
Happy reading!
-
-
-
Ini sudah siang, dan saat ini dominic berada di depan gerbang mansion besar castillon, pria itu membawa sebuah map, pintu pagar di buka dan tampak sebastian menyambut kedatangan dominic.
"Kemana anak itu?" Dominic langsung, sebastian dengan sedikit gelagapan menjawab.
"Yang mulia sedang tidak enak badan, tetapi tuan hartmann tidak perlu khawatir, saya sudah mengirimkan pesan pada pihak akademi terkait hal ini." Dominic mendengus, pria itu mengibas-ngibas tangannya.
"Bukan itu yang ku maksud, aku ingin memeriksa nya." Dominic hendak berjalan tetapi sebastian menghalangi langkah dominic.
"Huft, kau benar-benar pelayan yang setia." Ujar pria itu, dominic hendak mengeluarkan sihirnya tetapi geraknya terhenti ketika ada seekor burung melewati mereka.
"Biarkan dia masuk sebastian." Burung itu bersuara dengan suara reithel, sebastian mendengar itu akhirnya mempersilahkan dominic untuk masuk, pria itu mengantar dominic ke kamar pribadi reithel.
Sebastian menunggu di depan pintu sedangkan dominic masuk, pria itu melangkah mencari sosok reithel, dan akhirnya ia menemukannya.
Pria itu tengah duduk di kursi balkon, dengan rokok di tangannya, dominic mendengus panjang, ia melihat sekitar 5 botol alkohol di meja, sedangkan bau alkohol menyengat dari reithel.
Dominic berjalan ke kamar mandi dan mengambil handuk basah, dan melemparnya ke wajah reithel.
Reithel kesal dan langsung menatap dominic, "apa? Kau ini benar-benar, berantakan sekali, bahkan kau tidak menghadiri rapat pagi, ada masalah apa sih?" Tanya dominic jengkel.
Reithel tidak menjawab hanya menyingkir kan handuk basah itu dari wajah nya, lalu menghisap kembali rokoknya, dominic semakin jengkel.
Pria itu mengambil kotak rokok reithel dan rokok di tangannya dan membakar nya sampai habis.
"KAU–" dominic menatap reithel tajam begitu juga dengan reithel, mereka terlihat akan beradu tinju sebentar lagi.
"Jika kau ingin memakai cara kekerasan dengan senang hati aku akan meladeni mu," dominic menyodorkan sebuah map ke dada reithel dengan kencang, "bersihkan dirimu sekarang dan mari kita bahas rapat yang kau tidak hadiri, karena ini penting."
Reithel mendengus panjang, ia memilih menyerah dari pada harus beradu tinju dengan dominic, karena sudah pasti reithel akan kalah, karena kemampuan fisik dominic sangat baik melebih ksatria pada umumnya.
Pria itu pergi menuju kamar mandi kemudian membersihkan dirinya.
Setelah selesai mereka berdua pergi menuju kantor reithel, sebelumnya reithel telah menyuruh sebastian untuk membersihkan kamarnya.
Dominic menyantap kue kering yang di sajikan oleh pelayan reithel, sedangkan sang tuan rumah membaca isi map yang di bawa tamu.
"Kali ini giliran ku ya." Reithel menaruh map nya dimeja, dominic mengangguk.
"Kau akan menjadi wali kelas di angkatan tahun ini, dan bodohnya kau malah tidak hadir rapat, kau berhasil mencoreng sedikit nama mu sebagai master teladan di akademi, sudah ku bilang jangan ikut aku." Reithel mendengus mendengar kalimat dominic.
"Sekarang kau urus dokumen mu sebagai wali kelas, ini pertama kali nya bukan, semangat lah." Ujar dominic, reithel hanya mengangguk, dominic memakan kue kering terakhir di piring dan meminum teh nya.
"Baiklah aku pergi dulu, sampai ketemu lagi." Kemudian ia menghilang karena teleportasi.
Reithel menatap sendu daftar nama murid yang lolos, matanya tertuju pada sebuah nama dari daftar itu.
Eloise Somnivera.
Reithel menyisir poninya kebelakang dan mendengus panjang.
"Aku akan lebih sering bertemu dengannya."
⬛⚪⬛
Beberapa setelah hari ujian masuk, perpustakaan kembali di buka, aku kembali dengan kegiatan ku seperti biasa.
Aku berusaha untuk tidak mengingat kejadian tempo hari dimana aku bertemu reithel.
Aku tidak tahu kenapa dia begitu yang pasti sudah terlihat kalau rencanaku untuk putus tunangan, sudah gagal, ini menjadi gantung tidak jelas, aku masih tidak percaya reithel berkata seperti itu.
"Aku tidak akan melepasmu."
Itu adalah kalimat yang berat, kenapa dia mengatakan itu, bukankah aku tidak penting?
Aku masih mengingat ketika menjelang eksekusi mati ku pria itu tidak mengunjungi ku sama sekali, kami terakhir bertemu pada saat peristiwa putri charol teracuni, pria itu tidak membela ku apapun, bahkan di penjara ia tidak mengunjungi ku sama sekali, walau begitu aku masih percaya padanya dan berharap dia akan menolong ku.
Tapi kenyataan yang kuterima tidak sesuai dengan ekspektasi ku, ia melihat proses eksekusi mati ku dengan membawa wanita lain di hadapan ku, itu sangat menyakitkan.
Dan ketika aku berhasil kembali ke masa kini untuk mengubah hidup ku, ternyata ia berbeda.
Sejujurnya ku pikir aku akan membencinya, tapi entah kenapa semakin kesini ia berubah drastis, aku masih berpikir bukankah seharusnya tidak ada perubahan, aku hanyalah wanita yang terikat status resmi sebagai tunangannya saat itu, tanpa perasaan sedikit pun, hanya sebuah perasaan sayang tidak terbalas.
Aku membanting buku yang baru saja ku data tanpa sengaja karena kesal, aku mendengus panjang.
Aku tidak ingin berharap.
Aku berusaha menahan diriku untuk tidak berharap lagi padanya, tapi perasaan itu sulit di hilangkan.
"Apa ini karena aku terlalu ikhlas dengan perasaan tidak berbalas padanya waktu itu?" Aku terkekeh miris.
Aku mendengus panjang untuk kesekian kalinya, dan merapihkan buku itu dan menempatkannya ke tempat semula.
Aku berjalan kembali ke meja di mana aku berjaga, dan aku melihat salah satu petugas jaga gerbang akademi, dengan langkah cepat aku pergi ke tempatnya berdiri.
"Ada yang bisa saya bantu?" Tanya ku, petugas itu menoleh dan tersenyum lalu memberikan sebuah amplop yang dimana terdapat lambang akademi violetfay.
"Saya hanya mengantarkan surat, saya akan kembali bertugas, permisi." Petugas itu pergi.
"Terima kasih!" Seru ku, kemudian aku membawa surat itu dan duduk di kursi jaga, aku membuka surat itu dengan pisau kecil biasa di pakai untuk memotong kertas.
Aku membaca surat itu dan mataku terbelalak terkejut, tertulis dalam surat itu.
[Dengan ini kami menyatakan, Eloise Somnivera, salah satu peserta dari ujian masuk akademi violetfay, berhasil mendapatkan beasiswa peserta berprestasi, sebagai peringkat ke 8.
Harap setelah menerima surat ini, 3 hari sebelum upacara masuk akademi, peserta datang ke kantor tata usaha untuk menandatangani surat beasiswa.]
"YEAYYYY!!!" aku bersorak kegirangan sembari melompat-lompat, beberapa orang di perpustakaan melihat ku kebingungan, sadar hal itu aku langsung berdeham dan kembali duduk dengan tenang.
Tapi rasa senang tak dapat ku bendung, aku terus tersenyum dan memeluk surat itu.
'Aku berhasil!'
⬛⚪⬛
"Itu kabar baik! Kerja bagus eloise, aku bangga padamu!" Ujar shannon, eloise tersenyum menunjukkan giginya.
Kedua kakak beradik itu kini tengah berada di sebuah taman, keesokan hari setelah menerima surat itu, setelah jam kerja eloise habis, gadis itu hendak pergi mengunjungi istana ksatria untuk menemui kakaknya.
Tetapi tanpa sengaja mereka bertemu di taman, shannon ternyata sedang ada shift jaga bersama harley dan satu ksatria lain, harley mempersilahkan shannon untuk meluangkan waktu mengobrol dengan eloise.
"Aku sangat khawatir karena aku takut jika aku gagal aku tidak bisa sekolah di sana." Ucap eloise.
"Kenapa? Bukankah kamu lulus ujian?" Tanya shannon, eloise terdiam sebentar.
"Biaya akademi violetfay sangat mahal, maklum sih karena itu adalah akademi kelas bangsawan, karena itu aku sangat berharap masuk ke 10 besar peserta terbaik untuk mendapat beasiswa." Jelas eloise, shannon tersenyum dengan alis bertautan.
"Maaf ya, aku tidak bisa memenuhi finansial mu dengan baik, karena masih banyak hal yang perlu ku urus." Eloise menggeleng cepat, kemudian memeluk shannon.
"Kakak tidak perlu khawatir, aku baik-baik saja, jadi aku mohon kakak berhenti merasa bersalah hanya karena aku tidak bisa menikmati hidup mewah seperti sebelumnya, itu tidak penting, karena yang penting sekarang bagi ku adalah hidup bahagia bersama kakak." Ujar eloise, shannon tersenyum dan membalas pelukan eloise dengan erat.
"Omong-omong eloise, soal itu," eloise melepas pelukannya dan menatap tanya shannon, gadis itu diam sebentar dan menoleh ke sekitar mereka, cukup sepi, kalau pun ada beberapa orang jarak nya sangat jauh.
"Bagaimana perbincangan mu dengan duke castillon?" Tanya shannon, eloise terkejut, kemudian ia menautkan tangannya, gadis itu terdiam sebentar lalu menarik nafas.
"A-aku sudah bicara padanya." Ujar eloise, shannon mengangguk dan menatap eloise untuk menjelaskan lebih lanjut, eloise mendengus panjang kemudian ia menceritakan peristiwa pertemuan nya dengan reithel yang berakhir tidak jelas.
"Dia mengatakan itu?" Tanya shannon dengan cukup terkejut, eloise mengangguk, shannon terdiam.
Sebenarnya ia bisa memahami mereka, dari pandangan shannon yang melihat mereka.
Tetapi shannon enggan mengatakan itu, karena ia ingin eloise dewasa dan tahu juga paham apa yang harus ia lakukan terhadap masalah ini.
Shannon mengelus kepala eloise dan tersenyum.
"Begini, aku tidak bisa memberitahu mu apa yang harus kau putuskan dan tindakan apa yang harus kau ambil, tetapi eloise, tidak baik dalam mengakhiri masalah seperti ini, aku bisa paham mengapa duke castillon bisa menjawab seperti itu, mungkin itu terlalu tiba-tiba bagi nya, tapi aku liat kau juga punya keraguan karena itu coba pikirkan baik-baik, apa yang kau mau ambil, dan jangan menyesalinya, lalu bicarakan kembali dengan duke castillon, mungkin ia menolak ajuan mu karena suatu alasan, tetapi kau juga berhak memutuskan.
Okeh?" Eloise mengangguk sebagai jawaban.
"Bagus."
-
-
-
To be continued