
Terpaksa Aldo menggendong Sandra lewat depan Lisa, dia tidak punya pilihan lain. Lisa yang melihat Aldo menggendong Sandra, langsung melotot.
"Ternyata Aldo tidak berubah, dia masih bersama wanita itu... " ucap Lisa lirih.
"Mbak, lihatin apa? ayo kita ke sebelah sana," kata Linda saat mendapati Lisa bengong.
"Ini bawa!" kata Lisa dengan keras sembari memberikan barang belanjaannya pada Linda.
Linda tersenyum dan menerima belanjaan milik Lisa, ia kemudian mengikuti Lisa layaknya pelayan pribadi yang patuh pada nyonyanya padahal Linda yang membayar menggunakan uang Fandy.
"Mbak, belanjaan sudah banyak! aku takut uang Mas Fandy habis," kata Linda mengingatkan.
"Kamu ini gimana sih! tadi nyuruh beli apa yang aku mau," kata Lisa.
"Tapi, gak sebanyak ini juga," kata Linda.
Lisa kemudian melemparkan baju yang dia pegang, ia tidak jadi membeli baju lagi karena ucapan Linda.
"Mbak, kok...
"Ayo pulang! nanti uang suami kamu habis," kata Lisa.
Mereka berdua kemudian pulang bersama, dengan menggunakan taksi online. Linda takut juga Fandy kalau mereka kelamaan akan marah.
Aldo membawa Sandra masuk ke dalam mobil, ia akan membawanya ke dokter tapi Sandra menolak dia minta di bawa ke tukang urut. Terpaksa Aldo mencari di mana tukang urut yang di maksud oleh Sandra, ia panik dengan keadaan kaki Sandra.
"Nanti kamu tidak bisa jalan! kita bawa ke dokter saja, biar cepat di tangani," kata Aldo.
"Aku hanya terkilir, Do! bukan sakit yang harus di obati dokter," kata Sandra.
Aldo memijat kaki Sandra dengan pelan, membuat Sandra menjerit kesakitan.
"Gimana enakan belum?" tanya Aldo sembari memijit dengan pelan kaki Sandra.
Sandra meminta Aldo menghentikan pijatan kakinya, karena sudah tidak terlalu sakit seperti tadi saat sebelum di pijat.
*
*
Raka pagi ini tidak masuk sekolah, dia akan ikut Mira dan Lian ke makam orang tua Mira. Mereka juga akan berkunjung ke rumah Mira yang dulu, sebenarnya mereka merencanakan sudah dari jauh Hari.
Alya pagi ini ke rumah Mira, karena menunggu Raka yang tidak kunjung datang. Susi padahal sudah tau kalau Raka hari ini tidak masuk sekolah, tetapi ia lupa tidak memberitahu Alya.
"Raka, kenapa kamu belum pakai seragam sekolah? nanti kita telat," ucap Alya.
"Hari ini aku izin gak masuk, mau ikut ke makam," jelas Raka.
"Kebiasaan kamu sekarang! gak kasih tau dulu," kata Alya.
Raka mengatakan kalau dia sudah berpamitan pada Susi tadi malam, Alya mengerucutkan bibirnya. Alya kemudian masuk ke dalam rumah Mira, kebetulan saat ini Mira dan Lian sedang sarapan pagi.
"Sayang, kok kamu belum berangkat? nanti terlambat gimana," kata Mira.
"Bolos paling, Mah! Alya boleh gak ikut ke kampung Mamah," tanya Alya.
Lian menyuruh Alya untuk sarapan lebih dulu, karena Alya akan banyak bicara kalau tidak diizinkan.
"Alya, terlambat kamu nanti! lihat jam itu," kata Raka sembari menunjukkan jam yang menempel di dinding.
"Sayang, jangan ngeledek Alya terus! dia sudah kesal," kata Mira.
"Belain terus, Mah! anak kesayangan Mamah," kata Raka kemudian mengambil piring untuk sarapan.
Mereka berempat akhirnya bisa sarapan bersama, moment seperti ini sudah lama tidak lakukan karena kesibukan masing-masing.
Alya akhirnya tidak jadi pergi ke sekolah, dia merengek ikut ke kampung halaman Mira. Mira memintakan izin pada Susi dan Tio.
Di dalam mobil Alya tidak mau duduk di sebelah Raka, dia hanya mau duduk dengan Mira.
"Kalau aku tadi masuk sekolah pasti gak bakal tau tempat ini," kata Alya.
"Tapi kita ketinggalan pelajaran," sahut Raka.
Mira kemudian mengajak mereka masuk ke dalam rumah, agar menghentikan debatnya. Mira kemudian membuatkan minuman, untuk menghilangkan rasa haus.
Alya kembali keluar rumah, ia melihat buah jambu yang berbuah lebat dan matang di pohon. Alya langsung memanjat pohon jambu itu, padahal ranting pohon jambu itu masih kecil.
"Alya! kamu dimana? Mamah nyuruh kita masuk ke dalam rumah," kata Raka.
"Aku di sini, Raka!" teriak Alya.
Raka mencari di mana arah suara itu, ternyata Alya sedang memanjat pohon. Ia menyuruh Alya untuk turun dari pohon, tapi Alya malah asyik memakan buah jambu dari atas pohon.
"Alya, cepat turun! ada ulat!" teriak Raka dari bawah pohon.
Alya langsung berusaha turun, dia takut kalau ada ulat beneran. Karena terburu-buru membuatnya terpleset dan jatuh, untung saja sudah hampir di bawah jadi tidak ada luka.
"Raka, tolong! aku jatuh gara-gara kamu," ucap Alya berusaha bangun dari jatuhnya.
Raka tertawa terbahak-bahak melihat Alya jatuh, kemudian dia menolong Alya dan mengajaknya untuk masuk ke dalam rumah.
Mira lalu menyuruh Alya untuk membersihkan baju yang dia kenakan, karena sangat kotor terkena tanah.
"Mah, ayo kita berangkat sekarang," kata Lian.
"Nunggu Alya, Pah! dia baru saja membersihkan bajunya," ucap Mira.
Setelah selesai menganti bajunya, Alya keluar dari kamar. Mereka berempat kemudian berangkat ke makam.
*
*
Di sekolah Dania, Hanif dan Melisa bingung mencari keberadaan Raka dan Alya.
"Hanif, Raka sama Alya kemana? kok gak masuk sekolah lagi," ucap Melisa.
"Mungkin saja mereka lelah," kata Hanif yang kalau berbicara.
"Padahal nilai pelajaran Alya kurang," sahut Dania.
Ibu guru pun datang, sehingga mereka menghentikan percakapannya. Bu guru kali ini memberikan soal yang sangat sulit, mereka semua tidak ada yang bisa menjawab.
Vila dan Hilda sedang berbisik-bisik membicarakan Dania, karena mereka berdua tau keburukan Dania yang sebenarnya.
"Vila, mereka belum tau soal Dania kan?" tanya Hilda.
"Belum, nyatanya mereka masih baik sama Dania," jawab Vila.
Hida ingin sekali membongkar semua kelakuan Dania, tetang perbuatan buruknya tetapi belum ada waktu yang tepat. Mereka bukan benci tetapi memang melakukan semua demi kebaikan bersama.
"Ayo kita bongkar saja," ucap Hilda dengan pelan.
"Raka sama Alya tidak ada! jangan dulu," kata Vila.
Mereka berencana akan mengatakan perbuatan buruknya Dania, sepertinya Hilda yang paling tidak bisa menahan rahasia ini lebih dulu.
Saat istirahat di kantin, Hilda sengaja datang dan ingin mengatakan semua pada Hanif dan Melisa. Kedatangan Hilda di sambut dengan baik oleh Hanif dan Melisa.
"Kalian takut gak, kalau ada teman yang jahat?" tanya Hilda.
"Teman kita baik semua," jawab Hanif.
Hilda pura-pura mengajak bicara Hanif dan lainnya, sedangkan Vila saat ini sedang mengajak bicara penjaga kantin. Dia lalu memasukan cabe banyak pada makanan pesanan Dania, karena mereka berdua kesal dengan Dania.