Raka & Alya

Raka & Alya
Bab 49



Lian berlari ke arah Mira, saat mengetahui istrinya sedang di marahi orang. Bahkan hampir di tampar oleh orang itu, dengan cepat tangan Lian mencekal tangan orang yang hampir saja melukai wajah mulus istrinya.


Orang itu kemudian mengajak anaknya pergi, dan mengatakan kalau tidak akan berkunjung ke taman itu lagi.


"Pah, maaf tadi Mamah melarang anak kecil menginjak-injak tanaman itu," ucap Mira sembari menunjukkan tanaman yang baru di tanam, sebagian juga ada yang rusak karena anak tadi.


"Gak papa, sayang. Kamu gak papa kan?" tanya Lian dengan wajah khawatirnya.


Mira menggelengkan kepalanya, beruntung Lian cepat datang kalau tidak pasti Mira sudah terluka. Lian kemudian mengajak istrinya ke tempat yang akan di hias, Mira sangat berbakat dalam menghias dengan bunga.


"Tumben acaranya diadakan di sini, biasanya juga di hotel," kata Mira.


"Biar suasananya lain, sayang. Sepertinya sudah bosen kalau di hotel terus," jelas Lian.


Lian kemudian meminta tempat mana saja yang perlu di hias, dia ingin suasana yang alami dan penuh dengan bunga asli. Mira sangat senang di beri pekerjaan oleh suaminya, dia sampai lupa dengan Susi.


Mira kemudian menghubungi Susi, agar menyusul ke taman. Kalau ada Susi, ia bisa bertanya mana yang sudah pas atau belum.


"Sayang, kamu hati-hati. Jangan kemana-mana, tunggu aja Susi. Papah harus balik ke kantor," ucap Lian.


"Papah, juga hati-hati," kata Mira sembari tersenyum.


Mira melanjutkan memilih bunga yang pas untuk dia gunakan menghias, ia memilih bunga melati.


Di rumah Susi tidak diperbolehkan oleh Alya, karena dia tidak mau berada di rumah sendiri.


"Alya, kamu sudah besar! masa gak berani di rumah sendiri," kata Susi.


"Alya takut, Mah! kalau ikut boleh gak," ucap Alya merengek seperti anak kecil.


Susi kemudian memperbolehkan Alya untuk ikut, dia juga menasehati Alya agar tidak merusak atau menyentuh bunga yang ada di taman. Biasanya Alya ceroboh, ia akan langsung memetik atau merusak.


"Mah, kenapa naik angkot? mobil hadiah ulang tahun Alya kenapa juga tidak di bawa pulang," kata Alya teringat dengan hadiah ulang tahunnya.


Susi tidak bisa menjawab, karena dia yang melarang untuk di bawa pulang lebih dulu. Susi masih khawatir kalau Alya membawa kendaraan sendiri, saat di sekolah maupun ke tempat lain.


"Mah, ini jalannya masih jauh? kenapa tidak naik taksi online saja tadi," kata Alya lagi.


"Gak jauh! itu sudah kelihatan," kata Susi sembari menunjukkan keberadaan taman bunga.


"Alya capek, Mah! kita istirahat dulu saja," ucap Alya kemudian duduk di pinggir jalan.


"Tadi Mamah sudah bilang, gak usah ikut! kamu maksa saja," kata Susi kesal dengan Alya. Kemudian dia membantu Alya untuk berdiri, untuk dia ajak jalan lagi.


Kebetulan jalanan saat ini sedang sepi, jadi makhlum saja kalau jarang ada kendaraan yang lewat.


*


*


Raka sedang di marahi oleh Nando, karena beberapa hari tidak masuk kerja. Nando tidak mau menerima apapun penjelasan dari Raka.


"Pak, saya sudah meminta izin sebelumnya," kata Raka berusaha menjelaskan pada Nando.


Raka kemudian di pecat oleh Nando, karena sudah berani membantah perintah Nando.


Saat sedang terjadi keributan Lian lewat, dia menanyakan apa yang terjadi. Tetapi Nando berusaha menutupi kejadian tadi, dia takut dengan Lian.


"Raka, kamu beneran di pecat?" tanya Tania tidak terima kalau Raka di pecat begitu saja.


"Sepertinya, mungkin belum rezeki juga," kata Raka sembari tersenyum.


Lian tau kalau Nando orang yang sangat disiplin, walaupun sok berkuasa dan arogan. Banyak yang tidak suka dengannya, tetapi Nando orang yang tegas.


Raka menerima semua dengan lapang dada, dia juga tidak marah pada Nando. Padahal Raka bisa membuat Nando di pecat, tetapi ia tidak mau melakukan itu karena tidak tau kondisi Nando bagaimana.


Raka berpamitan pada Lian, ia akan menyusul Mira ke taman. Dia akan menunggu Mira menghias taman.


Setelah Raka pergi Lian memanggil Nando, dia bertanya apa yang baru saja dilakukannya.


"Nando, terimakasih atas bantuan kamu. Sudah memecat Raka," kata Lian.


"Maaf, Pak. Sebenarnya saya juga tidak tega memecat Raka," kata Nando.


Lian mengatakan pada Nando kalau Raka masih sekolah, jadi Lian tidak mempermasalahkan. Kemudian dia menyuruh Nando melanjutkan pekerjaannya.


"Nando, kenapa kamu pecat Raka? kasihan dia jadi gak punya pekerjaan," kata Tania.


"Kamu juga minta aku pecat?" ucap Nando engan berbicara.


"Tega, kamu," kata Tania kemudian meninggalkan Nando.


Tio yang mendengar kalau Raka di pecat, ia mendatangi Lian di dalam ruangannya.


"Lian, kamu gimana sih! lebih membela orang lain dari pada anak," kata Tio.


"Sudah jangan protes lagi, semua demi kebaikan Raka," kata Lian.


"Mira kalau tau pasti juga marah, sudah mempermainkan anaknya," kata Tio.


Apa yang dilakukan Lian sudah benar, sesekali kita harus merasakan kecewa agar kelak bisa kuat menghadapi kehidupan yang begitu menyenangkan.


Kita juga harus banyak bersyukur, atas apapun yang sudah kita peroleh dan kita terima. Karena setiap orang akan menerima hasil yang berbeda-beda.


*


*


Keesokan harinya anak-anak sudah mulai belajar kembali, Raka dan Alya begitu semangat. Mereka berdua berangkat bersama lagi, karena Raka sudah tidak berkerja.


"Alya, kamu tau tidak kalau Dania sedang sakit?" tanya Melisa saat berada di depan kelas.


"Emang dia sakit apa? kamu sudah jenguk," ucap Alya.


"Belum, bagaimana kalau nanti kita barengan ke rumahnya," ucap Alya.


Raka yang kebetulan ada di sebelah Alya, ia hanya diam tidak mengusulkan sesuatu. Sampai Melisa membuatnya kaget.


"Raka, nanti kamu ikut tidak?" tanya Melisa.


"Terserah kalian saja! aku ikut saja gimana baiknya," kata Raka.


Mereka berembuk membicarakan rencananya untuk menjenguk Dania, tetapi tidak dengan Vila dan Hilda. Mereka berdua tidak mau karena Dania sudah berbuat jahat pada Alya, Melisa melarang mereka berdua untuk mengatakan lebih dulu.


"Maksudnya apa? kenapa kalian berdua tidak mau ikut," ucap Alya. Dania juga teman kita lho," Lanjutnya.


"Kamu sudah di jahati, Alya. Percaya sama kita," ucap Vila yang langsung terdiam karena kakinya di injak oleh Melisa.


Dengan terpaksa mereka berdua ikut menjenguk Dania, karena bagaimana pun Dania sakit gara-gara ulah Vila dan Hilda.


Bel masuk kelas sudah berbunyi, semua siswa sudah masuk ke dalam kelas. Saat pelajaran hendak di mulai tiba-tiba ada suara ketukan pintu, terpaksa Ibu guru menghentikan mengajarnya.