
Happy reading!
-
-
-
Aku menyentuh air danau itu, sangat menyegarkan, aku merasakan nona forestine duduk di samping ku.
"Bagaimana? Apa kau suka hutan ini?" Tanya nya, aku mengangguk mantap.
"Ini sangat indah, ada banyak sekali anigi bahkan yang belum pernah ku lihat juga ada." Ujar ku, nona forestine tersenyum kemudian ia menatap ke arah pohon besar yang berada di tengah danau.
"Ini adalah rumah bagi para anigi, di luar sana anigi banyak sekali di buru dan di gunakan semena-mena oleh manusia tanpa belas kasih." Aku menoleh dan alisku bertautan menatap sedih nona forestine atas penjelasannya.
"Karena kebaikan dari kaisar Ronald, beliau membuat hutan besar dengan sihir risilv nya, menjelang kematiannya ia berkata,
'ini adalah rumah bagi para anigi, siapapun yang menginjak kan kaki atas dasar berniat untuk menyakiti mereka, roxane tidak akan segan segan memenggal kepala mereka saat itu juga.'
Karena itu hutan ini sangat di lindungi oleh kekaisaran roxane, dan sebagai timbal balik dari para penyihir yang menciptakan para anigi di hutan ini memberi balasan dengan berkah sihir risilv yang subur di tanah ini.
Para penyihir itu adalah ras elf." Jelasnya.
"Dimana para penyihir itu sekarang?" Nona forestine menatap sendu danau di hadapannya.
"Warzerten membantai semua ras elf yang saat itu ras elf sedang berada di luar wilayah roxane, mereka menginginkan kekuatan sihir risilv dengan mencurinya, karena mereka lah hutan witchweed tidak di buka lagi." Jelas nya, setelah itu suasana menjadi sunyi.
"Tapi itu cerita lama kok." Tambah nya, kemudian menoleh pada ku, lalu ia menoleh ke belakang dan tampak master dominic tengah tidur bersandar dengan seekor anigi berupa anjing berwarna putih dengan 4 ekor dan bermata 4.
"Ia membantu ku dalam banyak hal, termasuk melindungi hutan ini." Nona forestine menatap master dengan sorot mata yang sedikit mengejutkan bagi ku, dari nada bicara nya yang lembut.
'Tatapan itu, mirip seperti...'
Aku teringat kenangan ketika bagaimana aku menatap reithel ketika aku masih mencintainya.
"Nona forestine, apakah bagi nona master–"
Wanita itu menempelkan jari telunjuknya ke bibir merah muda nya, dan tersenyum.
"Jadikan ini rahasia di antara kita okey?" Aku mengangguk sebagai jawaban, nona forestine mengangguk.
"Dan tolong jangan panggil aku nona forestine, aku bukan bangsawan yang harus kau hormati, panggil saja aku Izolda, ya eloise?" Aku tersenyum.
"Iya izolda." Wanita itu tersenyum hingga matanya berbentuk bulan sabit, kemudian pandangannya kembali mengarah pada master dominic yang tengah terlelap.
Izolda menghela nafas, lalu ia mengetuk tanah dengan tongkatnya, dan tiba-tiba tanah yang dimana master tidur langsung membukit dan membuat master terpental ke depan, pria itu berteriak kesakitan.
"Dasar orang hutan! Bangunkan aku dengan cara yang lebih lembut apa." Master mengucap dengan kesal, izolda hanya tersenyum.
"Kenapa kau tidak bersiap untuk mengajari murid mu yang manis ini kakek, dasar pemalas kau malah tidur disini." Master bangkit dan berjalan ke arah kami.
"Baik-baik, ikut aku eloise." Master melewati izolda sembari mengelus kepalanya dan berjalan ke arah danau.
Aku mengikuti langkah master, tetapi langkah ku berhenti ketika master berjalan hingga ke danau tetapi pria itu berjalan berada di atasnya menbuat ku bingung.
Master dominic memberhentikan langkah nya lalu menoleh padaku.
"Kenapa kau berdiri di situ?" Tanya master, aku kebingungan menjawabnya.
"Kakek bodoh kau tidak menjelaskan bagaimana kau bisa berjalan di atas situ." Ucap izolda dengan kencang, master dominic berdecih, lalu mendengus.
"Eloise, lapisi mana mu ke kaki mu, dengan begitu kau bisa berjalan di atas danau ini." Aku mengangguk mengerti, lalu aku mencoba melakukan seperti yang di beritahu master, lalu mulai berjalan melangkah ke atas danau, dan benar saja aku tidak jatuh ke dalam.
Aku mencoba berjalan, dan aku sama sekali tidak jatuh, jujur saja aku sangat kagum, kemudian aku mencoba untuk berlari ke arah pohon besar itu, rasanya menyenangkan bisa berjalan dan berlari di atas air seperti ini.
Aku menatap pohon besar ini dari dekat, dan aku merasakan aura sihir yang kuat dari pohon ini, pasti mengandung banyak sihir risilv.
"Eloise! Kesini!" Panggil master, aku berlari menuju master berdiri.
"Keluarkan sihir spesialis mu disini." Ucapnya, aku bersiap dan menengadah tanganku seakan aku hendak mengeluarkan api, tapi tindakan itu terhenti.
"Ada apa eloise?" Tanya master.
"Apa master tidak apa-apa di sini? Sihir spesialis ku kan berbahaya." Ucapku, master tertawa pelan.
"Bagi manusia biasa, untuk penyihir seperti ku, hal itu belum cukup untuk melukai ku." Ucap master.
"Berisik orang hutan, urus dirimu sendiri." Ucap master dengan jengkel, kemudian pria itu mendengus.
"Ayo coba." Aku mengangguk, lalu aku kembali menengadah tanganku di depan dada, lalu lingkar sihir muncul di atas kaki ku, dan api muncul di tengah tangan ku.
Kemudian api berputar muncul di sekitar ku berdiri lalu, api sihir itu membesar, dan menjadi besar, menyadari itu, aku langsung menghentikan sihir ku, kemudian menoleh ke sekitar danau, tidak ada yang terbakar.
Aku bernafas lega, "coba buat api itu hanya setengah dari yang kau keluar kan tadi." Perintah master, aku mengangguk lalu mencoba lagi, tetapi gagal masih dengan besar yang sama.
Master memutar tubuhnya, "lakukan hingga sesuai dengan perintahku." Ucap master kemudian berjalan pergi.
"Eh?? Master serius?? Tidak boleh berhenti." Master melambaikan tangannya menginstruksikan bahwa jawabanya adalah, tidak.
Aku terkejut, lalu mendengus, kemudian aku mencoba lagi membuat api sihir ku untuk lebih rendah tetapi masih memiliki besar yang sama.
Terus menerus.
⬛⚪⬛
Dominic sampai dipinggir danau dimana izolda berdiri.
"Apa kau serius? Itu sangat menguras mana, dia terus mengeluarkan sihir tanpa berhenti sedikit pun." Ujar izolda sembari mengangkat sebelah alisnya.
Perkataan wanita itu benar, eloise terus mengeluarkan mana nya, pertama dari sihir api yang ia keluarkan, yang kedua dari lapisan mana di kakinya, jika lapisan mana itu di hilangkan tentu saja eloise akan masuk ke dalam danau.
"Menjadi penyihir hebat tidak bisa di lalui dengan latihan mudah, aku memang orang yang santai tapi bukan berarti aku tidak tegas, lagipula aku yakin akan kemampuan eloise, gadis itu pasti bisa melaluinya." Jelas dominic kembali ke tempat dimana ia tidur, dan anigi yang menjadi sandarannya masih di tempat yang sama.
Izolda hanya menghela nafas mendengar penjelasan dominic, lalu kembali menatap eloise yang masih tengah sibuk dengan pelatihannya, tetapi izolda menyadari sesuatu.
Wanita itu menoleh ke salah satu pohon di dekat danau, ada burung merah yang memiliki ekor panjang dan jambul yang terbuat dari api.
"Phoenix..." Kemudian izolda melihat ke arah dimana burung itu melihat.
Itu ke arah eloise.
Izolda tersenyum, "dominic seperti murid mu ini sangat menarik banyak hal ya." Ucap izolda, dominic membuka netra tosca nya alis nya bertautan bingung, izolda menunjuk tempat dimana Phoenix itu bertengger dengan tongkatnya.
"Phoenix... Wah, aku tidak menduga secepat ini dia akan mendapat fanigi." Dominic menyilang tangannya di depan dada.
"Kau butuh berapa lama untuk mendapat fanigi?" Tanya izolda.
"5 tahun setelah aku menjadi penyihir, seperti yang kau tahu, separuh sihir ku adalah kutukan, tentu saja sulit menarik perhatian fanigi untuk menjalin kontrak denganku."jelas dominic, izolda tersenyum.
Tiba-tiba terbesit di benak izolda ingatan dimana dominic kesakitan dan separuh tubuhnya yang di penuhi tanda kutukan berwarna hitam, izolda mengatupkan bibirnya dan menggenggam lebih erat tongkat sihirnya.
"Apa tubuh mu baik-baik saja?" Tanya izolda, dominic menoleh tanya ke arah izolda, sedangkan wanita itu melihat dominic dengan sorot khawatir.
Dominic mendengus lalu bangkit dari posisinya dan duduk di dekat izolda, pria itu mengelus kepala izolda dan tersenyum.
"Tenang saja, hal itu tidak akan terjadi lagi, aku akan berhati-hati." Ucapnya, izolda hanya diam dan kembali menatap eloise.
"Apa kau masih mencintainya?" Tanya izolda lagi yang kali ini membuat dominic benar-benar terkejut.
Terbayang di benaknya sosok gadis bersurai hijau tosca yang rambut panjang di tiup oleh angin, dominic terdiam sebentar, lalu menghela nafas, kemudian ia menatap langit.
"Aku tidak bisa untuk tidak mencintainya, perasaan itu terus mengutuk dalam hati ku, satu-satunya hal yang tak bisa ku hapus, karena kematiannya–"
"Bukan salahmu." Izolda memotong kalimat dominic, pria itu menoleh ke arah izolda yang kali ini menatap rumput yang ada di tanah dengan alis mengerut.
"Kematian nya, bukan salah mu, justru kau menyelamatkan nya, karena itu, berhentilah menyiksa diri mu sendiri." Ucap izolda, dominic mendengus dan tersenyum.
"Selama penyihir setelah kehancuran belum menghilang selamanya, saat itu juga tugas ku belum selesai." Ucap dominic, izolda menaruh tongkat sihirnya di samping nya, kemudian ia memeluk kedua kakinya dan menenggelamkan wajahnya di balik kaki nya.
"Dasar kakek keras kepala." Umpatnya, dominic hanya tersenyum sendu.
-
-
-
To be continued
❇️ Eloise Study Note❇️
▫️Fanigi: hewan sihir yang memiliki akal dan perasaan layaknya manusia, mirip seperti anigi, tetapi fanigi hanya bisa di ciptakan oleh sihir dewa atau elf, beberapa di antara mereka bisa berubah menjadi bentuk manusia.