Not An Angel

Not An Angel
17



Happy Reading!


-


-


-


Suasana hening seketika, hanya ada suara pergerakan achilles yang menyajikan kudapan dan teh di meja, aku tersadar lalu langsung menoleh ke arah achilles.


"Maaf achilles, biar ak–"


"Kau." Aku tersentak mendengar suara pangeran raven, aku yakin kata nya mengarah pada ku, dengan perlahan aku menoleh dan menundukkan kepala ku.


"Mohon maaf atas ketidaksopanan saya pangeran." Ujar ku sembari membungkuk, aku sedikit takut dan jantungku berdegup kencang.


Pangeran raven terkenal dengan kekejaman nya dalam menghukum orang jahat kekaisaran atau orang yang melakukan kesalahan, dia bahkan tidak segan-segan untuk membunuh orang tersebut di tempat.


"Dari matamu, Apa kau membenci ku?" Pertanyaan langsung membuatku mengangkat kepala ku dan membuat netra ruby dan zamrud miliknya.


Aku kebingungan menjawab pertanyaan nya, karena sebenarnya di katakan membencinya, rasanya juga bukan seperti itu, keluarga kekaisaran terutama kaisar gellius tidak mendengar pembelaan ku dan langsung memutuskan hukuman mati pada ku saat itu, dan pangeran raven membunuh rinni yang mencoba melepaskan aku dari penjara.


Mereka melakukan itu, aku kesal tapi jika di pikir-pikir lagi, apa aku membenci nya, aku pun juga tidak tahu.


Melihat reaksi ku yang diam dengan raut bingung, aku mendengar pangeran raven mendengus panjang.


"Shannon, bicaralah dengan adik mu, kau punya urusan dengan nya kan, disini biar aku saja yang urus." Ujar pangeran raven membuat ku sedikit terkejut.


"Tapi pangeran..." Kakak dan pangeran raven saling bertatapan, entah mereka bicara dengan batin mereka atau bagaimana, tidak lama kakak mengangguk.


Kemudian ia berdiri dan berjalan mendekat ke arah ku, aku membungkuk hormat pada pangeran raven dan keluar bersama kakak dari ruangan itu.


⬛⚪⬛


"Pengertian sekali~" dominic melirik raven dengan ekor matanya, raven menyesap teh yang di sajikan oleh achilles dan mendengus pelan.


"Jadi bagaimana penelitian mu soal warzerten?" Pria itu mengabaikan perkataan dominic, pria bermata tosca itu mendengus.


"Langsung sekali." Ujar dominic.


"Aku tidak punya waktu basa-basi." Balas raven, membuat dominic mendengus ke sekian kali nya.


"Yah, soal itu tampaknya kita terlambat, mereka sudah menanamkan jiwa penyihir setelah kehancuran kepada wadah." Ujar dominic.


"Eh itu berarti!" Tristan berseru terkejut.


"Perang besar tidak dapat terhindar kan..." Harley melanjutkan dengan nada sedih.


Alis raven bertautan menatap cangkir teh miliknya, rasanya kesal, ternyata rencana nya untuk mencegah perang terlambat.


"Tapi ini bukan salah kita, jadi jangan terlalu di pikirkan, yang perlu kita lakukan adalah mencari wadahnya dan menghancurkan jiwa penyihir setelah kehancuran itu, hanya saja..." Dominic terdiam.


"Kenapa? Ku dengar, sekitar 300 tahun yang lalu, kau sudah pernah membunuh wadah penyihir setelah kehancuran sebelumnya?" Tanya raven.


"Justru pangeran, karena aku sudah pernah melakukan itu, aku tidak ingin melakukannya lagi." Ujar dominic, raven mengangkat sebelah alisnya.


"Aku yakin wadah itu bukan orang pertama yang kau bunuh dan setelahnya kau juga sudah membunuh banyak orang, rasanya aneh sekali jika kau merasa bersalah." Dominic tertawa pelan.


"Tentu saja, aku hanya berpikir tidak ingin kejadian itu terulang lagi, maksud ku, peperangan untuk membunuh wadah penyihir setelah kehancuran agar dapat mencegah dunia hancur, itu adalah hal yang sia-sia." Raven terdiam.


"Jadi apa yang harus kita lakukan?" Tanya harley.


"Bukankah sudah bangkit?" Tanya harley lagi, dominic menggeleng sebagai jawaban.


"Lebih tepatnya warzerten sudah menaruh benih jiwa penyihir setelah kehancuran dalam wadah tersebut, bisa di katakan wadah itu kondisi nya kini, memiliki dua jiwa dalam satu tubuh, tetapi satu jiwa nya yaitu penyihir setelah kehancuran belum bangkit, atau belum ada kesadaran nya untuk menguasai tubuh itu."


"Apa yang terjadi jika kita terlambat menemukan wadah itu?" Tanya raven.


"Sudah pasti peperangan akan pecah, dan beberapa bencana juga akan terjadi, yang pastinya akan mengakibatkan banyak kematian yang tidak terhitung, di tambah lagi, jika wadah itu sudah sepenuhnya di kuasai oleh penyihir setelah kehancuran maka akan sulit untuk membunuh nya, karena tubuh nya berubah menjadi abadi, kalaupun berhasil di bunuh, orang yang membunuh akan sama seperti ku." Jelas dominic.


Raven terdiam sebentar ia memikirkan kalimat dominic, pria ber netra tosca itu bisa menebak apa yang raven pikirkan, dia pun kembali bicara.


"Jangan coba-coba untuk mengorbankan dirimu untuk membunuh wadah itu." Ujar dominic sembari mengambil salah satu kue kering yang di piring dan memakannya.


Dahi raven mengerut, "kenapa? Bukankah kau juga pernah melakukannya, memang nya kau mau membunuh wadah itu?" Tanya pria ber netra zamrud itu, dominic kembali menyesap teh nya hingga habis dan memberi gestur pada achilles untuk mengisi cangkirnya lagi.


"Aku sedang mencari cara yang lebih efisien di bandingkan itu, berpikir lah lebih panjang, untuk kekaisaran roxane kedepan nya, lebih baik membunuh wadah itu bersamaan dengan menghancurkan jiwa penyihir setelah kehancuran itu sehingga ia tidak akan bisa bangkit lagi." Jawab dominic.


"Apa itu bisa dilakukan?" Tanya raven, dominic mengangguk, tetapi alisnya bertautan dan pria itu mendengus panjang.


"Tentu saja bisa, tetapi sangat sulit dan pasti butuh pengorbanan yang tidak sedikit, walau begitu hasil yang kita dapat juga seimbang, karena penyihir itu tidak akan bangkit lagi selamanya."


"Kalau begitu–"


"Sayang nya." Dominic memotong kalimat harley.


"Untuk menghancurkan jiwa penyihir setelah kehancuran, pertama-tama kita harus menghancurkan jantung ke tujuh miliknya, yang menjadi masalah adalah, tidak ada yang tahu dimana jantung tersebut dan yang bisa melakukan itu adalah penyihir risilv yang hebat atau bisa di katakan penyihir agung." Ujar dominic.


Alis raven kembali mengerut, "penyihir risilv, bukankah itu kau?" Dominic tertawa mendengar kalimat raven, pria bermata zamrud itu merasa kesal melihat reaksi dominic, karena pria itu sedang membahas topik ini dengan serius.


"Kau pikir penyihir risilv yang hebat hanya aku? Tentu saja tidak pangeran." Ujar dominic mengelap air mata yang muncul di ujung matanya karena tertawa tadi.


"Jadi siapa? Duke castillon? Penjaga hutan witchweed?" Raven mulai jengkel.


"Bukan mereka, ada orang lain tapi kekuatannya belum bangkit." Jawab dominic santai.


"Kita tidak punya waktu untuk menunggu, jika kita bisa menghancurkan nya sekarang kenapa tidak?" Dominic mendengus lelah dan melirik raven dengan senyum samar.


"Terkadang semua rencana tidak akan berhasil jika di lakukan tidak pada waktunya, jadi tidak perlu terburu-buru." Ujar dominic, membuat raven menghela nafas panjang.


"Omong-omong tuan dominic, aku sedikit penasaran, siapa sebenarnya warzerten itu dan apa niat mereka?" Tanya tristan sembari mengangkat tangan.


"Yah, intinya mereka adalah sekte sesat penyembah penyihir setelah kehancuran, mereka percaya jika penyihir kehancuran di bangkitkan dan mengakhiri dunia saat ini, maka penyihir itu akan membuat dunia yang lebih baik dari sekarang." Jelas dominic.


"Itu omong kosong." Ujar feitan sembari menyantap kue coklat.


"Kenapa mereka menggunakan cara itu untuk membuat dunia lebih baik?" Tanya lagi tristan.


"Tentu saja aku tidak tahu, namanya juga sekte sesat sudah pasti pemikiran mereka pun tidak logis, mungkin beberapa di antaranya ada yang memang tidak waras." Ujar dominic sembari mengangkat bahu.


Raven menghela nafas dan menyesap teh nya hingga habis, pria itu merasa tidak sabar dan ingin segera mengakhiri masalah ini, karena dia tidak ingin terus-menerus membuat kaisar gellius merasa khawatir dengan kondisi kekaisaran.


"Santai saja pangeran, kita masih punya banyak waktu untuk menyelesaikan ini, pelan-pelan tapi pasti." Dominic tersenyum penuh arti dengan mata menutup.


-


-


-