
Alya duduk bersandar di bawah pohon, ia menutup mukanya karena gelap dan merasa ketakutan. Percuma juga dia berteriak tidak akan ada yang mendengar, kebetulan mereka semua saat jurit malam di larang membawa ponsel. Seandainya tadi dia tidak salah memilih arah pasti semua ini tidak akan terjadi, tapi semua sudah terlanjur. Alya hanya bisa berharap akan ada orang yang menolongnya, walaupun harapannya tipis karena jarang orang melintas di hutan pada malam hari.
Panitia saat ini belum ada yang menemukan Alya, padahal mereka sudah menyusuri sampai di ujung hutan tersebut. Raka tidak menyerah begitu saja, ia tetap mencari Alya walaupun sudah ada yang memperingatinya untuk beristirahat terlebih dahulu.
"Alya, kamu dimana!" teriak Raka.
"Raka, ini sudah hampir pagi! ayo kita kembali ke tenda lebih dulu, kita harus beristirahat," ucap teman Raka.
"Kamu balik saja! aku takut terjadi apa-apa dengan Alya," tolak Raka.
Raka dari tadi belum sempat istirahat dan kebetulan juga belum makan. Dia saat ini sangat khawatir dengan keselamatan Alya.
Melisa di dalam tenda tidak bisa tidur, ia sangat gelisah karena Alya belum ditemukan. Sudah berkali-kali dia bolak balik menanyakan kabar Alya pada panitia, tetapi belum ada yang memberikan kabar baik.
"Melisa, kamu tidur dulu! nanti bisa sakit kalau kecapean," kata Vila yang juga tidak bisa tidur.
"Alya belum ditemukan, aku gak bisa tidur," ucap Melisa.
Berbeda dengan Dania, yang saat ini sudah terlelap dalam tidurnya dan terbawa ke alam mimpi. Hilda sebenarnya juga belum bisa tidur, ia justru menutupi mukanya dengan selimut karena ketakutan.
"Dania kok bisa tidur! padahal temannya belum ditemukan," ucap teman mereka dari tenda lain.
"Mungkin dia lelah," kata Melisa.
Saat ini Alya berjalan dengan pelan-pelan, lilin yang tadi ia bawa bisa dihidupkan lagi. Ternyata dia sudah keluar dari dalam hutan, Alya melihat ada gubuk di tengah sawah. Alya berjalan menuju gubuk itu, kemudian ia merebahkan tubuhnya yang lelah.
*
*
"Pah, perasaan Mamah kok gak enak ya," kata Mira saat sedang sarapan pagi.
"Gak enak kenapa? Mamah, terlalu banyak mikirin Raka ya," ucap Lian menghentikan makannya.
Mira memang saat ini sedang memikirkan Raka, ia khawatir Raka ngapain saja di sana. Walaupun Raka sudah besar tetapi Mira masih tidak rela kalau anaknya pergi menginap.
Ia kemudian meminta Lian untuk segera menghabiskan makanannya, keburu telat masuk kerja. Sepertinya Mira lupa kalau suaminya itu yang mempunyai perusahaan, karena menyuruh suaminya cepat masuk kerja.
Lian justru teringat saat berada di pesta, ia kemudian menanyakan pada istrinya. "Mah, tadi malam Mamah ke mana aja? ke toilet kok lama sekali," ucapnya.
"Mamah bertemu Tante Ane, Pah! dia sekarang tinggal di kota ini," jelas Mira.
"Pasti dia punya niat buruk kan? lain kali jangan diladeni," kata Lian.
Mira hanya tersenyum, apapun perlakuan Lisa dan Ane terhadapnya ia selalu bisa memaafkan. Dia juga tidak pernah menyimpan dendam ke orang, itulah yang membuat Mira selalu ditindas .
Selesai sarapan Lian langsung berangkat ke kantor, kebetulan pekerjaannya sangat banyak dan tidak ada yang membantu. Kini tinggal Mira yang berada di rumah sendiri, seperti biasanya ia mengerjakan pekerjaan rumah.
Susi kebetulan saat ini juga sedang sibuk membersihkan rumahnya, karena Leny akan datang. Dari pagi Mira belum bertemu dengan Susi, begitulah mereka berdua kalau sedang sibuk dengan aktivitas masing-masing.
*
*
Raka semalam tidak tidur, dia mencari Alya menyusuri hutan. Walaupun belum ada hasilnya, dia tetap berusaha keras. Raka hanya berdua dengan Edo, karena Edo tidak tega membiarkan Raka pergi mencari Alya sendiri. Sedangkan teman panitia yang lain berbagi tugas, ada yang mencari Alya dan ada yang menjaga siswa lainnya.
"Aku kurang tau, baru pertama ini datang kesini," ucap Edo.
"Kenapa kamu mengusulkan daerah ini? tempatnya sangat berbahaya banyak jurang," kata Raka.
Edo kemudian menjelaskan pada Raka, kalau dia hanya mendengar dari orang yang pernah camping di tempat ini. Mereka ada yang di takuti hantu juga, tetapi tidak ada yang takut. Justru bagi Edo semua ini adalah pengalaman yang sangat berharga baginya.
"Raka, aku ingin melihat hantu tetapi tidak pernah bertemu," kata Edo.
"Paling ditakuti beneran kamu kencing di celana," ejek Raka.
Mereka berdua kemudian tertawa terbahak-bahak, Edo mengajak Raka untuk istirahat terlebih dahulu di gubuk yang dia lihat,
"Jauh gubuknya! kita duduk di sini saja," tolak Raka.
"Ayo cepetan!" ajak Edo dengan memaksa. Raka akhirnya mau mengikuti Aldo yang berjalan lebih dulu menuju ke gubuk yang Edo tunjukkan.
Sampai di gubuk itu mereka berdua terkejut, ada sorang wanita yang sepertinya sedang tidur. Raka mendekati orang itu, ternyata Alya sedang tertidur di tempat itu.
"Alya!" kaget Raka.
Raka kemudian mendekati Alya, dia menepuk pipi Alya. Edo juga ikut membantu Raka.
"Alya! bagun sudah siang!" teriak Edo.
Alya tidak menggerakkan tubuhnya sama sekali, kalau sudah tertidur pasti akan susah dibangunkan. Edo meminta agar Raka menggendong Alya sampai ke tenda.
"Alya!" teriak Raka di dekat telinga Alya.
Alya langsung terbangun dari tidurnya karena kaget dengan teriakan Raka, reflek Alya langsung memeluk Raka.
"Kamu tau tidak! aku sendirian, aku takut Raka," ucap Alya.
"Gak malu apa kalian? ada aku disini main peluk saja," sahut Edo.
Alya masih memeluk Raka, walaupun Raka sama sekali tidak membalas pelukannya. Begitu sadar melihat Edo, Alya baru melepaskan pelukannya.
Raka kemudian mengajak mereka berdua untuk kembali ke tenda, jaraknya memang lumayan jauh dari persawahan itu.
"Kalian bisa tau aku ada di sini?" tanya Alya.
"Alya, gak usah banyak tanya! ayo kita balik," ajak Raka.
"Jangan galak-galak, Raka," sahut Edo. Tadi malam saja kamu khawatir banget," Lanjutnya.
Raka kemudian melangkahkan kakinya lebih dulu, sedangkan Edo dan Alya mengikuti dari belakang. Di tengah perjalanan Alya merasa capek, kemudian dia mengajak untuk berhenti lebih dulu.
"Alya, jangan manja! cepat ayo jalan lagi," kata Raka ketika melihat Alya duduk.
Dengan wajah murung Alya melanjutkan jalan kakinya, Edo juga membantu Alya membujuk Raka agar mau istirahat. Sayang sekali rayuan mereka tidak mempan untuk membujuk Raka.
Raka sebenarnya sangat bersyukur Alya dapat dia temukan lagi, dengan keadaan selamat tanpa kurang suatu apa.
Langkah mereka terhenti karena terhalang seekor ular yang besar, ini sudah kedua kalinya Alya melihat ular di hutan ini. Raka dan Edo berusaha membuat ular itu pergi dari hadapannya.