Not An Angel

Not An Angel
3



Happy reading!


-


-


-


-


Akhirnya aku tiba di kuil.


Aku bergerak keluar dan turun dari kereta itu, aku tertegun menatap kuil besar roxane, yang tampak sangat indah, dan aura yang di pancarkan bangunan suci ini sangat terlihat, aku menatap sekitar dan banyak sekali orang yang mengunjungi kuil.


"Nona, saya akan tunggu nona di luar gerbang." Ucap sang pengemudi itu, aku mengangguk, kemudian pria paruh baya itu pergi sembari membawa kereta kuda itu.


Aku melangkahkan kaki ku menuju dalam kuil, ketika sampai di sana, aku kebingungan harus melakukan apa untuk menemukan pendeta itu.


Aku melihat seorang gadis dengan pakaian panjang putih yang di mataku tampak seperti pakaian pendeta.


"Permisi nona pendeta." Aku memanggil gadis yang tengah membawa tiga buah buku yang tidak ku mengerti tulisannya, aku sedikit mengernyit menatap buku yang di pegang nya.


"Maaf ada yang bisa di bantu?" Gadis itu menyadarkan ku, dengan segera aku angkat bicara.


"Itu, aku mau bertemu dengan pendeta mathias, apa beliau ada?" Ujar ku, gadis itu mengangkat kedua alisnya terkejut, begitu juga dengan ku, karena bingung melihat reaksinya.


Gadis itu menatap penampilan ku dari ujung kepala hingga kaki, dan itu membuat semakin bingung dan risih.


'apa aku mengatakan sesuatu yang salah???'


"Maaf nona, jika nona ingin bertemu pendeta agung roxane nona harus membuat jadwal terlebih dahulu." Jelas gadis itu, aku terdiam menyimak kalimatnya, dan akhirnya aku paham.


'aku tidak sopan....'


"Baik terima kasih atas informasinya, dan mohon maaf atas panggilan ku pada pendeta agung roxane, kedepannya aku akan lebih menjaga bicara." Jelas ku sembari membungkuk maaf.


"Ah tidak-tidak nona." Gadis itu terkejut dengan tindakan ku.


"Aku juga minta maaf atas pandangan ku tadi, karena kupikir rasanya aneh kalo jamaat disini tidak tahu, mengenai pendeta agung mathias, tapi aku perhatikan nona pasti baru pertama kali datang, mohon maaf atas ketidaksopanan ku." Lanjut gadis itu.


Sebenarnya aku sedikit tertohok mendengar kalimat nya, karena itu membuat ku terlihat seperti orang yang tidak taat, walaupun memang seperti itu.


"Tidak apa-apa, oh iya nona, boleh aku tahu dimana aku bisa membuat jadwal dengan pendeta agung roxane?" Gadis itu menunjuk salah satu pintu dari sekian banyak pintu di kuil.


"Nona bisa membuat permohonan di sebelah sana, caranya, nona hanya perlu membuat surat kemudian men stampel surat tersebut pada pendeta kami, lalu di masukkan ke kotak yang sudah tertulis nama pendeta yang ingin di temui, begitu nona." Jelas gadis itu, aku mengangguk mengerti.


"Baiklah kalau begitu, terima kasih, saya permisi." Ujar ku dengan senyum, lalu pergi menuju arah yang di tunjuk nya.


⬛⚪⬛


Aku baru memasuki ruangan, seketika aku menghela nafas berat, karena ruangannya ramai sekali, aku melihat sebuah meja tempat untuk menulis surat tapi seperti suasananya yang sangat padat bahkan ada antrian yang panjang.


Aku menoleh ke berbagai arah, dan kembali menghela nafas.


'Sebaiknya aku keluar berjalan-jalan sebentar, sampai mejanya sedikit lebih sepi.'


Aku memutar tubuhku dan keluar dari ruangan tersebut, aku tidak tahu kemana aku harus pergi, jadi aku hanya mengikuti naluri ku saja.


Aku pergi keluar dari bangunan kuil, aku melihat ke kanan dan kiri, di sisi kiri sangat ramai entah keramaian apa itu, sedangkan sisi kanan lebih sepi.


Langkah ku memilih arah kanan, aku terus berjalan sembari memandang sekitar, dan memperhatikan bangunan kuil yang sangat besar itu.


'ada ruangan apa saja ya kira-kira? Di masa lalu aku tidak pernah pergi ke kuil selain hanya untuk upacara kedewasaan, karena tidak ada kepentingan juga.'


Aku terus berjalan tanpa melihat jalan depan ku.


DHUK!


Tanpa sengaja aku menabrak seseorang hingga aku terjatuh kebelakang, aku langsung meringis sakit.


"Ah, maafkan aku nona, aku tidak melihat jalan." Seseorang mengulurkan tangannya padaku.


Aku memperhatikan tangan itu, kemudian aku melihat si pemilik tangan, surai putih dan manik magenta, pria itu menatapku dengan sorot terkejut.


Alis ku berkerut tanya, kemudian mataku melihat tangannya yang masih mengulur padaku, aku menerima tangannya.


"Aku tidak apa-apa." Ucap ku, Kupikir ia mendengar ku, tetapi ia malah diam, dan menatapku dengan sorot yang tidak ku ketahui, mata nya seperti melihat sesuatu yang bersinar.


Bahkan tanganku sudah menyentuh tangannya, tetapi dia masih tidak bergeming, akhirnya aku mencoba melambaikan tangan ku yang lain di depan wajahnya, dia langsung tersadar dan terkejut.


"Ah, maaf aku melamun." Pria itu langsung membantuku berdiri, kupikir tangan ku akan segera di lepas tapi dia malah menahannya dan kembali menatapku.


"Maaf tuan, tangan ku..." Ujar ku, pria itu menatap tangan nya yang masih menggenggam tanganku, terdiam sebentar.


"Oh benar, aku minta maaf, aku benar-benar minta maaf." Dia terus mengucapkan maaf dengan salah tingkah, aku hanya tertawa pelan dan tersenyum.


"Tidak apa-apa." Ucap ku dengan canggung, pria itu kembali terdiam, dengan tatapan yang sama, aku tidak tahu maksud dari tatapannya.


Aku rasa interaksi nya sudah cukup, aku tersenyum, "Kalau begitu aku pergi dulu." Ketika aku ingin kembali melanjutkan perjalanan ku, pria itu menahan lenganku.


"Ma-maaf, b-bo-boleh beritahu nama mu?" Tanya pria itu, aku menatap bingung, kemudian aku menatap tangannya yang memegang lenganku.


"Ah maaf aku menarik tanganmu." Dia langsung melepasnya, tapi dia tetap melihat ke arahku, aku hendak ingin membuka suara.


"Arion."


Terdengar suara seorang pria di belakang ku, suara itu aku pernah mendengar nya, kembali terbayang wajah pendeta yang mendoakan ku waktu itu.


Aku menoleh ke sumber suara tersebut, benar saja, seorang pria dengan pakaian pendeta nya yang berwarna putih emas, rambutnya berwarna hitam kemerahan dengan mata hijau zamrud, dan membawa sebuah buku bersampul kulit hitam.


"Pendeta agung mathias." Panggil pria yang tadi menahan lenganku.


"Kudengar kau mencari ku, ada apa arion?" Pendeta itu bertanya pada pria yang di panggil arion itu.


"Aku diminta untuk memberitahu pendeta agung, yang mulia kaisar mengadakan pertemuan dengan para petinggi bangsawan, pendeta agung harus menghadiri pertemuan tersebut sebagai perwakilan kuil." Jelas arion pada pendeta mathias.


"Begitu, baiklah, kapan pertemuan itu diadakan?" Tanya pendeta mathias.


"Malam ini, jam delapan di aula B istana kekaisaran." Jelas pria yang di panggil arion, Pendeta mathias mengangguk-angguk.


"Baik, terima kasih atas informasinya, kalau begitu aku permisi."ucap Pendeta mathias dan hendak berjalan pergi.


"Tunggu!" Aku dengan reflek melangkahkan kaki ku dan menahan jubah pendeta mathias, pria itu terkejut dan memutar tubuhnya mengarah pada ku, aku menatapnya dengan mata membulat.


Seketika suasana sunyi sesaat, dan otak ku kembali berjalan.


"Uwahh! Mohon maaf atas ketidaksopanan ku." Ucapku langsung melepaskan tangan ku dari jubahnya dan membungkuk.


"Ah tidak apa-apa, ada apa nona? Apa ada yang bisa ku bantu?" Tanya pendeta itu, kemudian aku mengangkat kepalaku dan menelan ludah.


"Maaf pendeta agung mathias, boleh aku minta waktu untuk bicara? Ini seperti nya akan memakan waktu cukup lama." Ujar ku dengan ragu.


Pendeta mathias sempat terdiam sebentar dengan wajah yang tampak berpikir, aku segera kembali angkat bicara.


"A-aku minta maaf karena meminta waktu pendeta agung tiba-tiba, pasti pendeta agung sibuk sekali, ta-tapi aku mohon beri aku waktu sebentar saja untuk bicara dengan pendeta agung, aku tidak tahu apa aku bisa kembali kesini di lain hari, ka-karena itu, aku mohon pendeta agung mathias..." Ujarku dengan nada pelan.


"Ah sebenarnya tidak masalah, tapi..." Dia terdiam sembari menatap arion yang berdiri di belakang ku.


"Tidak perlu khawatir pendeta agung, aku hanya ingin tahu nama nona ini." Pria itu tersenyum pada pendeta mathias kemudian menatapku.


"Jadi siapa nama mu?" Aku terdiam sebentar, aku sedikit terpana dengan wajahnya yang tampan dan lembut.


"Aku..." Aku terhenti sebentar, aku mengerutkan alisku dan menggeleng.


'aku tidak bisa membawa nama garthside.' kemudian aku menatap arion dengan senyum.


"Aku Eloise, Eloise Somnivera." Pria itu semakin menarik sudut bibir nya, kemudian ia membungkuk sopan padaku.


"Aku Arion, Arion Valdric Ryknight, kapan-kapan kita bertemu lagi nona eloise, kalau begitu aku permisi." Arion tersenyum padaku dan pendeta mathias yang dibelakang ku kemudian pergi.


Sebenarnya aku sangat terkejut ketika dia menyebutkan nama panjangnya.


Ryknight.


'Bangsawan yang menjadi lawan dari keluarga Castillon, keluarga reithel.'


-


-


-