Not An Angel

Not An Angel
42



Happy reading!


-


-


-


Aku segera bersembunyi di balik dinding, aku mengintip dan memperhatikan gadis itu, ia mengenakan setelan gaun sederhana layaknya penyihir, hanya saja kesan mewah masih ada pada gaunnya, ada seseorang yang tampaknya seorang pelayan pribadinya.


'Bagaimana ini, apa yang harus ku lakukan?'


Parahnya aku tidak bisa masuk ke ruangan karena gadis itu berdiri sangat dekat dengan pintu masuk aula, aku berpikir untuk menunggunya pergi, tapi aku takut bisa saja dia lama di sana, dan yang ada aku tidak tahu kalau nama ku di panggil dan aku di anggap gagal karena tidak hadir.


Itu konyol.


Aku mendengus panjang, aku memakai tudung jubahku dan berusaha menutupi rambut pirang panjang ku di balik jubah yang ku pakai, aku berencana masuk secara sembunyi-sembunyi menutup diriku dari orang-orang yang lewat di sekitar sana.


Aku berjalan perlahan sembari menyeimbangkan langkah ku pada orang yang mau ke arah yang sama dengan ku, aku berusaha untuk tidak memperlihatkan wajahku dengan menunduk, aku melihat dari lantai aku hampir sampai pintu masuk dan melewati leia.


Dhuk!


"Woahh!" Seseorang menabrakku hingga aku terjatuh ke samping, tetapi sebelum menyentuh tanah, seseorang menangkap tubuhku, aku sangat terkejut dan bernafas cepat.


"Maafkan aku nona, aku harus segera pergi, aku benar-benar minta maaf!" Orang yang menabrakku langsung pergi meninggalkan ku.


"Apakah kau baik-baik saja?" Seseorang bertanya padaku, ia adalah orang yang menangkap ku, aku menoleh padanya dan tersenyum.


"Iya aku baik-baik saja...." Kalimat ku memelan kala melihat siapa orang tersebut, orang yang sangat ingin ku hindari, Leia.


Aku dan leia dulu pernah bertengkar karena suatu masalah, sejujurnya aku sangat tidak suka pada sifatnya, dia sangat arogan dan sombong, juga suka menghina orang yang ada di bawahnya, itulah mengapa kami sering berselisih paham dan terakhir kamu bertemu adalah pertengkaran paling besar dari sebelumnya.


Aku benar-benar harus menghindari nya, karena dia lumayan banyak tahu soal diriku, terutama status ku sebagai tunangan reithel, ia pun tahu, bagaimana jadinya jika dia tahu kalau aku sudah bukan putri Garthside dan menjadi orang biasa, yang ada aku akan di rundung oleh dia dan teman-temannya, leia punya kelompok sosial sendiri, dan jujur saja aku tidak cocok, jika leia ada disini, kemungkinan nya besar juga teman-teman nya ada disini.


Aku tidak mau sampai itu terjadi, yang kuinginkan adalah hidup tentram dan tenang tanpa membuat masalah lagi.


Aku langsung membungkuk kan tubuhku, dan meminta maaf, ini lebih baik dari pada aku harus sok kenal dengannya dalam situasi seperti ini.


"Kenapa kau minta maaf, tadi kan hanya kecelakaan, untung saja kau baik-baik saja." Ujar nya, itu membuat ku sangat terkejut, aku mengangkat wajahku dan tampak senyum lembut terukir di bibir gadis itu.


Ini aneh, seharusnya leia masih marah padaku, mengingat dia adalah orang yang cukup pendendam, tapi dia bertindak seakan tidak ada masalah dan bersikap baik, itu bagus sih.


"Ah tidak-tidak, baiklah saya mohon undur diri, terima kasih untuk sebelumnya." Ucapku, ketika aku hendak berjalan pergi, dia menahan tangan ku, aku terkejut dan menatapnya dengan bingung.


Aku cukup takut dia akan melakukan sesuatu yang semacam berniat menghina ku atau apapun, tapi gadis itu malah menyerahkan sebuah kotak, dari desain kotak yang ku lihat, sangat tidak asing, ini adalah kotak teh.


"Aku memiliki toko herbal dan teh, selain menjual obat-obatan, aku juga menjual berbagai teh, ini teh yang paling laris di semua kalangan yang mampir ke toko ku minggu ini, aku harap kau suka." Jelasnya, dari kalimatnya sangat terlihat bahwa dia memberikan aku teh ini, aku sempat ragu untuk mengambilnya tetapi karena aku masih ingin menghargai niatnya jadi aku tetap menerimanya.


"Terima kasih, nona vanitas." Ucap ku.


"Astaga jangan panggil aku seperti itu, panggil saja aku seperti biasa, leia, bukankah kita dulu seperti itu." Pintanya sambil tersenyum ramah, aku sebenarnya masih bingung dengan respon nya dan cara bicaranya padaku.


Seperti bukan leia, tapi aku yakin dia leia.


Aku tidak menjawab apapun dan hanya menatap nya, mendadak senyumnya hilang dari wajahnya dan ia menunduk, melihat hal itu seketika aku panik, aku gelagapan dan hendak bicara, tetapi seketika aku terhenti kala mendengar kalimatnya.


"Apa kau masih marah padaku?" Dia bertanya itu padaku, leia mendengus pelan.


"Tentu saja sih, aku banyak melakukan hal buruk yang sangat tidak termaafkan, karena itu belakangan ini, setiap bertemu dengan orang yang pernah ku jahati, aku meminta maaf pada mereka dan berusaha berbaikan lagi, tidak semuanya menerimanya dengan mudah, jadi aku mengerti, tapi setidaknya ambil teh itu, karena teh itu adalah teh herbal dimana itu bisa menyembuhkan ketika kau sakit demam atau flu." Jelas nya panjang, seketika itu membuatku bersalah, dan seakan dia mirip seperti ku.


leia hendak pergi tetapi aku menahan tangannya, "ak–aku, bukan marah atau semacamnya, aku hanya terkejut, maaf ya menakuti mu, aku sangat senang bertemu lagi, soal waktu itu lupakan saja, toh itu sudah lama, aku juga tidak begitu ingin membahas nya lagi." Jelasku, leia tersenyum senang, dan mengangguk.


⬛⚪⬛


Aula violetfay sangat ramai dengan para peserta, eloise berkeliling mencari tempat nyaman untuk menunggu gilirannya, eloise melihat beberapa orang sibuk berlatih sihir dan mempelajari buku sihir yang mereka bawa, beberapa buku eloise kenal karena buku itu dari perpustakaan.


Eloise menemukan sebuah tempat duduk kosong, di sampingnya ada beberapa orang yang sedang belajar, setelah duduk di tempat tersebut, eloise mengeluarkan sebuah buka catatan yang ia rangkum sebagai kisi-kisi untuk ujian kali ini.


Eloise ingin melatih sihir spesialis api nya, tetapi niat itu ia urungkan, karena eloise pernah di beritahu oleh dominic kalau sihir yang eloise miliki agak berbahaya dan kuat, akan lebih baik hanya di tunjukkan pada ujian praktek langsung, karena jika di lakukan di luar, ada kemungkinan eloise akan diincar oleh orang jahat untuk di ambil mana dan powergate nya.


Eloise menunggu cukup lama, beberapa peserta di panggil per 10 orang dan mereka masuk dalam sebuah ruangan, beberapa di antara mereka yang keluar dari ruangan, terukir raut wajah sedih, ada kemungkinan ujian tulis itu langsung di beritahu nilai skor nya, jujur saja itu malah makin membuat eloise gugup.


Gadis itu mencengkram bukunya kemudian mendengus pelan lalu melemaskan pegangan nya, gadis itu menepuk-nepuk pipinya dan memandang atas aula yang terbuat dari kaca bening, hingga membuat langit cerah terlihat dari kaca itu.


Seseorang keluar dari ruangan setelah beberapa peserta keluar, ia mulai menyebutkan nama peserta lalu hingga tiba saatnya.


"Kemudian Eloise Somnivera!"


Deg


Seketika dada eloise terasa sesak, bulir-bulir keringat dingin keluar dari pelipis nya, gadis itu berusaha menghela nafas untuk menahan rasa gugup.


Eloise di persilahkan masuk ke dalam sebuah ruangan, terdapat 10 meja di sana, mereka diminta duduk di salah satu meja tersebut, eloise memilih tempat duduk yang terletak di pojok, gadis itu tidak begitu ingin terlihat mencolok.


Kemudian lampu ruangan di gelapkan secara perlahan, dan beberapa kristal yang tertempel di pinggir dan sudut sungai mulai menyala menerangi ruangan tetapi tidak terlalu terang, cahayanya seperti bintang di langit pada umumnya.


Seseorang memasuki ruangan, seorang pria dengan surai coklat dan manik berwarna abu-abu, pria itu memiliki kesan tegas di setiap garis wajahnya, dan juga dia memiliki


Kharisma yang bagus.


"Halo semuanya, nama saya adalah raymond Bridget ederline, saya adalah salah satu master dari akademi ini, pertama saya ingin mengucapkan selamat datang di akademi violetfay.


Kedatangan saya kali ini, saya akan menjadi pengawas untuk kalian, aku menyarankan akan lebih baik kalian mengerjakan tanpa menyontek, jika kalian melanggar janji sudah di pastikan kalian akan di blacklist akademi ini untuk selamanya, mengerti?" Semua peserta yang ada di ruangan mengangguk mengerti.


Ia mengeluarkan sebuah kotak yang berisi permata putih, dan dengan sihirnya menerbangkannya setiap permata ke setiap peserta.


"Kalian sentuh batu itu dan katakan,


Ujian Seal Violetfay, maka soal ujian tertulis akan keluar, sekali lagi saya peringatkan untuk tidak melakukan kecurangan apapun, karena saya juga tak ingin mengotori tangan saya dengan menghukum orang yang melakukan nya.


Saya tidak akan menjelaskan cara pengerjaannya, kalian baca sendiri cara nya yang tertulis di situ, saya tidak suka anak yang merepotkan."


Semua peserta satu sama lain menoleh dengan wajah tegang, kemudian mereka mengatakan kalimat itu bersamaan.


"Ujian seal Violetfay."


Lalu permata itu memunculkan sebuah gambar dengan tulisan, di situ tertera cara pengerjaannya.


Mereka membutuhkan vocorgi berbentuk mirip pena, eloise merasa lega karena gadis itu membawa nya, ini anjuran dari masternya, ia mengeluarkan vocorgi itu, kemudian menarik nafas dan menghembuskan nya perlahan.


'Aku harus lulus!'


-


-


-


To be continued