
Happy Reading!
-
-
-
Semuanya gelap, aku tidak bisa melihat apapun.
"Apa aku sudah di akhirat?" Aku bergumam pada diriku sendiri, aku berusaha menggapai apapun di sekitar ku tapi aku tidak dapat merasakan apapun.
"Hei." Aku mendengar suara seorang pria, aku menoleh ke berbagai arah mencari sumber suara itu, tetapi semuanya gelap.
"A-aku ti-tidak bisa melihat apapun!" Seru ku, tapi tiba-tiba aku melihat sebuah tangan di hadapan ku, aku tidak bisa melihat siapa sosok yang mengulurkan tangannya padaku.
Dengan perlahan aku menerima tangan itu dan seketika semuanya menjadi terang, aku merasakan hembusan angin besar yang mengarah padaku, membuat ku terkesiap dan jatuh terduduk.
"Ah maafkan aku, apa kau baik-baik saja?" Aku mengangkat kepalaku untuk melihat sang pembicara.
Seorang pria dengan jubah hitam panjang, pada tudung besar yang hampir menutupi seluruh wajahnya, aku masih bisa melihat rambut pirang yang cukup panjang keluar dari sana.
Pria itu mengangkat tubuhku dengan mudahnya sehingga posisiku kini berdiri di hadapannya, postur tubuh nya cukup tinggi membuatku harus mendongak untuk melihatnya walau begitu, aku hanya bisa melihat bibir pria itu karena tudungnya yang besar.
"Ka-kamu siapa?"tanya ku, Pria itu terdiam sebentar.
"Se-sebelum itu, aku ingin bertanya sesuatu padamu." Dia berdeham membersihkan suaranya.
Aku hanya terdiam sembari menatap tanya, "Apakah kamu ingin mengubah semuanya?" Aku mengerutkan alisku bingung.
"Ya?" Singkat ku.
"Apakah kamu ingin mengubah semuanya? Mengubah hidup mu agar tidak berakhir seperti ini?" Pria itu memperjelas kalimatnya.
Aku terdiam sebentar, dan menatap tangan kanannya yang masih memegang pundak ku, mataku menyorot dengan sendu.
"Kalaupun aku mau, itu tidak mungkin terja-"
"Aku bisa melakukannya." Pria itu memotong kalimat ku, aku termenung, pria itu melepas tangannya dari pundak ku dan mengulurkan tangannya kembali padaku.
"Aku bisa mengembalikan mu kembali ke masa lalu, sehingga kamu bisa mengubah hidup mu." Aku menatap tangannya kemudian kembali pada wajahnya yang hanya terlihat bibirnya karena tudung besarnya.
"Kenapa, ah tidak, lebih tepatnya, siapa kau sebenarnya?" Aku bertanya pada nya dengan alis bertautan.
Pria itu terdiam sebentar, lalu ia menghembuskan nafasnya pelan.
"Aku tidak bisa menjelaskan secara spesifik, karena waktu ku tidak banyak disini, tapi apa kau mau mengambil kesempatan ini?" Aku terdiam berpikir.
Ini memang kesempatan yang rasanya sangat tidak mungkin bisa di dapatkan.
aku bisa kembali ke masa lalu dan mengubah semuanya.
"Bagaimana cara kau melakukannya dan apa bayarannya?" Tanyaku, pria itu mengangkat sedikit kedua sudut bibirnya.
"Kamu hanya perlu memegang tanganku dan bayarannya tidak ada." Ujarnya, aku menatapnya tidak yakin.
"Aku serius, kau mau ambil atau tidak?" Pria itu mengangkat sedikit lebih tinggi tangannya sehingga lebih dekat padaku.
Aku kembali mengingat bagaimana kehidupan ku sebelumnya, masa-masa di mana, aku di fitnah, semua orang yang kusayangi meninggalkan ku, dan menjelang hukuman kematian ku di laksanakan, aku tersenyum nanar.
Dengan keyakinan besar aku menerima tangannya.
"Aku menerimanya, aku akan mengubah semuanya." Ucapku dengan tegas, senyuman pria itu semakin merekah, lalu cahaya muncul dari sela-sela tautan tangan kami.
Aku sedikit terkejut melihat fenomena itu, kemudian aku melihat tubuh pria itu yang semakin memudar seakan menghilang menjadi serpihan, tatapan ku bergeser pada tangan ku yang juga sama seperti dirinya.
Aku mengangkat kepalaku dan menatap nya dengan alis menurun.
"A-aku ingin bertanya." Ucapku, pria itu mengangkat sedikit wajahnya sehingga hidung nya terlihat.
"Kenapa kau melakukan ini?" Tanya ku, pria itu terdiam, tetapi proses tubuh kami yang mulai pudar terus berjalan, ketika tubuh kami hampir benar-benar menghilang, pria itu mengangkat wajahnya sepenuhnya.
Aku bisa melihat netra safir pada matanya, dan dia tersenyum padaku.
"Anggap saja, ini permintaan maafku sebagai orang tua yang belum sempat membahagiakan mu."
⬛⚪⬛
Whossshh!!
Aku merasakan diriku jatuh, entah dimana, aku tidak bisa melihat apapun, aku mencoba memegang apa yang ada di bawahku dan meraih apapun yang ada di atas ku, tapi aku hanya merasakan hembusan angin yang melawan arah dari jatuh ku.
Aku mulai merasakan ketakutan, aku berteriak pada satu suara kencang.
Dan tiba-tiba saja aku merasa berbaring di suatu ranjang, dengan rasa sedikit takut aku mencoba membuka mataku, dan disitu aku sadar, aku tidak lagi dalam posisi tadi, aku berbaring di sebuah ranjang.
Dengan nafas ku terengah-engah, aku bangkit dari posisiku untuk melihat sekitar ku.
"Itu lukisan favorit ku..." gumam mu, aku mengangkat kedua alisku terkejut, dengan cepat aku turun dari ranjang dan berlari menuju sebuah meja rias dengan kaca besar.
Aku melihat pantulan diriku pada kaca tersebut, aku tampak lebih muda dari sebelumnya.
Aku memegang wajahku dengan perlahan, kemudian memegang kaca di hadapan ku, aku tertawa pelan dengan getir, dan air mataku menetes, kemudian kedua tanganku bergerak merengkuh tubuhku sekarang.
"Aku...benar-benar kembali." Aku meremas lengan baju piyama yang kupakai, ada rasa sedikit sakit dan sesak, aku kembali tertawa pelan.
"Ini bukan mimpi..."
⬛⚪⬛
Keesokan harinya.
Jujur saja semenjak itu aku tidak tidur sama sekali, aku menggeledah kamar ku, lebih tepatnya memeriksa barang di kamar ku.
Aku ingat, dulu aku sering menulis buku harian, tapi setelah aku di tuduh dan di penjara di bawah tanah, aku tidak menulis lagi, dan lupa dimana biasa aku meletakkan buku harian itu.
Aku membaringkan tubuhku di ranjang dan menghela nafas kencang.
"Dimana ya aku meletakkan nya...aku benar-benar lupa..." Aku merasa sedikit kesal dengan diriku.
Tok-tok
"Nona eloise, apa anda sudah bangun?"
Aku bangkit dari ranjang setelah mendengar suara dari luar kamar ku, rasa terdengar tidak asing, aku berjalan kemudian membuka pintu, dan tampak seorang pelayan dengan rambut cokelat dan mata abu-abu, ia membawa kereta kecil yang berisi makanan, pelayan itu tampak terkejut melihat ku.
"Astaga nona, seharusnya nona hanya perlu menjawab panggilan saya, nona tidak perlu repot-repot membukakan pintu." Ujarnya dengan alis bertautan.
"Rinni..." Benar dia adalah pelayan pribadiku dulu, dan satu-satunya orang yang mau membantu ku keluar, saat itu rinni menyelinap masuk ke penjara bawah tanah dan mencoba membantu ku kabur, tapi sebelum benar-benar sampai di sel tahanan ku, di depan mataku.
Gadis ini di bunuh oleh pangeran kedua dari kekaisaran roxane.
Sejak itu aku menjadi merasa benci dengan keluarga kekaisaran.
"Nona?" Suara rinni menyadarkan aku dari lamunan, aku menatap matanya, dan dia melihat ku dengan sorot khawatir.
"Aku tidak apa-apa..." Ujar ku pelan, aku mendengar rinni menghela nafas pelan kemudian ia memegang tanganku lembut.
"Ayo kita masuk dulu nona, saya membawa teh dan beberapa roti untuk sarapan pagi." Ujar nya sambil tersenyum, aku melirik kereta makanan yang terlihat di sampingnya.
Aku mengangguk kemudian kami masuk ke kamarku, aku duduk di sebuah sofa depan ranjang ku, rinni sibuk menyiapkan teh, setelah teh jadi ia menaruh secangkir teh dan beberapa buah roti di sebuah piring di hadapanku.
"Silahkan nona, roti isi stroberi dan teh hangat membantu perasaan nona menjadi lebih baik." Aku mengambil cangkir teh dan meminumnya.
"Teh chamomile..." Teh ini memang sangat membantu menenangkan hati mu, kemudian aku mengambil sebuah roti itu dan memakannya.
"Ini lezat." Pujiku, rinni tersenyum.
"Nona, apakah nona mimpi buruk semalam?" Tanya rinni tiba-tiba, aku menoleh ke arahnya, gadis itu tampak sedikit khawatir.
"Memangnya ada apa?" Tanya ku.
"Tidak, hanya saja wajah nona tampak kurang baik, saya pikir nona mimpi buruk." Aku terdiam menatap nya, kemudian aku menaruh kembali cangkir teh tadi di meja.
"Aku memang habis mimpi buruk..." Memori ketika hukuman mati ku dilaksanankan berputar di kepalaku sebentar, aku mengerutkan alisku.
"Nona?"
"Ah rinni, aku ingin menanyakan sesuatu padamu." Pelayan itu mengangguk sebagai jawaban.
"Berapa umurku sekarang?" Rinni tampak terkejut, sudah pasti sih.
"Um, saat ini nona berusia 16 tahun." Rinni tetap menjawab pertanyaan ku dengan sorot bingung, aku menurunkan alis berpikir dan menatap ke arah lain.
Berarti aku kembali 5 tahun sebelum kematian ku.
Aku kembali menoleh ke arah rinni, "Apa kau tahu dimana aku menaruh buku catatan harian ku?" Rinni mengangkat kedua alisnya, dengan sorot yang sama.
"Sebelah sini nona, ikuti saya." Gadis itu menuntunku ke sisi ranjang di arah jendela besar kamar ini, kemudian ia duduk di dekat ujung karpet ruangan, aku mengikuti gerakan nya.
Rinni membuka ujung karpet itu hingga tampak lantai marmer kamar ku, tapi ada sebuah gagang kecil yang menempel di salah satu lantai marmer.
Rinni menarik gagang itu sehingga lantai itu terbuka seperti lemari, aku sedikit terkejut.
Dan di sana ada beberapa barang beserta buku harian yang kucari.
-
-
-