Raka & Alya

Raka & Alya
Bab 29



"Mira, kenapa kamu bisa ada di sini? Wanita miskin tidak pantas berada di tempat ini," ucap Ane melihat penampilan Mira dari atas sampai bawah.


"Tante!" ucap Mira kaget.


"Kamu terkejut! setelah sekian lama kita tidak bertemu," kata Ane tersenyum tipis.


"Aku kira, Tante...


"Mira! Ane tidak akan pernah miskin," kata Ane dengan memamerkan gelang berlian yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Tante, mau kaya atau miskin bukan urusan ku! Aku kira Tante sudah berubah menjadi orang baik, ternyata masih sama saja," kata Mira mulai berani bicara sedikit keras pada Ane.


Mira tidak pernah mengira kalau Nenek-nenek yang hampir di tabrak oleh Lian itu adalah Ane, karena perubahan wajahnya sangat drastis. Mungkin hari ini sial bagi Mira, karena harus bertemu dengan sosok Ane yang sangat membencinya.


Lian terlihat gelisah karena istrinya belum juga kembali, ia hendak menyusulnya ke toilet. Rasa khawatir semakin kuat, dengan cepat ia berjalan menuju ke toilet. Tiba-tiba teman kerjanya dulu menyapanya, sehingga membuat Lian menghentikan langkahnya.


"Lian, apa kabar? lama kita tidak bertemu," tanya seorang teman kerjanya.


"Baru dua bulan kita tidak bertemu! kabarku baik, kamu gimana?" ucap Lian hendak meninggalkan temannya tetapi tidak enak.


Teman Lian kemudian mengajaknya untuk duduk, dan membicarakan soal bisnis sehingga membuatnya lupa dengan tujuannya.


Mira kemudian meninggalkan Ane yang dari tadi menghinanya, ia sudah muak mendengarkan ucapan Ane.


"Mira! aku belum selesai bicara," ucapnya sembari mengikuti Mira.


"Apalagi, Tante?" tanya Mira terpaksa ia berhenti karena malu menjadi pusat perhatian para tamu undangan.


Untung saja ada seseorang pelayan yang tanpa sengaja menabrak Ane, Mira akhirnya bisa lolos dari kejaran Ane. Mira saat ini mencari Lian di tempat tadi, tetapi tidak ditemukan keberadaannya.


Mira kemudian bertanya pada orang yang tadi ada di sebelah suaminya, tetapi orang itu juga tidak mengetahui keberadaan Lian.


*


*


Alya membawa kayu bakar yang dia dapat ke tendanya, ternyata teman-temannya sudah mulai memasak dengan kayu yang di dapat oleh Dania.


"Alya, kamu kemana saja? lama sekali," kata Melisa.


"Ceritanya panjang, nanti saja! sekarang kita mau masak apa?" ucap Alya.


"Alya, tadi aku kembali ke tempat itu tetapi kamu sudah tidak ada," sahut Dania yang berbohong.


"Gak papa kok," kata Alya tersenyum tipis.


Dania tadi memang sengaja tidak mengatakan pada siapapun, kalau Alya di datangi seekor ular. Karena dia merasa iri dengan Alya, banyak yang peduli dengannya terutama Raka. Dania sebenarnya sering melihat kebersamaan Raka dan Alya, tetapi dia pura-pura tidak tahu.


"Tadi kalian berdua cari kayu, kenapa kembalinya tidak bareng?" tanya Melisa teringat dengan tugas mereka.


"Alya, kamu istirahat dulu saja! biar Aku sama Vila yang masak," sahut Hilda merasa kasihan saat melihat Alya yang baru datang dengan wajah lesunya.


Walaupun capek Alya saat ini terlihat sangat bersemangat dan senang, baginya ini adalah pengalaman pertamanya masuk ke dalam hutan.


Malam hari pun tiba, kini saatnya semua siswa melakukan kegiatan jurit malam. Tanpa terkecuali semua siswa satu persatu harus melewati jejak yang telah ditentukan.


"Raka, kamu kan panitia. Kasih tau arah mana yang harus di lewati," kata Alya.


"Udah jangan banyak tanya! sana ikut teman kamu," ucap Raka.


Raka sebenarnya tidak tega jika Alya ikut kegiatan ini, tetapi semua harus mengikuti jadi tidak ada pilihan lain. Walaupun sebagai seorang panitia, ia harus konsekuen dengan tugasnya.


Jurit malam pun di mulai, satu-persatu siswa mulai mencari rute yang telah ditentukan. Banyak yang berani melewati rute itu, karena sebenarnya tidak sulit hanya gelap saja. Satu siswa di beri penerangan sebuah lilin dan korek api, selebihnya keberanian yang diperlukan.


Kini giliran Alya yang harus berjalan menyusuri hutan itu, dia merasa sangat takut karena gelap sekali dan hanya mengandalkan sebuah lilin.


"Raka! kamu dimana? tolong aku!" teriak Alya saat lilin yang dia pegang tiba-tiba mati tertiup angin.


Alya mencoba menghidupkan lilin itu kembali, untung saja bisa hidup kemudian ia melanjutkan jalannya. Ada petunjuk arah yang membingungkan, sehingga dia berjalan ke arah yang salah.


"Kenapa tidak ada orang? aku sudah berjalan jauh sekali," ucapnya dalam hati.


Kini semua siswa sudah kembali ke tempat berkumpul tadi, setelah di hitung kembali kurang satu siswa yang tak lain adalah Alya.


Raka yang baru mengetahui Alya belum kembali lalu mencari ke dalam hutan, dia menyesal karena tadi tidak mengikuti Alya.


"Raka, kenapa anak itu bisa tersesat? padahal petunjuk kita sudah benar," ucap teman Raka.


"Kadang Alya sangat ceroboh, jadi bukan salah kita," kata Raka.


Alya menangis karena ketakutan, lilin yang dia pegang mati lagi karena terkena tetesan air. Malam semakin larut, membuatnya kedinginan apalagi cuaca saat ini sedang gerimis.


"Tolong... tolong!" teriak Alya.


Dia hanya bisa berteriak, karena untuk kembali ke tempat tadi sudah tidak memungkinkan lagi. Kini semua panitia juga sudah menyebar untuk mencarinya, mereka membawa lampu penerangan.


"Gimana sudah ketemu belum?" tanya Raka pada salah satu temannya.


"Tidak ada! apa dia salah jalan," ucap teman Raka.


Kemudian ada salah satu teman Raka yang menemukan tanda yang membingungkan, karena tidak seperti yang mereka pasang.


"Melisa, bukannya kamu tadi ada dibelakang Alya," ucap Vila.


"Iya, tapi aku tidak melihat Alya. Tapi ada petunjuk arah yang warnanya beda tadi," ucap Melisa.


"Untung saja kamu tidak salah jalan! apa Alya salah jalan ya," kata Hilda.


Melisa tadi juga hampir salah arah, tetapi ia melihat ada jejak kaki ke arah kiri lalu dia mengikutinya. Saat Alya yang lewat tadi dalam keadaan lilin mati, jadi ia tidak memperhatikan jejak kaki.


"Pasti Alya tidak bisa ditemukan," sahut Dania keceplosan.


"Kamu ngomong apa, Dania?" tanya Hilda.


"Tidak! aku khawatir saja dengan Alya," jawab Dania.


Semua siswa di minta untuk berkumpul, mereka dilarang pergi dulu karena panitia masih fokus mencari Alya.


Hanif berjalan menuju di mana Melisa berada, ia marah dengan Melisa dan teman-temannya karena tidak membantu Alya. Melisa yang paling dekat dengan Alya merasa bersalah, harusnya dia tadi membantu Alya. Tapi semua sudah terlanjur, menyesal pun tiada gunanya.


Tengah malam pun tiba, semua siswa sudah di minta untuk istirahat di dalam tendanya masing-masing. Panitia masih sibuk mencari dimana keberadaan Alya, karena dari tadi juga belum di temukan.


"Alya, kamu di mana!" teriak panitia yang sedang mencari Alya.


Salah satu teman Raka ada yang mengajaknya untuk istirahat, tetapi Raka menolak. Dia akan mencari Alya sampai ditemukan, sebagai bentuk pertanggung jawaban.