Not An Angel

Not An Angel
21



Happy Reading!


-


-


-


Ini sudah 3 bulan sejak saat itu, selama itu, aku terus berada di perpustakaan dan melakukan kegiatan ku, seperti menjaga perpustakaan, belajar, memasak makanan, merapihkan perpustakaan, dan sebagainya. 


Aku tidak pernah sedikit pun keluar dari tempat ini, walau master mengatakan dia tidak masalah selama aku tidak pulang larut.


Tetapi aku tidak punya waktu untuk bermain-main, aku harus mengubah jalan hidupku dan melindungi sisa yang kumiliki sekarang, sehingga aku terus belajar pengetahuan sihir ku.


Ku pikir setelah keluar dari mansion itu, aku tidak akan bertemu dengannya lagi tapi.


Reithel quinn castillon.


Dia adalah salah satu pengajar di akademi violetfay, akademi yang di minta master untuk aku belajar di situ.


Master meminta ku untuk mengikuti tes beasiswa itu, aku harus mendapatkan nya, tetapi rasa tidak ingin masuk ke akademi itu juga terbesit dalam hatiku.


Reithel ada disitu.


Padahal aku tidak ingin bertemu dengannya lagi, tapi mungkin sudah begini jalannya, yang perlu ku pastikan hanyalah.


Aku tidak berhubungan dengannya lagi, dan tetap berada jauh darinya.


Itu akan membuat ku tetap berada di jalur yang aman.


Dan juga walaupun aku sudah keluar dari mansion itu, bukan berarti aku lepas dari mereka, entah kenapa perasaan ku mengatakan aku tidak boleh lengah terhadap mereka.


Karena itu secepat nya aku harus segera pergi jauh, hingga aku tidak bertemu dengan mereka lagi, dan hidup damai berdua bersama kakak ku.


⬛⚪⬛


Master menatap 3 lembar kertas yang di pegang nya, aku duduk di hadapannya sembari menatap mua dengan sorot khawatir.


Iya, hari ini adalah hari dimana aku di tes oleh master pengetahuan sihir ku secara teori.


Master bilang, jika aku lulus maka dia akan mengajarkan sihir secara langsung, dan itu adalah yang sangat ku tunggu-tunggu.


Maksudku kau tau, ketika kau memiliki kemampuan seperti sihir, itu semakin terasa seperti membuktikan bahwa kamu kuat.


Karena kakak ku sudah menjadi ksatria, bahkan di bawah tim pangeran raven secara langsung, sebagai adiknya tentu saja bangga.


Dan aku juga ingin kakak juga merasakan perasaan kebanggaan seperti yang kurasakan pada kakak ku.


"Hmm..." Master dominic terus mengamati setiap jawaban yang tertulis dengan tinta hitam yang ku toreh.


Pria itu menaruh kertas itu di atas meja dan mengambil pena bulu miliknya dan menulis sesuatu.


Mataku menunduk menatap tangan ku yang saling bertautan dengan gelisah.


Duk!


Master menaruh kertas jawaban itu di hadapan ku dengan kencang hingga menimbulkan suara, kemudian aku mengangkat wajah ku untuk melihat kertas itu.


Dan di situ tertulis kata yang sangat besar.


"Lulus..." Aku terdiam sebentar dan senyum sumringah terbentuk di bibir ku, aku menatap master dengan berbinar.


Pria itu menyilang tangannya dan mengangguk lalu tersenyum.


"Lusa kita mulai ya, tidak bisa besok soalnya aku ada urusan di akademi." Ujar master, aku mengangguk cepat.


"Tidak apa-apa master! Saya berterima kasih!" Seru ku, masih sangat senang dengan pernyataan master, pria itu tertawa pelan.


Aku ikut tertawa mendengar nya, "omong-omong kalau boleh tahu master besok ada kelas kah? Bukankah kelas master hanya ada di hari senin sampai kamis? Seharusnya master libur kan?" Tanya ku.


"Sebenarnya aku bisa saja bolos seperti dua tahun lalu, tetapi aku tidak ingin melakukannya lagi." Wajah master berubah ngeri, aku menatap dengan tanya.


"Kenapa?"


Master mendengus mendengar pertanyaan ku, "dua tahun lalu karena saking lelahnya dengan penelitian ku jadi aku bolos dari rapat besar itu untuk istirahat, dan di hari itu malamnya setelah jam rapat besar selesai reithel datang dan membekukan seluruh gedung perpustakaan ini, kemudian ia membekukan tubuhku hingga aku tidak bisa bergerak, dan di situ dia memarahiku dengan setiap kalimat yang menusuk dan nada yang dalam, itu sangat menyeramkan....." Ujar master.


Aku tersenyum kaku, sebenarnya aku sudah pernah melihat reithel marah secara langsung, di masa lalu saat itu dia mendapat laporan bahwa ada penghianat dari pengikut keluarga castillon, di situ lah aku melihat bagaimana ia marah.


Reithel bukanlah orang yang banyak bicara, cenderung lebih irit dalam berbicara, tetapi ketika ia marah, caranya marah bukanlah berteriak-teriak seperti orang lain pada umumnya, dia hanya mengucapkan penghinaan yang menyakitkan pada orang tersebut dan menyiksa orang itu dengan sihir bahkan membunuhnya.


Dan aku pernah melihat itu, reithel menghancurkan tubuh orang yang berkhianat padanya dengan sihir es, disitulah sebenarnya aku sangat ketakutan.


Teringat kejadian itu, aku menelan ludah ku dengan susah payah.


Hal itu membuatku semakin tidak ingin bertemu dengan reithel lagi, tetapi.


"Akan lebih baik kau bertanya lagi padanya."


Aku teringat kalimat yang kakak ucapkan mengenai hubungan ku dengan reithel.


Sebenarnya aku secara pribadi yakin bahwa aku bukanlah lagi tunangannya, maksud ku, walaupun reithel belum mentalak ku secara langsung, tapi aku yakin ikatan kami sudah berakhir.


Tetapi kalimat yang kakak katakan membuatku kembali ragu dengan dugaan ku, tetapi di satu sisi rasanya aku terlalu percaya diri jika dia masih mempertahankan aku sebagai tunangannya.


Karena aku bukanlah bangsawan lagi, jadi jika di pikir-pikir dari mata reithel yang haus dengan kehormatan sudah pasti dia sudah membuang ku bukan, dan memilih wanita lain yang memiliki status lebih tinggi yang dapat mendukungnya untuk meningkatkan kehormatan nya, benar, hanya wanita seperti itu yang dapat mendampinginya.


Karena reithel memang seperti itu kan.


Ingatan ku ketika reithel menatap ku dengan dingin sembari tangannya bergandengan dengan tangan wanita lain, itu masih menempel kuat di kepalaku.


Aku mengatupkan bibir ku mengingat hal itu, rasa sesak dalam tubuhku seketika menjalar memenuhi setiap sudut dalam tubuhku.


"Oh iya eloise," kalimat master yang mendadak mengejutkan ku, seketika aku tersadar dari lamunan ku.


"Iya?" Tanya ku.


"Besok perpustakaan di liburkan dulu, karena akan ada buku baru yang di masukkan, sepertinya akan sangat banyak, tolong siapkan tempatnya ya." Alis ku bertautan.


"Maaf master aku tidak yakin apa itu bisa, karena lemari buku di perpustakaan sudah penuh, bagaimana ya?"


"Ah, soal itu tenang saja, aku sudah memesan beberapa lemari baru, karena aku memang sudah mendengar kalau buku baru akan datang lagi, jadi aku memesan lemari, dan dari perkiraan waktunya...tunggu sebentar." Master mengambil sebuah buku jurnal di laci mejanya, kemudian membuka beberapa lembar jurnal dan berhenti di sebuah halaman.


"Ah datang nya bersamaan dengan buku baru, malah seperti nya lebih awal, baguslah, besok kau siapkan saja lahan kosong untuk lemari baru, hmm tapi ada tidak ya?" Master memejamkan matanya dan berpikir.


"Ada lahan kosong kok master, malah itu sangat besar, kan sebelum masuk ruang utama perpustakaan ada ruangan kosong yang besar yang hanya di isi beberapa patung, kita bisa menaruhnya disitu." Ujar ku.


Sebelumnya ruang kosong itu awalnya penuh dan berantakan dengan tumpukkan buku tetapi karena sudah ku rapihkan waktu itu, akhirnya ruangan itu menjadi kosong karena buku sudah masuk ke dalam tempatnya.


"Oh benarkah? Aku lupa, aku sudah jarang masuk perpustakaan pakai pintu sih hehe." Master tertawa renyah dan aku tersenyum kaku.


Itu benar, karena master selalu memakai teleportasi sehingga dia jarang masuk lewat pintu.


"Baiklah kalau begitu, omong-omong ini sudah larut, sebaiknya kau segera tidur karena pekerjaan mu besok akan sangat banyak." Aku mengangguk, kemudian bangkit dari posisi ku dan mengambil kertas-kertas jawaban tes ku tadi.


"Terima kasih master, selamat beristirahat." Pria itu hanya menunjukkan ibu jarinya pada ku sembari tersenyum.


Kemudian aku membungkuk kan badan ku sedikit dan keluar dari ruangan master.


-


-


-