Not An Angel

Not An Angel
11



Happy reading!


-


-


-


Aku sedikit takut melihat wajah reithel seperti itu, jadi aku memilih menatap ke arah lain.


Tetapi pria bersurai hitam lurus itu tetap menatap ku dengan tajam, master dominic bergerak ke sebuah lemari buku di sebelah kanan ruangan, pria itu mengambil salah satu buku dari lemari tersebut dan membuka halaman pertama, kemudian menutupnya, lalu berjalan ke arah reithel berdiri.


"Ini laporannya, ada bukti gambar sesuai yang kau minta." Ujar master dominic mengabaikan situasi canggung di antara kami.


Aku mendengar reithel mengambil buku yang di sebut laporan itu, netra ruby ku melirik sedikit pria itu, reithel membuka secara cepat buku laporan itu.


"Terima kasih, aku pergi, jangan lupa, jam 3 sore ada rapat, aku tidak mau membuat alasan lain lagi atas ketidakhadiran mu." Ujar reithel.


"Baik-baik, tenang saja aku pasti akan hadir, karena ada asisten ku jadi pekerjaan ku sedikit lebih ringan." Master dominic menoleh ke arah ku diikuti mata reithel.


Aku langsung menunduk dan mengatupkan bibirku rapat, reithel tidak membalas apapun dan langsung berlalu pergi meninggalkan kami berdua.


Tiba-tiba suasana terdiam, aku masih berusaha menenangkan diriku karena situasi tidak terduga tadi.


"Kau tidak bekerja?" Tegur dominic membuatku menoleh cepat.


"A-ah i-iya, saya permisi!" Ujar ku segera pergi dari ruangan dan menutup pintu.


Cklekk


⬛⚪⬛


Dominic menyisir rambutnya ke belakang, dan mendengus keras.


"Dasar anak muda, masalah mereka terkadang terlalu rumit untuk di pahami."


Pria berambut jingga panjang itu kembali ke tempat duduk nya, lalu pria itu menyandarkan tubuhnya ke kursi nya dan meregangkan tangannya ke atas.


Pria itu kembali terbayang dengan kejadian dimana ia bertemu pertama kali dengan eloise, iya di waktu eloise pertama kalinya datang ke perpustakaan.


Dominic menatap langit-langit ruangan, dan mendengus.


"Sudah ku duga master belum benar-benar mati, apa master memasukkan sihirnya ke tubuh eloise?" Pria itu bermonolog, la menegakkan tubuhnya, lalu membuka salah satu laci di meja nya.


Ia mengambil sebuah kotak, di dalam kotak itu terdapat dua kalung dengan liontin berbeda, satu liontin yaitu sebuah bunga poppy merah yang terbalut di dalam kristal bening, sedang liontin lainnya batu safir berbentuk persegi.


"Eloise belum saat nya menerima ini, dan aku belum bertemu shannon, aku tidak bisa mengubah alur takdir, karena sesuatu yang tidak di inginkan akan terjadi." 


Sepintas di benak nya terbayang sebuah ingatan.


"Suatu saat nanti, ada kemungkinan aku pasti tidak bisa mendampingi mereka, aku tidak memaksa mu untuk menjaga mereka karena ini bukan kewajiban mu, tetapi dominic.


Jika mereka membutuhkan bantuan mu, aku mohon bantu mereka sebisa mu, ini adalah salah satu tugas terakhir yang ku berikan padamu.


Maaf ya, aku memang bukan master yang baik dan bijaksana."


Masternya terdahulu, terakhir ia bertemu masternya adalah 15 tahun yang lalu.


Kembali sepintas gambaran ingatan melewati benaknya, dimana masternya mati.


Dominic mengatupkan giginya, pria itu menaruh kotak itu lagi, dan membuka laci lainnya.


Ia mengambil sekotak rokok dan berjalan keluar meninggalkan ruangan, pria itu berjalan menuju salah satu balkon terdekat yang berada di lorong ini.


Dia menemukan satu balkon dan memasuki nya, pria itu berdiri ke dekat pagar balkon, ia mengeluarkan sebatang rokok, dan dengan sihirnya ia menyalakan rokok itu.


Pria itu menghisap rokok itu dengan dalam dan menghembuskan nya secara kasar, matahari sudah mulai terbit sepenuhnya, pria itu menatap sendu pemandangan di hadapannya.


Tok-tok


Dominic terkekeh, ia tahu siapa yang mengetuk pintu kaca balkon itu.


"Apa kau ingin mengetahui soal eloise, master reithel?" Tanya pria itu tanpa menoleh.


Reithel masuk ke balkon itu, pria itu berjalan ke samping dominic dengan jarak, lalu ia memutar tubuhnya dan menyandarkan pinggang nya pada pagar balkon, pria bernetra langit itu melipat tangannya di depan dada dan menatap dominic.


Reithel mengeluarkan rokok miliknya, dan dengan sihirnya ia menyalakan rokok itu, pria itu menghisap rokok itu dalam dan menghembuskan nya secara kasar.


Alisnya bertautan menatap dominic, dan pria di sampingnya hanya tersenyum tidak jelas.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya reithel, dominic mengangkat bahu nya.


"Dia hanya meminta saran dari ku, kemudian aku menyuruh nya untuk belajar sihir dan menjadi asistenku." Ungkap dominic yang sebenarnya bukan jawaban yang di harapkan reithel.


"Saran apa dan mengapa?" Reithel memperjelas pertanyaan nya untuk mendapatkan jawaban yang dia mau, tapi dominic hanya tertawa pelan.


"Kenapa kau tidak tanya langsung ke tunangan mu?" Reithel mengangkat kedua alisnya.


"Kau tahu?" Tanya reithel.


"Kau pikir aku sudah hidup berapa lama, yah yang pasti gadis itu tidak mengatakannya padaku." Jelas dominic kembali menghisap rokok miliknya, reithel menghisap rokoknya dan menghembuskan nya panjang.


"Baiklah." Reithel mematahkan rokoknya dan membakarnya sampai habis, pria itu hendak berjalan keluar dari balkon.


"Reithel." Panggil dominic menahan langkah reithel lebih lanjut, pria itu menoleh, dominic membalikkan tubuhnya ke arah reithel berdiri.


"Aku tidak akan ikut campur urusan kalian, karena itu bukan kewajiban ku dan aku malas, tetapi.


Jika kamu menyakitinya, aku akan pastikan kamu tidak melihat matahari lagi." Dominic menatap reithel dengan senyum penuh arti dan netra tosca nya bersinar tajam menatap reithel.


Pria berambut hitam itu terdiam sebentar, "aku mengerti." Jawabnya singkat lalu pergi dari balkon.


⬛⚪⬛


Reithel berjalan menuju pintu keluar perpustakaan, di tengah perjalanan, ia terus memikirkan eloise.


Ia teringat dengan peristiwa dimana ia bertemu pertama kali dengan eloise.


Marquis Garthside sebenarnya hendak memperkenalkan shannon sebagai tunangan nya, tetapi karena shannon memilih untuk di usir, sehingga eloise yang menggantikan.


Ia ingat ketika gadis itu memberi salam perkenalan padanya, rambut pirang nya yang di gerai panjang dan di beri hiasan pita, dan memakai gaun berwarna putih dan merah yang senada dengan iris ruby nya.


Wajahnya yang cantik dan manis tersenyum padanya dengan tulus, tetapi pada saat itu reithel hanya diam dengan dingin, tetapi dia tetap mengakui, hati nya sedikit bergetar pada saat itu.


Di mata reithel, eloise adalah gadis yang sangat ideal sebagai tunangan, ia tidak begitu mengharapkan perhatian darinya, tetapi gadis itu tetap memberi perhatian sebagai pasangannya, pintar di akademis dan melakukan pekerjaan rumah.


Gadis seperti itu sudah sangat cocok, reithel tidak mengharapkan cinta eloise, baginya eloise adalah boneka cantik yang berguna.


Tetapi pada tempo hari saat itu, hal yang tak di duga olehnya, eloise, memberontak pada nya.


Reithel tahu eloise mencintainya, dan sejujurnya reithel tidak mempedulikan perasaan gadis itu, tetapi di hari itu entah kenapa dan bagaimana, cinta eloise seketika sirna, di mansion Garthside terakhir kali, ia melihat bagaimana eloise menatap nya.


Mata dengan sorot penuh dendam, walau dia tetap bersikap hormat seperti biasanya, tapi mata adalah kejujuran manusia.


Reithel mendengus, ia menatap ke arah depannya, tampak pintu keluar perpustakaan sudah di hadapannya.


Langkah reithel berhenti, ia melihat eloise yang duduk di tengah tumpukkan buku, pria itu ingin mendekati eloise dan mengajak gadis itu bicara.


Apa yang terjadi pada eloise?


Pertanyaan besar yang saat ini ada di lubuk hati reithel, tapi pria itu memilih mengurung niatnya.


Ia teringat kejadian di ruangan dominic tadi, eloise tidak mengakui nya.


Sebenarnya itu semakin membuat reithel bertanya-tanya, apa ia melakukan kesalahan hingga eloise memilih untuk lepas darinya.


Sekali lagi di lubuk hati reithel.


Apa yang terjadi pada eloise?


Pria itu menatap sendu eloise yang tengah sibuk dengan kegiatannya, kemudian reithel kembali melanjutkan langkahnya menuju pintu keluar perpustakaan.


-


-


-