
"Pah, besok pagi siapa yang antar Alya ke sekolah?" tanya Alya saat Tio baru saja pulang dari kantor.
"Kalau pagi bisa bareng sama Raka," ucap Tio.
Alya tidak puas dengan jawaban Papahnya, ia lalu masuk ke dalam kamar dan mengurung diri. Saat makan malam Alya tidak ikut, ia masih kesal dan tidak mau keluar dari dalam kamar.
"Pah, gimana soal Alya? lebih baik jangan di turuti, dia juga belum mahir menyetir mobil," kata Susi sembari menyiapkan makan.
"Nanti lama-lama juga bisa, Mah! yang penting kita sudah membelikan," ucap Tio dengan enteng.
"Papah, kaya gak tau aja Alya! paling juga seminggu sudah bosan, buang-buang uang," kata Susi.
"Ngomel nya lanjut di kamar aja, Mah. Papah sudah lapar mau makan," kata Tio kemudian makan.
Esok hari Alya tidak mau berangkat sekolah dengan Raka, ia justru meminta Aldo untuk mengantarkannya ke sekolah. Susi dan Tio kesal melihat tingkah anaknya yang selalu merepotkan orang.
"Om, sibuk gak hari ini?" tanya Alya yang datang ke rumah Aldo.
"Engga, ada yang bisa Om bantu," kata Aldo.
"Anterin Alya ke sekolah, Om! please," ucap Alya.
"Sebentar ya! Om mau mandi dulu, sekalian berangkat ke kantor," kata Aldo kemudian meninggalkan Alya masuk ke dalam rumah.
Di perjalanan Aldo mengajak Alya untuk sarapan pagi lebih dulu, ditempat makanan siap saji yang buka dua puluh empat jam.
"Om, Alya burger aja," kata Alya.
Aldo sangat senang Alya mau menemaninya sarapan pagi, biasanya dia tidak pernah sarapan. Aldo sering makan telat, karena tidak ada yang memperhatikannya.
*
*
Raka saat ini baru berangkat dari rumah, kemudian ia ke rumah Alya.
"Tante, Alya mana? mau bareng tidak?" tanya Raka pada Susi.
"Alya sudah berangkat dari tadi," jawab Susi. "Maaf Raka tidak bilang tadi," Lanjutnya.
Raka kemudian berangkat sendiri ke sekolah, di dalam kelas ia tidak mendapati Alya.
"Melisa, kamu lihat Alya tidak?" tanya Raka.
"Alya belum datang, Raka. Biasanya juga bareng kamu," kata Melisa.
"Tadi kata Mamahnya sudah berangkat dulu," ucap Raka sembari tersenyum lalu duduk di bangku sebelah Melisa.
Bel masuk kelas hampir berbunyi, Alya baru sampai di sekolah. Tak lupa ia berterimakasih pada Aldo, kemudian berlari menuju ke dalam kelas.
"Untung saja tidak terlambat," ucap Alya matanya mencari bangku yang kosong.
Terpaksa Alya duduk di bangku paling belakang, karena bangku depan sudah penuh. Mau tidak mau Alya harus duduk bareng Hanif lagi.
"Alya, tumben baru datang," ucap Hanif.
"Iya, tadi sarapan dulu di cafe dekat mall," jelas Alya kemudian mengeluarkan buku pelajaran dari dalam tas.
*
*
Lisa melihat mobil Aldo melewatinya saat ia sedang jalan, kebetulan Lisa hari ini mau mencari pekerjaan. Lisa berfikir akan melamar kerja di perusahaan milik Aldo, kemudian dia mencari taksi untuk mengantarkannya ke perusahaan milik Aldo.
Lisa melihat Clara sedang berada di kantor itu, ia kemudian memulai aksinya untuk mendekati Clara lebih dulu.
"Mamah, apa kabar?" tanya Lisa saat menemui Clara.
Clara melihat Lisa dari ujung kepala sampai kaki. "Baik," ucapnya singkat.
"Mah, boleh bicara sebentar? ada yang ingin Lisa bicarakan," kata Lisa.
Mereka kemudian duduk di ruang tunggu kantor Aldo, Lisa ingin mempengaruhi Clara agar bisa kembali lagi dengan Aldo.
"Katakan apa mau kamu! tidak usah basa basi," ucap Clara dengan ketus.
"Lisa ingin balikan sama Aldo, membuka lembaran baru dengan Aldo," ucap Lisa memberanikan diri.
"Kondisi Mamah saat ini sudah tua, jadi nanti Lisa yang akan merawat, Mamah," kata Lisa.
"Aduh! yang ada langsung mati kamu yang rawat," ketus Clara.
Lisa kemudian meminta pekerjaan pada Clara, tetapi justru membuat Clara tambah marah dan mengusir Lisa. Aldo datang karena mendapat laporan dari Lina, kalau Mamahnya sedang bertengkar dengan Lisa.
"Jangan membuat keributan di sini! ini kantor tempat kerja, bikin malu saja," kata Aldo tanpa membela siapapun.
"Mamah kamu yang mulai duluan, Do! bukan aku," kata Lisa membela diri.
"Enak aja! jangan asal ngomong, sama orang tua tidak ada hormatnya," kata Clara.
"Cukup!" bentak Aldo.
Mereka berdua diam membisu setelah Aldo berteriak, kemudian dia memanggil satpam agar mengusir Lisa dari tempat kerjanya.
Aldo kemudian kembali ke ruang kerjanya, untuk melanjutkan pekerjaan yang menumpuk. Clara melanjutkan pembicaranya dengan karyawan Aldo, mereka sedang ada bisnis.
*
*
"Sial! kenapa rencana ku selalu gagal dan gagal," gerutu Lisa saat berada di rumah Fandy.
Kebetulan Linda saat ini sedang duduk santai di ruang televisi, kedatangan Lisa sebenarnya sangat mengganggu tetapi dengan sabar Linda menghadapi.
"Dari mana, Mbak? kelihatannya kesal gitu?" tanya Linda dengan lembut.
"Bukan urusan kamu! buatin aku minuman dong, haus nih," kata Lisa seenaknya menyuruh Linda padahal di rumah Linda ada asisten rumah tangganya.
"Mbak Lisa, mau minum apa?" tanya Linda sopan.
"Apa aja! yang penting rasa haus ku ilang, jangan banyak tanya," kata Lisa dengan kasar.
Linda kemudian pergi ke dapur untuk membuatkan minuman Lisa, ia membuatkannya jus jeruk.
"Bu, biar saya yang buat," kata asisten rumah tangga Linda.
"Saya aja Mbak! lagian udah mau jadi kok," kata Linda.
"Ibu, yang sabar menghadapi Lisa black-black itu! bukan siapa-siapa juga main nyuruh, dia kan cuma numpang. Usir saja, Bu," kata asisten rumah tangganya.
"Gak boleh gitu, Mbak! dia mantan istri Mas Fandy," kata Linda.
"Linda, cepetan!" teriak Lisa.
"Baru juga di omongin," kata asisten rumah tangganya.
Linda kemudian membawa jus jeruk yang sudah ia buat, lalu memberikan pada Lisa yang saat ini masih berada di ruang televisi.
"Mana! lama banget," kata Lisa dengan ketus.
Linda memberikan minuman itu pada Lisa, lalu pergi meninggalkan Lisa.
*
*
"Alya, kamu tadi pagi kemana aja? kenapa gak nungguin aku," ucap Raka.
"Raka, mulai sekarang aku harus mandiri. Biar tidak merepotkan kamu terus," ucap Alya.
"Aku gak pernah bilang gitu! lagian dari dulu kita sudah seperti keluarga," jelas Raka.
Saat ini mereka sedang berada di luar sekolah, Raka hendak pergi ke kantor sedang Alya menunggu angkutan umum.
"Mulai sekarang, Raka! aku tidak mau merepotkan kamu lagi," ucap Alya. Sudah jangan tanya terus," Lanjutnya.
"Ayo aku antar pulang dulu," ajak Raka karena kasihan melihat Alya pulang sendiri.
"Gak! aku pulang sendiri aja," tolak Alya kemudian pergi meninggalkan Raka, dia hendak menyebrang jalan.
"Alya!" teriak Raka dengan keras.