Raka & Alya

Raka & Alya
Bab 15



Dania kemudian mengikuti Ibu guru ke kantor, untuk menjelaskan soal kertas yang dia bawa ke sekolah. Karena tidak seharusnya dia membawa kertas itu ke sekolah.


"Dania, kamu ada masalah keluarga?" tanya Bu guru.


"Tidak kok, Bu. Kebetulan tadi pagi Mamah menaruhnya di meja belajar, jadi kebawa," jelas Dania menutupi apa yang sedang terjadi dalam keluarganya.


Nenek Dania tiba-tiba datang ke kota, dia meminta tinggal di rumah Fandy tetapi Dania tidak mau karena sakit hati atas perlakuan neneknya dulu. Ane terus mencari cara agar bisa tinggal di rumah itu, hingga mengancam Dania melalui sebuah surat yang isinya akan membuka masa lalunya. Dania malu dengan teman-temannya jika mereka tau siapa dia, jadi Dania sedang memikirkan cara agar neneknya tutup mulut.


"Dania... Dania... kenapa kamu melamun?" tanya Bu guru.


"Tidak ada, Bu. Dania baik-baik saja," ucapnya sembari tersenyum.


Dania kemudian pergi ke kantin, karena sudah waktunya untuk beristirahat. Dia menuju di mana Raka, Hanif, Melisa dan Alya sedang makan di kantin.


"Kalian sudah selesai makan belum? aku mau pesan makanan," kata Dania hendak menuju ke penjual di kantin.


"Belum, ini baru mulai makan kita," ucap Melisa yang baru saja mulai makan.


"Pesan saja! kita tungguin kok," sahut Alya.


Mereka sangat baik pada Dania, bahkan Raka juga sudah bisa menerima sebagai teman. Padahal Raka dulu terlihat tidak begitu suka, karena telah menganggap Dania orang asing.


*


*


"Lisa, cari cara dong biar Mamah bisa tinggal bareng kamu di rumah Fandi. Jangan diam aja," ucap Ane saat ini sedang menemui Lisa di sebuah cafe.


"Mah, lihat penampilan Mamah. Bikin malu Lisa lagi, pantes saja Dania tidak mau mengakui Mamah sebagai Neneknya," kata Lisa dengan ketus.


"Durhaka kamu sama orang tua! tega membiarkan Mamah kandung kamu tinggal di jalan," ucap Ane.


"Lisa pusing, Mah! ini ada sedikit uang, Mamah sewa rumah atau apalagi," ucapnya. Lisa gak mau tau," Lanjutnya.


Lisa tidak melihat dirinya sendiri waktu baru datang dari pinggir kota, dia datang dengan keadaan yang sama dengan Mamahnya. Kalau Linda tidak berbaik hati mungkin nasibnya akan lebih parah, sekarang memang dia sedang berpura-pura baik pada Linda agar segala kebutuhannya terpenuhi.


"Awas saja kamu, Lisa! Mamah tidak akan pernah memaafkan kamu lagi," ucapnya kemudian pergi meninggalkan Lisa.


Ane kemudian berjalan menuju ke kompleks rumah Aldo, dia melihat Mira dan Susi yang sedang ngobrol di teras rumah. Penampilan Ane saat ini memang berubah drastis, hampir tidak di kenal oleh banyak orang yang dulu mengenalnya.


"Mira, kamu sudah menghancurkan hidup Lisa! tunggu saja balasannya," ucapnya dengan pelan.


Tiba-tiba ada mobil yang melintas di dekatnya, kebetulan ada genangan air yang di lewati mobil itu sehingga airnya membasahi bajunya. Ane mengambil sebuah batu lalu melemparkan ke kaca mobil itu, pemilik mobil menghentikan mobilnya lalu mendatangi Ane.


"Aldo..." ucapnya lirih.


"Maaf Bu, saya tidak sengaja! ini ada sedikit uang, maaf saya buru-buru. Soal kaca mobil saya tidak meminta ganti," ucapnya kemudian kembali ke dalam mobil.


Ane masih mematung di tempat itu, dia berpikir bisa meminta tolong pada Aldo atau mau memanfaatkan Aldo.


"Aldo!" teriaknya tetapi Aldo sudah menjalankan mobilnya dengan kencang.


*


*


Lisa kemudian pulang ke rumah Fandy, dia langsung masuk ke dalam kamar ganti baju lalu menuju ke ruang makan.


"Dari mana, Mbak? kok baru pulang?" tanya Linda yang kebetulan sedang menyiapkan makan siang.


Linda dengan nurut mengambilkan nasi untuk Lisa, untung saja dia orang yang sabar dan baik hati kalau tidak pasti Lisa sudah di tendang dari kemarin. Lisa ketika tidak ada Fandy berbuat semena-mena dengan Linda, tetapi jika ada dia akan bersikap lembut.


Asisten rumah tangga Linda tidak terima dengan perlakuan Lisa, ia menukar nasi kemarin sebelum di berikan pada Lisa oleh Linda tadi. Itu semua sebagai bentuk pelajaran untuk Lisa, biar bisa bersikap baik.


"Linda, kenapa nasinya keras dingin lagi," ucap Lisa sembari mengaduk-aduk nasinya.


"Baru saja matang, Mbak," kata Linda sembari menaruh lauk di meja.


"Ini dingin nasinya, ganti dong! cepet," kata Lisa seenaknya dengan Linda.


"Mbak, nasinya sudah di meja semua," kata Linda.


"Kamu...


Tiba-tiba ada suara ketukan pintu, Lisa takut kalau yang datang Fandy makanya langsung terdiam. Linda kemudian membukakan pintu dan ternyata yang datang adalah Ane.


Ane mengatakan kalau ingin bertemu dengan Lisa, kemudian Linda memangil Lisa agar menemui Ane.


"Mamah! kenapa kesini? cepat pergi sebelum Fandy datang," kata Lisa mengusir Ane.


"Kamu tidak kasihan dengan, Mamah? kamu tega!" bentaknya.


Lisa tidak memperdulikan ucapan Ane, dia tetap menyuruh Ane pergi dari rumah Fandy. Lisa juga tidak mau kalau sampai Linda tau, yang datang adalah Mamahnya.


"Menyusahkan orang saja! Lisa sedang usaha biar bisa seperti dulu," kata Lisa kemudian masuk ke dalam rumah.


Sikap Lisa memang sangat keterlaluan, dia sudah lupa dengan orang tuanya yang dulu sudah melahirkannya ke dunia ini. Harusnya dia mengakui kalau itu Mamahnya dan meminta izin untuk tinggal di rumah Fandy pada Linda, pasti Fandy dan Linda akan memberikan izin.


Ane yang sudah di usir oleh Lisa kemudian mencari rumah sewa, tetapi banyak di tolak orang karena penampilan dan pakaian yang di pakai sudah kotor dan bau.


*


*


*


Pulang dari sekolah Alya pulang ke rumah Raka, dia mengerjakan tugas sekolah lebih dulu karena kalau mengerjakan sendiri Alya pasti lupa dan akhirnya tidak mengerjakan. Belum lagi saat di sekolah pasti ia akan di hukum oleh guru, itu sudah hal biasa yang di alami oleh Alya.


"Mamah, kado dari Alya sudah di buka belum?" tanya Alya saat baru sampai di rumah Raka.


"Kado? sepertinya belum, Mamah belum sempat," jawab Mira sambil mengingat-ingat kado dari Alya.


"Belum pasti, Mah. Bukannya masih numpuk di kamar, Mamah," sahut Raka.


Alya menawarkan diri untuk membantu Mira membuka kado, tetapi Raka melarang karena harus mengerjakan tugas dari sekolah.


"Nanti saja kamu bantu Mamah, sekolah kita makan siang dulu," kata Raka mengajak Alya untuk makan.


Mira kemudian mencari kado dari Alya, dia hendak mengambil kado yang ada ditumpukan paling atas. Kado yang paling kecil pun jatuh, Mira lalu mengambilnya.


"Apa ini kecil sekali," ucapnya dengan pelan.


Mira mulai membuka bungkus kado kecil itu, dan ternyata isinya adalah cincin berlian yang sangat bagus. Kado itu tidak ada nama dan ucapan dari pengirimannya.


"Siapa yang memberikan kado ini? tidak ada nama lagi," ucapnya bertanya-tanya.