Not An Angel

Not An Angel
39



Happy reading!


-


-


-


Dominic duduk di pinggir danau, pria itu mengawasi pelatihan eloise yang di bimbing oleh phoenix, pria itu mendengus, kemudian teringat kejadian tempo hari.


Iya setelah suasana panas kemarin, dimana dominic tidak setuju dengan eloise yang berencana mengikat kontrak dengan Phoenix, sayangnya pria itu kalah keras kepala dengan eloise, akhirnya dia mengizinkan eloise mengikat kontrak dengan Phoenix.


Walau begitu ada syarat yang dominic ajukan, pertama, selain eloise yang mengikat kontrak sebagai fanigi dan penyihir, dominic mengikat kontrak sebagai pengawas menggantikan izolda, pria itu memberi batasan pada kekuatan Phoenix.


Fanigi itu tidak bisa sembarangan mengeluarkan kekuatan besarnya, semua itu di batasi oleh dominic, selain itu dia mengawasi hawa Phoenix, jika Phoenix memiliki niat membunuh ke eloise, secara otomatis dia melanggar kontraknya, dan bayarannya tubuh Phoenix akan di kutuk oleh sihir dominic.


Walaupun sebenarnya eloise sedikit keberatan karena itu terlalu menekan Phoenix menurutnya, tapi gadis itu tidak bisa bernegosiasi lagi, karena dominic hanya akan mengizinkan jika syarat itu mereka terima.


Setelah itu dominic meminta pada Phoenix untuk mengajarkan eloise, sebagai bentuk pendekatan hubungan, dan dominic sendiri akan mengawasi mereka, walau begitu ujian kelulusan pada pelatihan akan tetap di lakukan oleh dominic.


Dominic kembali menghela nafas panjang, sembari ia melihat eloise dan Phoenix yang tengah latihan, tangannya menompang dagunya.


"Apa kau masih tidak menerimanya?" Izolda muncul dengan membawa dua botol minuman, pria itu menoleh dengan wajah merengut, kemudian membalikkan pandangannya lagi.


"Tidak juga." Balasnya, izolda duduk di samping dominic, kemudian memberikan salah satu botol minuman yang di bawanya.


"Itu artinya iya." Izolda mendengus sembari tersenyum simpul, lalu meminum minumannya, dominic membuka tutup botol itu dan mencium aromanya.


"Anggur putih? Minum itu lebih enak di malam hari." Izolda tertawa pelan.


"Memangnya itu penting, minum saja, apa masalahnya, lagipula anggur putih itu sedang di waktu terbaiknya." Izolda kembali meminum anggurnya.


"Ini sudah berapa lama?" tanya dominic meminum anggurnya, manik nya melebar dan melihat botolnya, izolda tersenyum.


"35 tahun, enak bukan, sebelum di fermentasi aku meracik sedikit berdasarkan resep turunan kakek ku." Dominic menganggukkan kepalanya.


"Aku harus berterima kasih padanya." Ucap dominic, izolda hanya tersenyum sembari kembali meminum anggurnya.


"Bagaimana pangeran raven?" Tanya izolda, dominic mendengus singkat.


"Yah begitulah, seperti yang kau tahu, adatnya cukup buruk, dia tampak sangat tidak suka dengan pantangan yang kau berikan." Izolda tertawa pelan, wanita itu bisa membayangkan reaksi raven.


Izolda sudah mengenal raven sejak pria itu berusia 10 tahun, raven adalah anak dari selir yang sangat disayangi oleh kaisar, tetapi ketika kematian ibu raven karena sakit, kaisar sangat sedih dan mengabaikan raven.


Raven kecil tidak bisa melakukan apapun, anak itu tidak di urus oleh pelayan istana sama sekali karena permaisuri membenci nya, istri sah kaisar menganggap raven bisa mengancam posisi anaknya sebagai putra mahkota.


Raven kelaparan dan sakit selama beberapa hari dan tidak ada yang peduli, tapi beruntung mathias datang di waktu yang tepat, tidak sengaja ia menemukan kamar raven dan melihat raven sekarat karena tidak di urus.


Mathias sangat marah pada kakak nya kaisar gellius, walau begitu pria itu mengabaikan adiknya, melihat hal itu mathias memutuskan untuk menjadi orang tua raven, pria itu membawa raven ke mansionnya dan tinggal di sana.


Pada usia 15 tahun, raven mengikuti pelatihan ksatria, ia tidak membawa embel-embel nya sebagai pangeran dan mendaftar sebagai orang biasa, di pelatihan itu tanpa sengaja dia bertemu gionard yang tak lain adalah putra mahkota sekaligus kakak raven satu ayah.


Raven awalnya sempat canggung dengan gionard dan berpikir anak itu membencinya, tapi gionard bersikap baik pada raven dan menganggap nya seperti adik, ini membuat raven merasa senang, dan membuatnya bertekad untuk menjaga keamanan kekaisaran dan mengabdi pada kakaknya yang akan menjadi kaisar.


Jika di tanya apakah raven membenci ayahnya jawabannya adalah tidak, raven justru merasa bersalah pada ayahnya karena menganggap kematian ibunya merupakan salahnya.


Dominic dan izolda sangat tahu kehidupan raven, karena itu mereka sangat peduli.


Dominic dan izolda kembali meminum anggurnya dan mendengus panjang secara bersamaan.


"Oh lihat siapa yang minum-minum di siang hari, apa tidak ada waktu lain?" Phoenix datang dan berdiri di depan izolda dan dominic yang duduk.


"Dari bicara mu, Kau benar-benar fanigi yang sangat sopan ya." Dominic mengejek.


"Hentikan." Izolda langsung menengahi ketika Phoenix hendak membalas kata-kata dominic.


"Phoenix!" Eloise memanggil Phoenix di belakang fanigi itu, eloise berlari mendekat lalu berhenti.


"Aku masih bisa latihan! Hah...hah... Ayo lanjutkan! Hah....hah..." Eloise mengucap dengan nafas pendek, Phoenix menatap gadis itu dengan alis menurun.


"Yang ku bilang istirahat bukan tubuhmu melainkan mana mu, jika kau kuras habis mana mu yang ada kau pingsan, dan dua orang ini akan menyalahkan ku, itu merepotkan." Ujar Phoenix, eloise mempautkan bibirnya.


"Apa kau lapar? Akan ku masakkan makanan." Tawar izolda, eloise menggeleng.


"Aku baik-baik saja." Balas eloise, kemudian dominic teringat dengan surat yang dia terima dari shannon, pria itu mengambil surat itu dari jubahnya dan memberikannya pada eloise.


"Dari kakak mu." Ucap dominic, mata eloise terbelalak, kemudian menerima surat itu, gadis itu melihat bunga poppy merah kesukaannya dan tersenyum, lalu ia membuka surat itu dan membaca nya.


{Untuk adikku eloise.


Hai eloise, apa kabar? Semoga kau baik-baik saja, maaf ya aku tidak bisa menemui mu padahal aku sudah berjanji.


Belakangan ini pekerjaan ku semakin banyak dan aku tidak ada waktu libur, mungkin selama 4 bulan kedepan aku tidak bisa menemui mu, tetapi aku akan mengusahakan untuk mengirim surat padamu.


Bagaimana belajar sihir mu? Aku yakin kau semakin hebat, karena kau punya kemampuan belajar yang sangat bagus, jangan terlalu memaksakan dirimu, luangkan waktumu untuk istirahat.


Oh iya, kau tahu seminggu sebelum upacara kedewasaan akan ada festival bunga di ibu kota, mungkin kau sudah pernah ke sana, tetapi aku ingin mengajak mu, aku ingin membelikan mu gaun untuk upacara kedewasaan, di saat festival gaun-gaun di toko ibu kota di buat sangat cantik, aku pernah melihatnya ketika tugas menjaga, jadi luangkan waktu mu ya.


Aku juga ingin mengundang mu pada saat pelantikan resmi ku sebagai ksatria setelah upacara kedewasaan sebagai keluarga, aku harap kamu bisa datang, aku sangat menantikan rencana ini, aku harap ini lancar.


Sampai sini surat ku, terima kasih ya, sempatkan untuk membalas di tengah kesibukan mu belajar sihir.


Kakak mu, shannon}


Eloise tersenyum senang, hubungan kakaknya semakin baik, ia ingin segera membalas surat kakaknya.


"Aku punya kertas, amplop dan pena, kau bisa pakai itu." Ucap izolda tiba-tiba seakan tahu apa yang di pikirkan eloise.


Gadis itu tersenyum senang pada izolda, "terima kasih izolda, haha aku terkadang berpikir kalau kau sedikit mirip dengan master."


"Tidak." Izolda dan dominic mengucap bersamaan.


"Apa itu." Phoenix mengangkat sebelah alisnya kala melihat reaksi dominic dan izolda, sedangkan eloise tertawa pelan sembari menutup mulut.


"Sudah, eloise tulis saja balasannya sekarang, kau punya waktu kan." Ujar dominic.


"Ah tapi, aku berencana menulisnya nanti malam." Dominic menggeleng.


"Prioritaskan malam hari untuk tidur, jangan begadang." Ujar dominic, izolda tertawa pelan.


"Oh lihat siapa yang bicara, padahal dirinya sendiri juga suka terjaga di malam hari." Singgung izolda.


Benar dominic sebenarnya sering begadang bahkan di rumah izolda juga begitu, pria itu tidak tidur, malah duduk di luar sembari menghisap rokoknya, dan izolda tahu itu.


Dominic hanya mendengus dan mengabaikan izolda, "yah intinya begitu, lakukan saja, jangan ikuti aku." Ucap dominic seakan mengakui itu, Phoenix tersenyum mengejek sedangkan eloise tersenyum kaku.


"Baiklah master aku kembali dulu sebentar, terima kasih izolda." Ucap eloise, izolda mengangguk.


"Letaknya ada di laci kedua, lemari buku di ruang tamu." Izolda memberi tahu letak kertas, amplop dan pena nya, dan eloise mengangguk, kemudian gadis itu pergi ke rumah izolda bersama Phoenix.


Di tengah perjalanan Phoenix bicara, "jadi kau punya kakak." Eloise menoleh dan mengangguk dengan senyum.


"Iya! Lebih tepat nya sih dia adalah saudara kembar ku, hanya saja ibu tiri ku dulu bilang kalau yang lahir lebih dulu adalah shannon jadi dialah kakak nya." Phoenix mengangkat sebelah alisnya.


"Ibu tiri? Bagaimana Ibu kandung mu?" Tanya Phoenix, eloise terdiam sebentar.


"Kami tidak tahu, sejak bayi kami di panti asuhan lalu di adopsi pada umur 7 tahun, ibu tiri ku hanya mengetahui sedikit informasi itu dari panti asuhan kami dulu." Mendengar jawaban eloise mendadak membuat Phoenix merasa bersalah karena ternyata latar belakang eloise tidak begitu bagus.


"Maaf." Ucap Phoenix singkat, eloise menoleh dengan kedua alis terangkat kemudian tersenyum kecil.


"Tidak apa-apa, lagi pula kita kan sudah terikat kontrak, ada baiknya saling mengetahui masing-masing." Ujar eloise, mendengar itu Phoenix terdiam dan tidak merespon apapun.


-


-


-


To be continued