Raka & Alya

Raka & Alya
Bab 23



"Kakak, akhirnya kalian semua datang ke sini?" ucap Leny dengan sangat bahagia, karena sudah lama Susi tidak pulang.


"Ternyata kamu pura-pura sakit! Kakak sangat khawatir sama kamu," ucap Susi sembari menjewer telinga adiknya.


"Len, sebenarnya siapa yang?" tanya Mira karena Leny terlihat sehat dan tidak seperti orang yang sakit.


"Aku sebenarnya tidak sakit, Kak. Tapi lagi periksa kehamilan, aku hamil Kak," jelasnya sembari memeluk Susi.


Leny sebenarnya tidak salah, saat menelpon Susi dia mengatakan sedang berada di rumah sakit. Kebetulan hari ini jadwal dia periksa, Susi belum mendengar kejelasan Leny dia sudah menangis. Leny mempunyai ide untuk mengerjai Kakaknya, hingga menyuruh temannya mengirimkan pesan kalau dia di rawat.


"Keterlaluan kamu, Leny! Alya di rumah sama Raka, kalau berantem gimana," sahut Tio ingin rasanya marah tetapi dia adik iparnya.


Lian hanya tersenyum melihat ulah Leny, ngerjain oran jauh-jauh hanya memberitahukan kalau dia sedang hamil. Kemudian mereka mengajak Leny untuk keluar dari rumah sakit, dan menuju ke sebuah cafe.


"Suami kamu mana, Leny? kenapa kamu sendiri?" tanya Mira yang heran melihat Leny pergi sendiri ke rumah sakit.


"Tiga hari yang lalu kita bertengkar, dia meminta Leny untuk tinggal dirumahnya. Leny tidak bisa meninggalkan rumah, lebih baik kita seperti ini," jelasnya dengan wajah sedihnya.


Leny sebenarnya saat ini sedang sedih, tetapi dia memendam semuanya. Susi kemudian hendak mengajak Leny tinggal di kota, Leny menolak karena masalahnya belum selesai.


"Aku takut kalau menambah masalah baru, Kak. Lebih baik kita selesaikan dulu," kata Leny dengan bijak.


Susi tidak memaksa Leny lagi, karena sudah sepantasnya ia menyelesaikan masalahnya sendiri. Mereka kemudian pulang ke rumah Susi, untuk beristirahat. Kemungkinan besok mereka baru kembali ke kota, saat ini tidak memungkinkan untuk ke kota karena sudah malam.


Dua kali ini Leny pura-pura sakit, hanya karena merindukan Kakaknya. Dia sangat sayang pada Susi, hanya Susi yang menurutnya bisa menenangkan di saat sedang ada masalah seperti ini.


*


*


Alya membawa boneka kesayangannya ke rumah Raka, sebenarnya dia sangat takut karena malam ini hujan sangat lebat. Di dalam kamar Alya sangat gelisah, tidak bisa tidur dan terbayang sesuatu yang menakutkan.


Raka dengan jahil melempar botol bekas ke luar sehingga menimbulkan suara, Alya yang berada di kamar sendiri berteriak lalu keluar dan mengetuk pintu kamar Raka.


"Raka! buka pintunya, aku takut!" teriak Alya dari luar.


Raka pura-pura tidak mendengar, padahal ia menahan tawanya. Alya masih mengetuk pintu kamar Raka, saking takutnya ia duduk di depan pintu lalu menangis.


"Dasar penakut! harusnya tadi aku tidak menakutinya, merepotkan saja," ucap Raka dengan pelan. Kemudian dia membuka pintu kamarnya, dan mengajak Alya duduk di sofa ruang tengah.


"Raka, aku takut. ada suara orang melemparkan batu di luar," adunya sambil menangis.


"Gak ada apa-apa, buktinya aku sama sekali tidak mendengar," ucap Raka bohong.


Alya semakin takut, ia yakin suara itu bukan dari manusia tetapi makhluk lain. Raka menyuruh Alya untuk segera tidur, besok pagi mereka harus bangun pagi dan berangkat ke sekolah. Tetapi Alya tidak mau, dia meminta Raka untuk menemaninya.


"Jangan seperti anak kecil, aku ngantuk," kata Raka berdiri dari duduknya hendak masuk ke dalam kamar, tetapi Alya menahan tangan Raka.


"Kamu duduk di situ aja, biar aku tidur di sofa," ucap Alya dengan iba.


Raka menyesal menakuti Alya, dia malah menjadi repot sendiri. Alya akhirnya tidur di sofa, sedangkan Raka duduk di tempat yang Alya suruh tadi. Setelah Alya tidur, Raka mengambil selimut dan menyelimuti tubuh Alya lalu masuk ke dalam kamar dan mengunci pintunya dari dalam.


Pagi hari Raka bangun lebih dulu dia sudah rapi hendak pergi ke sekolah, tetapi Alya masih tidur dengan pulas. Saat ini dia mengambil peran seperti seorang ibu yang membangunkan anaknya, Alya sama sekali tidak bangun ia justru membenarkan selimutnya yang tersingkap karena di tarik oleh Raka.


"Banjir... banjir!" teriak Alya sembari mengusap mukanya yang kena tetasan air.


"Alya, bangun! ini sudah siang, nanti kita terlambat," kata Raka dengan kesal.


Alya mulai terbangun dari tidurnya, dia duduk sambil mengucek matanya. "Aku kira kita sedang kehujanan, lalu kita terkena banjir," ucapnya.


"Cepat mandi, Al! kita harus segera berangkat ke sekolah," kata Raka lagi.


"Hanya Mamah Mira yang gak galak, kamu sama saja kaya Mamah Susi," ucapnya kemudian berlari pulang menuju rumahnya.


"Jangan lari kaki mu masih sakit!" teriak Raka.


Raka mengacak rambutnya yang sudah rapi, bisa gila dia kalau satu rumah dengan Alya.


Mereka berdua terlambat masuk ke sekolah, pintu gerbang sudah di tutup oleh penjaga sekolah.


"Pak, tolong buka pintu buat kita," ucap Raka merayu penjaga sekolah.


"Tunggu kepala sekolah datang, kalian boleh masuk atau tidak. Nanti saya di pecat kalau asal buka," jelas penjaga sekolah.


"Kita kasih ini, buka dong, Pak," sahut Alya sembari mengeluarkan uang dari sakunya.


"Neng, kamu mau nyogok saya! masih sekolah sudah main suap saja," kata penjaga sekolah. Sebenarnya saya juga butuh, Neng," Lanjutnya.


Penjaga sekolah akhirnya membantu mereka berdua masuk ke dalam sekolah, mereka langsung berlari menuju kelas mereka. Untung saja wali kelas yang mengajar belum datang, sehingga mereka berdua masih selamat dari hukuman.


"Raka, nanti kamu ganti uang ku tadi," kata Alya sembari tersenyum ke arah Raka.


"Tidak bisa! kita terlambat gara-gara kamu bangun siang," kata Raka menatap Alya.


"Di jalan tadi kamu bawa motor pelan juga, jadi gara-gara kamu," kata Alya banyak sekali alasannya.


Alya benar-benar menguji kesabaran Raka, dari tadi malam sudah bikin ulah terus. Untung saja Raka sudah kebal, jadi tahu kebiasaan buruk Alya.


"Kalian ribut terus, aku pusing dengernya," kata Melisa meminta Raka untuk pindah tempat duduk.


Alya yang tidak mau pindah dan melarang Raka, karena hari ini ada pelajaran matematika. Nilai matematika Alya sangat buruk, jadi dia selalu meminta bantuan.


"Pagi anak-anak," sapa Ibu guru.


"Pagi juga, Bu," sahut semua siswa secara serempak.


Ibu guru kemudian mulai menerangkan pelajaran, semua siswa mendengarkan dengan tenang kecuali Alya yang sibuk menggambar di buku kosongnya.


"Alya, kerjakan soal ini," kata Ibu guru sembari menulis soal di papan tulis.


"Raka, bantuin," bisik Alya. Alya takut kalau sampai salah mengerjakannya karena akan mendapatkan hukuman.


Raka tidak mau membantu Alya, dia ingin Alya berusaha sendiri. Alya kemudian maju ke depan, ia mengerjakan soal yang di berikan oleh Ibu guru.


"Kira-kira Alya bisa gak ya?"