
Happy reading!
-
-
-
Setelah bertemu dengan kakak, kami akhirnya berpisah karena kakak harus melanjutkan tugas nya, sedangkan aku kembali pulang.
Tetapi aku memilih untuk tidak berteleportasi dan jalan kaki untuk melihat-lihat ibu kota, aku berjalan melewati keramaian pasar, siang menjelang sore adalah waktu dimana pasar menjadi lebih ramai.
Di tengah perjalanan, di sebuah gang yang hendak ku lewati, aku mendengar suara orang meminta tolong, aku langsung menoleh ke arah gang tersebut, aku terdiam sebentar.
"Tidak, aku tidak boleh takut, aku punya sihir untuk melindungi ku." Guman ku pada diri sendiri, dengan berani aku melangkah memasuki gang tersebut.
"TIDAK! LEPASKAN AKU!!" suara seorang gadis terdengar semakin kencang ketika aku mulai memasuki gang, aku berjalan mengendap-endap berusaha untuk tidak menimbulkan suara sedikitpun.
Ketika di penghujung tembok, aku melipir pada tembok dan mengintip apa yang terjadi, ada seorang gadis yang kedua tangannya di tahan oleh seorang pria besar, di hadapan gadis itu ada dua pria yang besarnya hampir sama, mereka menertawai teriakan gadis itu.
Aku menautkan alisku merasa jijik dengan pria tersebut, terus manik ku mengarah pada gadis yang di tahan, aku sangat terkejut.
'Rinni!'
Dia adalah pelayan pribadi lama ku selama aku masih menjadi putri keluarga garthside, rinni tampak menangis dan memberontak berusaha melepas kan dirinya dari tahanan pria besar itu.
"Kita jual pasti mahal kan, ayo jual saja bos!" Seorang pria tertawa dengan keras menanggapi kawannya.
"Aku mau saja, tetapi sangat sayang jika tidak kita pakai dulu kan? Gadis ini cukup rupawan untuk di mainkan." Ucap pria yang di anggap bos oleh mereka sembari menyentuh sejumput rambut panjang rinni.
"TIDAKKK LEPASKANNN!!" rinni histeris, aku mengatupkan gigiku, kemudian aku melangkah dengan tegas, keluar dari persembunyiannya ku.
"Berhenti sampai situ bajingan!" Seru ku, mereka menoleh padaku dengan wajah jengkel.
"Astaga bos kita sangat beruntung hari ini, ada seorang gadis cantik yang mendatangi kita langsung!" Di sambut tawa oleh teman yang menahan rinni.
"No-nona, tidak nona! Jangan kesini! Pergilah!" Seru rinni sembari ketakutan, aku menyeringai kemudian mengangkat tanganku sedikit.
"Tenang saja rinni, akan ku urus ini dengan cepat." Ujar ku, pria brengsek itu menertawakan ku kemudian pria bos itu bertepuk tangan.
"Serang dia." Titah santai pada temannya, pria itu sembari tertawa berlari kearah ku sembari membawa pisau.
Dengan sekali ayunan tanganku aku mengeluarkan sihir apiku hingga membuatnya terpental dan berteriak panas.
"Tenang saja, aku sudah menurunkan panasnya jadi kau tidak akan terkena luka bakar yang tinggi." Ujar ku, si pria bos itu kemudian mengeluarkan senjata, aku bisa melihat itu adalah sebuah pistol.
Aku menyipitkan mataku, aku tahu karena pistol adalah senjata yang sangat sulit didapatkan izinnya, jika pria ini memilikinya, maka pasti adalah barang ilegal.
"Sepertinya aku akan mempermudah pekerjaan kakak ku." Ujar ku, si bos itu menodongkan pistol nya padaku sembari tersenyum tetapi tersirat ketakutan pada raut wajahnya.
"Kau banyak bicara! Matilah!" Bos itu menembak.
"NONA!" rinni berteriak, sekali lagi dengan sekali ayunan tanganku, aku melelehkan peluru itu sebelum menyentuh ku, pria itu terkejut dengan tangan gemetar pria itu kembali menembakkan peluru berkali-kali, tetapi sekali lagi aku melelehkan peluru itu.
Pria itu hendak menembak lagi, tapi pelurunya sudah habis, kemudian ia melempar ku dengan pistol tersebut, aku menghindar, tetapi ketika aku menghindar pria itu hendak menusuk ku dengan pisaunya, aku menyeringai.
"Usaha yang bagus tapi,"
Dhuakk!
Aku dengan cepat dan kuat menendang perut pria itu hingga terpental ke arah dimana temannya terpental sebelumnya karena sihir ku, seketika pria itu yang di panggil bos oleh mereka itu pingsan.
"Aku lebih cepat darimu."
Aku menatap ke arah orang yang menahan rinni, pria itu melepas tangan rinni dengan membantingnya hingga terjatuh, kemudian ia lari begitu saja meninggalkan temannya.
"Tunggu sialan!" Seorang temannya yang terkena sihir ku sebelumnya berteriak, aku menatap ke arahnya, ia berjengit melihatku kemudian ia ikut kabur meninggalkan pria yang mereka sebut bos.
Aku berjalan mendekati rinni, gadis itu kakinya tampak gemetar, "nona, hiks." Panggil nya lirih padaku, aku mendengus sembari menatapnya sedih.
Aku melepas jubah ku kemudian menyelimuti rinni, aku bangkit lalu hendak berjalan pergi, tetapi rinni menahan tanganku.
"No-nona tolong jangan tinggalkan saya." Rinni ketakutan, aku kembali berjongkok kemudian menyentuh tangannya yang memegang rok ku.
"Aku hanya pergi sebentar untuk memanggil ksatria, tolong tunggu sini, jangan khawatir pria itu tidak akan sadar untuk waktu yang lama." Ujar ku, rinni terdiam sebentar kemudian mengangguk dan melepas pegangan nya dari ku.
Lalu aku berlari keluar gang dan melihat ke sekeliling mencari ksatria yang berjaga di sekitar, kemudian aku menemukan dua orang, dan itu adalah feitan dan ksatria lain yang tidak ku kenal.
"Feitan!" Panggil ku sembari berlari kearahnya, pria itu menoleh dengan terkejut, ketika aku dekat dengannya kemudian feitan menatap tanya padaku.
"Seseorang membawa pistol, tampak nya itu adalah ilegal." Tukas ku, feitan langsung mengangguk aku berlari kembali ke tempat rinni berada, kali ini bersama feitan dan ksatria yang bertugas bersama nya.
Dan sesuai harapan ku pria itu masih pingsan karena tendangan ku yang kencang, feitan langsung memasang borgol pada pria itu, sedangkan aku berjalan mendekat ke arah rinni dan membantunya berdiri, gadis itu masih tampak ketakutan.
"Di sini biar aku saja yang urus, terima kasih eloise." Ujar feitan, aku tersenyum sembari mengangguk, kemudian mataku mengarah pada rinni.
"No-nona..." Lirih rinni, aku tersenyum dan menepuk-nepuk pundaknya.
"Sekarang kau pergi bersama ku ke tempat tinggal ku ya." Rinni mengangguk, tetapi dia menahan tanganku.
"Tenang saja, kita teleportasi." Rinni menatap bingung padaku, aku hanya tersenyum kemudian menggandeng tangannya.
"Mungkin ini akan sedikit pusing." Aku menutup mataku kemudian berteleportasi ke perpustakaan violetfay.
Awalnya aku berpikir untuk pergi ke kamar ku, tetapi aku malah kembali salah.
Aku membuka mataku dan ternyata itu bukan kamar ku, melainkan ruang kerja master dominic.
Sepertinya ini terjadi karena aku berniat untuk menemui master, padahal maksud ku setelah mengantar Rinni keruangan ku.
Master tampak menatap ku dengan alis menurun, dan ada Achilles, valkyrie juga arjuna yang berada di ruangan tersebut, mereka terkejut melihat ku.
"Kenapa kau malah kesini?" Tanya master, aku salah tingkah.
"A-ah ma-maafkan aku master, tadi aku–"
"Ini bukan salah nona eloise!" Rinni tiba-tiba berseru.
"Hah? Bukan itu maks–"
"Ini bukan salah nona eloise! Ini adalah salah saya! Karena itu biar saya saja yang di hukum!" Rinni memotong ucapan master, Kemudian rinni bersujud pada master, aku terkejut dengan tingkah rinni, kebingungan harus melakukan apa.
Sedangkan master menatap rinni dengan aneh, kemudian pria itu mengusap wajahnya, dan menatap ku.
"Jelaskan."
⬛⚪⬛
"Oh begitu, jadi dia ini mantan pelayan pribadi mu, dan tadi kau menolong nya?" dominic bertanya setelah penjelasan eloise.
Gadis itu mengangguk, "tadi dia hampir di lecehkan, dan di jual oleh sekelompok pria brengsek." Tambah eloise, dominic mengangguk mengerti.
"Begitu aku mengerti, dan sekarang, sampai kapan kau akan terus bersujud, rinni?" Tanya dominic yang menatap rinni dengan mengangkat sebelah alisnya.
"Sampai anda memaafkan saya tuan!" Seru rinni, suaranya terpendam karena ia bersujud, dominic mendengus kemudian berjongkok di depan Rinni, pria itu mengelus kepala rinni.
Rinni tergelak kemudian mengangkat wajahnya, dominic tersenyum, "kau tidak perlu begitu, aku tidak marah sama sekali." Ujarnya lembut, rinni terdiam terkejut, kemudian gadis itu mengubah posisi nya menjadi duduk bersimpuh.
"Ayo berdiri, duduklah di kursi." Rinni bangkit, eloise hendak mengambil dua kursi di sudut ruangan.
"Ah tidak nona, biar saya saja." Rinni langsung melengos dan mengambil dua kursi dan meletakkannya di samping eloise.
"A-ah terima kasih rinni, tapi kau tidak perlu begitu, aku kan bukan nona mu lagi." Ujar gadis itu.
"Tentu saja tidak nona! Sampai kapanpun saya akan tetap menjadi pelayan pribadi nona," Rinni mengepal kan tangannya, "saya tidak akan sudi melayani nona baru itu!" Serunya.
Eloise menatap tanya pada nya, "apa maksud mu rinni?" Gadis itu terdiam sebentar dan menarik nafas.
"Marquis Garthside membawa putri baru sebagai anak mereka, dan saya diminta menjadi pelayan pribadi nya, te-tetapi saya menolak keras, karena bagi saya nona adalah satu-satunya," rinni berseru.
"Karena tolakkan saya, mereka menurunkan gaji saya, dan memindah kerja bagian saya, walau begitu saya tidak peduli, tetapi kemarin, putri itu memanggil saya untuk menyajikan teh, padahal saya bukanlah pelayan pribadi nya, tapi pelayan lain mengatakan putri itu memaksa, akhirnya saya menuruti kemauan nya dan menyajikan teh untuknya, tetapi saat itu."
⬛⚪⬛
Rinni menuangkan teh ke cangkir putri Garthside yang baru, gadis itu tersenyum dan menyesap teh rinni, kemudian gadis itu tertawa, membuat Rinni bingung menatap nya.
"Eloise Somnivera, dasar gadis bodoh, ia dengan arogan meminta putus tunangan dengan duke castillon bahkan angkat kaki dari mansion ini, sungguh arogannya dia, benarkan rinni?"
Rinni terkejut, kemudian dengan amarah besar, gadis itu menyiram gadis yang menghina eloise dengan air pot tanaman di meja di hadapan putri baru Garthside tersebut.
"Jangan menghina nona eloise! Kau tidak tahu apapun!"
⬛⚪⬛
Suasana hening sesaat setelah rinni menceritakan alasan dia di tendang keluar dari mansion Garthside.
"Tapi aku tidak menyesali perbuatan ku." Tegas rinni, eloise menatap rinni sedikit terkejut, dengan senyum samar eloise merasa berterima kasih.
"Begitu ya." Dominic mengangguk kemudian ia menumpu kaki nya satu sama lain dan menyilang tangannya di depan dada.
"Kalau begitu sekarang kau bekerja lah di sini sebagai asisten pustakawan, dan juga pelayan pribadi eloise, dengan senang hati aku menggaji mu jika gaji dari akademi tidak cukup bagi mu."
Kalimat dominic membuat eloise terkejut.
"Ma-master tapi–"
"Aku mau!" Rinni berdiri, dan menatap dominic dengan senang dan semangat, dominic terkekeh.
"Kalau begitu kau di terima."
-
-
-
To be continued