Raka & Alya

Raka & Alya
Bab 32



Hari ini anak-anak sudah kembali masuk ke sekolah seperti biasanya, saat ini mereka sedang belajar di luar kelas. Semua siswa belajar di lapangan sekolah, walaupun di lapangan tetapi tidak terlalu panas karena berteduh di bawah pohon yang ada di pinggir lapangan.


Alya harus berkelompok dengan Hanif dan Melisa, sedangkan Raka bersama Dania dan Vila.


"Ini tidak adil bagi kelompoknya, harusnya aku sama Hilda," ucap Vila.


"Ya udah tukeran aja! ajak Hilda kesini, aku yang pindah," kata Raka dengan santai.


"Tidak bisa! kalau cewek semua gimana yang cari bunga di pohon, gak mungkin kita manjat," sahut Dania.


"Udah kita kerjakan sekarang! keburu waktu habis," kata Vila.


Mereka bertiga kemudian memulai mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru, mereka hanya diberikan waktu satu jam.


"Alya, ini gimana? aku tidak bisa mengerjakan," kata Hanif.


"Aku juga bingung, sebentar aku tanya dulu," ucap Alya.


"Kalian tidak bisa? sini aku bantu," sahut Raka yang tiba-tiba datang.


Alya menolak bantuan Raka, dia ingin berusaha sendiri walaupun itu sulit. Tiba-tiba Dania datang dan meminta Raka untuk kembali ke kelompoknya.


"Raka, kelompok kita belum selesai! kenapa malah bantu punya orang lain," ucap Dania.


"Gak salah kan kalau kasih tau caranya! asal gak memberikan jawaban," kata Raka.


Biasanya juga Raka yang membantu Alya jika sedang kesulitan, maka tidak salah jika hanya memberikan contoh.


Raka selesai membantu Alya lalu kembali ke kelompoknya sendiri, dia ternyata sudah bisa mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru.


"Untung saja Raka bantuin kita, kalau tidak apa jadinya," ucap Hanif.


"Kamu saja gak bisa, apalagi kita," kata Melisa.


"Aku bisa kok," sahut Alya sembari menunjukkan tugas yang dia kerjakan sendiri.


Alya memang sering membuat kesal teman-temanya, karena kelakuannya yang menjengkelkan. Tetapi dia selalu ramah dan baik sama siapa saja, tanpa memilih-milih teman.


Hanif dan Melisa mulai melihat tugas dari Alya, ternyata ada yang benar walaupun tidak semua. Melisa lalu memberitahu Alya kalau ada yang salah, agar segera diperbaiki oleh Alya sendiri.


"Ini buku kamu Alya, kelihatannya banyak yang salah," ucap Hanif.


"Aku sudah memperbaiki semua, kalau bicara jangan sembarangan," kata Alya.


Hanif hanya mengerjai Alya agar marah, dia memang sengaja mengatakan kalau hasil kerja Alya banyak yang salah.


"Hanif, kamu petik bunga yang ada di pohon itu buat penelitian," kata Alya sembari menunjukkan bunga yang mekar di atas pohon.


"Kamu saja, Al. aku takut! kalau jatuh gimana? nanti Mamah sedih," kata Hanif.


Melisa memukul lengan Hanif, dia kesal melihat Hanif seperti wanita tidak berani memanjat pohon. "Dasar penakut kamu, Hanif," ucapnya.


"Coba kamu saja, Melisa! aku tidak mau pokoknya titik," ucap Hanif lagi.


"Biar aku saja! ini pegang dulu buku ku," kata Alya kemudian memanjat pohon yang ada didepan mereka.


Kini Alya menjadi pusat perhatian temannya, karena berani memanjat pohon yang lumayan tinggi. Sampai di atas pohon ia memetik bunga dengan jumlah yang banyak, sehingga kelompok lain ada yang meminta pada Alya.


"Cukup, Al! cepat turun saja!" teriak Hanif.


"Petikan buat aku, Alya!" teriak teman yang lain.


"Al, cepat turun! kamu ini pakai rok, kalau di lihat dari bawah gimana," ucap Raka dengan pelan. Tak sengaja Raka memang sudah melihat, makanya dia mengatakan pada Alya. Kebetulan tadi Alya lebih dulu yang naik ke atas pohon, ada juga yang mau memanjat pohon yang sama dengan Alya tetapi Raka melarang.


"Kamu pasti intip, Raka! tutup mata aku turun dulu," ucap Alya kebetulan dia lupa tidak memakai celana pendek.


"Untung yang lihat cuma aku, Al," kata Raka.


Raka tertawa melihat Alya marah dan mengerucutkan bibirnya, Alya kemudian turun dengan pelan-pelan. Sampai di bawah ada Melisa yang juga mengatakan pada Alya, kalau kelihatan dari bawah. Alya begitu malu dengan teman-temanya, ia khawatir banyak yang melihat.


"Alya, kamu mau kemana?" tanya Hanif.


"Kelas!" jawabnya ketus. Lalu berlari menuju ke dalam kelas.


"Itu anak kenapa, Melisa?" tanya Hanif.


Melisa tidak mengatakan pada Hanif, ia pura-pura tidak tahu. Raka yang baru saja turun dari pohon langsung mendapat pertanyaan dari Melisa.


"Raka, kamu apakan Alya? kenapa turun dari pohon kelihatan kesal gitu," ucap Melisa.


"Tanya saja sama dia," kata Raka menahan tawanya.


Alya berjalan menuju dalam kelas sambil menggerutu, dia kesal dengan Raka yang sudah menertawakan dia.


Tugas mereka sudah selesai, dan mereka semua sudah diperbolehkan untuk kembali ke dalam kelas. Alya yang lebih dulu sampai di dalam kelas saat ini sedang membaca buku, entah ada angin apa dia mau belajar.


"Raka, aku duduk disebelah kamu ya," ucap Dania dengan pelan.


"Aku mau bareng Alya! kamu sama Melisa aja," tolak Raka.


"Kenapa kamu tidak mau? kamu pilih kasih sama teman, Raka," kata Dania.


"Udah jangan berebut! duduk aja di mana kalian suka," sahut Alya.


Kemudian Alya pindah tempat duduk, dia duduk di sebelah Vila yang kebetulan kosong. Hilda saat ini duduk di depan bersama teman kelompoknya.


*


*


Mira saat ini sedang berada di kantor Lian, ia ingin mengantarkan berkas Lian yang tertinggal di rumah. Mira hanya berpenampilan sederhana, tetapi karena kecantikannya membuat penampilannya sempurna. Walaupun sudah mempunyai anak sebesar Raka ia tetap cantik,


"Siang, Bu," sapa karyawan kantor Lian.


Mira tersenyum manis saat ada yang menyapanya, ia kemudian bertanya pada sekertaris Lian untuk menanyakan keberadaan Lian. Sikap Mira tidak pernah berubah, dia masih ramah dengan karyawan Lian. Kemudian ia dipersilahkan masuk ke dalam ruang kerja Lian, dan di antarkan sampai di depan pintu.


"Sayang, datang kesini sama siapa? kok gak bilang dulu," ucap Lian kemudian menyambut istrinya untuk duduk di sofa yang tersedia di ruang kerjanya.


"Berkas ini tadi ketinggalan di meja makan," ucap Mira sembari memberikan berkas itu pada Suaminya.


Lian kemudian keluar untuk menemui sekretarisnya, lalu berpesan agar tidak ada yang mengganggu karena istrinya datang. Jarang sekali Mira datang ke kantornya, bagi Lian ada rasa bahagia tersendiri.


Lian mengunci pintu ruang kerjanya dari dalam, ia kemudian duduk di sebelah istrinya.


"Pah, kenapa di kunci pintunya? nanti kalau ada orang penting," ucap Mira.


Lian tidak menjawab pertanyaan istrinya, ia langsung memeluk dan mencium kening istrinya dengan lembut dan penuh kasih sayang.


Mira yang hendak memberontak dari pelukan suaminya pun tidak mampu, karena tubuh kekar suaminya.


"Sayang, tolong hentikan," ucap Mira dengan lembut.