
Happy reading!
-
-
-
Aku berjalan menuju lapangan, aku menyusuri koridor yang mengarah ke arah lapangan, sebelum sampai, aku bertemu dengan dua panitia.
"Biar kami simpan dahulu barang-barang bawaan nya ya, dan juga tidak boleh ada vocorgi yang di bawa tempat ujian." Ujar salah satu panitia, aku memegang kalung ruby yang ku pakai, kemudian aku melepasnya, dan memberikannya pada panitia tersebut, lalu juga barang-barang yang kubawa.
Setelah itu, mereka memintaku melewati vocorgi yang mirip seperti gerbang, tak ada tanda apapun dari vocorgi itu, kedua panitia tersebut saling memandang satu sama lain dan mengangguk, lalu mereka mempersilahkan aku memasuki lapangan.
Aku sampai, di depan sana aku melihat ketiga juri, aku menenggak ludah ku dengan susah payah, dan berusaha menenangkan diriku, aku menarik nafas panjang dan menghembuskan nya dalam.
Aku sampai dan berdiri di tengah, master Davendral dan Wheatlight tampak mencatat sesuatu di kertas mereka tapi reithel tidak melakukan apapun selain menatap ku, sebenarnya aku agak bingung tapi biarlah karena aku juga tidak tahu tugasnya sebagai apa di juri.
"Somnivera?" Master Wheatlight menyapa ku, aku mengangguk.
"Iya, saya eloise Somnivera master, anda bisa memanggil saya eloise." Aku memperkenalkan diriku.
"Ah, kau tidak perlu menggunakan bahasa yang formal, santai saja tapi sopan, tidak masalah." Ujar master Wheatlight, aku mengangguk.
"Baiklah...eloise?" Master Davendral memanggil ku, aku mengangguk, pria itu menatap ku kemudian menatap kertasnya.
"Aku ingin bertanya satu hal, ada rumor yang bilang kalau kau murid master Hartmann, apa itu benar?" Aku mengangkat kedua alisku, ya aku cukup terkejut, karena kupikir seharusnya tidak ada yang begitu peduli soal ini, tetapi mengingat master adalah penyihir yang kuat bahkan Phoenix mengakui itu maka aku memaklumi.
"Benar master." Jawab ku, master Davendral menurunkan alisnya sedangkan master Wheatlight mengangguk-angguk kan kepalanya sembari ber-oh ria, kalau reithel tidak merespon apapun, yah itu karena dia sudah tahu sih.
"Begitu ya, itu artinya, kami mengharapkan lebih dari mu." Master Wheatlight tersenyum penuh arti, entah kenapa firasat ku buruk dengan hal ini.
'Apa mereka akan mempersulit ujian ku karena aku adalah murid master dominic?'
Master Davendral menjentikkan jarinya, kemudian muncul panah-panah es yang mengarah padaku, berbeda dengan milik leia ketika ujian, panah yang mengarah padaku besar dan panjang, juga jumlahnya sangat banyak.
Aku mengatupkan bibirku, dan mengambil kuda-kuda untuk bersiap.
'Dugaan ku ternyata benar.'
⬛⚪⬛
Whussh
Seluruh panah itu dengan cepat meluncur ke arah eloise, gadis itu segera menjulurkan tangannya ke bawah dan lingkar sihir muncul di tempatnya berdiri, gadis itu membuat pelindung api cukup besar, dengan suhu yang sangat panas.
Eloise tau, gadis ini akan dipersulit, ia akan di uji dengan berbagai aspek, di sini eloise bisa menebak apa yang mereka nilai.
Pengendalian.
Eloise merasa lega dengan pelatihan intens nya di hutan witchweed, ini sangat berguna, selain latihan sihir, sebenarnya eloise di latih fisik oleh Phoenix, fanigi itu bilang kalau kekuatan penyihir juga bergantung pada fisik mereka.
Sehingga selama 3 bulan itu eloise terus di latih fisik bahkan juga bela diri bebas, walau sempat kesulitan di awal karena eloise notabene nya adalah gadis rumahan yang jarang keluar, sehingga ia harus memaksa tubuhnya untuk berjuang lebih keras.
Tetapi semua itu berhasil.
Setelah panah itu meleleh dengan cepat karena sihir eloise, gadis itu menghilangkan apinya, dan para juri tampak mulai bersemangat, terutama thihana, ia bisa melihat potensi besar yang eloise miliki.
Gadis itu mengetuk jarinya ke meja, kemudian panah kali ini tidak seperti panah sebelumnya, eloise sadar karena gerak panah itu berbeda.
Ketika eloise menghindar, panah itu bergerak mengejarnya, tetapi berbekal pelatihan intens yang ia terima, semua itu dapat di atasi.
Eloise membungkus kedua tangannya hingga seperti sarung tinju besar, kemudian sembari berlari dan melompat kesana kemari, eloise menghancurkan panah-panah yang mengejarnya.
Reithel sangat terkejut, karena dia sangat mengetahui kondisi tubuh eloise, gadis itu sebenarnya sangat lemah dalam bergerak fisik yang berat, tetapi melihat eloise menghancurkan panah tersebut dengan mudah bahkan menggunakan teknik-teknik bela diri, membuat nya tidak habis pikir.
'Pria itu, apa yang ia ajarkan pada eloise.'
Reithel mengatupkan bibirnya, ia sedikit tidak terima dengan kuatnya eloise sekarang dimatanya, karena itu mengubah eloise yang ia tahu.
Eloise melompat dan menghancurkan 4 panah terakhir sekaligus, dan mendarat ke tanah dengan sempurna, kemudian ia menghilangkan api yang membungkus tangannya.
Simon tersenyum, ketika thihana hendak memberi tanda lagi, ia menghentikan tangan wanita itu, thihana menoleh dengan tanya, kemudian simon menoleh pada reithel, merasa di tatap, reithel membalas tatapan simon.
"Terakhir kau."
Reithel menurunkan alisnya, pria itu bingung kenapa simon malah menyerahkan giliran pria itu ke dirinya, tetapi sebenarnya reithel juga tidak begitu suka eloise menjadi penyihir, jadi dia memutuskan untuk mengakhiri langkah eloise disini.
"Jangan terlalu keras, menghalangi jalan orang itu tidak baik." Tegur pelan thihana, wanita itu menyadari, reithel melirik dan mendengus.
Kemudian ia mengangkat tangan nya dan memetik jari nya, lalu di tanah di belakang eloise muncul lingkar sihir, gadis itu terkejut dan langsung menoleh.
"ARGHH!!"
monster itu berteriak, membuat eloise sedikit terkejut, monster itu berlari, karena ukuran tubuhnya yang 5 kali besar eloise, monster itu berjalan sedikit lebih lambat, eloise membungkus tangannya lagi dengan api, kali ini ia menaikkan suhu nya, kemudian eloise melompat ke belakang monster itu, dan memukul kepala monster itu hingga hancur.
Crash!
Monster itu terjatuh, eloise kemudian berjalan mendekat ke arah monster itu, dan sesuai dugaannya, monster itu masih bergerak, tetapi kali ini ia bergerak tanpa kepala, dan monster itu dapat merasakan keberadaan eloise, ia kembali menyerang eloise.
Gadis itu berhasil menghindar, lalu hendak memukul pusat tubuh pada monster itu, ketika gadis itu melompat, tiba-tiba ia tersadar.
Beberapa panah es meluncur dari arah belakang nya.
Whushh!
Dengan cepat eloise memunculkan sayap api cukup besar untuk melindungi nya dari panah itu, dengan suhu tinggi apinya panah itu meleleh sebelum sampai tubuh eloise.
Crash!
Dan bersamaan eloise memukul tubuh monster tersebut dengan kencang, hingga menimbulkan retakan.
Eloise mendarat dan melompat mengambil jarak dari monster tersebut.
Crack...crack-crack
Retakan yang di hasilkan eloise membesar hingga menjalar ke seluruh tubuh monster tersebut.
Prang!
Crash!
Monster itu hancur, eloise bernafas cepat karena lelah, gadis itu harus mengeluarkan mana dan bergerak cukup berat, hal ini membuatnya sangat lelah.
Eloise berjalan kembali ke posisi nya semula, kemudian simon mendengus dengan senyum, sedangkan thihana bertepuk tangan, melihat hal itu seluruh peserta yang ada di arena ikut bertepuk tangan.
Reithel mendengus dalam, ini melebihi ekspektasi nya.
Thihana menyikut pelan reithel kemudian menatap pria itu dengan senyum, reithel mengeluarkan gulungan kertas kemudian menandatangani kertas itu, thihana dan simon juga ikut menandatangani kertas tersebut.
Lalu thihana meminta eloise berjalan lebih dekat, setelah gadis itu sampai, thihana memberikan gulungan kertas itu.
"Selamat ya kau peserta ke 34 yang lolos dari ujian ini." Mendengar kalimat itu dari thihana eloise tersenyum sumringah dan menerima gulungan itu dengan sangat senang.
"Terima kasih banyak master!" Seru eloise, thihana tersenyum.
"Baiklah, seluruh informasi lanjutan nya ada di gulungan itu, jangan sampai hilang ya, sampai jumpa lagi." Eloise mengangguk, gadis itu kemudian berjalan balik dengan cepat.
Ketika sampai koridor ia hendak mengambil barang bawaannya dari para panitia, tetapi kedua panitia tersebut terkejut kala melihat wajah eloise.
"Apa kau baik-baik saja?" Tanya panitia itu dengan nada khawatir, dengan sesunggukan dan derai air mata, eloise mengangguk.
"Iya, maaf aku hanya terlalu senang hingga tidak bisa mengendalikan emosi ku."
⬛⚪⬛
Di sisi lain, dwight menunggu eloise muncul dari gedung itu, ia tidak bisa masuk atau pun menunggu di depan gedung karena area itu di jaga ketat oleh panitia disana, sedangkan Dwight diminta membawa popi merah diam-diam.
Akhirnya mata dwight menangkap sosok eloise yang keluar dari gedung tersebut, dengan senyum iblis, ia berjalan menuju gadis itu.
Tetapi seketika langkah nya berhenti kala melihat dominic yang berteleportasi tiba-tiba di dekat eloise, pria itu mengatupkan giginya kesal.
"Penyihir keabadian muncul, tetapi popi merah juga ada." Dwight melapor pada seberang sana.
"Astaga sial, baiklah mundur saja."
Tetapi Dwight sedikit tidak setuju.
"Aku bisa melawannya." Balas pria itu.
"Apa kau gila? Kau tidak lihat kau sedang dimana? Jika kau membuat pertarungan di sana, kau bukan hanya bertarung dengan penyihir itu melainkan penyihir lain juga, aku tidak mau repot jika harus kehilangan pilar, kembalilah sekarang!"
Dwight berdecih, ia mematikan rokoknya dengan menjatuhkannya ke tanah dan menginjaknya, lalu pria itu berjalan balik dan menghilang.
-
-
-
To be continued