Not An Angel

Not An Angel
43



Happy reading!


-


-


-


Eloise duduk di tempat sebelumnya ia menunggu, gadis itu memandang ke atas aula dan melihat cerah langit.


Setelah ujian tulis, gadis itu harus menunggu lagi, hingga namanya di panggil maka di nyatakan lulus, berkali-kali eloise menghela nafas.


Di sisi lain, seorang pria misterius memasuki aula, pria itu mengenakan penutup mata di sebelah kirinya, dan manik mata kanannya berwarna merah dengan gambar segitiga, ia mengenakan mantel putih panjang, warna rambutnya berwarna biru tua lurus, ia memandang sekeliling aula.


"Haa, astaga-astaga, bau sihir risilv sangat tajam disini."


Pria itu menggosok hidungnya yang tidak gatal dan mengibas-ngibas, kemudian ia menyalakan sebatang rokok dan menghirup nya.


"Rokok memang enak." Pria itu mendengus tenang.


"Dwight Stanley, bagaimana?"


Seseorang memanggilnya di seberang sana, suara itu hanya bisa di dengar oleh dwight sendiri.


Pria itu menarik sudut bibirnya, kemudian menarik hembusan panjang pada batang rokoknya, hingga tersisa setengah batang.


"Yahh, aku belum menemukannya, aku baru saja tiba, kau tolong sabarlah." Pria itu bicara dengan nada malas.


"Baiklah, segera laporkan jika kau menemukan nya, dan berhati-hati lah jangan membuat keributan, dan ingat jika–"


"Iya-iya kau ini banyak bicara, aku tahu, jika ada penyihir keabadian, aku akan segera pergi." Pria itu kembali menghembuskan asap rokoknya hingga mengepul banyak.


"Baguslah kalau begitu."


Itu kalimat terakhir yang di dengar Dwight, komunikasi mereka terputus, kemudian ia menyakukan tangan kanannya, dan dengan tangan kirinya ia mengambil batang rokok itu dari bibirnya, dan menoleh keseluruh ruangan aula, masih sangat banyak peserta yang belum mendapat giliran ujian.


"Astaga, ini akan memakan banyak waktu, semoga giliran nya lebih cepat, jika sihirnya sesuai, maka akan langsung ku bawa." Pria itu tersenyum iblis.


Tiba-tiba seseorang menarik mantelnya, pria itu menoleh dan melihat seorang wanita dengan pakaian rapih, wanita itu salah satu karyawan administrasi akademi violetfay.


"Maaf tuan, disini dilarang merokok..." Ucap wanita itu, Dwight terdiam sebentar lalu menggosok tengkuknya.


"Oh maafkan aku nona, aku tidak tahu, kalau begitu aku keluar sebentar." Dwight berjalan pergi dan mendengus.


"Merepotkan sekali, aku harus menggunakan sihir ku." Pria itu mengepal tangannya dan kemudian melepasnya dan menjatuhkan seekor laba-laba kecil dengan simbol sihir di tubuhnya, laba-laba itu sangat kecil sehingga tidak terlihat orang lain.


Laba-laba itu pergi ke arah yang sudah di tentukan oleh Dwight, sedangkan pria itu berjalan keluar untuk melanjutkan sesi rokoknya.


⬛⚪⬛


Aku melihat ke jam besar di aula untuk kesekian kalinya, dan ini sudah hampir satu jam aku menunggu hasilnya, yang kulakukan hanyalah berdoa agar aku bisa lulus.


Dan kemudian seorang yang sama, ia yang memanggil ku untuk ujian tulis, aku segera berlari dan mendekat ke arahnya begitu juga dengan beberapa peserta yang sempat satu ruangan dengan ku tadi.


"Baiklah, sebelumnya saya ingin memberi tahu, kalau hanya 2 orang yang lolos di ujian tulis ini."


Deg!


Itu sangat sedikit, jantung ku berdebar semakin kencang, dan keringat dingin kembali keluar dari pelipis ku, tanganku sedikit bergetar, aku menyatukan tanganku dan menggenggam erat satu sama lain.


'Aku mohon, aku mohon, aku mohon, aku mohon.'


"Pertama, Riftan Harlord." Sebut orang tersebut dan pria yang di panggil langsung melompat kegirangan.


"Aku berhasil!!" 


Aku masih menyatukan tangan ku, kali ini aku menggenggam nya lebih erat, jantungku semakin berdebar.


'aku mohon, biarkan aku lulus!'


"Terakhir, Steffy Atrista Soleil."


Seketika genggaman tanganku melemas, dan jantungku seakan berhenti berdetak, aku tidak percaya, nama ku tidak di sebut.


Aku hanya berdiri terdiam dan telinga ku tidak dapat mendengar apapun, yang bisa ku dengar hanyalah dengungan dan pikiran ku.


'aku....gagal?'


Air mataku mulai terbendung, dan pikiran ku berkabut, rasanya aku ingin menangis keras, lalu aku tersadar ketika seseorang memegang pundak ku.


Aku mengangkat wajahku, dan menatap nya dengan terkejut.


"Maaf, Apa kau eloise Somnivera?" Tanya orang itu, aku mengangguk pelan, orang itu kembali melihat kertas di pegang nya, kemudian ada seseorang lainnya yang memakai pakaian yang sama dengannya, berdiri di belakangnya.


"Aku memanggil mu tadi, tapi kau tidak menunjukkan diri mu, karena aku melihat kartu namamu jadi aku tahu, omong-omong, Maaf tadi ada kesalahan data, ternyata 3 orang yang lulus, kau eloise Somnivera, lulus dari ujian ini." Ucapnya, kemudian memberi ku sebuah kartu.


"Ini adalah nomor antrian, Setelah ini kau pergi ke gedung olahraga akademi, kalau tidak tahu, kau bisa tanyakan pada panitia di depan yang memegang peta." Aku mengangguk lagi kemudian orang tersebut pergi.


Kaki ku tidak dapat menompang tubuhku karena melemas, aku menjatuhkan diriku ke posisi duduk, menekukkan kaki ke depan dan memeluknya, dan menyembunyikan wajahku.


Aku mengatupkan gigi ku, dan bulir-bulir air mata berjatuhan dari kelopak mataku.


"Hiks..." Aku berusaha meredam suara ku.


Aku sangat senang, saking senangnya aku menangis, aku sempat ketakutan, rasanya dada ku sangat sesak.


Kemudian aku mengangkat wajahku dan mengelap wajah basahku dengan sapu tangan yang ku simpan di saku.


Kemudian aku menarik nafas dalam dan menghembuskan panjang, lalu aku menatap kartu antrian bernomor 404, dilihat dari angkanya peserta yang mengikuti ujian ini sangat banyak.


Aku menggenggam erat kartu tersebut dan berjalan keluar dari ruang aula.


'Tenangkan dirimu, kau belum gagal dan juga belum lolos, masih ada yang harus kau lewati.'


Aku tahu dimana gedung olahraga karena pernah melihat peta akademi violetfay, gedung itu terlihat dari sini karena jaraknya tidak begitu jauh.


Aku menatap gedung itu dari kejauhan.


"Aku harus lolos!" Seru ku pada diri sendiri dengan suara pelan.


⬛⚪⬛


Dwight masih berdiri di dekat taman yang terletak di antara gedung olahraga dengan gedung utama akademi, awalnya ia ingin merokok di depan gedung utama, tetapi dia malah di usir oleh panitia di sana.


Kali ini suasana hatinya cukup buruk, pria itu merokok lebih banyak sembari menunggu respon dari anigi buatannya.


Eloise melewati taman itu, kemudian secara kebetulan mata mereka saling bertemu, netra ruby eloise bertemu dengan netra darah dengan simbol segitiga milik Dwight, tetapi eloise langsung melengos dan melanjutkan langkahnya.


Dwight membeku di tempat, pria itu, merasakan sesuatu, kekuatan sihir yang besar, dan ada sesuatu yang melindungi gadis itu, Dwight tidak bisa menebak nya.


"Apa itu hespirvit? Fanigi? Tidak, yang lebih penting, aura sihir itu, sangat panas dan berapi-api juga indah." Dwight menyeringai lebar dengan mengerikan.


Gadis itu, sihirnya seperti ruby yang belum di asah halus dan masih sangat kasar, tetapi kesan sihirnya sangat indah layaknya bunga popi merah.


"Ahahaha, sesuai ramalan Matthew, penyihir legenda memiliki dua keturunan, yang akan berhasil membunuh jiwa penyihir setelah kehancuran, Si Biru safir dan si merah popi." Pria itu tertawa pelan dengan nada yang menyeramkan.


"Ini akan menyenangkan."


⬛⚪⬛


Aku sampai di depan gedung olahraga, kemudian aku berjalan mendekat ke arah salah satu panitia yang berdiri di dekat pintu.


"Maaf permisi, saya peserta ujian, eloise Somnivera." Ujar ku.


"Bisa tunjukkan kartu antriannya?" Aku mengeluarkan kartu itu dari saku ku dan menunjukkan padanya, panitia itu mengambil kertas di meja sampingnya dan matanya seperti mencari sesuatu, tidak lama ia mengangguk dan mengembalikan kartu antrian ku.


"Masuklah dan ikuti tanda yang sudah di tempelkan di beberapa tempat." Aku mengangguk dan memasuki gedung tersebut, aku mengikuti tandanya sesuai yang panitia itu katakan.


Kemudian aku sampai, ternyata gedung olahraga ini sangat besar dan lebih mirip seperti arena gladiator di negara romawi, aku pernah melihatnya di buku.


Tetapi bedanya lapangan nya lebih besar, dan gedung ini tertutup, aku melihat ke seluruh kursi di sekitar ku, hanya sedikit terisi, mungkin tidak sampai 100 orang, mereka duduk saling berjarak jauh.


Aku menelan ludah ku, kemudian aku memilih kursi paling depan di bagian yang sangat kosong.


Melihat situasi ini, sudah pasti kalau ujian ini sangat sulit, karena ujian tulis yang ku kerjakan tadi juga sangat sulit, aku beruntung bisa bekerja di perpustakaan itu mempermudah ku dalam belajar, kemudian mata ku menatap satu persatu secara acak peserta yang lulus, tampak sangat kuat, mungkin sihir mereka lebih besar dari ku.


Mata ku kemudian menangkap salah satu sosok yang ku kenal dan tanpa sengaja bertemu dengannya tadi, Leia.


"Ternyata dia lulus, itu artinya di hebat sekali." Aku mengatupkan bibirku, dan mendengus pelan, kemudian aku melihat ke tengah lapangan, tidak ada siapapun selain seorang wanita berdiri di tengah sembari menatap pintu dimana aku masuk ke sini.


Aku menatap kearah dimana ia menatap, dan muncul seorang pria yang terlihat sebaya denganku, dia pasti peserta yang lulus.


Pria itu duduk di atas cukup jauh dariku, aku meliriknya sebentar kemudian mata kami bertemu tetapi dengan cepat aku memutus kontak mata dan menatap wanita yang berdiri di tengah lapangan.


"Baguslah peserta terakhir sudah berkumpul." Seru wanita itu dengan kencang.


"Hah??" Aku terkejut, kemudian kembali melihat ke seluruh tempat duduk, peserta nya sangat sedikit, kemudian sebulir keringat jatuh dari pelipis ku.


"Baiklah, kalau begitu sekarang, waktunya ujian praktek anak-anak."


-


-


-


To be continued