Raka & Alya

Raka & Alya
Bab 41



Tania melihat foto itu di dalam toilet, foto Raka dan Alya tak sengaja terjatuh. "Cocok sekali Raka dengan wanita ini, cantik," ucap Tania kemudian memasukkan kembali ke sakunya. Ia kemudian hendak melanjutkan pekerjaannya yang tertunda, tetapi Nando menghadangnya.


"Tania, kemarin anak baru itu kemana aja? kok tidak masuk, baru juga kerja dua hari," kata Nando.


"Anak baru siapa? dia punya nama! jangan asal sebut," ketus Tania.


"Bagus! belain terus itu anak, biar semakin jadi," kata Nando.


Tania kemudian menginjak kaki Nando lalu meninggalkannya, dia kesal dengan sikap Nando yang sok berkuasa.


"Tania, tunggu!" teriak Nando.


Tania terus berjalan tanpa menoleh ke arah Nando yang memanggilnya, karena dia harus menyelesaikan pekerjaannya.


"Sial! ada saja yang ganggu tiap mau deketin Tania," gerutu Nando.


*


*


Raka hari ini berangkat sekolah lebih awal, ia tidak menunggu Alya. Tadi saat di rumah Tio sudah bilang mau mengantarkan Alya ke sekolah, ia ingin memberikan kejutan untuk putri semata wayangnya itu.


"Raka kok ninggalin aku! padahal dia udah janji mau berangkat bareng, pasti mau menemui teman wanitanya yang kemarin di ajak ke mall," ucap Alya lalu mengerucutkan bibirnya.


"Sejak kapan Raka punya teman wanita? jangan ngawur kamu, Alya! salah lihat pasti, gak mungkin Raka punya teman wanita," kata Susi yang tidak percaya dengan Alya.


"Mah, kemarin Alya lihat sendiri waktu di mall sama Mamah Mira. Pamitnya aja latihan futsal tak taunya lagi jalan ke mall," ucap Alya.


"Kamu cemburu? kok dari tadi ngomongin Raka terus," sahut Tio.


"Em... enggak, Pah! ngapain juga cemburu sama Raka, udah ayo berangkat! nanti Alya telat lagi," ucapnya kemudian masuk ke dalam mobil Tio.


Susi kemudian membeli sayuran di tukang sayur keliling setelah anak dan suaminya berangkat, kebetulan tukang sayur itu berhenti di tempat tetangganya.


"Mira, kamu udah di sini aja! gak ngajak-ngajak lagi," ucap Susi saat bertemu dengan Mira yang sedang memilih sayuran.


"Tadi ada Tio aku gak enak, masa suami belum berangkat kerja udah di tinggal aja," ucap Mira.


Susi mengatakan kalau tadi Tio mau mengantarkan Alya ke sekolah, karena Raka sudah berangkat dulu. Mereka berdua lalu memilih sayuran yang akan di beli, setelah selesai Mira mengajak Susi ke rumahnya lebih dulu.


"Mira, tadi pagi Alya bilang kalau Raka punya teman wanita. Apa kamu sudah tau?" tanya Susi.


"Pasti Tania yang di maksud Alya, dia teman kerja Raka di kantor," kata Mira yang memang sudah tau karena Raka sudah cerita semuanya.


"Alya sepertinya cemburu, Mir! Gimana kalau anak kita saling menyukai?" tanya Susi takut kalau Alya suka sama Raka.


"Kalau mereka saling menyukai, kita nikahkan saja! kenapa kamu takut," ucap Mira sembari tersenyum.


"Masa kita besanan! nanti takutnya kalau anak kita ada masalah, kita jadi ikut bela anak sendiri. Kamu mau persahabatan kita hancur?" ucap Susi.


"Kamu mikirnya kejauhan deh! tiap hari anak kita juga bertengkar terus, tapi apa ada aku bela Raka? enggak kan," kata Mira.


Bagi Mira kalau mereka berjodoh ia justru senang, karena mempunyai menantu yang sudah dia kenal. Berbeda dengan Susi, yang mempunyai rasa takut persahabatannya akan rusak.


"Kalau bisa jangan sampai, Mira. Aku gak enak sama kamu dan Lian, tau sendiri Alya kayak gimana," kata Susi.


"Namanya juga masih muda, udah maklumi aja," ucap Mira. Dia tidak pernah mempermasalahkan atau pun mengeluh soal sikap Alya, justru ia sering membelanya.


"Terserah kamu saja! kalau mau punya menantu seperti Alya, bisanya bikin ulah. Aku mau masak saja," kata Susi lalu masuk ke dalam rumah.


*


*


"Mah, Lisa sudah tidak betah tinggal di rumah Fandy! Lisa ikut Mamah ya," kata Lisa saat berada di rumah Ane.


"Mamah gak mau pusing mikirin kamu! lebih baik kamu tinggal sama Fandy, jangan bikin repot terus," kata Ane duduk menyilangkan kaki di sofa sambil menonton televisi.


"Yang Lisa punya hanya, Mamah. Izinkan Lisa tinggal di sini ya, Mah," rayu Lisa padahal dia ingin tinggal sama Mamahnya karena sekarang Mamahnya sudah menjadi orang kaya.


Ane bersikeras tidak mau menerima Lisa, dia masih sakit hati dengan anaknya, karena waktu Ane masih miskin Lisa meninggalkannya sendiri.


"Kamu tidak mengganggap anak Dania? kenapa bilang hanya punya Mamah! Lisa, sekarang lebih baik kamu kembali ke rumah Fandy," kata Ane mengusir Lisa.


"Aku tidak tega meninggalkan Mamah sendiri, karena hanya Mamah keluarga Lisa! anak itu tidak tau diri, dia hanya menganggap Linda sebagai Mamahnya," jelas Lisa sembari menitihkan air mata.


"Pulang Lisa! Mamah mau sendiri," kata Ane.


"Sebenarnya Fandy juga mengusir Lisa, dia tidak suka dengan keberadaan Lisa di rumahnya," kata Lisa.


Ane tetap menyuruh Lisa untuk tinggal bersama Fandy, walaupun Lisa sudah lelah merusak rumah tangga Fandy karena tidak pernah berhasil. Lisa kemudian meninggalkan rumah Ane, dia pergi ke kantor Aldo lagi.


Lisa pergi ke kantor Aldo menggunakan taksi online yang dia pesan, agar lebih cepat sampai di kantor Aldo.


"Berapa, Pak?" tanya Lisa menanyakan ongkos pada sopir taksi itu.


"Lima puluh lima ribu, Mbak," jawab sopir taksi.


"Ini Pak, makasih ya," kata Lisa hendak keluar dari dalam taksi.


"Mbak, duitnya kurang lima ribu," kata sopir taksi.


"Uang receh ku tinggal itu, Pak! udah segitu aja, lagian gak jauh juga," kata Lisa.


"Gimana sih, Mbak! kalau gak punya duit gak usah naik taksi," kata Sopir taksi.


Mungkin hari ini sial buat sopir taksi itu, dia harus nombok karena gara-gara Lisa yang kurang membayar taksi.


Setelah sopir taksi itu pergi Lisa kemudian masuk ke dalam kantor Aldo, ia menunggu Aldo di depan ruang kerjanya.


"Bu Lisa, pak Aldo sedang meeting di luar! lebih baik Ibu besok kembali lagi, saya akan mengatur jadwalnya," kata Lina.


"Lina, kamu lupa siapa saya? aku istrinya Aldo! tidak perlu pakai jadwal segala," kata Lisa.


"Bu, mohon maaf kita harus mengikuti prosedur," kata Lina.


Mereka berdua berdebat, karena masalah ini. Lina hanya mengikuti kemauan Aldo yang sebenarnya tidak mau bertemu dengan Lisa.


*


Pulang sekolah Alya pergi ke kantor Lian, ia masih penasaran dengan Tania. Alya takut jika Papahnya tau dia datang ke kantor, karena pasti akan terkena marah.


"Alya, kamu ngapain ke sini? mana Raka?" tanya Tio yang kebetulan melihat Alya lalu mendatanginya.


Alya bingung mau menjawab apa, karena Raka entah di mana sekarang.