
Happy reading!
-
-
-
"Jangan gunakan sihir, jangan membawa barang berat, jangan menyentuh maleon, jangan latihan pedang atau olahraga lain, jangan melewatkan waktu makan, dan kau harus istirahat dan tidur cukup, minum semua obat sesuai jadwal hingga habis dan selesai, setelah itu kau akan sembuh dalam 2 minggu, tubuh mu kembali sehat dan sihir risilv mu mulai pulih, walau tidak sepenuhnya karena ada sihir iblis yang kau bilang kemarin." Dominic menjelaskan panjang kali lebar membuat raven merengut kesal.
"Apa kau bercanda? Jadi aku hanya bisa mengurus dokumen ku? Dan tidak bisa latihan fisik?" Raven memasang raut sangat keberatan dengan larangan dominic yang sebenarnya dari izolda.
Dominic memberikan 4 jarinya, "setidaknya kau hanya boleh mengurus kertas-kertas apalah itu pada 4 jam lamanya, sisanya kau harus istirahat." Ujar dominic.
"Aku bukan orang sekarat." Balas raven, dominic mendengus.
"Wahai yang mulia pangeran roxane, jika yang mulia ingin cepat sembuh maka ikuti anjuran sahabat saya yang seorang tabib manusia elf, niscaya yang mulia akan sembuh secepatnyaa~" dominic mengucap dengan nada di buat-buat layaknya orang yang sering membacakan pesan pada kaisar.
Raven memijat keningnya, dan mendengus panjang, pria itu hendak ingin melawan dominic lagi.
"Baiklah tuan dominic, kami akan menjaga pangeran dan memastikan pangeran mengikuti sesuai anjuran nona izolda." Sela shannon membuat raven mendelik pada gadis itu.
"Apa-apaan kau ini, berani nya kau–"
"Pangeran, tuan dominic ada benarnya, jika pangeran ingin cepat sembuh maka pangeran harus mengikuti anjuran nona izolda, pangeran tidak perlu khawatir mengenai tugas anda, karena pangeran punya kami." Shannon merujuk pada ksatria yang setia disisinya.
Siapa lagi kalau bukan, shannon, Harley, tristan dan feitan, mereka sepenuhnya mengabdi pada raven.
Pria itu terdiam sebentar lalu membalikkan tubuhnya.
"Terserah." Ketusnya, membuat dominic mendengus lelah, raven pergi meninggalkan dominic yang berada di ambang pintu ke mejanya dan duduk di kursi kerjanya lalu memutar kursi nya membelakangi mereka.
"Aku titip padamu ya shannon, resep dan jadwal minum obatnya sudah ku berikan pada harley, dia sedang membeli nya." Shannon mengangguk sembari tersenyum.
"Tentu tidak masalah tuan dominic, omong-omong, bagaimana keadaan adikku?" Tanya shannon, dominic merasa tersambar petir, dia tidak tahu harus bagaimana memberi tahu kondisi eloise, karena gadis itu dalam kondisi sangat tidak baik terakhir yang ia lihat.
Pria itu menarik nafas, "yah...ummm, dia baik-baik saja, walau beberapa hari yang lalu sempat mengalami kejadian yang tidak mengenakkan, ahahahaha." Dominic tertawa renyah, shannon mengerutkan alis.
"Apa maksudmu tuan?" Selidik shannon, dominic menatap shannon raut wajah kaku.
"Ya begitulah, tenang saja kau tidak perlu khawatir, dia tidak apa-apa kok." Dominic berusaha membuat shannon tidak khawatir, gadis itu awalnya tidak yakin, tapi dia mengangguk percaya.
"Baiklah, saya titip eloise." Dominic mengangguk.
"Tentu-tentu, omong-omong jangan formal padaku, santai saja, adik mu juga bicara santai padaku." Dominic tersenyum, shannon mengangguk dengan senyum.
"Baiklah aku pergi," dominic menahan ucapannya dan melirik raven yang masih membelakangi nya.
"Sampai jumpa lagi pangeran raven!" Seru dominic cukup kencang agar suaranya sampai ke telinga raven, tapi pria itu memilih untuk tidak membalas apapun dan diam, dominic mendengus lelah melihat reaksi raven.
"Baiklah shannon aku pergi dulu." Dominic pamit hendak pergi, shannon menahan jubah dominic pria itu menoleh dan menatap tanya.
"A-ah...i-itu, selama 4 bulan ini aku akan sibuk karena pekerjaan ku, jadi aku tidak bisa bertemu eloise dalam waktu dekat, walaupun sebenarnya aku sangat ingin, tolong katakan pada eloise aku minta maaf, aku ingin mengirim surat tapi kurasa aku tidak sempat, tapi aku sudah menulis satu." Shannon memberikan sebuah amplop dengan setangkai poppy merah yang menempel pada amplop tersebut.
"Mohon sampaikan padanya tuan dominic." Dominic menerima surat shannon kemudian menyimpannya dijubahnya.
"Tentu saja kau tidak perlu khawatir, lagi pula eloise adalah anak yang pengertian kok, kau tidak perlu merasa bersalah padanya." Ujar dominic, kalimat pria itu sedikit mengurangi kekhawatiran shannon.
Secara pribadi sebenarnya shannon masih sangat bersalah pada eloise karena meninggalkan gadis itu pada orang tua yang salah, tetapi shannon lega karena eloise keluar atas dasar keinginan nya, dan juga pembicaraan kemarin, eloise seakan benar-benar memaafkan kesalahan nya sebagai kakak yang buruk.
"Terima kasih tuan." Senyum lembut terukir di wajah shannon.
"Baiklah, aku pergi dulu sampai nanti." Kemudian dominic menghilang berteleportasi.
⬛⚪⬛
Kini aku duduk di ruang tamu rumah izolda, aku duduk di samping Phoenix, fanigi itu berada dalam bentuk manusianya, sedangkan tudishen berdiri di dekat jendela di belakang izolda bersama valkyrie, lalu gaia berdiri di samping izolda duduk di hadapan ku.
"Aku pulang, izolda aku sudah memberi tahu raven sesuai yang kau–" kalimat master berhenti kala melihat suasana antara kami begitu kaku, pria itu mengangkat sebelah alisnya kemudian manik toscanya menangkap sosok Phoenix yang berdiri di sampingku.
"Ada apa ini?" Tanya master, izolda mendengus kemudian menepuk-nepuk sisi kosong Sofa yang ia duduki.
Master berjalan dan duduk di sofa itu kemudian izolda pun mulai menjelaskan apa yang terjadi antara aku dengan Phoenix setelah aku siuman dan apa yang aku rencanakan.
Raut wajah master langsung menggelap, terlihat sekali pria itu tidak suka dengan rencana itu.
"Mengikat kontrak dengan fanigi ini? Eloise apa kau bercanda? Dia hampir membunuh mu." Ujar master dengan alis mengerut, aku menghela nafas pelan.
"Tetapi master, adanya kontrak ini dia pasti tidak akan bisa membunuh ku, karena itu ak–"
"Eloise, apa kau tahu, ada berapa banyak kasus dimana fanigi dan anigi memberontak pada tuan nya? Hampir semua kasus itu tuan nya di bunuh oleh anigi dan fanigi mereka sendiri, dalam keadaan kontrak yang masih terikat." Master mendengus singkat dan menyisir poninya kebelakang.
"Kontrak fanigi dan anigi tidak semutlak hespirvit, karena pada dasarnya mereka berbeda, maaf eloise tapi aku menolak." Tukas master membuat ku merasa sedih.
"Ta-tapi master aku mohon, aku juga sebenarnya butuh dia." Ucap ku.
Benar, aku membutuhkan Phoenix, ini hanya perasaan ku saja tetapi kekuatan sihir spesialis ku seiras dengan sihir Phoenix, itu akan sangat membantu ku untuk mengembangkan kekuatan ku lebih besar, dan juga.
Phoenix butuh bantuan ku.
"Aku benar-benar mohon pada mu master." Sekali lagi kali ini aku memasang muka benar melas, tetapi master tampak bersikukuh pada pendapat nya.
Terdengar suara phoenix berdecih, fanigi itu menegakkan tubuhnya dan menatap master dengan muak.
"Brengsek, kau tidak dengar apa yang murid mu bicarakan, lagi pula dia membutuhkan ku dan aku juga membutuhkan nya, ini hubungan simbiosis mutualisme kau tahu." Jelas Phoenix, master terkekeh.
"Yang benar saja, simbiosis mutualisme? Di mata ku kau lebih terlihat seperti parasit." Izolda dan aku terkejut mendengar ucapan master, tidak biasanya master mengucap kan kata se kasar itu.
Dan tampaknya hal itu berhasil membuat phoenix naik pitam, fanigi itu berdiri.
"Penyihir sialan, bicara apa kau." Valkyrie datang menghalangi Phoenix yang hendak mendekat pada master, Phoenix tertawa pelan.
"Ha, apa ini kau di lindungi oleh budak mu sekarang? Dasar pengecut." Ucapan itu berhasil membuat master semakin naik pitam, valkyrie juga tidak kalah kesal.
"Kau bicara apa dasar ******." Valkyrie menekan setiap katanya, Phoenix menatap valkyrie tajam.
"Ku bilang kau budak dan tuan mu pengecut sialan." Kalimat Phoenix kasar, valkyrie ancang-ancang hendak mengeluarkan kapaknya.
Sring!
Tudishen menahan tangan valkyrie dan kapaknya di tahan dengan tombaknya sedangkan aku menghalangi Phoenix yang hendak mengeluarkan sihir api, dan izolda menahan master yang hendak memberikan sihir kutukan pada Phoenix.
Suasana seketika menjadi panas karena adu mulut tadi, aku mendengus dalam, tudishen menarik valkyrie agar tidak menghalangi aku dengan master.
Pria itu menatap ku masih dengan tatapan yang sama, aku mendengus pelan kemudian duduk bersimpuh pada master dan memegang tangannya.
"Master, kumohon, biarkan aku mengikat kontrak dengan Phoenix, kumohon percaya pada ku untuk memegang Phoenix, aku berjanji kejadian yang sama tidak akan terulang kembali, karena itu master aku benar-benar memohon." Ucapku dengan nada lebih lembut, pria itu menatap ku sebentar, lalu mendengus kasar, lalu menggosok tengkuknya yang tidak gatal.
"Ah merepotkan sekali."
Master kemudian mengangguk, aku tersenyum sumringah aku hendak bilang terima kasih tapi master menahannya.
"Tetapi ada syarat nya, sebelum kau benar-benar ku izinkan membuat kontrak dengan Phoenix sepenuhnya."
-
-
-
To be continued