Raka & Alya

Raka & Alya
Bab 46



"Kamu kenapa, Dania? makanannya gak enak ya," ucap Melisa yang dari tadi memperhatikan Dania makan tetapi seperti orang yang tidak nafsu makan.


"Enak kok! cuma pedas dikit," kata Dania.


Vila dan Hilda saling berpandangan, mereka merasa berhasil telah mengerjai Dania. Hanif makan dengan lahap, ia tidak mempedulikan temannya, mau kepedasan atau tidak yang penting dia kenyang.


"Aku ke toilet dulu! tiba-tiba perut ku mules ini," kata Dania kemudian berlari menuju ke toilet.


"Makanya jadi orang jangan jahat, giliran di kerjain tau rasa," kata Hilda.


"Kalian berdua ada orang perutnya sakit malah seneng," kata Hanif menghentikan makanya dan menatap Hilda dan Vila.


Biarin! orang jahat itu harus kita jahat i balik," sahut Vila.


Hanif justru membela Dania, karena dia tidak tahu kalau Dania yang jahat. Ia malah memaki-maki Hilda dan Vila.


Di dalam toilet Dania memuntahkan semua isi perutnya, perut dia terasa sangat mulas dan mual. "Kurang ajar mereka berdua! awas aku balas kalian," ucapnya dalam hati.


Dania memang tidak diperbolehkan untuk memakan makanan yang terlalu pedas, dia bisa mual dan mulas. Lalu ia berjalan dengan pelan menuju ke UKS, ia juga meminta untuk segera di antar ke rumah sakit karena kalau minum obat biasa dia tidak akan sembuh.


Sampai di rumah sakit, Dania langsung mendapatkan perawatan. Pihak rumah sakit juga sudah menghubungi keluarga Dania.


Kebetulan Fandy berada di rumah saat ini, begitu mendengar kabar dari rumah sakit mereka berdua langsung bergegas ke rumah sakit. Lisa yang tidak sengaja mendengar langsung mengikuti Linda dan Fandy.


"Dania, apa yang terjadi dengan mu," ucap Lisa saat berada di ruang di mana Dania di rawat.


"Salah makan, Mah. Perut Dania kambuh lagi," kata Dania.


Lisa langsung menatap Linda, ia kemudian mendekati Linda. "Kamu berikan makanan apa tadi?" ucapnya seraya mengoyak tubuh Linda.


"Mbak, tadi pagi Dania sarapan roti sama susu," kata Linda.


Lisa terus memarahi Linda, dia menyalahkan Linda. Bahkan Lisa juga mengatakan kalau Linda tidak becus menjaga anak, Linda hanya bisa menitihkan air mata atas apa yang di tuduhkan oleh Lisa.


Fandy juga sempat tidak percaya dengan Linda, karena selama ini Linda yang mengurus soal makanan. Dania tidak tega melihat Linda disalahkan dan dipojokan, karena selama ini Linda selalu memberikan yang terbaik.


"Mah, Pah, semua ini bukan salah Mamah Linda, kalian jangan salahkan Mamah Linda. Tadi di sekolah Dania beli mie yang pedas," jelas Dania.


"Tetap saja dia salah, Dania! harusnya dia membawakan bekal untuk di bawa ke sekolah," kata Lisa.


"Mah, justru ada Mamah Linda aku sekarang diperhatikan. Dulu saat bersama Mamah berangkat sekolah tanpa sarapan, bahkan jarang membawa uang saku," kata Dania.


"Keadaannya beda, sayang! dudu Mamah seorang diri mencari nafkah, Papah kamu entah di mana," ucap Lisa sembari melirik Fandy.


"Dania, maafkan Papah," sahut Fandy.


"Pah, minta maaf sama Mamah Linda. Walaupun dia ibu sambung Linda tapi kasih sayangnya melebihi ibu kandung sendiri," kata Dania.


"Bicara apa kamu? Mamah kandung kamu, aku Dania," kata Lisa.


Dania lalu bangun dari tidurnya, ia meminta Linda untuk memeluknya. Lisa sangat geram melihat mereka berdua saling berpelukan. Fandy kemudian ikut memeluk keduanya, ia juga meminta maaf pada Linda karena tadi lebih percaya dengan ucapan Lisa.


Lisa merasa kalau dirinya tidak di anggap sama sekali, ia lalu keluar dari ruangan itu sembari menangis. Dia baru sadar kalau diabaikan oleh anak kandung ternyata sakit.


*


*


"Hilda, kamu harus tanggung jawab! kamu benar-benar jahat," kata Hanif.


"Culun, kamu tau apa sih? orang jahat seperti dia pantas diperlakukan seperti itu," kata Hilda.


"Pulang yuk! gak usah dengerin culun ngomong," kata Vila lalu menggandeng tangan Hilda.


Mereka berdua anak orang kaya, berangkat sekolah saja mengunakan mobil. Mereka juga baik asal tidak di jahat i, berbeda dengan orang kaya lainnya. Hilda dan Vila mereka tinggal disebuah lingkungan yang elit, jadi wajar kalau mereka berdua selalu bersama.


Melisa dari tadi bingung, karena dia tau kalau Hilda dan Vila tidak pernah berbohong. Mereka berdua juga selalu jujur, makanya tidak suka jika ada yang berbuat jahat.


"Hilda, Vila, tunggu! aku mau bicara sebentar," kata Melisa saat melihat Hilda hendak masuk ke dalam mobil.


Hilda kemudian menyuruh Melisa masuk ke dalam mobil, dan mengajaknya ke sebuah cafe yang tidak jauh dari sekolah. Vila menyuruh Melisa untuk memesan minuman yang dia sukai, Vila dan Hilda yang akan membayarnya.


"Tadi ada apa, Melisa? katakan apa yang ingin kamu bicarakan," kata Hilda.


"Kalian berdua benar memberi cabe ke makanan Dania?" tanya Melisa dengan pelan.


"Iya, dia sudah membuat Alya hilang saat camping," kata Hilda dengan jujur. Aku memasukkan cabe sepuluh sendok," Lanjutnya.


"Waow!" teriak Vila dia tidak menyangka kalau Hilda setega itu.


"Jangan diulangi lagi ya? perbuatan kalian sudah di luar batas," kata Melisa.


"Biar dia kapok, Mel," kata Vila.


"Sejahat apapun orang itu pada kalian, jangan pernah kalian membalasnya. Kalau kalian balas, sama jahatnya dong," kata Melisa.


"Melisa, kamu kaya si culun aja deh," ucap Hilda.


"Sebentar! tadi kalian bilang kalau Alya tersesat gara-gara Dania, maksudnya gimana," ucap Melisa ternyata belum tau soal kejadian itu.


Vila dengan berbaik hati menjelaskan semuanya pada Melisa, agar dia paham. Melisa tidak menyangka kalau Dania jahat.


*


*


Alya dan Raka saat ini berada di makam orang tua Mira, mereka sangat senang bisa berkunjung ke makam itu. Melihat Mira yang menangis, membuat mereka berdua ikut sedih. Alya dan Raka kemudian menenangkan Mira.


Di rumah Mira masih kelihatan sedih, Mira memang selalu seperti itu setelah dari makam orang tuanya. Dia masih merasa sangat kehilangan.


"Raka, biar aku saja yang menghibur Mamah," kata Alya kemudian mendekati Mira.


Raka berpamitan hendak pergi ke tempat tetangga sebentar, karena dulu ia sempat mengenalnya.


"Mah, Alya bosan. Kita main ke pantai yuk," kata Alya duduk di sebelah Mira. Kebetulan saat ini Mira sedang berada di teras rumahnya.


"Kamu sudah bilang Om Lian sama Raka belum? kalau mereka tidak mau gimana," ucap Mira dengan lembut.


Alya menggelengkan kepalanya, dia merasa senang Mira sudah mau tersenyum lagi.


Di balik tembok pagar yang mengelilingi rumah Mira, ada seseorang yang diam-diam mengintai mereka.