pemandangan yang indah.
Sampai di hutan mereka langsung mencari keberadaan bunga langka itu, memang sulit karena mereka harus mencari bunga yang belum pernah dia lihat.
Hampir satu jam mereka mencari bunga itu, tetapi belum juga ada yang menemukan.
"Gimana anak-anak, sudah dapat belum bunganya?" tanya Ibu guru.
Kebetulan belum ada yang mendapatkan bunga yang mereka cari, lalu mereka mencari lagi. Ibu guru memberikan waktu tiga puluh menit, untuk mencari bunga itu.
"Alya, kita cari ke sebelah sana," ajak Dania.
"Gak mau aku, entar Raka marah kalau aku bikin masalah," tolak Alya.
Dari kejauhan Raka juga sudah mengawasi Alya, bahkan dia juga menanyakan Alya pada Melisa. Raka takut Alya akan hilang lagi, karena sekarang tidak banyak yang mengawasi.
Tim Raka sudah menemukan bunga, mereka lalu menunjukkan pada Ibu guru karena tidak mungkin bunga itu di petik.
Anak-anak kemudian di minta untuk berkumpul dan melihat bunga itu, mereka di suruh untuk mengambil gambar dan menulis apa saja yang mereka lihat per kelompok.
Setelah selesai mereka kembali ke sekolah, karena akan ada pengumuman mengenai ujian yang akan mereka laksanakan.
"Raka, nanti aku pulang bareng kamu ya," kata Raka saat berada di kantin sekolah.
"Biasanya juga pulang sama siapa," ketus Raka.
Dania mengajak Alya ke rumah neneknya lagi, tetapi Alya menolak karena ia tau kalau nenek Dania itu galak.
"Kalau aku boleh ke rumah nenek kamu gak?" tanya Hilda sengaja bertanya padahal ia tidak ada niat pergi ke rumah Dania..
"Boleh, kok! kapan mau main," ucap Dania.
"Nenek Dania orangnya julit," sahut Melisa.
"Melisa!" teriak Alya.