
Happy reading!
-
-
-
Ini sudah lebih dari 6 jam aku melatih sihir ku agar sesuai dengan perintah master, tetapi sampai saat ini belum berhasil sama sekali.
Nafas ku terengah-engah, padahal aku hanya berdiri disini dan mengeluarkan sihir tetapi kenapa rasanya capek sekali.
Kaki ku sudah mulai gemetar dan kepala ku mulai terasa pening, keringat dingin mulai keluar dari pori-pori kulit ku.
Tapi aku tidak mengidahkan hal itu dan tetap melanjutkan latihan ku, hingga akhirnya entah kenapa kaki ku tidak kuat lagi menahan bobot tubuhku, lapisan mana yang ku taruh di kaki ku menghilang, aku menutup mata ku, dan merasakan kaki ku yang masuk ke dalam air.
Tapi tiba-tiba seseorang dengan cepat membawa ku keluar dari danau, aku tidak bisa melihat jelas siapa orang nya, tapi dari helai rambutnya yang jatuh di dekat kepala ku, sepertinya itu adalah master dominic.
"Aku pinjam tempat tidur mu izolda." Aku mendengar master berbicara pada izolda, diriku masih setengah sadar.
"Iya, lewat sini." Rasanya mataku mulai berat untuk tetap terbuka, dan akhirnya yang terakhir ku lihat adalah, kegelapan.
⬛⚪⬛
Dominic menaruh eloise yang kini dalam kondisi pingsan, kemudian pria itu menyelimuti tubuh eloise dengan selimut yang ada di tempat tidur tersebut.
"Sudah ku bilang, itu pasti menguras mana, dia ini kan masih pemula seharusnya kau lebih lembut sedikit." Tegur izolda, dominic membalikkan tubuhnya.
"Valkyrie." Panggil nya singkat, kemudian tiba-tiba muncul Valkyrie di samping dominic.
"Jaga eloise, izolda ada yang ingin ku bicarakan dengan mu." Ujar dominic, izolda mengangkat sebelah alisnya kemudian wanita itu keluar dari ruang kamar nya bersama dominic, izolda membawa dominic berteleportasi di pohon tengah danau.
"Apa yang ingin kau bicarakan?" Tanya izolda, dominic mengeluarkan gulungan kertas dari jubahnya dan memberikannya pada izolda, wanita itu menerimanya dengan muka tanya, kemudian membuka gulungan tersebut.
Matanya terbelalak kala melihat isi kertas itu.
"Ini, kau dapatkan darimana dominic?" Tanya izolda dengan alis mengerut.
"Di hutan eastwood, warzerten sempat beraktivitas di situ, aku meminta hespirvit ku untuk mencoba menangkap saksi hidup ketika menyusup ke tempat itu, tetapi mereka tampaknya punya vocorgi yang dapat mendeteksi keberadaan roh, sehingga mereka langsung kabur dan menghancurkan hampir semua barang mereka agar rencana mereka tidak ketahuan, pemimpin kelompok mereka mati bunuh diri dengan sihir kutukan sedangkan anggota lainnya pikiran mereka dikendalikan oleh sihir hitam.
Aku mendapat dua benda dari mereka, satu nya peta yang kini sedang di selidiki reithel dan pangeran raven dan satu nya lagi adalah gulungan kertas itu." Jelas dominic, izolda mengangguk sembari memperhatikan isi gulungan kertas itu.
"Apa kau bisa membacanya?" Tanya dominic, izolda dengan alis mengerut, lalu menggeleng kepalanya.
"Sayangnya tidak, aku pernah melihat tulisan ini tapi belum pernah mempelajari nya, dari spekulasi ku, tulisan ini adalah bahasa yang di buat hanya untuk anggota warzerten, karena aku tidak pernah melihat tulisan itu selain berkaitan dengan warzerten dan penyihir setelah kehancuran." Dominic mendengus.
"Sayang sekali, tapi terima kasih, kalau begitu aku titip eloise dulu, aku mau pergi sebentar." Ujar dominic dan mau melangkah pergi.
"Tunggu, kau mau kemana?" Tanya izolda.
"Ke tempat reithel dan pangeran raven, aku berjanji jika aku punya waktu aku akan menyusul, mumpung eloise masih pingsan aku akan pergi dulu, sampai nanti." Lalu dominic hilang berteleportasi.
"Kenapa itu terdengar dia bersyukur eloise pingsan." Izolda menghela nafas lalu berteleportasi kembali ke rumahnya dimana eloise yang pingsan di tempatkan disana.
⬛⚪⬛
Raven dan reithel kini di hutan crystalden, bersama dengan feitan, tristan dan sebastian.
Di hutan itu sama sekali tidak ada tanda-tanda kehidupan.
"Aneh, kenapa aku tidak melihat satu hewan pun yah?" Tanya tristan yang menoleh ke sekitar nya, feitan dan sebastian hanya diam sembari terus memperhatikan sekitar, sedangkan reithel dan raven memperhatikan peta yang didapat dari markas warzerten tempo hari.
"Hutan ini sering di pakai untuk ujian kelulusan akademi bukan?" Tanya raven, reithel mengangguk.
Membuat mereka berpikir ada kemungkinan di dalam hutan ini masih ada jebakan atau semacamnya yang berbahaya.
Reithel dan raven menoleh bersamaan, di arah mereka melihat muncul dominic yang baru sampai berteleportasi.
"Ohh kebetulan sekali kita bertemu disini, kupikir aku harus mengitari hutan ini dulu untuk mencari kalian, haha." Tawa dominic bergurau.
Tetapi sayang nya tidak ada satupun dari mereka yang tertawa, benar dominic salah mengajak orang untuk tertawa dengan gurauan renyah.
"Baiklah, apa yang kalian temukan?" Langsung tanya dominic, reithel dan raven menoleh ke berbagai arah, dominic mengangkat kedua alisnya, lalu ikut menoleh ke berbagai arah, lalu pria itu menyadari sesuatu.
"Tunggu, kemana mahkluk hidup di hutan ini? Kenapa aku tidak melihat satu ekor pun? Bukankah hutan ini harusnya banyak hewan dan monster tingkat 1-3?" Tanya dominic terus menerus.
"Itu yang ingin kami cari tahu tapi kami belum menemukan jawabannya." Ujar reithel, raven mendengus lelah.
Dominic menatap sekitar, kemudian pria itu berjongkok dan menyentuh tanah dengan tangan kanan nya, lingkar sihir muncul di bawah kakinya, dan semilir angin meniup rambutnya pelan.
"Disini tidak ada mana sama sekali." Ucap dominic, reithel dan raven mengerutkan alis mereka.
"Tidak ada tanda-tanda kehidupan, minimal seharusnya ada sedikit mana yang terasa tapi ini tidak, ini hanya perkiraan." Dominic menjeda kalimatnya.
"Sepertinya mereka, warzerten memasok mana dari seluruh mahkluk hidup di hutan ini, dan parahnya mereka benar-benar membantai seluruh mahkluk hidup disini untuk mendapatkan mana." Lanjut dominic.
"Ini berbahaya, kita harus berbicara dengan kepala sekolah kalau hutan crystalden tidak bisa di pakai lagi untuk ujian." Ujar reithel, dominic mengangguk.
"Omong-omong dominic, bagaimana? Apakah penjaga hutan witchweed bisa membaca tulisan dari gulungan itu?" Tanya reithel, dominic menggeleng.
"Sayangnya tidak, tetapi dia berspekulasi jika tulisan ini adalah bahasa bagi anggota warzerten saja." Jawab dominic.
"Kalau begitu kita culik saja salah satu anggota warzerten untuk membaca tulisan itu." Ujar raven.
"Tidak-tidak pangeran, itu ide yang sangat buruk, maksud ku itu termasuk tindakan kriminal." Dominic menasihati, sedangkan reithel hanya mengangguk.
"Mengenai gulungan itu, tidak perlu terburu-buru, sebaiknya sekarang kita berpencar saja menelusuri hutan ini." Reithel mengeluarkan sebuah kantung dari jubahnya, kemudian mengeluarkan isinya yang ternyata berupa beberapa kristal warna-warni.
"Gunakan ini, ketika kalian menemukan sesuatu yang dimana harus berkumpul di tempat itu, hancurkan kristalnya agar kita bisa tahu dimana itu." Jelas reithel.
Pria bernetra langit itu memberikan kristal itu ke raven, dominic, sebastian, feitan dan tristan.
"Baiklah, semuanya sudah memegang kristal masing-masing kan?" Tanya dominic, mereka semua mengangguk.
"Baiklah kalau begitu, ayo kita pergi, kita berpencar selama 3 jam kemudian kembali ke sini." Ucap dominic.
Lalu dengan cepat mereka berpencar ke segala arah untuk menelusuri hutan itu sepenuhnya.
Tristan dan feitan memiliki fisik yang bagus sehingga mereka dapat menelusuri hutan dengan cepat, begitu juga dengan sebastian yang sudah lama menjadi kepala pelayan, pria itu memiliki banyak kemampuan termasuk fisik yang kuat walau usianya yang tidak lagi muda.
Sedangkan dominic, reithel dan raven sudah pasti, karena mereka memiliki kemampuan sihir yang sangat tinggi, fisiknya pun juga memumpuni, sehingga mereka menelusuri hutan ini lebih cepat.
Raven terus berlari dengan cepat sembari melihat ke segala arah untuk mencari apapun yang mencurigakan.
Langkahnya tiba-tiba terhenti kala melihat sebuah batu besar yang di tusuk dengan sebuah pedang berwarna hitam pekat, di samping batu itu terdapat bangkai monster yang sudah mati cukup lama.
Tingkat monster itu kisaran tingkat 3, itu tingkat tertinggi di hutan ini, tetapi melihat situasi di sana, rasanya agak aneh.
"Sesuatu telah terjadi disini."
-
-
-