Raka & Alya

Raka & Alya
Bab 18



Rumah sakit.


"Begini akibatnya kalau tidak nurut sama orang tua! ngapain juga pakai manjat gerbang, bisa kan ngomong sama satpam," omel Susi seraya menyuapi makanan Alya.


"Sudah dong, Mah! jangan marah terus, Alya mungkin panik jadi panjat pagar," kata Tio membela anak semata wayangnya.


Alya hanya diam dan menikmati suapan Mamahnya, dia tidak peduli lagi mau dimarahi seperti apa karena merasa sangat bersalah. Harusnya tadi dia mencari satpam di sekolah dulu, kebetulan satpam tadi sedang makan di warung depan sekolah.


"Alya, gimana keadaan kamu? maaf tadi aku duluan bareng Hanif," ucapnya yang baru saja datang.


"Lihat aja sendiri," ucap Alya sembari menunjukkan kakinya yang di perban.


Raka kemudian meminta maaf kepada Susi dan Tio karena sudah meninggalkan Alya sendiri di sekolah. Yang salah sebenarnya adalah Tio, karena tidak memberikan kabar terlebih dahulu kalau tidak bisa menjemput.


"Kamu tidak salah, Raka! Alya saja yang bandel, mentang-mentang bisa manjat," kata Susi.


Semuanya terdiam tidak ada yang berucap, Susi kalau sedang marah sangat galak. Raka kemudian hendak memberitahu Mira dan Lian, tetapi dilarang oleh Susi dan Tio. Mereka takut kalau Mira akan panik mendengar anak kesayangannya sedang di rawat, pasti akan meminta Lian pulang cepat.


Susi dan Tio menitipkan Alya pada Raka, karena mereka ada keperluan yang sangat penting dan tidak bisa ditinggalkan. Raka sebenarnya malas menjaga Alya, karena sikap manjanya akan keluar.


Setelah Susi dan Tio meninggalkan ruangan itu, Raka merebahkan tubuhnya di sofa. Dia sangat lelah karena harus bolak balik ke sekolah tadi, untuk mencari Alya walaupun tidak di temukan. Alya di bawa ke rumah sakit oleh satpam sekolah, dalam keadaan terluka kakinya.


"Raka, kenapa kamu tinggalin aku sendiri?" tanya Alya sembari mengerucutkan bibirnya.


"Aku pikir kamu sudah keluar, soalnya lama banget," kata Raka sembari memejamkan mata.


"Raka! kamu di suruh jagain aku, kenapa tidur," ucapnya kesal dengan Raka.


"Capek, Al! kamu hobi bikin orang susah mulu ya," ketus Raka kemudian bangun dari tidurnya dan duduk di kursi dekat ranjang Alya.


Alya pun terdiam saat Raka berada didekatnya, bahkan dia mengalihkan pandangan matanya agar tidak melihat Raka.


"Kupasin buah dong, Raka," kata Alya sembari menunjukkan buah yang ingin dia makan.


Raka menuruti apa yang di mau oleh Alya, selesai mengupaskan buah Alya minta dibelikan makanan ringan untuk camilan.


"Kalau aku keluar, kamu sendiri nanti! entar aja kalau Tante dan Om sudah datang," kata Raka dengan malas.


Sikap Alya kali ini memang kelewatan, tetapi kalau tidak begini bukan Alya namanya. Untung saja Raka masih mempunyai stok sabar yang banyak, jadi dia sudah hafal.


*


*


Lisa membujuk Dania agar memperbolehkan Ane tinggal bersama mereka, tetapi Dania menolak karena malu dengan penampilan Neneknya yang seperti orang gila.


"Mamah, sudah diperbolehkan tinggal di sini sama Papah dan Mamah Linda jadi jangan ngelunjak! lagian Nenek sihir itu sangat jahat," kata Dania yang teringat dengan perlakuan Ane dulu.


"Jaga ucapan kamu, Dania! baik atau buruk Mamah Ane dia tetap Nenek kamu," kata Lisa yang membela Mamahnya.


"Dania masih sakit hati, dulu selalu dikatakan anak haram," ucap Dania dengan mata berkaca-kaca.


Lisa meminta agar Dania melupakan perbuatan Mamahnya dulu, dan meminta agar Dania juga memaafkan semua kesalahan dia dan Mamahnya.


Dania tetap bersikukuh menolak permintaan Lisa karena masih sakit hati dengan ucapan Neneknya. Karena mendengar suara Dania dan Lisa dari dapur, Linda datang ke kamar Alya.


Linda bertanya kenapa mereka ribut, tetapi tidak ada yang mau menjelaskan.


"Dania, kamu masih mau menjadi anak Mamah kan? tolong jelaskan," kata Linda memaksa Dania juga.


Terpaksa Dania mengatakan apa yang terjadi pada Linda, Lisa sangat kesal melihat keakraban anaknya dengan Ibu sambungnya.


Setelah Linda pergi, Lisa memarahi Alya dan melarang agar tidak terlalu akrab dengan Linda. Dania justru tidak menghiraukan ucapan Lisa.


"Mamah, tolong jangan mengatur Dania lagi! sekarang Dania sudah besar, dan bukan boneka," ucap Dania dengan kekesalan.


Tak lama kemudian Fandy datang, Lisa menyambung dengan penuh semangat untuk mencari perhatian. Fandy tidak suka dengan perlakuan Lisa, karena dia lebih suka istrinya yang menyambut kedatangannya.


Lisa membuatkan minuman untuk Fandy, tetapi Fandy tidak mau meminumnya. Dia justru memanggil istrinya untuk menyingkirkan minuman buatan Lisa.


"Lisa, kamu tamu di rumah ini! jadi tolong jangan masuk ke dapur tanpa ada istri saya," kata Fandy.


"Niat ku baik lho... ! meringankan pekerjaan Linda, dia sudah capek kerja masih urus kamu," jelas Lisa dengan senyuman yang sulit untuk di artikan.


Lisa kemudian pergi ke dalam kamarnya, dia malu sendiri dengan ucapan Fandy.


"Pah, jangan terlalu kasar dengan Lisa," ucap Linda dengan baik.


"Harusnya Mamah tidak membiarkan orang lain mengantikan pekerjaan Mamah seperti tadi," kata Fandy.


Fandy sudah mulai curiga dengan kehadiran Lisa, karena sikapnya yang membuat orang lain menderita.


#


Mira sangat khawatir dengan Raka, mereka tidak jadi menginap. Harusnya nanti malam ada pertemuan dengan rekan kerja Lian, tetapi karena Mira sangat khawatirkan dengan keadaan Raka.


"Mah, Raka sudah besar. Dia pasti bisa jaga diri," ucap Lian.


"Perasaan Mamah tidak enak, atau Mamah aja yang pulang dulu," ucap Mira.


"Tidak, Mah! nanti Papah yang khawatir kalau Mamah pulang dulu," ucap Lian menatap istrinya.


Saat ini mereka sedang berada di hotel, Lian hendak melangsungkan meeting dengan teman kerjanya. Selesai meeting nanti mereka berencana untuk pulang, karena Mira yang sudah sangat menghawatirkan anaknya. Padahal Raka juga sudah besar, anak itu dapat di percaya.


Malam hari pun tiba, Lian sudah menyiapkan baju untuk istrinya. Tetapi Mira tidak mau ikut dia ingin menunggu di hotel saja. Lian memaksa istrinya agar menemani meeting, dengan terpaksa Mira mengikuti apa yang diucapkan oleh suaminya.


Lian memperkenalkan istrinya pada semua rekan kerjanya, dia tidak menyia-nyiakan hal itu. Setelah selesai meeting Lian mengajak istrinya untuk membeli oleh-oleh terlebih dahulu, Mira akhirnya memilih apa yang pantas untuk di bawa pulang.


Mereka berdua akhirnya pulang juga di malam itu, kebetulan di perjalanan hujan sangat deras sehingga membuat pengelihatan Lian terbatas. Saat hampir sampai di rumah tiba-tiba ada seseorang yang menyebrang jalan, hingga membuat Lian hampir menabrak orang itu.


"Awas ada orang menyebrang, Pah!" teriak Mira.


Dengan panik Lian menghentikan mobilnya secara mendadak, mereka berdua takut akan terjadi apa-apa dengan orang yang hampir mereka tabrak.


"Ayo kita lihat, Mah," ajak Lian kemudian turun dari mobil dan melihat orang itu.