
Lisa sampai juga di rumah Fandy, dia mengetuk pintu rumahnya. Kebetulan yang membuka pintu adalah istrinya yang bernama Linda, dia menyambut Lisa dengan lembut.
"Mbak, apa Fandy ada di rumah?" tanya Lisa melihat Linda dengan tatapan sinis nya.
"Kebetulan Mas Fandy belum pulang, ayo masuk dulu Mbak," kata Linda dengan lembut.
Lisa mengikuti Linda masuk ke dalam rumahnya, dia duduk di ruang tamu yang telah disediakan. Linda membuatkan minuman dan makanan untuk Lisa, kebetulan sekali Lisa lapar.
"Mbak, ini siapa? kenapa mencari Mas Fandy?" tanya Linda dengan sopan.
"Saya mantan istri Fandy," jawab Lisa.
Linda menjadi sedih karena Fandy tidak pernah bilang kalau mempunyai istri, selama ini Fandy telah menyembunyikan rahasia besar. Linda meneteskan air mata, dia sangat terkejut dengan kedatangan Lisa.
"Kapan kalian menikah? kenapa Mas Fandy tidak pernah cerita?" tanya Linda penasaran dengan masa lalu suaminya.
"Tujuh belas tahun yang lalu kita menikah, kita juga mempunyai seorang anak Dania namanya sudah SMA," jelas Lisa sengaja memperjelas karena ingin menghancurkan rumah tangga mereka.
Linda tak kuasa menahan air matanya, dia menangis lalu pingsan. Lisa bingung mau berbuat apa, beruntung ada asisten rumah tangga Linda yang membantunya.
"Merepotkan saja! begitu saja pingsan," ucap Lisa dalam hati.
"Kenapa Ibu bisa pingsan, Mbak? apa yang terjadi?" tanya asisten rumah tangga Linda sembari membantu Lisa mengangkat tubuh majikannya dan menidurkan di sofa.
"Cepat ambil minyak atau apa! jangan banyak tanya," ujar Lisa seenaknya berbicara dengan orang.
"Baik, Mbak," sahutnya lalu mengambilkan minyak kayu putih dan mengoleskan ke hidung Linda.
Linda akhirnya sadar juga, asisten rumah tangganya memberikan air putih dan membantu Linda untuk bangun.
"Mbak, saya tadi mimpi kan? kenapa Mas Fandy tega membohongi aku," ucapnya.
"Sabar Bu, jangan mudah percaya sama orang! Ibu belum tau kebenarannya," kata asisten rumah tangganya menenangkan.
Lisa diam dia tidak berani berucap lagi, dia takut kalau terjadi apa-apa dengan Linda. Lisa berucap asal bicara tanpa memikirkan akibatnya, belum nanti kalau Fandy datang dan marah padanya.
Fandy akhirnya pulang dari kantor, dia kaget melihat Lisa berada di rumahnya. "Lisa! kenapa kamu bisa ada di sini?" tanyanya.
"Aku mau ketemu Dania, di mana dia?" kata Lisa balik bertanya.
"Mas, kamu tega membohongi ku! kenapa kamu tidak pernah jujur," sahut Lisa sembari menangis.
Fandy langsung memeluk istrinya dan membawanya ke kamar, dia menjelaskan semuanya lalu meminta maaf. Linda masih tidak bergeming, pikirannya masih berperang antara percaya dan tidak. Suami yang menikahinya selama lima belas tahun ternyata mempunyai masa lalu yang tersembunyi, Linda merasa telah dibohongi.
Pernikahan mereka memang belum di karuniai anak, makanya Fandy mau membawa Dania dan membiayai hidupnya bahkan memberikan rumah.
"Di mana anak mu dengan wanita itu, Mas? aku ingin bertemu," kata Linda mulai meredakan emosinya.
"Mas belikan rumah tidak jauh dari sini," jawab Fandy dengan jujur.
"Apa? bahkan kamu bisa menyembunyikan anak itu dari ku, kamu anggap aku apa, Mas? kenapa tega," ucap Linda seraya memukul dada suaminya.
"Papah, kenapa membawa Mamah kesini! Dania malu, Pah," ujarnya saat melihat Lisa.
"Mamah merindukan kamu, Nak," ucap Lisa.
Dania menepis tangan Lisa yang hendak memeluknya, dia justru memeluk Linda. Linda dengan senang membalas pelukan Dania, baru ini dia merasakan pelukan seorang anak walaupun bukan anak kandungnya.
"Pah, ini Mamah aku kan," kata Dania.
Fandy hanya bisa mengangguk, sebenarnya kasihan juga melihat Lisa yang di abaikan.
"Dania, kenapa kamu jadi seperti ini! Mamah yang sudah merawat kamu dari bayi hingga sebesar ini, tidak kamu akui... " ucap Lisa lirih.
Fandy juga ikut menasehati Dania, agar mengakui kalau Lisa Ibunya. Dania juga mengatakan kalau malu dengan penampilan Lisa.
"Dania, tau Mamah yang melahirkan Dania tapi jangan berpakaian seperti itu! Dania malu sama teman-teman, pakai datang ke sekolah lagi," kata Dania.
Linda akan membawa Lisa ke salon untuk merubah penampilannya, dia juga mengajak tinggal satu rumah dengan Lisa dan Dania. Dengan senang hati Lisa menerima tawarannya, Fandy dan Dania sebenarnya tidak setuju.
Begitu mulianya hati Linda, sampai rela mengorbankan hatinya demi keutuhan keluarga. Percuma juga dia marah dan meminta cerai, karena hanya memperumit hidupnya apalagi dia di vonis oleh dokter tidak bisa mempunyai keturunan lagi.
Dania dan Lisa sangat senang akhirnya bisa tinggal di rumah mewah lagi, mereka juga bisa merasakan menjadi orang kaya kembali.
"Dania, boleh tidak Mamah membawa Nenek kamu kesini?" tanya Lisa.
Dania berfikir sejenak dia ingat dulu sering di katakan anak haram dan sebagainya, membuat dia sakit hati.
"Tidak, Mah! jangan ngelunjak atau Mamah, Dania usir," kata Dania dengan tegas.
Tiba-tiba anak itu menjadi angkuh, karena mendapatkan pengakuan Fandy dan Linda yang terkenal sebagai orang kaya. Lisa juga mempunyai keinginan untuk menguasai rumah itu, agar Mamahnya bisa tinggal bersama lagi.
*
*
"Mah, keputusan Mamah salah mengajak mereka tinggal satu rumah dengan kita," kata Fandy.
"Rumah ini luas, jadi tidak sepi lagi kalau Papah kerja. Ada mereka yang menemani Mamah di rumah," ujar Linda, mengubah panggilan untuk suaminya yang tadinya Mas menjadi Papah.
"Mamah hati-hati dengan Lisa, jangan mudah tertipu dengan ucapnya," kata Fandy memberi nasehat pada Linda.
Rasa khawatir ada dalam hati Fandy, dia jadi tidak tega meninggalkan Linda sendiri di rumah. Seperti yang sudah-sudah Lisa sering kali bilang berubah, tetapi tetap melakukan hal yang sama.
"Tidak baik suudzon dengan orang, Pah. kita harus berprasangka baik, walaupun orang itu berniat jahat sama kita," jelas Linda entah terbuat dari apa hatinya sampai rela hidup satu atap dengan orang jahat.
Fandy kemudian memeluk istrinya, dan mengajaknya untuk beristirahat. Hari ini Linda sangat lelah, harus menelan kenyataan pahit.
Fandy sangat menyayangi Linda, walaupun tidak bisa memberikan keturunan tetapi Linda adalah sosok istri yang baik untuknya. Linda juga sangat mandiri tidak seperti Lisa yang ada di bawah kendali Mamahnya, Fandy juga tidak pernah menyesal pernah menikah dengan Lisa, karena semua ada hikmahnya sendiri.
Sebagai manusia kita perlu belajar dan menyadari kalau tidak ada yang sempurna di dunia ini, jadikan masa lalu sebagai pelajaran dan guru yang paling berharga. Tidak saling menjatuhkan dan menyalahkan, apalagi sebagai pasangan suami istri harus bisa menerima kekurangan masing-masing.