
Happy reading!
-
-
-
Aku membuka mataku, langit-langit kayu menjadi hal pertama yang ku lihat, tangan kanan ku menyentuh dahi ku, aku merasakan ada sebuah kain, tanpa sengaja aku menjatuhkannya ke lantai, aku memutar tubuhku, tangan ku usahakan untuk menggapai kain itu.
Aku berhasil kemudian aku menegakkan posisi ku dan duduk tegak di ranjang, aku melihat kain itu, dan ternyata sebuah sapu tangan, kain itu mengeluarkan hawa dingin, tetapi tidak begitu banyak.
Aku membuka lebar sapu tangan itu, kemudian mataku menangkap sebuah tanda yang di sulam pada sapu tangan itu, lambang keluarga castillon, mata ku membesar.
Tidak salah lagi, ini milik reithel.
Aku melipat sapu tangan itu hingga menjadi lipatan kecil kemudian menaruhnya di meja kecil samping tempat tidur, lalu mendengus pelan, aku bangkit dari tempat tidur dan hendak keluar dari kamar.
Srukk
Sesuatu jatuh dari pundak ku, aku menoleh kebelakang melihat apa itu, sebuah jubah besar berwarna biru muda, aku memungut jubah itu dan melebarkan nya, entah kenapa aku tidak asing dengan jubah ini, tetapi aku memilih melipat rapih kemudian ku taruh di atas ranjang.
Aku membuka pintu, dan tampak valkyrie dan tudishen yang sedang asik bermain catur, juga ada hespirvit lain yang tidak ku kenal, seorang wanita berambut perak sangat panjang dengan mahkota yang berbentuk dedaunan menghiasi kepalanya, ia menggunakan baju layaknya seorang dewi yang pernah kulihat di patung-patung kuil.
"Nona izolda, gadis itu sudah bangun." Ucap hespirvit.
"Benarkah?" Izolda muncul sembari membawa sebuah mangkuk kayu kosong, senyum sumringah membingkai di wajahnya.
"Eloise, bagaimana keadaan mu?" Tanya dengan nada riang, valkyrie dan tudishen menghentikan kegiatan nya dan menoleh ke arah ku.
"A-aku baik..." Ucapku.
"Baguslah eloise." Saut valkyrie.
"Tapi kau tetap harus beristirahat, jangan latihan dulu." Tudishen menambahkan, dan valkyrie mengiyakan, aku tertawa renyah dengan pelan.
"Nona izolda sudah memasakkan makanan, sebaiknya anda makan terlebih dahulu." Hespirvit bermanik kuning emas itu berbicara pada ku, aku tertegun sebentar karena nada bicaranya yang sangat sopan dan lembut, kemudian mengangguk.
Sebenarnya setelah melihat beberapa hespirvit aku mulai sadar, kalau sifat mereka itu benar-benar berbeda satu sama lain, mereka mirip manusia.
Aku di persilahkan duduk oleh hespirvit itu, aku menatap izolda yang tengah asik dengan masakannya, kemudian ia menoleh padaku sebentar dan tersenyum, aku membalas senyumnya.
"Omong-omong perkenalkan, nama saya gaia, hespirvit ketiga dari nona izolda." Gaia mengulurkan tangannya, aku menerima nya.
"Aku eloise, tidak perlu terlalu formal padaku, santai saja." Balasku senyum, gaia mengangguk, kemudian ia pergi berjalan meninggalkan ku.
Jika di perhatikan gaia sangat cantik, dia adalah tipikal wanita yang elegan. Dan lembut layaknya seorang ibu, dia pasti idaman para pria.
Aku menoleh melihat izolda menaruh semangkuk sup krim hangat di hadapanku, aroma krim dan jagung tercium menguar dari mangkuk itu.
"Makanlah." Aku mengangguk, kemudian menyantap sup itu, aku menyantapnya dengan lahap, mungkin karena pingsan aku belum makan selama beberapa saat.
Teringat hal itu aku menaruh sendok ku dan menatap izolda di hadapan ku, wanita itu mengangkat sebelah alisnya.
"Aku pingsan selama berapa hari?" Tanya ku.
"Sekitar 4 hari." Jawab izolda, aku terdiam kemudian berusaha kembali mengingat kejadian terakhir sebelum aku pingsan.
Phoenix ingin memakan mana ku, seketika aku merasa panik, aku takut kalau mana ku menghilang dan aku tidak bisa menjadi penyihir, aku bangku dari kursi ku cepat, itu membuat izolda dan hespirvit lain menoleh ke arah ku dengan terkejut.
"Ma-ma-mana ku, i-izolda, mana ku." Ujar ku terbata-bata.
"Tenanglah eloise, Phoenix gagal melakukannya karena kau berhasil menahan mana mu sehingga Phoenix tidak dapat mengambil nya, setelahnya terjadi ledakan sihir di antara kalian berdua, kau pingsan lalu sakit dan demam tinggi." Jelas izolda, tubuhku seketika melemas, aku duduk di kursi dan mendengus panjang.
"Syukurlah..." Aku terdiam menatap mangkuk sup yang sebentar lagi habis, kemudian aku memakan sup itu hingga habis dan mendengus lega.
"Kurasa itu bukanlah sesuatu yang di syukuri..." Ujar izolda sembari menaikkan sebelah alisnya, aku tertawa pelan.
"Master? Master dominic bagaimana?" Tanya ku lagi.
"Dominic ke istana ksatria untuk menemui pangeran raven, dia akan kembali malam nanti." Izolda mengambil mangkuk ku, dan membawa nya kedalam dapur, lalu kembali ke kursinya.
Lalu terbesit di benak ku, phoenix.
Aku mengerutkan alis ku dan mendengus pelan.
"Apakah Phoenix baik-baik saja?" Tanya ku, izolda terdiam sebentar dengan alis mengerut, lalu mendengus.
"Dia ada di penjara." Jawab izolda singkat, kedua alis ku terangkat.
"Aku tidak bisa mengendalikan nya, demi keamanan aku harus menaruhnya di sana." Ujar izolda dengan nada sedih, aku terdiam sebentar kemudian ingatan dimana Phoenix memohon pada seseorang terbayang di kepala ku, aku menundukkan pandangan ku, kemudian berpikir.
Aku melihat ke tanganku, kemudian aku mencoba mengeluarkan sedikit sihir, api kecil keluar dari tanganku, kemudian aku mengepal tangan ku hingga api itu mati.
"Aku ingin bertemu dengannya izolda." Pintaku, izolda terdiam sebentar lalu mendengus pelan, kemudian mengangguk.
⬛⚪⬛
Phoenix masih terkurung dalam penjara, burung itu duduk sembari menundukan kepalanya, ia termenung dengan pikiran tidak jelas.
Phoenix melirik ke belakanganya, ia bisa merasakan ada seseorang berjalan ke arahnya, burung itu hendak berjalan lebih dalam ke penjara.
"Phoenix..." Suara itu tidak asing, Phoenix memutar kepala nya dan tampak eloise dan izolda yang tengah duduk di hadapan penjara nya.
Phoenix tersenyum sinis melihat eloise, "kenapa kau datang kesini bocah?"
"Phoenix!" Izolda berseru, eloise menahan izolda, wanita itu menoleh pada eloise.
"Maaf izolda, bisa biarkan kami berdua dulu?" Izolda awalnya ingin menolak, tetapi akhirnya ia mengangguk setuju, kemudian meninggalkan eloise dan Phoenix berdua saja.
"Phoenix." Panggil eloise, burung itu tidak membalas apapun hanya menatap gadis itu dengan dingin, eloise mendengus pelan, dia tahu ini tidak akan mudah.
Eloise tahu, izolda sedang dalam dilema mempertahankan Phoenix di sini atau tidak, eloise bisa merasakan hal itu ketika eloise membahas Phoenix, wajah izolda berubah muram.
"Aku ingin tanya, apa yang kau inginkan?" Tanya eloise.
"Ha...kau ini bodoh apa pelupa, sudah ku bilang aku ingin mana mu, aku ingin menjadi kuat dan pergi dari hutan sialan ini." Balas Phoenix Dengan kasar.
"Bukan, aku tahu bukan itu." Tepis eloise, Phoenix merengut, kemudian melangkahkan kakinya lebih dekat ke eloise.
"Apa-apaan kau ini, apa maksud mu." Phoenix menatap tajam elosie, gadis berambut pirang itu memdengus panjang, kemudian menatap Phoenix dengan tenang.
"Maksud ku adalah, aku tahu kau sebenarnya tidak ingin mengambil mana ku, tetapi kau membutuhkan nya bukan." Phoenix berdecih.
"Tidak usah sok tahu bocah, pergilah dari sini, aku benci melihat mu." Ucap Phoenix, kemudian hendak berjalan kembali lebih dalam penjara.
"Kau ingin kembali kan." Langkah Phoenix terhenti, oleh kalimat eloise.
"Kau ingin kembali pada tuan mu kan, karena itu kau membutuhkan mana ku, aku melihatnya dalam ingatan mu setelah pada saat ledakan sihir itu terjadi." Tambah eloise, Phoenix menoleh dengan tajam eloise, dengan cepat ia berubah menjadi manusia dan terbang ke arah eloise, kemudian dengan tangan kanannya ia menarik kerah baju elosie.
"Kau bocah ******, beraninya kau melihat ingatan ku.
Jangan banyak bicara, kau tidak tahu apapun." Ancam Phoenix menekan setiap kata nya, Eloise meringis dan memegang tangan Phoenix.
"Tidak, aku memang tahu, karena kau harus menjadi kuat, itu sebabnya kau ingin mengambil mana ku agar kau bisa kembali pada tuan mu." Phoenix menggigit bibir bawahnya dengan kencang.
"Berisik kau bocah sialan." Phoenix semakin menarik kerahnya, eloise hampir tercekik, kemudian ia memegang tangan Phoenix lebih kuat.
"Karena itu Phoenix," Eloise berusaha menahan ringis karena kerahnya di tarik kuat oleh Phoenix.
"Buatlah kontrak dengan ku." Mata Phoenix terbelalak.
"Apa?"
"Ku bilang, buatlah kontrak dengan ku." Eloise memperjelas, Phoenix mengatupkan giginya dan hendak ingin berbicara kesal dengan eloise.
"Jika kau ingin kembali pada tuan mu, berkontrak lah dengan ku, dengan begitu kau aman bisa keluar mencari tuan mu, kau juga bisa mendapatkan kekuatan dari ku sedikit nya untuk bisa kembali pada tuan mu.
Tetapi ada syaratnya, kau harus melindungi ku selama kontrak kita berlangsung sebagaimana fanigi penyihir, dan juga kau harus mendampingi ku terutama dalam mempelajari sihir, lebih penting nya lagi, kau tidak boleh membunuh tanpa izin ku.
Setelah kau bertemu dengan tuan mu dan dia menerima mu kembali, maka kontrak kita berakhir.
Itu adalah ketentuan dan syarat yang ku ajukan padamu, bagaimana Phoenix." Jelas eloise panjang, Phoenix terdiam sesaat kemudian tersenyum remeh pada eloise.
"Sialan, apa yang kau bicarakan." Phoenix berbicara kesal, eloise menanggapi Phoenix dengan tenang kemudian mengulurkan tangan kirinya pada Phoenix.
"Buatlah kontrak dengan ku Phoenix, karena kita, saling membutuhkan."
-
-
-
To be continued