Not An Angel

Not An Angel
32



Happy reading!


-


-


-


Eloise terbangun dari pingsan nya, gadis itu bangkit dari posisinya dan melihat sekeliling dimana dia berada.


"Oh kau sudah bangun." Eloise menoleh melihat sosok Valkyrie yang tengah berdiri di ambang pintu sembari membawa semangkok sup dan air putih di sebuah nampan.


Hespirvit itu berjalan menuju eloise dan duduk di kursi samping ranjang yang eloise tempati.


"Apa kau lapar?" Tanya Valkyrie, eloise terdiam, dan memegang kepalanya.


"Apa yang terjadi padaku?" Tanya eloise, valkyrie menaruh nampan yang berisi sup dan air putih di di meja samping ranjang.


"Kau pingsan karena kelelahan mengeluarkan mana yang berlebih bagi tubuh mu, itu resikonya jika kau terus mengeluarkan mana tanpa henti." Jelas Valkyrie.


"Berapa lama aku pingsan?" Tanya eloise lagi, valkyrie mendengus.


"Sekitar 5 jam yang lalu, izolda pergi keluar karena sesuatu, tapi ku dengar sedikit sih, pangeran raven sedang terluka parah dan mereka butuh izolda untuk menyembuhkan nya." Jelas Valkyrie, eloise terkejut.


Dia berpikir, jika raven terluka, maka ada kemungkinan besar kalau kakaknya shannon terluka.


Eloise memegang pundak Valkyrie, "apa-apa kakak ku baik-baik saja?? Shannon, apakah dia baik-baik saja??" Tanya eloise dengan panik, melihat hal itu Valkyrie kebingung Bagaimana merespon nya.


"Ma-maaf tapi aku tidak tahu, tapi tenang saja, mereka tidak menyebut nama shannon, itu artinya kakak mu pasti baik-baik saja, aku yakin." Ucap Valkyrie, eloise melepaskan pegangannya, dan bersandar pada belakang ranjang.


Gadis itu terdiam dengan rasa sangat khawatir, walaupun Valkyrie sudah memberitahu hal itu, tapi tetep saja itu sesuatu yang tidak pasti.


Eloise bergeser ke sisi lain ranjang, dan bangkit dari posisinya, melihat hal itu Valkyrie pun ikut berdiri.


"Kau mau kemana?" Tanya Valkyrie.


"Aku ingin latihan lagi di danau." Jawab eloise dan mulai berjalan keluar ke arah pintu, valkyrie menahan tangan eloise.


"Izolda meminta ku untuk menjagamu dan tidak membiarkan mu latihan sementara lalu beristirahat, jadi tidak eloise." Valkyrie mengerutkan alisnya, eloise menarik nafas dan menghembuskan perlahan, gadis itu berusaha untuk menenangkan dirinya.


"Tolong biarkan aku latihan Valkyrie, aku tidak bisa diam saja, aku tidak suka membuang waktu hanya untuk beristirahat, lagipula tubuhku sudah lebih baik, kau tidak perlu cemas, dan juga, kalau master dan izolda marah aku tidak akan menyalahkan mu." Eloise berusaha meyakinkan Valkyrie tapi hespirvit itu seperti nya juga tidak bisa menerima itu.


"Kau tidak perlu terburu-buru, masih banyak waktu untuk latihan eloise, untuk saat ini lebih baik kau istirahat." Valkyrie bersikukuh, eloise kembali mendengus pelan.


"Mungkin aku terlihat memiliki banyak waktu untuk menjadi kuat, tetapi Valkyrie nyatanya itu tidak, aku mohon biarkan aku latihan." Eloise juga sama kerasnya, tetapi gadis itu berusaha meminta dengan lembut, valkyrie mendengus panjang sembai menggosok tengkuknya.


"Hahh...kau ini, baiklah tapi kau harus makan dulu, sebelum izolda pergi, wanita itu memasakkan sup untuk mu, setidaknya habiskan dulu." Ujar Valkyrie, eloise menoleh ke arah dimana nampan itu berada, kemudian gadis itu mengangguk, dan berjalan menuju nampan itu dan mengambil supnya.


Gadis itu makan dengan lahap, valkyrie melihat eloise sembari menyilang tangannya di depan dada.


"Kau juga tidak perlu makan secepat itu..." Guman Valkyrie yang tidak terdengar eloise.


Tidak lama kemudian eloise menghabiskan semangkuk sup itu dan meminum habis segelas air putih yang tersedia, kemudian bangkit.


"Ayo Valkyrie." Ajak eloise, hespirvit itu mengangguk kemudian mereka berjalan pergi menuju danau itu.


Sesampainya di sana, eloise melihat seorang pria dengan sebuah tombak yang dilingkari batang dan dedaunan, pria itu tengah berdiri di pinggir danau sembari menatap pohon tengah danau, menyadari keberadaan eloise dan valkyrie pria itu menoleh.


"Yo tudishen." Sapa valkyrie, pria itu mengangkat kedua alisnya.


"Aku masih ingat kalau nona izolda tidak mengijinkan gadis ini keluar dari kamar." Mendengar itu Valkyrie membeku dan menggaruk tengkuknya tidak nyaman.


"Soal itu..." Valkyrie ingin membuat alasan, tetapi eloise melangkah maju lebih dekat pada pria yang di panggil tudishen itu.


"Aku yang memaksa Valkyrie untuk membiarkan aku keluar, jadi ku mohon jangan salahkan Valkyrie dan izinkan aku untuk latihan disini." Pinta eloise sembari mengerutkan alis, pria itu terdiam menatap eloise, kemudian mengangkat pandangannya ke arah Valkyrie, hespirvit itu mengerutkan alis sembari tersenyum kaku.


Tudishen mendengus, "baiklah tetapi jika kau merasa lelah, segera keluar dari danau dan istirahat." Ucap tudishen, eloise tersenyum dengan perasaan lega, kemudian mengangguk.


"Terima kasih, tudishen, omong-omong namaku eloise." Gadis itu mengulurkan tangannya, tudishen menerimanya dan bersalaman dengan eloise.


"Namaku tudishen, aku salah satu hespirvit nona izolda." Balas pria itu, eloise mengangguk.


"Senang bertemu dengan mu tudishen, baiklah, aku akan kembali ke danau, terima kasih tudishen, valkyrie." Ucap eloise lalu berjalan kembali ke danau dimana ia berlatih.


"Itu murid dominic?" Tanya tudishen, valkyrie mengangguk, lalu menoleh ke arah tudishen.


"Tidak hanya saja, aku merasakan sihir yang kuat di dalam dirinya." Ujar tudishen, valkyrie hanya diam sembari kembali menatap eloise yang tengah berlatih.


Di sisi lain, seekor fanigi, burung yang terbuat dari api, dan di panggil Phoenix oleh izolda sebelumnya.


Burung itu bertengger di sebuah dahan pohon besar dan menatap eloise dari jarak yang cukup jauh, api besar memutar tubuhnya dan burung itu berubah menjadi sosok seorang wanita dengan seluruh tubuh yang di buat dari api, rambutnya berwarna kuning kemerahan dengan api diujungnya.


Wanita itu duduk dan menatap eloise sembari tersenyum, lidahnya menjilat permukaan bibirnya, menatap eloise dengan sorot lapar.


"Aku yakin dia punya banyak mana api di tubuhnya, aku akan memakannya."


⬛⚪⬛


Mathias tengah asik meminum teh buatan peter, dan anak laki-laki itu tengah asik membaca buku pinjaman mathias.


Kegiatan mereka berhenti seketika ketika melihat kedatangan dominic, reithel, tristan, feitan dan sebastian yang tiba-tiba muncul sembari membawa raven yang di gendong dominic di belakang pria itu.


Bahkan mathias hampir menjatuhkan cangkir tehnya, jika saja peter tidak sigap menangkapnya, di pastikan cangkir itu pecah.


"Apa yang terjadi??" Mathias bangkit dan segera mendekat pada raven.


"Soal itu nanti saja! Sekarang sebaiknya kita melakukan tindakan cepat." Tukas dominic, mathias mengangguk lalu mempersilahkan mereka untuk mengikuti pria itu.


Mereka berjalan menuju sebuah ruangan, di sana adalah kamar yang penuh dengan lingkar sihir suci di berbagai sisi.


Dominic membaringkan raven di sebuah ranjang di ruangan itu, mathias memegang kepala raven dan cahaya muncul dari tangannya, pria itu memeriksa sihir kutukan yang di terima raven, mathias menyadari raven tengah memegang sebuah pedang hitam pekat.


"Pedang ini! Bagaimana kalian bisa mendapatkan nya? Aku yakin sudah memasang pelindung agar pedang itu tidak di ketahui keberadaan nya." Jelas mathias.


"Sayangnya pelindung itu pasti di hancurkan oleh warzerten." Ujar reithel, dominic mendengus.


"Sepertinya pangeran mengalami hal yang sama dengan ku dulu." Ucap dominic tiba-tiba.


Reithel mengangkat sebelah alisnya, "itu berarti kita butuh izolda." Ujar mathias, dominic mengangguk, lalu memunculkan sebuah bola kaca.


"Izolda!" Panggil dominic, wajah izolda muncul dengan ekspresi terkejut.


"Kau tidak perlu memanggilku seperti itu, ada apa?" Tanya izolda dengan rasa sedikit kesal.


"Pangeran raven terluka parah dan kami membutuhkan mu." Jelas dominic sesingkat mungkin.


"Kedengarannya ini gawat, baiklah aku pergi, tunggu aku di sana." Dan komunikasi mereka berakhir.


"Sekarang kita perlu menunggu izolda terlebih dulu." Ujar dominic.


"Sembari jelaskan apa yang terjadi." Tambah mathias, dominic dan reithel menoleh melihat ekspresi mathias yang sedikit marah, reithel menggaruk tengkuknya sedangkan dominic mendengus.


Akhirnya dominic menceritakan semua yang terjadi di hutan crystalden, setelah mendengar semuanya mathias mendengus panjang.


"Ini gawat sekali, dan parahnya pedang ini, tidak akan bisa lepas dari raven.", Ucap mathias membuat mereka semua terkejut.


"Apa maksudmu mathias?" Tanya dominic.


"Ini adalah salah satu senjata yang dibuat dari bagian tubuh iblis, konon senjata ini di turunkan ketika kehancuran pertama dunia, pada saat kaisar roland masih menduduki tahtanya, banyak ksatria yang mati hanya karena memegang pedang ini, sihir kutukannya terlalu kuat, jika tubuh manusia itu tidak kuat, mereka akan mati hanya dengan menyentuh pedang itu.


Karena itu atas perintah kaisar roland, beliau memintaku untuk menyembunyikan pedang itu dari pandangan rakyatnya agar tidak lagi menimbulkan korban.


Tetapi dari yang kulihat Pedang ini sudah jadi milik raven seluruh nya, karena simbol pedang ini muncul, sejujurnya ini lebih di sebut senjata makan tuan." Mathias mengunjuk pada sebuah simbol yang ada di pegangan pedang itu.


"Lalu apa yang harus kita lakukan?" Tanya reithel.


"Pertama kita butuh izolda untuk melepas pedang ini dari tangan raven, kemudian kita akan menyegel pedang ini dengan sihir suci, untuk bagian pertama itu cukup mudah, tetapi tidak untuk selanjutnya.


Karena kita akan membutuhkan banyak kekuatan sihir suci, karena itu, duke castillon, dominic, izolda dan aku, kita akan membuat ritual khusus untuk menyegel pedang ini."


-


-


-


To be continued