Raka & Alya

Raka & Alya
Bab 27



"Gimana ini, Pah? badan Raka panas sekali," ucap Mira dengan panik.


"Tenang, Mah. Ayo kita bawa ke rumah sakit!" ajak Lian menenangkan mira.


"Gak usah Pah, Mah! Raka baik-baik saja, hanya sedikit pusing," sahut Raka.


Mira tetap memaksa akan membawa Raka ke rumah sakit, karena badan Raka sangat panas.


"Nanti juga sembuh, Mah," tolak Raka.


Lian juga ikut membujuk Raka, ia sangat khawatir dengan kondisi Raka saat ini. Kemudian Lian dan Mira membawa Raka ke rumah sakit dengan paksa.


***


Alya sudah siap untuk berangkat ke sekolah, dia duduk di teras rumahnya menunggu Raka. Sesekali dia melihat jam tangan, tetapi Raka belum kelihatan batang hidungnya sama sekali.


"Apa Raka berangkat duluan ya? kok gak kasih kabar," ucapnya dalam hati.


Susi yang melihat Alya masih duduk di teras rumah kemudian mendekatinya, dia menyuruh agar Alya segera berangkat sekolah.


"Alya, kenapa kamu belum juga berangkat? nanti terlambat," kata Susi.


"Raka belum ke sini, Mah! gak tau tuh anak kemana," kata Alya mengerucutkan bibirnya.


Susi melihat ke arah rumah Mira, pintunya masih tertutup dan tidak seperti biasanya. Kemudian Susi menuju ke rumah Mira, dia mengetuk pintu tetapi tidak ada jawaban sama sekali.


"Gimana, Mah? Raka sudah berangkat belum?" tanya Alya saat Susi pulang dari rumah Mira.


"Sepertinya mereka tidak ada di rumah, sudah berangkat mungkin. Lebih baik kamu berangkat duluan," ucap Susi.


Alya kemudian berangkat ke sekolah dengan langkah yang berat, ia harus berjalan kaki menuju tempat di mana ada angkutan umum lewat.


Setelah Alya berangkat Susi mengambil ponselnya, ia menghubungi Mira. Biasanya setiap pergi kemanapun pasti Mira memberitahunya, sehingga dia tidak khawatir.


Mira memberitahu Susi kalau dirinya sedang berada di jalan hendak menuju ke rumah sakit, ia juga mengatakan kalau badan Raka panas. Susi kaget mendengar ucapan Mira, lalu dia meminta Mira untuk memberikan kabar kalau sudah sampai di rumah sakit. Ia juga khawatir dengan keadaan Raka, dan ingin menyusul ke rumah sakit.


"Alya, kenapa jalan sendiri? Raka mana?" tanya Hanif yang kebetulan lewat. Hanif berangkat sekolah di antar oleh Mamahnya, dia melihat Alya jalan kaki lalu menyuruh Mamahnya untuk berhenti dulu.


"Gak tau! tadi di rumahnya gak ada, mungkin sudah berangkat dulu," kata Alya.


Hanif kemudian mengajak Alya untuk berangkat bareng, karena kalau naik angkot pasti bisa telat. Alya pun mau ikut berangkat bareng Hanif, dia tidak punya pilihan lain.


"Tante, maaf merepotkan," ucap Alya saat sampai di depan sekolah.


"Gak papa, Alya! udah sana kalian turun, nanti keburu di tutup pintu gerbangnya," ucap Mamah Hanif.


"Makasih, Tante," kata Alya.


Kemudian Hanif dan Alya turun dari mobil, mereka berlari dengan cepat karena pintu gerbang hampir di tutup.


"Neng Alya, hampir saja terlambat! cepat masuk," kata penjaga Sekolah.


"Iya, Pak! Alya duluan," kata Alya sembari berlari.


Petugas itu menutup gerbang sekolah, karena sudah waktunya. "Kalau Neng Alya tadi telat pasti dapat uang, tau gitu aku tutup tadi," ucapnya dalam hati.


*


Di rumah sakit saat ini Raka sedang di periksa oleh dokter, Mira dan Lian menunggu di luar. Mira mondar-mandir kesana kemari mengkhawatirkan keadaan anaknya. Sudah lima menit lamanya, dokter yang memeriksa Raka belum keluar.


"Pah, kenapa lama sekali? semoga Raka baik-baik saja," ucap Mira.


Lian mengajak istrinya untuk duduk, lalu menenangkan istrinya. Sebenarnya tadi dia bisa menelpon dokter keluarga, tetapi saat ini dokter keluarganya sedang berada sibuk.


"Dokter, bagaimana keadaan anak saya?" tanya Mira saat melihat dokter keluar dari ruang periksa.


Mira dan Lian lalu mengikuti dokter itu masuk ke dalam ruangannya, mereka mendengarkan penjelasan dokter dengan tenang.


"Kondisi anak anda tidak menghawatirkan, hanya demam biasa," jelas dokter.


"Alhamdulillah kalau gitu, dok," kata Lian.


"Ini resepnya, silahkan obatnya di tebus," kata dokter.


Dokter juga memesan agar Raka tetap menjaga kesehatannya dan banyak istirahat, karena cuaca yang sedang tidak menentu membuat daya tahan tubuh berkurang.


Lian menyuruh Mira untuk menjaga Raka lebih dulu, karena dia akan menebus obat dan menyelesaikan administrasi. Setelah selesai ia baru mengajak anak dan istrinya untuk pulang ke rumah, karena Raka juga harus banyak istirahat.


"Ya ampun! Mamah lupa kasih kabar ke Susi," ucap Mira saat mereka berada di perjalanan pulang ke rumah.


"Nanggung Mah, sebentar lagi kita sampai di rumah," kata Lian.


"Alya berangkat sekolah siapa yang antar, Mah," sahut Raka.


"Gak tau sayang, mungkin di antar Papahnya," kata Mira.


Mira sampai lupa dengan Alya saking khawatirnya dengan keadaan Raka. Sampai di rumah Susi ternyata sudah berada di rumah Mira, ia duduk di teras sembari menunggu kedatangan Mira.


"Kalian kenapa tidak bilang kalau Raka sakit? pergi juga tidak bilang-bilang," omel Susi ketika Mira dan Lian turun dari mobil.


"Maaf! kita tadi buru-buru, jadi tidak sempat pamit," jelas Lian.


"Raka, keadaan kamu gimana? apanya yang sakit? kenapa bisa?" ucap Susi memberondong pertanyaan pada Lian.


"Aku baik-baik saja, Tante," kata Raka.


Susi kemudian membantu Raka untuk masuk ke dalam rumah, ia juga sangat menghawatirkan Raka.


"Tadi Alya gimana berangkat sekolahnya?" tanya Mira.


Susi mengatakan kalau Alya ia suruh untuk naik angkot, Raka tertawa mendengar ucapan Susi.


"Raka, kenapa kamu tertawa? kasihan itu Alya naik angkot," ucap Mira.


"Biar rasain, Mah! anak manja naik angkot," kata Raka.


Susi membenarkan perkataan Raka, sesekali memang Alya perlu di kasih pelajaran biar tidak manja. Susi dan Mira kemudian meninggalkan Raka di kamarnya, biar dia bisa istirahat.


"Tante, nanti bilang Alya suruh jenguk aku ya," kata Raka saat Susi hendak keluar dari kamarnya.


"Pasti, Raka," kata Susi sembari tersenyum ke arah Raka.


Susi dan Mira melanjutkan obrolan mereka di ruang tengah, kebetulan Lian juga sudah berangkat ke kantor karena ada urusan yang tidak bisa dia tinggalkan.


*


Alya di sekolah merasa kesepian, biasanya ada Raka yang mengejek atau dia yang mengejeknya. Saat pelajaran di mulai ia melamun, sehingga membuatnya tidak berkonsentrasi.


"Alya, di panggil bu guru," kata Melisa yang duduk di sebelahnya.


Alya tidak bisa menjelaskan apa yang sudah gurunya terangkan, sehingga membuatnya di berikan tugas untuk membuat rangkuman pelajaran.


"Lain kali jangan melamun lagi," kata Melisa.


"Aku tidak melamun tadi," elak Alya.


Alya begitu tenang walaupun mendapatkan tugas dari gurunya, bahkan dia berencana untuk meminta bantuan Raka dalam mengerjakan tugas.


"Cepat kerjakan!" kata Ibu guru.