Raka & Alya

Raka & Alya
Bab 28



Alya sampai di rumah langsung mengganti seragam sekolahnya dengan baju santai, kemudian ia pergi ke rumah Raka membawa buku tugas. Alya langsung masuk ke dalam rumah, kebetulan rumah dalam keadaan pintu terbuka.


"Raka... Raka!" teriak Alya.


Raka saat ini sedang tidur, dia harus banyak istirahat. Mira yang mendengar Alya berteriak lalu menemui Alya, ia menyuruh Alya untuk duduk.


"Mah, Raka mana sih? kok tadi gak berangkat sekolah," kata Alya sembari meletakkan buku yang dia bawa di atas meja.


"Raka ada di kamarnya, dia harus banyak istirahat," ucap Mira sembari tersenyum tipis.


"Raka kenapa, Mah?" tanya Alya.


Mira kemudian menjelaskan soal kejadian tadi pagi, Alya langsung berdiri dari duduknya dan masuk ke dalam kamar Raka, ia membangunkan Raka dengan mengoyak tubuh Raka.


"Raka, bangun! ini sudah sore," kata Alya.


Karena merasa terganggu Raka mulai membuka matanya, rasanya sangat kesal karena baru saja tidur sudah dibangunkan.


"Keluar kamu, Al," kata Raka lalu membenarkan selimutnya.


Alya bukannya pergi, dia malah duduk di tepi ranjang milik Raka sambil bercerita. "Raka, kamu tau tidak! aku tadi di sekolah kesepian, gak ada kamu," ucapnya.


"Gak nanya, Al," sahut Raka dari bawah selimut.


"Pasti gara-gara aku ya, kamu jadi sakit," ucap Alya.


"Kamu ngomong apa sih, Al! orang lagi sakit ya sakit aja, bukan karena orang lain," kata Raka.


Alya kemudian pergi ke dapur, ia hendak membuatkan makanan untuk Raka. Alya merasa bersalah kemarin sudah membuat Raka yang kedinginan.


Mira yang mengetahui kalau Alya sedang di dapur, lalu ia pergi ke dapur hendak membantu Alya memasak.


"Sayang, kamu ngapain? masak apa ini," ucap Mira.


"Alya mau buatin bubur buat Raka, Mah," kata Alya.


Dengan senang hati Mira membantu Alya membuatkan bubur untuk Raka, setelah bubur itu jadi Alya memberikan pada Raka. Ia juga membantu Raka untuk meminum obat, Alya begitu perhatian saat ini pada Raka.


"Alya, kamu ada tugas? kok baw buku," ucap Raka.


"Tadinya aku mau minta tolong kamu, buat bantuin kerjakan tugas," kata Alya.


Raka kemudian mengambil buku tugas milik Alya, ia mengerjakan tugas itu dengan pelan-pelan. Tak lupa ia juga menyalin di buku tugasnya sendiri, karena besok dia akan berangkat sekolah.


**


Satu minggu kemudian.


Hari ini siswa sekolah harus mengikuti camping, semua siswa sudah bersiap-siap untuk berangkat ke tempat tujuan.


"Alya, kamu sudah membawa pesanan aku?" tanya Melisa.


"Pasti aku bawa! kalau kamu bawa pesanan aku tidak?" kata Alya balik bertanya.


"Hutannya jauh tidak?" tanya Dania penasaran dengan letak hutan yang hendak mereka gunakan untuk camping.


"Sepertinya tidak kok, kan cuma di hutan yang dekat," jawab Alya.


Raka terlihat sedang mengendong sebuah tas yang besar menuju ke sebuah mobil yang telah disiapkan oleh pihak sekolah. Kemudian dia menyuruh siswa lainnya untuk segera bersiap, karena akan segera berangkat.


Perjalanan menuju hutan itu tidaklah mulus, ada jalan yang terjal dan juga naik turun. Mereka mengira jalan yang akan di lalui melewati jalan kota.


Pemandangan yang sangat indah memanjakan mata telanjang mereka, banyak tanaman pohon cemara di pinggir jalan itu.


Pembimbing mulai menyuruh mereka semua untuk mendirikan tenda, setelah selesai mereka berkumpul untuk memulai kegiatan. Mereka semua di minta untuk mencari kayu bakar untuk memasak.


"Kita mencari kayu bakar kemana? di sini tidak ada ranting yang jatuh," ucap Alya.


"Ayo kita cari sebelah sana," ajak Dania menunjukkan ke arah yang di larang oleh pembimbing.


"Dania, tidak boleh ke arah sana! kita cari ke tempat lain," kata Alya. Kebetulan Alya hanya bersama Dania yang mencari kayu bakar, lainnya di tugaskan untuk mencari air bersih.


"Tapi di sana banyak, Alya. Ayo kita cari ke sana," ajak Alya nekad tidak peduli dengan kata pembimbing.


Mereka berdua berjalan di tempat itu, ternyata banyak sekali kayu bakar. Alya dan Dania sangat senang tetapi mereka terkejut saat melihat seekor ular yang lumayan besar berada di dekat mereka.


"Tolong!" teriak Alya melihat ular itu seperti hendak mematuk nya.


"Alya, kita harus pergi dari tempat ini," kata Dania.


Alya yang posisinya dekat dengan ular itu, kalau ia mundur akan jatuh ke jurang. Dania hendak meninggalkan Alya untuk mencari bantuan, tetapi Alya takut di tinggal sendiri.


"Tolong aku, Dania! usir ular itu, aku takut," ucap Alya.


"Aku tidak berani, kamu tunggu sebentar! aku cari bantuan," kata Dania kemudian pergi meninggalkan Alya.


Tubuh Alya gemetaran karena takut, ular itu semakin mendekatinya.


"Tolong!" teriaknya.


Alya sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi dengannya, ia memejamkan matanya. Ular itu ternyata menjauh dari Alya dengan sendirinya, Alya mulai membuka matanya ternyata ular itu sudah pergi.


"Untung saja ular itu pergi," ucapnya dengan pelan.


Dania ternyata tidak mencari bantuan, ia malah duduk di dalam tenda. "Biarkan saja Alya di makan ular! cari perhatian saja jadi orang," ucap Dania dalam hati.


Raka dan teman-temannya saat ini sedang mencari jalan untuk kegiatan jurit malam, tidak sengaja dia melihat Alya sedang membawa kayu bakar.


"Sebentar ya, aku kesana dulu," pamit Raka pada temannya.


Raka kemudian menuju di mana Alya berada. "Kamu ngapain di sini? sudah diperingatkan jangan ke tempat ini," kata Raka melotot ke arah Alya.


"Tadi aku di ajak Dania, di tempat ini juga banyak kayu bakar. Ini aku dapat banyak," kata Alya sembari menunjukkan hasil kayu bakarnya.


"Alya! kamu tau bahaya tidak? di sana ada jurang," jelas Raka menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Kalau tadi aku tidak kesana pasti gak taulah! aku balik dulu," kata Alya lalu pergi meninggalkan Raka.


Raka menatap kesal Alya, lalu ia pergi mengikuti temannya tadi setelah Alya pergi.


*


*


Lian hari ini akan mengajak Mira ke pesta pernikahan anak temannya, di sebuah taman mereka mengadakan pesta. Mira masih terlihat sangat cantik walaupun sudah mempunyai anak sebesar Raka, teman Lian banyak yang kagum bahkan ada yang mengira adik Lian.


"Sayang, kamu tunggu disini sebentar! aku ke toilet dulu," pamit Mira pada suaminya.


"Ayo aku antar! toiletnya jauh," kata Lian.


"Tidak usah, aku berani sendiri kok," tolak Mira lalu meninggalkan suaminya.


Kemudian Mira meninggalkan Lian, ia masuk ke dalam toilet wanita yang tersedia di area taman. Sesekali Lian juga melirik ke arah toilet itu, tetapi Mira belum juga keluar.