Raka & Alya

Raka & Alya
Bab 10



Susi membangunkan Alya dari tidurnya, ia menepuk pipi Alya agar terbangun tetapi Alya sulit sekali dibangunkan. Mira menyuruh agar Susi pulang dulu saja, nanti kalau Alya bangun biar pulang sendiri. Karena harus membereskan rumah dan Alya bukan anak kecil lagi, kemudian Susi pulang lebih dulu.


"Mah, tadi kenapa cepat sekali perginya? biasanya pulang bareng Papah," kata Raka yang duduk di sebelah Mira.


"Papah kamu pulang malam pasti, kerjaannya banyak," ucap Mira sengaja tidak bilang kalau khawatir dengan Raka.


Mira menyuruh Raka untuk mandi terlebih dulu, karena waktu sudah sore. Dia akan menyiapkan makan malam nanti dan membuat minuman untuk suaminya.


Alya yang tertidur akhirnya bangun juga, dia langsung menuju ke meja makan di mana Mira berada. Alya hanya diam sambil memperhatikan Mira yang sedang menyiapkan makanan, Mira tersenyum melihat Alya. Walaupun bangun tidur dan rambutnya acak-acakan tetapi terlihat cantik. Gadis kecil yang dulu dia rawat kini sudah mulai tumbuh dewasa, sifatnya yang hampir mirip dengannya waktu kecil.


"Mah, kok lihat Alya sambil senyum? Alya berantakan ya, Mah," ucapnya sembari merapikan rambutnya yang terurai panjang.


Mira kemudian mendekati Alya, dan mengikat rambut Alya dengan tali rambut. "Tidak sayang, kamu cantik kok," ucapnya tersenyum.


"Mandi aja belum di bilang cantik, Mah. Alya bau belum mandi," sahut Raka yang tiba-tiba datang dan mengejek Alya.


"Sayang, gak boleh gitu," ucap Mira dengan lembut.


Alya melotot ke arah Raka, sebenarnya dia juga sedikit malu karena bangun tidur dan belum mandi di tambah rambutnya yang acak-acakan.


"Alya cantik kan, Mah?" ucap Alya.


Raka mendekat ke arah Alya dan merusak tali rambut Alya, lalu mengacak-acak rambut Alya. Alya tidak terima hendak membalas kelakuan Raka, dia mengejar Raka yang berlari memutari meja makan. Untung saja rumah Mira luas jadi mereka bisa berlari di dalam rumah.


"Alya bau... Alya jelek..." kata Raka sambil berlari-lari.


"Berhenti Raka! awas kalau ketangkep," kata Alya seraya memegang sapu hendak memukul Raka.


Mira sudah terbiasa menghadapi mereka, kalau salah satu ada yang menangis pasti berhenti tapi itu dulu waktu kecil.


"Raka! Alya! berhenti dong sayang," ucap Mira masih bisa berbicara dengan lembut.


Raka berhenti dan mendekat ke Mira agar tidak di pukul Alya, kalau sudah di dekat Mira pasti Alya tidak akan memukul karena takut Mira yang akan kena pukul.


"Curang! dasar Raka curang," ucapnya mengerucutkan bibir.


"Sudah kalian jangan seperti anak kecil! Alya mandi dulu, sayang," kata Mira dengan lembut dan sabar menghadapi kedua bocah itu.


Alya kemudian berpamitan untuk pulang, dia mau mandi karena sudah hampir petang. Raka membantu Mira menyiapkan makanan yang sempat tertunda, karena Raka dan Alya tadi.


"Mah, makanannya banyak sekali! ada tamu datang ya," kata Raka sembari mengambil piring dari rak.


"Ada temen Papah yang datang, sayang. Mereka akan membahas pekerjaan di sini," Jelas Mira.


Setelah selesai mereka menunggu kedatangan Lian dan teman-temannya sembari menonton televisi. Raka pamit ke dalam kamar, dia hendak menyiapkan buku pelajaran besok.


"Bukunya Alya, biar aja aku bawa," ucapnya seraya memasukkan buku Alya ke dalam tas, rencananya dia akan memberikan bukunya besok di sekolah.


Raka tersenyum, dia memikirkan ide untuk mengerjai Alya lagi. Mereka kalau sedang baikan memang seperti ini, kalau sedang bertengkar Raka akan mendiamkan dan bersikap cuek.


Tepat pukul delapan Lian baru pulang dari kantor, dia tidak jadi mengajak temannya pulang ke rumah. Teman Lian ada yang sedang tidak enak badan, jadi membatalkan.


"Papah, kenapa baru pulang? mana temannya? kita nungguin lho," ucap Mira yang dari tadi menahan lapar karena menunggu suaminya.


"Maaf sayang, mereka tidak jadi datang ke sini," kata Lian lalu mencium kening istrinya sebagai pertanda minta maaf.


Lian ikut masuk ke kamar Raka, ia mencium kening Raka. "Maafkan Papah, sayang," ucapnya. Kemudian menyelimuti tubuh anaknya yang tadi tidur tanpa selimut.


Lian mengajak Mira untuk makan, dia juga belum makan di kantor karena tidak sempat. Akhir-akhir ini pekerjaannya sangat banyak, sehingga membuatnya sibuk. Waktu untuk keluarga juga menjadi sedikit, Mira sudah mengingatkan agar meluangkan waktu untuknya dan anaknya.


"Mah, besok Papah harus ke luar kota," ucap Lian di sela-sela makan. Membuat Mira tersedak, lalu ia mengambilkan minuman.


"Kenapa pergi lagi? minggu kemarin kan sudah," protes Mira mendadak selera makannya hilang lalu menghentikannya.


Lian tersenyum lalu melanjutkan makannya, sedangkan Mira pergi ke dalam kamar untuk beristirahat. Setelah selesai makan Lian pergi ke tempat Susi.


*


*


Di rumah Susi sedang terjadi keributan antara Ibu dan anak, Susi menyuruh Alya untuk segera makan tetapi Alya masih bingung mencari bukunya.


"Mah, tadi Alya letakkan di sini bukunya," kata Alya yang sedang kebingungan.


"Nanti saja carinya! ayo kita makan dulu, Papah kamu sudah nungguin," ucapnya.


"Duluan aja, Mah! Alya gak mau makan, kalau buku itu belum ketemu!" kata Alya dengan tegas.


Susi hanya bisa menggelengkan kepalanya, melihat tingkah anaknya itu. Dia kemudian membiarkan Alya mencari bukunya, lalu menemani Tio makan.


Tok... tok... tok...


Alya mendengar suara ketukan pintu, dia lalu membuka pintu ternyata Lian yang datang.


"Papah, kenapa malam-malam ke sini? mana Mamah?" ucap Alya melihat sekeliling mencari keberadaan Mira.


"Ada di rumah. Boleh Papah masuk?" tanya Lian.


Alya sampai lupa tidak menyuruh Lian masuk ke dalam rumah, ia kemudian mengajak Lian masuk dan mempersilahkan untuk duduk di ruang tamu.


"Papah kamu mana, Alya?" tanya Lian yang sedang duduk di kursi ruang tamu.


"Lagi makan, Pah," jawab Alya sembari melihat ke kolong meja mencari buku tugasnya.


Lian bertanya apa yang sedang dilakukan oleh Alya, karena anak itu dari tadi terlihat aneh. Alya mengatakan kalau dia mencari buku tugasnya, tetapi tidak ketemu.


"Alya, kamu istirahat saja dulu mungkin tertinggal di sekolah," kata Lian kasihan dengan Alya.


"Iya Pah, Alya ke dalam dulu," pamitnya kemudian menuju ke dalam kamar.


Tio yang sudah selesai makan menemui Lian, mereka membahas masalah pekerjaan dan rencananya besok. Mereka sedang merencanakan sesuatu, sehingga menyibukkan diri dengan pekerjaan.


"Besok jadi tidak menemui wanita itu?" tanya Tio dengan pelan, agar istrinya tidak mendengar.


"Jadi dong! wanita itu cantik sekali," kata Lian. Aku tadi sudah bilang ke Mira mau keluar kota," Lanjutnya.


"Sejak kapan kamu bisa bohong," ucap Tio lalu tertawa.


Tak sengaja Susi mendengar percakapan mereka, dia menjadi curiga dengan Lian dan Tio. Susi jadi bertanya-tanya, dia takut suaminya mendua.