
"Kamu bisa tidak hati-hati! dasar ceroboh," ucap Raka marah pada Alya, karena hampir saja Alya tertabrak motor yang melaju dengan kencang. Untung saja Raka dengan sigap berlari kencang menyelamatkan Alya.
"Makasih, Raka. Kalau kamu tidak menyelamatkan aku, pasti aku sudah...
"Jangan ngomong aneh-aneh! ayo kita pulang," kata Raka.
Raka memilih telat datang ke kantor, ia mengantarkan Alya pulang lebih dulu. Susi melihat Alya pulang di antar Raka, tersenyum lebar.
*
*
"Anak baru, kenapa datang terlambat? cepat bersihkan toilet sana!" kata Nando menyuruh Raka membersihkan toilet.
"Itu tugas saya, kasihan nak Raka," kata Ibu Yuni.
"Orang udah salah jangan dibelain ntar ngelunjak telat terus," omel Nando.
"Jangan ribut lagi, Pak, Bu! biar saya yang membersihkan toilet," sahut Raka.
Raka kemudian mengambil alat untuk membersihkan toilet, ia langsung menuju ke toilet dan langsung membersihkannya.
"Raka, aku bantu," kata Tania yang tiba-tiba berada di toilet.
"Biar aku saja, nanti ada Pak Nando," kata Raka sembari menyikat lantai toilet.
Mereka berdua berkerja sama membersihkan semua toilet yang ada di kantor itu, Raka sampai lupa belum makan siang membuatnya terlihat lemas.
"Raka, kamu pucat sekali! kamu sakit," kata Tania dengan wajah paniknya.
"Aku hanya lupa belum makan tadi siang," kata Raka.
Raka dan Tania saat ini sedang istirahat di bawah pohon, Tania kemudian memberikan bekal makanan yang dia bawa kebetulan tadi belum sempat dia makan.
"Tania, terimakasih ya. Besok kalau gajian aku traktir kamu," ucap Raka.
"Makan dulu, jangan mikirin itu, Raka! Tapi asyik juga kalau ditraktir," kata Tania.
Mereka berdua kemudian tertawa, sampai Raka belum jadi makan dari tadi. Nando datang merebut kotak makanan yang di pegang oleh Raka, ia melarang Raka untuk makan dulu.
"Enak aja belum istirahat sudah makan," kata Nando.
"Pak, kembalikan! saya tadi siang lupa belum makan," ucap Raka dengan pelan.
"Alasan saja kamu! sana lanjut kerja," kata Nando.
Tio yang lewat dan menyaksikan kejadian itu, lalu menegur Nando. Tio tidak terima melihat Raka diperlukan seperti itu, ia merasa kasihan dengan Raka.
"Kembalikan makanan itu! di sini tidak boleh kejam memperlakukan karyawan," kata Tio.
"Nando tadi menyuruh Raka membersihkan toilet juga, marahi saja dia, Pak," sahut Tania.
"Omm... maksud saya, Pak. Aku gak papa kok," kata Raka.
"Saya hanya menjalankan apa yang seharusnya mereka kerjakan, Pak," jelas Nando.
"Kamu gak tau Raka itu siapa?" tanya Tio.
"Dia karyawan baru di sini, Pak," jawab Nando.
Tio menggaruk kepalanya yang tidak gatal, kemudian ia pergi menemui Lian yang saat ini berada di ruang meeting menunggunya sedang mereka bertiga melanjutkan pekerjaannya.
"Lian, maaf saya terlambat," kata Tio.
"Aku lihat kamu tidak terlambat datang, tapi sibuk ngobrol sama Nando," ucap Lian.
"Oh... itu! kamu sebenarnya gila apa bagaimana? memperkerjakan anak seperti itu," kata Tio.
"Ayo kita bahas masalah proyek saja! urusan Raka itu urusan ku," ucap Lian.
"Tio, kamu ingat tidak proyek mall milik Aldo sama Sandra," ucap Lian.
"Proyek gak jelas itu! ada apa dengan proyek Aldo," ucap Tio sembari meneliti sebuah berkas.
"Mall itu sekarang sangat ramai, bahkan pemiliknya menjadi brand ambassador sebuah perusahaan fashion," jelas Lian.
"Aku sudah tidak kaget, dari dulu Sandra sangat berbakat menjadi model. Kecantikannya memang luar biasa," ucap Tio.
Lian dan Tio beralih membicarakan kecantikan Sandra, yang kini menjadi model terkenal walaupun usianya sudah tidak muda lagi.
"Masih cantik istriku, Tio! Sandra hanya menang tinggi saja," kata Lian.
Tio kemudian melemparkan bolpoin pada Lian, ia kesal malah bercanda.
*
*
Mira di rumah sagat gelisah, suami dan anaknya belum pulang. Padahal saat ini sudah malam, Mira sebenarnya tidak menyetujui ide Lian.
"Pada kemana mereka, di telepon dari tadi tidak ada yang jawab," ucap Mira dalam hati.
Apa yang dia tunggu akhirnya datang juga, Lian dan Raka saat ini sudah berada di depan rumah. Mira segera berlari untuk membuka pintu, ia tersenyum bahagia melihat suami dan anaknya datang.
Raka langsung menuju ke kamarnya untuk membersihkan diri, lalu pergi ke ruang makan.
"Mah, Pah, Ayo kita makan dulu! perut Raka sakit," kata Raka.
Mira kaget mendengar ucapan Raka, ia kemudian menyusul Raka ke ruang makan untuk menyiapkan.
"Kamu belum makan, sayang? kenapa Papah kamu tidak memberikan kamu makanan," ucap Mira.
"Raka yang gak sempat makan, Mah! tadi kerjaan banyak sekali," kata Raka.
"Maafkan Papah! kamu harus berkerja sedikit keras, Papah tidak bisa ikut campur," kata Lian.
Mira mengambilkan makanan untuk Raka, ia begitu perhatian dengan anak dan suaminya.
"Raka, kamu lapar? tambah lagi ya," ucap Mira melihat Raka makan dengan lahap
Mira menambah nasi pada piring Raka, ia tau kalau anaknya pasti sangat lapar. Tidak biasanya Raka makan dengan lahap, apalagi sampai menambah makanan.
Selesai makan malam Mira mengajak suaminya untuk bicara, dia tidak terima melihat Raka sampai kelaparan seperti itu.
"Pah, kenapa membiarkan Raka sampai kelaparan seperti tadi? harusnya Papah tengok dia saat kerja," kata Mira.
"Tidak ada waktu, hari ini banyak yang harus Papah kerjakan. Jadwal meeting juga padat," jelas Lian.
Mira menghembuskan nafas beratnya, tidak ada seorang ibu yang terima anaknya berkerja berat. Pulang dari kerja Raka masih harus mengerjakan tugas, tapi semua kemauan Raka sendiri. Orang tua hanya bisa mendukung dan memberikan mana yang terbaik.
Lian kemudian mengajak Mira untuk tidur, dia juga berjanji akan memperhatikan Raka lagi. Apalagi tadi Tio marah dengannya, membuat ia sadar kalau anaknya juga harus dia jaga keselamatannya walaupun berkerja di kantor sendiri.
Pagi hari saat Raka berangkat ke sekolah ia melihat Tania berada di pinggir jalan, ia mengajak Alya untuk menghampiri Tania tetapi Alya menolak.
"Alya, kita berhenti di sebelah sana sebentar," kata Raka.
"Gak mau! nanti kita telat, aku belum mengerjakan tugas kemarin," ucap Alya. Emang ada apa di sana," Lanjutnya.
Raka tidak jadi memberhentikan motornya, untung saja Tania tidak mengenalinya kalau Raka masih memakai seragam sekolah. Sampai di kelas Alya langsung mengerjakan tugas, ia meminjam buku milik Melisa.
Biasanya Alya akan meminjam milik Raka, tetapi Raka belum selesai mengerjakan karena tadi malam kecapean jadi ia ketiduran.
"Alya, selesai belum? tanya Melisa.
"Tinggal yang harus di jawab sendiri, Mel," kata Alya kemudian kembali fokus dengan tugasnya. Alya bukanya fokus tetapi teringat saat di jalan tadi, Raka meminta berhenti karena melihat seorang wanita. Ia menjadi penasaran dengan wanita tadi, sepulang sekolah nanti Alya ingin ikut ke kantor. Tapi Raka memperbolehkan atau tidak, ia belum tau.