Not An Angel

Not An Angel
36



Happy reading!


-


-


-


Eloise masih belum siuman, reithel duduk di samping ranjang eloise, di ruangan itu juga ada valkyrie yang tengah berdiri di depan jendela panjang kamar itu.


Manik langit reithel setia menatap eloise, alisnya mengerut khawatir, pria itu mendengus pelan.


Setelah eloise pingsan, reithel dan izolda segera membawa eloise ke kediaman wanita bermanik emas itu, izolda menawarkan reithel untuk kembali ke posisi dominic dimana sedang bersama Phoenix.


Reithel menolak memilih menjaga eloise, setelah izolda pergi, reithel memegang tangan eloise untuk memeriksa mana nya, dan mana nya menipis, reithel terkejut, karena ketika manusia yang sudah membuka power gate nya, manusia itu mana nya tidak boleh menipis, itu akan mempengaruhi tubuhnya.


Jika mana nya dalam jumlah sangat sedikit, sama saja status manusia itu tengah sekarat.


Eloise bukan lah penyihir risilv dan gadis itu masih proses belajar menjadi penyihir, tubuhnya masih belum kuat dan masih lemah dalam menyerap dan memproduksi mana.


Reithel memutuskan untuk menyuplai mana eloise hingga tubuh eloise dalam keadaan setidak nya normal.


Kemudian ia juga menyembuhkan aliran mana eloise yang sempat berantakan dan panas karena efek ledakan sihir yang terjadi.


Di situ reithel baru tahu kalau eloise ternyata spesialis sihir api, itu berbanding terbalik dengannya yang memiliki sihir es.


Reithel sudah menyuplai mana nya pada eloise, tapi tubuh eloise masih suhu nya masih tinggi dan di wajah nya tampak bulir-bulir keringat dingin, reithel mengambil sapu tangannya dari kantong nya kemudian menyeka keringat dingin eloise.


Gadis itu demam.


Sepertinya efek nya cukup parah ke tubuh eloise, reithel sudah memperbaiki aliran mana eloise yang berantakan, setelah itu pria itu meletakkan tangan di atas kepala eloise dan memberi hawa dingin untuk menurunkan suhu tubuh eloise.


Reithel melihat kearah jam dinding di ruangan itu, dia tidak memiliki waktu banyak, pria itu melihat jubahnya masih terpakai di tubuh eloise, pria itu bangkit, kemudian sapu tangan nya ia gunakan sihir es sehingga hawa dingin terus keluar dari sapu tangan itu, reithel menaruh sapu tangan itu di dahi eloise.


Kemudian reithel berjalan keluar dari ruangan.


"Kau mau pergi?" Valkyrie bertanya, reithel mengangguk.


"Aku harus kembali ke Mansion untuk mengurus pekerjaan duke, titip salam untuk yang lain, aku juga titip eloise, katakan pada dominic dan izolda setelah kembali, kalau eloise sedang demam." Jelas reithel.


"Baiklah, hati-hati di jalan, terima kasih." Ucap valkyrie, reithel tidak membalas apapun dan langsung pergi keluar, setelah sudah berada di luar rumah izolda reithel berteleportasi ke mansion nya.


Di ruangan tampak Sebastian yang tengah merapihkan dokumen di meja samping dekat meja kerja nya.


"Anda sudah kembali yang mulia." Sambut Sebastian, pria paruh baya itu menyadari reithel tidak memakai jubah nya tadi.


"Maaf yang mulia, apakah jubah anda rusak?" Tanya sebastian, reithel terdiam sebentar, kemudian berjalan ke arah meja kerja nya dan duduk di sana.


"Tidak, omong-omong sudah sampai mana?" Reithel membahas pekerjaan duke, sebastian sudah menyelesaikan hampir sebagian, pria itu hanya bisa mengerjakan sedikit dari pekerjaan reithel karena tidak semua dokumen kerja duke boleh di urus asisten, atau orang lain selain duke.


"Ini adalah dokumen yang harus anda periksa yang mulia, saya hanya bisa mengerjakan sedikitnya saja." Reithel mengibaskan tangannya.


"Tak apa, terima kasih, bawakan aku kopi seperti biasa." 


"Baik yang mulia." Sebastian membungkuk hormat pada reithel kemudian keluar dari ruangan.


Pria itu mengambil tumpukkan dokumen paling atas dan membuka nya, kemudian matanya melirik tumpukkan dokumen yang menggunung di sampingnya dan mendengus lelah.


Reithel tampaknya tidak bisa tidur hari ini.


⬛⚪⬛


Phoenix tersadar, pandangannya memburam kembali jelas, burung itu bergerak.


Kring


Matanya terbelalak, kemudian ia melihat ke arah kakinya yang di rantai dengan rantai sihir, dan Phoenix melihat ke sekeliling nya, dia di kurung dalam pohon.


Ini adalah penjara bagi anigi yang tidak dapat di kendalikan atau dalam keadaan tertekan karena masalah tertentu.


"Apa-apaan ini!" Phoenix berseru, burung itu merengut kesal, kemudian teringat kembali, kejadian dimana dia ingin mengambil mana eloise, burung itu kesal karena dia tidak berhasil.


"Kau sudah sadar." Phoenix berjengit terkejut, kemudian ia menoleh ke sumber suara, tampak dominic yang sedang berjongkok di depan pintu kurungan, wajah pria itu menatap Phoenix dengan dingin, ada hawa samar ingin membunuh keluar dari pria itu, Phoenix tertawa pelan.


"Kalau kau marah padaku, kenapa kau tidak bunuh saja aku sekarang?" Tanya Phoenix, dominic mendengus.


"Aku akan melakukannya jika bisa, tapi murid ku melarangku untuk melukai mu." Phoenix menurunkan alisnya, dan menatap dingin dominic.


"Apa-apaan itu..." Phoenix kesal, itu bukanlah reaksi yang seharusnya menurut Phoenix.


Mesti nya eloise membiarkan dominic membunuh nya saat itu, karena apa yang dia lakukan sudah sangat membahayakan eloise, tetapi gadis itu malah melarang dominic melukai Phoenix, burung itu tidak habis pikir.


Langkah izolda terdengar, kemudian wanita itu duduk di samping dominic, dia menatap Phoenix dengan tatapan kecewa.


Burung itu hanya menatap dingin izolda, wanita itu mendengus panjang 


"Kenapa kau mengingkari janji mu?" Tanya izolda, Phoenix terdiam sebentar, dia berpikir.


Pada waktu itu, sebenarnya Phoenix tidak berpikir untuk mengambil mana eloise, tetapi ketika eloise datang untuk pertama kali nya, Phoenix merasakan hawa sihir besar pada eloise, sihir itu masih belum sepenuhnya terbuka, belum sepenuhnya terlatih, yang membuat Phoenix menjadi tidak terkendali adalah sihir itu sama dengan sihir yang ia butuhkan.


Itu membuat keinginan nya yang awalnya sudah Phoenix kubur dalam-dalam, menjadi terbuka kembali karena melihat kesempatan.


Yang Phoenix pikirkan adalah, ia ingin kembali bersama tuan nya, ia ingin kembali menjadi fanigi bagi tuan nya, dan eloise memiliki kekuatan yang Phoenix butuhkan untuk itu.


Dan dirinya pun menjadi tidak terkendali.


Phoenix mendengus panjang, dia tidak merespon apapun atas pertanyaan izolda, karena dia tidak ingin memberi tahu alasannya.


Izolda tidak mengetahui penyebab Phoenix membunuh dulu, wanita itu hanya berhasil mengendalikan phoenix dan membuat kontrak padanya, agar burung itu tidak membunuh lagi, selain itu Phoenix diminta berjanji untuk tidak menyerap mana lagi dan hidup tenang di hutan witchweed.


Melihat Phoenix yang hanya diam, izolda mendengus pelan, wanita itu bingung apa yang harus ia lakukan pada Phoenix, jika dia membunuh Phoenix, dia merasa tidak tega, di tambah Phoenix adalah fanigi, dan Phoenix tidak boleh di lepas, ada kemungkinan dia akan membunuh lagi, izolda menjadi dilema, tetapi dia harus segera membuat keputusan sebagai penjaga hutan witchweed.


Dominic menepuk bahu izolda, wanita itu menoleh pada dominic, pria itu tersenyum simpul.


"Ayo kita tunggu sampai eloise sadar, baru kita putuskan lagi, eloise terlibat dengan kejadian ini, dia punya hak untuk berpendapat juga." Ujar dominic, izolda merasa sedikit lega.


"Baiklah Phoenix, sampai eloise sadar, kau akan tetap di kurung di sini." Phoenix tidak merespon apapun burung itu hanya berjalan ke lebih dalam penjara dan menyembunyikan dirinya ke area yang lebih gelap.


Izolda mendengus, lalu berdiri, di ikuti dominic, mereka berdua berteleportasi ke rumah izolda.


"Reithel maaf kami–" kalimat dominic terhenti kala melihat di ruangan dimana eloise di tempatkan hanya ada valkyrie seorang yang tengah duduk di dekat jendela sembari menikmati hembusan angin menerpa rambut jingga nya.


"Pria itu pergi, dia bilang dia harus kembali ke mansion untuk mengerjakan tugasnya sebagai Duke, dan juga dia bilang titip salam pada kalian dan titip eloise, katanya eloise sedang demam." Jelas valkyrie sesuai reithel minta.


Dominic mengangguk mengerti, kemudian pria itu berjalan ke arah eloise, ia melihat ada jubah yang Reithel tadi pakai dan juga sebuah sapu tangan di dahi eloise.


Dominic mengambil sapu tangan itu, kemudian melihat nya, sapu tangan ini terdapat sebuah lingkar sihir yang terus mengeluarkan hawa dingin, dominic yakin ini adalah milik reithel.


Dominic menyentuh dahi eloise dan lehernya, gadis itu masih demam, dominic menaruh kembali sapu tangan itu di dahi eloise.


"Apakah demam nya belum turun?" Tanya izolda, dominic mengangguk, izolda menaruh tongkatnya di sebuah lemari, kemudian berjalan ke arah eloise.


Wanita itu hendak menggunakan sihir penyembuhan nya pada eloise dari demam nya, tetapi hal itu di tahan dominic, izolda menatap bingung dominic.


"Biarkan saja, agar eloise bisa istirahat, jika dia di sembuhkan dengan sihir penyembuh itu akan membuat nya tidak berhati-hati pada dirinya sendiri untuk tidak terluka." Jelas dominic, izolda mengangguk dan menurunkan tangannya.


"Baiklah kalau begitu aku masak dulu, apa ada sesuatu yang ingin kau makan?" Tanya izolda sembari melepas sarung tangannya dan menggulung lengan baju nya.


Dominic tersenyum kemudian berjalan ke arah sebuah sofa biasa dimana izolda sering pakai untuk membaca buku, lalu pria itu duduk dengan nyaman.


"Aku ingin roti lapis isi telur."


-


-


-


To be continued