
"Alya, kamu ngapain dari tadi mondar-mandir gak jelas? cepat berangkat sana," kata Susi sembari menyapu.
"Nungguin Raka, Mah! tadi dia nyuruh siap-siap, tapi dia belum kelihatan juga," ucap Alya masih mondar-mandir gak jelas.
Susi hanya menggelengkan kepalanya, lalu ia masuk ke dalam rumah. Alya membuatnya sedikit jengkel, harusnya ke rumah Raka untuk bertanya malah hanya mondar-mandir.
Raka kembali tidur di dalam kamarnya, ternyata hari ini mereka diliburkan mendadak oleh guru mereka karena ada rapat guru. Kebetulan tadi pagi Raka membaca informasi dari grup sekolah melalui ponselnya, sebelum Alya tau ia sengaja menyuruhnya untuk bersiap-siap berangkat sekolah.
"Raka, kamu belum siap juga? itu Alya sudah nunggu dari tadi lho," ucap Mira yang baru saja masuk ke dalam kamar anaknya.
"Hari ini libur, Mah. Biar saja dia nunggu, siapa suruh gak baca informasi," kata Raka sambil tiduran.
"Kamu gak boleh gitu, sayang. Cepat sana bilang ke Alya," ucap Mira dengan lembut.
Raka engan pergi ke rumah Alya, dia lalu mengambil ponselnya dan menelpon Alya. Sepertinya Alya tidak membawa ponselnya, karena tidak ada jawaban sama sekali. Raka kemudian keluar dari kamar dan menuju ke rumah Alya.
"Raka, kamu kok belum pakai seragam? telat lagi dong kita," ucap Alya saat melihat Raka datang.
"Ponsel kamu kemana? gak baca informasi di grup ya," ucap Raka kemudian duduk di kursi yang berada di teras rumah Alya.
Alya mencari ponselnya di dalam tas tetapi tidak ada, lalu ia masuk ke dalam rumah mencari di dalam kamarnya. Setelah menemukan ponselnya, Alya membuka pesan dari grup sekolah. Ia terkejut setelah membacanya, lalu berteriak memanggil Raka.
"Raka!" teriak Alya sembari keluar dari dalam rumah.
"Apa, Al? berisik kamu," kata Raka sembari menutup kedua telinganya dengan telapak tangan.
"Kenapa tidak bilang kalau hari ini libur? kamu sengaja kan tadi nyuruh aku siap-siap," kata Alya.
Raka kemudian tertawa meliat Alya marah-marah, kemudian ia berpamitan pulang ke rumah.
"Awas saja kalau bohong lagi!" teriak Alya sembari menatap kepergian Raka.
*
*
Keadaan Dania saat ini sudah mulai membaik, bahkan dokter sudah memperbolehkannya untuk pulang. Tetapi Dania harus tetap menjaga pola makan dan minum, ia tidak diperbolehkan untuk mengonsumsi makanan yang terlalu pedas.
"Ingat apa kata dokter, Linda! jangan sembarangan lagi kalau kasih makan Dania," ucap Susi yang kebetulan sedang berada di sana.
"Baik, Mbak," ucap Linda penuh dengan kesabaran.
Padahal setiap hari Linda juga menyiapkan berbagai hidangan untuk makan, ada yang pedas dan tidak. Semuanya tergantung mana yang akan di ambil, dan di makan.
"Jangan bikin ribut, Lisa! kalian kemas-kemas saja, aku selesaikan administrasi dulu," kata Fandy kemudian keluar dari ruangan itu.
Linda memasukkan semua barang-barang milik Dania ke dalam tas, dia juga membantu Dania untuk bersiap-siap pulang sedangkan Lisa hanya menyuruh-nyuruh Linda.
Sampai di rumah Linda juga yang membantu Dania turun dari mobil dan masuk ke dalam kamarnya, ia begitu cekatan dan telaten.
"Mah, bantuin Mamah Linda dong! jangan hanya nyuruh-nyuruh saja," kata Dania merasa kasihan dengan Linda.
"Udah, Sayang. Mamah bisa kok beresin semua," ucap Linda sembari tersenyum.
"Gak usah cari muka kamu! sengaja biar anak sama mantan suami ku benci sama aku," kata Lisa.
Lisa tidak butuh penjelasan ataupun bantuan dari Linda, jadi apa yang dilakukan Linda semua salah. Beruntung Linda sangat penyabar, semua ia lakukan demi suaminya.
"Lisa, tolong jangan merusak suasana dalam keluarga ku atau kamu angkat kaki dari sini! aku sudah muak melihat tingkah mu," ucap Fandy tidak terima dengan perlakuan Lisa ke Linda.
"Aku tidak akan pernah pergi dari sini! aku akan selalu mendampingi Dania," ucap Lisa.
Fandy kemudian menyuruh Lisa untuk menghormati Linda, karena dia tinggal di rumah Linda walaupun Fandy yang membeli tetapi semua hak Linda. Ia juga meminta agar Lisa meminta maaf pada Linda, tetapi Lisa menolak melakukannya.
Linda yang mempunyai hati seluas samudera lalu menenangkan suaminya, dia justru mengatakan dengan adanya Lisa membuat dia lebih sabar dan semakin menyayangi keluarga.
Dania juga membela Linda, ia tau kalau Lisa adalah Mamah kandungnya tetapi ia juga bisa merasakan kasih sayang dari seorang Linda yang begitu tulus dan ikhlas.
Ane yang mendengar kalau Dania sudah boleh pulang, ia datang ke rumah Linda dengan membawa oleh-oleh untuk cucu kesayangannya itu.
"Nenek, jangan sedih lagi! Dania sudah sembuh kok," kata Dania saat Ane sudah berada di rumahnya.
Ane mengusap kepala Dania dengan lembut, lalu mencium keningnya. Ane juga meminta maaf dan menyesali perbuatannya dulu yang pernah dia lakukan.
*
*
Mira meminta Raka untuk mengantarkan ke taman, karena ia harus menghias taman secantik-cantiknya. Rencananya taman itu akan digunakan untuk acara ulang tahun perusahaan milik Lian, walaupun masih besok tetapi Mira akan melakukan persiapan mulai sekarang.
Sudah lama taman itu tidak digunakan untuk acara seperti ini, biasanya acara ulang tahun perusahaan hanya diadakan di kantor.
"Mah, tapi Raka nanti harus masuk kerja," kata Raka.
"Iya sayang, nanti kamu boleh langsung kerja," ucap Mira.
Mereka berdua kemudian berangkat menuju ke taman, disana masih banyak orang yang mengunjungi taman. Ada anak-anak yang sedang menginjak-injak bunga juga, tetapi orang tua anak itu tidak melarang justru tertawa.
Raka kemudian mengantarkan Mira sampai ke dalam taman, ia khawatir dengan Mamahnya jika berada di luar taman.
"Mah, Raka ke kantor dulu," pamitnya.
Mira memberikan izin anaknya, lalu ia menuju ke tempat anak yang menginjak-injak bunga tadi. Mira berusaha mengingatkan dengan lembut, agar tidak terjadi kesalah pahaman tetapi orang tua anak itu tetap tidak terima.
"Kamu siapa ngelarang anak saya! yang punya juga bukan," kata orang itu.
"Maaf, saya hanya mengingatkan. Bunga itu baru di tanam, kalau di injak-injak pasti akan rusak dan tidak tumbuh," jelas Mira dengan lembut.
"Saya masuk ke sini juga bayar! enak saja kamu bicara," kata orang itu lagi.
Mira dengan sabar mengatasi orang itu, sampai orang itu memanggil penjaga taman untuk mengusir Mira. Orang itu mengatakan kalau Mira sudah mengganggu kenyamanannya.
"Saya tidak berani mengingatkan, Bu. Karena Bu Mira ini pemilik taman ini," kata penjaga taman.
"Alasan saja! pemilik kok bikin pengunjung tidak nyaman," kata orang itu.
Mira meminta maaf dengan baik pada orang itu, dia juga mengatakan kalau akan mengembalikan uang orang itu. Tetapi orang itu tidak terima, ia mengangkat tangannya dan hendak menampar Mira.