Raka & Alya

Raka & Alya
Bab 12



"Pah, kenapa Mamah belum juga datang?" tanya Raka khawatir dengan Mamahnya.


"Sebentar lagi pasti datang dengan Tante Susi," jawab Lian yang sangat yakin kalau Mira akan datang.


Lian kemudian menemui wanita cantik itu, untuk membicarakan acara nanti setelah Mira datang. Raka dan Alya saat ini sedang makan, karena Alya minta di traktir.


Alya tadi memaksa untuk ikut, dia juga belum tau kalau Mira ulang tahun. Jadi Alya sama sekali belum menyiapkan kado, rencananya dia akan meminta Raka menemani untuk membeli terlebih dahulu.


"Raka, temani beli kado yuk! ke mall depan itu," ucap Alya sembari menunjukkan gedung yang bernama mall.


"Habiskan dulu makanan kamu, nanti aku antar," kata Raka kemudian melanjutkan makannya.


Raka mengantarkan Alya ke mall itu, mereka mencari kado yang cocok untuk Mira. Tetapi Alya melihat gaun yang sangat bagus, dia ingin membeli gaun itu tapi sayang uang Alya tidak cukup.


"Alya, kamu lihat apa sih? buruan nanti Mamah keburu dateng," kata Raka melihat Alya yang bengong.


"Bantu pilih dong, aku bingung," kata Alya masih melihat gaun itu.


"Mamah suka masak, kamu belikan panci atau apalah," kata Raka sudah lelah memutari isi mall, tetapi belum mendapatkan apa yang Alya akan beli.


"Kalau ini gimana? pasti Mamah suka," ucapnya menunjukkan wajan yang di gantung.


Raka mengiyakan perkataan Alya karena kalau tidak dia bisa mengajak memutari mall lagi, kemudian Alya meminta penjaga itu untuk membungkus wajan dengan kertas kado.


"Yuk kita kembali ke hotel," ucapnya sembari menggandeng tangan Raka.


*


*


Mira dan Susi sampai juga di hotel yang di tuju, mereka masuk dengan terburu-buru. Saat ada petugas yang menyapa mereka tidak mempedulikan, karena pikiran mereka sudah tertuju pada Lian berada dalam hotel.


"Ini kamarnya, ayo kita masuk saja," kata Mira yang sudah tidak sabar untuk memergoki suaminya.


"Ada yang janggal sepertinya, kenapa petugas tadi tidak melarang kita masuk," kata Susi baru menyadari.


"Tidak usah dipikirkan, ayo kita masuk! pintunya juga terbuka sedikit," kata Mira langsung melebarkan pintu itu.


Lampu di dalam kamar itu padam, Susi kemudian menghidupkan lampu itu. Mereka berdua terkejut melihat ranjang berhiaskan kelopak bunga mawar yang sangat indah.


"Gila Lian menyiapkan seperti ini untuk wanita lain," kata Susi kemudian mendekati Mira yang berada di dekat ranjang itu.


Mira membuka sebuah kertas lipat yang ada di atas ranjang, sebuah tulisan tangan orang yang sangat dia cintai. Buliran air matanya menetes begitu saja saat membaca tulisan itu, kasih sayang yang selama ini dia pupuk ternyata tidak sia-sia.


*Dear Istriku Mira


Betapa bahagianya aku memiliki istri seperti kamu. Tanpamu, jantungku tak mampu berdetak. Denganmu, sayang, saya tak sabar menanti perjalanan panjang keluarga kecil kita. Meski semua orang tahu di hari ini kamu bertambah setahun lebih dewasa, di mataku kamu tetap perempuan yang sama yang saya temui bertahun-tahun lalu. Sama menawannya dan tak berkurang sedikitpun.


Saat kita tumbuh menjadi tua, banyak hal akan berubah. Namun satu hal yang akan tetap sama yaitu cinta kita yang sudah merekatkan ikatan kita dan akan lebih memperkuat lagi seiring berjalannya waktu.


Barakallah fii umrik, istriku. Semoga Allah selalu melimpahkan rezeki dan kebahagiaan untukmu dan untuk keluarga kita. Semoga Allah menjadikanmu sebagai istri yang sholihah, mencintai suami dan anak, dan tak kenal lelah merawat keluarga. Semoga Allah selalu meridhoi pengorbananmu.


Aamiin*.


Kiranya seperti itu surat yang di baca oleh Mira.


"Mira, apa yang terjadi? apa isi surat itu?" tanya Susi penasaran karena melihat Mira yang berurai air mata.


Mira memberikan kertas itu pada Susi, lalu perlahan menghapus air matanya.


Tak lama kemudian Lian dan lainnya masuk ke kamar itu, mereka membawa kue dan menyajikan lagu ulang tahun. Satu persatu mengucapkan selamat ulang tahun pada Mira, Susi terkejut karena tidak ada yang memberitahu apalagi melihat anak dan suaminya yang ikut merencanakan kejutan untuk Mira.


"Maaf Mah, semua ini ide Papah," ucap Raka memilih ikut Papahnya duluan karena tidak sanggup melihat Mamahnya menangis.


"Iya sayang, terimakasih," kata Mira seraya memeluk anak semata wayangnya.


"Mamah, ini ada kado spesial dari Alya," ucap Alya memberikan kotak kado yang berisi wajan sambil tersenyum.


"Wah... besar sekali kadonya, sayang. Makasih ya," kata Mira memeluk Alya.


Raka tertawa saat melihat Alya memberikan kado pada Mamahnya, membuatnya menjadi pusat perhatian yang lain. Alya melirik ke arah Raka yang tertawa, ingin rasanya dia memukul Raka.


"Mah, ini tadi kadonya yang pilih Raka lho," kata Alya.


"Ngarang kamu! bercanda juga," ucap Raka.


"Kalian bisa diam tidak," sahut Susi yang hendak berbicara dengan Mira.


"Sabar sayang, namanya juga anak-anak," kata Tio.


Susi kecewa dengan Tio karena tidak memberitahu kalau Mira berulang tahun, dan akan di rayakan. Tio kemudian mengajak Susi untuk ke kamar yang telah dia pesan, tetapi Susi tidak mau.


"Jawab dulu siapa wanita yang kalian bicarakan tadi malam?" tanya Susi tiba-tiba.


"Oh... ada kok. Nanti kalian juga tau," kata Lian.


"Lian, kamu tidak tau kalau istri mu demam gara-gara kalian bohong," kata Susi yang sudah tidak tahan.


"Apa Raka bilang, Pah," sahut Raka yang sudah mengetahui rencana Papahnya.


"Mamah mau bicara berdua, Pah," kata Mira dengan raut wajah campur aduk antara bahagia dan sedih.


Raka dan Alya kemudian menuju ke ruang yang sudah di pesan untuk pesta nanti malam, sedangkan Tio dan Susi melihat kamar mereka. Tinggal Mira dan Lian yang berada di dalam kamar, Lian kemudian mengunci pintunya.


"Katakan sayang, apa yang ingin kamu bicarakan," ucap Lian dengan lembut lalu mengajak Mira untuk duduk di atas ranjang.


"Apa yang kamu sembunyikan dariku? jawab!" kata Mira sedikit keras.


"Sayang, jangan merusak suasana bahagia ini," ucap Lian seraya memegang tangan Mira dengan lembut.


"Wanita yang kamu bicarakan itu siapa? kenapa tidak mau jujur," kata Mira dengan air mata yang menetes dari kedua matanya.


Lian menghapus air mata istrinya dengan lembut, lalu memeluknya. Dia sangat menyayangi istrinya, lebih dari apapun. Kemudian dia mengeluarkan sebuah kotak yang berbungkus untuk istrinya tercinta.


"Aku tidak mau menerima apapun sebelum mengetahui siapa wanita itu," ucap Mira dengan sungguh-sungguh.


"Sayang, ayo buka dulu," ucap Lian terus merayu istrinya.


Mira tetap bersikukuh tidak mau membuka kado dari suaminya, baginya lebih penting kejujuran dari pada sebuah kado walaupun harganya mahal.