Not An Angel

Not An Angel
8



Happy reading!


-


-


-


Aku sudah masuk ke daerah kota yang dekat dengan wilayah akademi violet fay.


Kereta kuda ini melaju sedikit lebih lambat, mungkin karena kondisi kereta nya yang tak begitu kokoh.


Aku memperhatikan kondisi kota dari balik jendela kecil kereta ini, suasana masih ramai, karena belum jam 9 malam, beberapa anak kecil dan gadis remaja masih berada di luar.


Di kekaisaran ini ada peraturan keamanan dimana anak kecil dan gadis remaja hanya boleh keluar sampai jam 9 malam, jadi ketika bel besar jam utama kekaisaran berbunyi di waktu tersebut, maka mereka wajib kembali kerumah mereka masing-masing.


Jika ada yang berada di luar, wali mereka harus membayar denda, dan jika mereka tidak mempunyai wali atau yatim piatu, maka mereka akan di kirim ke panti asuhan.


Peraturan seperti itu cukup bagus bagi ku, mengingat cukup banyak kejahatan terhadap anak-anak kecil dan para gadis, di tambah perdagangan manusia masih ada di kekaisaran ini walau sudah di buat hukum nya, bahwa perdagangan manusia sangat dilarang, dan akan dikenai sanksi berat bagi yang melanggarnya, tetapi masih saja banyak yang melakukannya.


Daripada itu, jujur saja, aku sedikit merasa khawatir saat ini, karena aku berencana untuk meminta izin tinggal di perpustakaan, karena ku pikir itu akan mempermudah ku untuk bekerja, dan masalah pembayaran aku akan meminta untuk memotong gaji ku saja.


"Aku harap tuan dominic masih ada di perpustakaan, dan mau menyetujui nya."


Karena entah kenapa aku merasa, aku hanya bisa meminta tolong padanya di kondisi ku saat ini.


"Memang nya mau menyetujui soal apa?"


Mataku terbelalak, suara familiar itu muncul, dengan cepat aku menoleh ke sumber suara dan tampak tuan dominic yang duduk dengan kaki saling bertumpu dan berada di depan ku.


Aku tidak bisa berteriak selain hanya menatap nya dengan mata terbuka lebar tanpa kedip.


"Hei apa kau mendengar ku?" Tuan dominic kembali bertanya.


"A-a-apa, ti-tidak ba-ba-bagaimana.." aku mengucapkan kalimat dengan terbata-bata saking terkejut melihatnya muncul tanpa tanda sedikit pun. 


"Tadi aku mau pergi ke bar, dan aku merasakan aura sihir mu dari kereta ini, kupikir rasanya aneh kalau kau berada di sini di jam ini, sedangkan kau baru saja pulang dari tempat ku beberapa jam yang lalu, ku pikir kau di culik ternyata tidak, membosankan."


Aku mengernyit mendengar kalimatnya.


'Apa dia baru saja mengharapkan aku berada dalam bahaya...'


"Omong-omong, ada apa dengan mu? Kenapa seorang gadis bangsawan seperti mu pergi dengan kereta kuda murah di malam hari? Di tambah sebentar lagi jam 9, kau tidak takut dimarahi orang tua mu? Mereka akan di kenai denda yang cukup besar lho." Ujar tuan dominic.


Aku sedikit terkejut mendengar nya, karena dia tahu aku seorang bangsawan, padahal aku tidak memberi tahu nama Garthside pada nya maupun pendeta agung mathias.


"Aku bisa menebaknya dari cara mu bersikap dan bicara, sudah jelas kau itu bangsawan." Ujarnya yang seakan membaca pikiran ku, dan aku ber-oh ria pelan.


Kemudian aku terdiam dengan alis menurun, aku menundukkan pandangan ku, aku bingung harus menjawab apa.


Aku bisa mendengar suara hela nafas tuan dominic ketika melihat reaksi ku.


"Baiklah, kita lewati soal itu, jadi apa yang kamu ingin aku setujui? Kau ingin meminta apa?"


Aku menaikkan wajah ku dan menatap netra tosca miliknya.


"A-a-apa saya bo-boleh tinggal di perpustakaan?" Tanya ku dengan nada terbata-bata dan ragu, pria itu diam menatapku tanpa ekspresi.


"Ba-bayarannya anda bisa mengambilnya dari gaji ku." Tambahku lagi, tetapi pria itu masih terdiam, kemudian aku mengeluarkan kantung uang yang miliki.


"Di-di sini ada 10 ribu rudo, a-anda bisa mengambilnya sebagai uang muka." Tambahku lagi, pria itu menghela nafas.


"Ini bukan soal uang sebenarnya, asal kau tahu uang ku berkali lipat lebih banyak dari yang kamu miliki sampai aku tidak butuh uang mu." Ujar nya membuat ku merasa tertusuk.


'Sombong sekali dia.....'


"Aku benar-benar harus bertanya soal ini, karena aku tidak ingin ada masalah rumit kedepannya, jelaskan saja sebisa mu, aku akan tetap mengerti." Tambahnya.


Aku terdiam sebentar,lalu menghela nafas, kemudian aku menautkan kedua tangan ku satu sama lain.


"Baiklah..." 


⬛⚪⬛


Aku menceritakan seluruh cerita ku, tetapi aku tidak menyebut kalau aku adalah mantan tunangan reithel.


"Hah?" Aku bertanya dengan alis terangkat sebelah dengan sorot bingung, pria itu hanya kembali menghela nafas.


"Lupakan, baiklah kau boleh tinggal." Mendengar kalimatnya aku sangat senang dan menatapnya dengan berbinar.


"Terima–" tangannya memotong kalimat ku.


"Aku sudah melihat cara mu bersih-bersih, itu cukup bagus, tapi apa kau bisa masak?" Tanya penyihir itu.


Karena dulu aku sering ke rumah reithel dan memasakkan makanan untuknya, jadi aku mengangguk sebagai jawaban.


Pria itu tersenyum, "baguslah, kalau begitu, mulai besok memasak adalah bagian dari pekerjaan mu." Ujar pria itu.


"Oh, dan kau tidak perlu membayar, anggap saja memasak itu bayaran mu tinggal, karena itu jangan kecewakan aku." Aku mengangguk dengan mantap dan tersenyum lebar.


"Terima kasih tuan!" Ujar ku.


"Aku ini guru sihir bukan bangsawan atau atasan yang membayar mu, jadi panggil saja aku master, itu sebutan biasa para murid akademi violet fay pada ku." Ujar pria itu.


"Eh tapi saya kan hanya karyawan..." Ujar ku pelan.


"Kau bilang ingin mengungkapkan kasus mu bukan? Kau harus belajar sihir untuk itu." Jelasnya.


"Ah begitu, baiklah, terima kasih tu– maksud ku, master." Ujar ku sembari tertawa renyah.


"Tetapi master, boleh saya tanya satu hal?" Pria itu menatap tanya padaku.


"Kenapa master mau membantu saya? Maksud saya, jujur saja tampaknya dari segi keuntungan kesepakatan kita, sekarang saya lebih banyak untung, tapi kenapa anda mau tetap membantu saya?"


"Itu lebih dari satu." Ujar nya, sembari menumpu dagunya pada tangan.


"Ah maaf....kalau anda tidak mau jawab juga tidak apa-apa." Pria menyentil dahi ku membuatku sedikit tersentak.


"Hanya sekedar membalas budi." Ujar nya dengan senyum samar, aku menatap tanya.


'Aku tidak pernah membantunya atau melakukan apapun, hari ini adalah hari pertama ku bertemu dengan nya...'


"Balas budi?" Aku bertanya, pria itu menyadarkan tubuhnya ke kursi kereta.


"Kau tidak perlu tahu." Ujar kembali pria itu, aku menghela nafas pelan.


Kemudian suasana dalam kereta itu menjadi sepi.


⬛⚪⬛


Remaja laki-laki yang mengemudikan kereta eloise memberhentikan lajunya, kemudian remaja itu turun dari kursi kemudi dan mengetuk pintu kereta.


"Kita sudah sampai nona!" Ujarnya dengan riang.


Kriett


Remaja itu terkejut, karena tamu yang seharusnya di bawa nya satu bertambah menjadi dua, padahal di perjalanan, kereta sama sekali tidak berhenti.


"E-eh tu-tuan, ba-ba-bagaimana...."


Dominic mengabaikan keterkejutan remaja itu dan turun pertama di kereta itu, di susul eloise yang membawa koper miliknya, ketika eloise hendak memberikan bayarannya pada remaja itu, dominic mendahului dan mengeluarkan sebuah koin emas dari saku jubahnya, dan koin itu lebih besar dari biasanya dan sedikit berbeda ukirannya.


Eloise terkejut, melihat koin itu, karena koin itu bernilai sangat besar, remaja laki-laki itu juga terkejut dan kebingungan, tidak tanggung-tanggung, koin itu bernilai 100 ribu rudo, biasanya koin ini lebih sering dimiliki oleh bangsawan yang memiliki gelar dan kekayaan yang tinggi.


"Ma-maaf tuan, tapi saya tidak memiliki kembalian yang cukup..." Ujar remaja itu.


"Ambil saja kembaliannya, ayo eloise." Ajak dominic dan langsung pergi menghiraukan remaja yang kebingungan itu.


"Terima kasih telah mengantar kami." Ujar eloise pada remaja itu lalu pergi mengikuti langkah dominic.


Remaja itu terdiam dan menatap kepergian mereka berdua.


"Mereka pasti bukan orang biasa."


-


-


-