
Happy reading!
-
-
-
Realisasi sihir itu masih mengurung eloise, dominic menoleh ke arah izolda dengan alis mengerut.
"Kenapa dia mengurung eloise?" Tanya dominic dengan kesal.
"Ada kemungkinan dia ingin memakan mana eloise." Ujar izolda membuat mata dominic dan reithel terbelalak.
Dominic mengatupkan giginya, ia berjalan ke arah realisasi sihir itu hendak mengeluarkan sebuah sihir, izolda menahan tangan dominic.
"Izolda..." Dominic menekan suaranya dengan nada benar-benar marah, izolda menenggak ludahnya susah payah, dominic jika marah dia adalah tipikal orang yang tidak pandang bulu.
"Tenangkan dirimu, jangan menghancurkan realisasi sihirnya, itu malah akan melukai eloise, kita harus berpikir rasional, kau tidak perlu khawatir eloise mati, Phoenix tidak bisa membunuh eloise karena kontrak sihir dengan ku dimana dia tidak boleh membunuh atau dia akan mati." Jelas izolda, dominic mendengus dalam berusaha meredam rasa kesalnya.
"Kau bilang gawat, apa maksud mu?" Tanya reithel dengan nada menekan, pria itu sebenarnya sangat kesal tetapi berusaha menahan emosinya.
"Phoenix, memang tidak bisa membunuh, tetapi, dia masih bisa menerima mana, yang aku takutkan adalah, jika dia memakan mana eloise, ada kemungkinan eloise akan kehilangan power gate nya." Dominic dan reithel mengangkat kedua alisnya, kemudian reithel mengepal tangannya.
"Itu artinya, eloise, tidak akan bisa menjadi penyihir lagi..."
⬛⚪⬛
Aku tidak tahu dimana aku sekarang, tetapi yang pasti ini adalah tempat aneh.
Aku merasakan seluruh sekitar ku ini berisi banyak sekali sihir, dan di hadapan ku sekarang, ada seorang wanita cantik dengan surai merah panjang yang di ujung nya berapi, warna kulitnya berwarna kuning cerah, dan manik matanya berwarna jingga, dia juga memakai baju yang berapi, semua yang ada pada dirinya sangat mencerminkan api.
"Eloise~" wanita itu memanggil ku, aku menatapnya dengan sorot waspada, karena hawa dalam dirinya terasa buruk.
"Kau, apa kau burung berapi yang pernah kulihat sebelumnya di dekat gerbang hutan witchweed?" Tanya ku, wanita itu tertawa kecil.
"Nama ku Phoenix bukan burung berapi, itu benar, seperti nya kita jodoh ya?" Aku mengangkat sebelah alis ku tidak mengerti.
"Aku bisa melihat..." Wanita itu menangkup wajah ku, dan mata kami bertemu.
"Kau adalah orang yang berasal dari masa lalu, sesuatu membawa mu kesini dan kau berniat untuk mengubah jalan hidup mu." Ucap Phoenix, aku terkejut, aku hendak melepaskan diriku padanya, tapi ia menangkup wajah ku lebih erat, aku meringis karena kuku panjang di jarinya menekan kulitku.
Dia tersenyum tidak jelas padaku, aku tidak bisa menebak apa yang dia pikirkan.
"Sayang sekali kau harus mati dengan cara yang tidak baik, pada saat itu." Wanita itu masih tersenyum, aku menggertakkan gigi ku.
"Apa yang kau inginkan?" Tanya ku dengan suara berat, wanita itu menyisir poniku ke atas, kemudian tangan kanannya mengelus pipiku.
"Mana mu." Singkatnya, aku mengerutkan alis, kemudian ia mendekatkan wajahku dengan nya, mata ruby ku bertemu dengan mata jingganya dengan jarak yang tipis.
"Biarkan aku memakan mana mu, tenang saja, kau tidak akan mati hanya saja, kau tidak akan bisa menjadi penyihir lagi." Kalimatnya membuat mataku terbelalak, aku berusaha melepaskan diriku tapi tubuhku tidak bisa bergerak sama sekali.
Tiba-tiba kesadaran ku mulai berkurang, pandangan ku memburam.
"Tidur lah sebentar, mimpi indah." Itu kalimat terakhirnya yang kudengar hingga semua pandangan ku menggelap.
⬛⚪⬛
Apa ini, konyol sekali.
"Hanya saja, kau tidak akan bisa menjadi penyihir lagi."
Yang benar saja, langkah ku sudah sejauh ini tapi menghilang begitu saja hanya karena mahkluk ini.
Aku tidak bisa melakukan apapun, pandangan ku hanya gelap, dan tubuhku tidak bisa bergerak, dan tenaga ku melemah.
Tampak nya wanita brengsek itu sudah mulai menyerap mana ku.
Aku tidak mau.
"Eloise."
Apa yang harus ku lakukan?
"Eloise."
Aku tidak ingin semuanya berakhir seperti ini!
"Eloise."
Mataku terbelalak, aku melihat seorang wanita dengan surai coklat menangkup wajahku, mataku menatap maniknya yang berwarna senada dengan ku.
Ruby merah.
Wanita itu mengenakan pakaian gaun putih panjang yang sederhana dengan bunga poppy sebagai hiasannya, ia juga memakai jubah berwarna coklat tua.
Mataku mendadak mengeluarkan air mata, wanita itu tersenyum.
"Ini tidak akan berakhir, kau harus berjuang, mana mu adalah milikmu, jangan biarkan siapapun mengambilnya dari mu, kau harus bisa menjaganya, karena itu milik mu."
Mataku membesar kemudian kedua tangan ku mengepal,
Benar, mana ini adalah milikku, aku tidak akan membiarkan wanita itu mengambil nya dari ku!
⬛⚪⬛
Phoenix masih menangkup wajah eloise untuk menyerap mana nya, wanita itu mendadak merasakan panas pada tangannya.
Ia mengerutkan alis dan melihat ke bawah kaki eloise, api memutari gadis itu dengan cepat, seluruh api di realisasi sihir itu terserap ke dalam api eloise.
"Apa?! Apa yang terjadi?! Gadis sialan!" Kedua tangan Phoenix memegang leher eloise, wanita itu hendak mencekik eloise.
Kalimat izolda terbesit di benaknya, Phoenix mengatupkan giginya.
"Sialan, manusia elf sialan!"
Grep
Phoenix terkejut, tangan kanan eloise mencengkram tangan nya, kemudian manik eloise terbuka lebar, manik merahnya menyala menatap Phoenix.
"Aku tidak akan, tidak akan membiarkan mu mengambilnya begitu saja." Ujar eloise menekan setiap katanya, Phoenix menggertak giginya.
"Gadis sialan!"
Api eloise memutar semakin besar di antara mereka, dan menutup mereka berdua.
⬛⚪⬛
"Tuan!"
Valkyrie berseru, dominic melihat ke arah realisasi sihir yang mengurung eloise dan Phoenix, mendadak bola api itu di tutupi oleh api yang lebih besar.
"Apa yang terjadi?!" Izolda bingung melihat peristiwa itu.
Sedangkan reithel, pria itu langsung mengeluarkan bucae nya, dia berpikir kalau realisasi sihir itu hancur, dia akan segera memberikan sihir penyembuhan pada eloise.
Dominic bisa merasakan sihir siapa yang melapisi realisasi sihir itu.
"Eloise..."
⬛⚪⬛
Whushh
Aku merasakan hawa angin yang berhembus kencang, aku membuka mataku, dan aku melihat di sekitar ku adalah hutan, aku belum pernah melihat hutan ini sebelumnya.
"Apa aku bermimpi?" Aku mendengus, dan angin masih berhembus kini lebih lembut.
Pendengaran ku menangkap suara sayup-sayup dari belakang ku, aku memutar tubuh ku dan mengikuti suara itu.
"Tuan!"
Aku berjengit terkejut karena suara itu berseru tiba-tiba dengan suara kencang.
"Suara ini tidak asing."
Srak-srak
Aku menghentikan langkah ku, suara langkah ku berisik, aku tidak ingin ketahuan oleh mereka jadi aku memperlambat langkah ku, berusaha tidak menimbulkan suara sedikitpun.
"Kenapa tuan?!"
Aku sudah di dekat mereka, aku melipir di pohon dan mengintip.
Ada dua orang yang sedang berbicara, dan salah satunya wanita itu, tampak wanita itu bersujud menahan kaki seseorang.
Aku tidak bisa melihat siapa sosok itu karena jubah nya menutup wajah dan tubuhnya, wanita itu menangis.
"Aku tidak membutuhkan mu lagi." Ucap sosok itu, dari suaranya dia adalah pria, Phoenix terbelalak dan mengeratkan pegangan nya di kaki pria itu.
"Aku mohon tuan, jangan buang aku, kalaupun aku tidak berguna tolong biarkan aku di sisi tuan, aku akan melakukan apapun, apapun!" Phoenix memohon, aku menutup mulutku.
"Itu tidak bisa, aku tidak suka ada beban di dekatku." Aku mengerutkan alisku, Phoenix semakin mengerutkan alisnya dan menggelengkan kepalanya, dia tampak sangat tidak menerima pernyataan pria itu.
"Jika kau menginginkan nyawa ku, aku akan memberikannya tuan." Phoenix meletakkan tangannya di dan menatap sosok itu dengan derai air mata, sembari tersenyum miris.
"Aku akan memberikannya." Wanita itu memperjelas.
"Kau ini, benar-benar." Pria itu mengangkat tangannya dan mengarahkannya pada Phoenix, mataku membesar, sosok itu tampak akan mengeluarkan sihir, seperti nya dia ingin membunuh Phoenix.
Tanpa pikir panjang tubuhku pergi ke mereka dan menghadang sosok itu.
"Tidak!"
⬛⚪⬛
Realisasi sihir itu akan meledak, izolda segera membuat benteng dengan sihirnya agar api nya tidak mengenai hutan.
Dhuarr
Realisasi sihir itu meledak, dengan cepat dominic memadamkan nya dengan sihir, kemudian dominic dan reithel lari ke lokasi itu untuk mencari eloise.
Langkah mereka berhenti, mereka melihat eloise yang tengah duduk bersimpuh dan phoenix yang terbaring di hadapan gadis itu, dalam keadaan tidak sadarkan diri, Phoenix dengan perlahan berubah kembali menjadi bentuk aslinya yaitu burung.
"Eloise." Gadis itu menoleh kala dominic memanggil, sedangkan reithel langsung berjalan mendekati eloise dan menyelimuti gadis itu dengan jas panjang biru muda miliknya.
Jas itu mendinginkan suhu tubuh eloise, tampak gadis itu merasa nyaman, suhu tubuh nya tadi meningkat karena ledakan sihir nya.
Dominic berjalan mendekat, pria itu hendak menyentuh Phoenix, tetapi tangannya di tahan eloise, dominic menoleh ke arah gadis itu dan menatap tanya.
"Jangan lukai dia..." Ucap eloise pelan, kemudian kesadaran nya menghilang, tubuh eloise jatuh kebelakang dan di tangkap oleh reithel, pria itu mendekap erat eloise dan menghela nafas panjang.
"Ini menakutkan..."
-
-
-
To be continued.