Not An Angel

Not An Angel
34



Happy reading!


-


-


-


Alis raven mengerut melihat pria jangkung itu, sedangkan pria bersurai hitam panjang itu tersenyum lebar, tampak kedua taring dalam mulutnya.


Raven tidak pernah melihat manusia dengan taring yang cukup besar seperti itu, seumur-umur, ia hanya pernah melihat manusia yang memiliki taring di bagian depan gigi nya adalah duke castillon.


Itu pun ukurannya kecil.


"Kenapa dia ada di sini? Siapa dia?" Tanya raven pada mathias sembari menunjuk keberadaan pria jangkung itu, pria itu hanya tersenyum samar sembari menatap raven.


Mathias menoleh ke arah yang raven tunjuk, dia bingung dan beberapa kali menoleh ke wajah raven dan sofa yang di tunjuk raven.


"Raven...aku tidak melihat siapa pun." Ucap mathias, mata raven membesar kemudian ia menoleh pada ketiga penyihir risilv di sampingnya, mereka bertatapan satu sama lain kemudian menatap ke arah sofa yang di tunjuk raven.


Mereka mengerutkan alisnya seakan mereka juga bingung, karena tidak ada siapapun di mata mereka.


Raven menurunkan tangannya, lalu pria itu keluar dari ranjang dan berjalan ke arah sofa dimana pria jangkung misterius itu duduk.


"Raven..!"


"Pangeran...!"


Mathias dan izolda memanggil raven, tapi yang panggil tidak mengidahkan, raven menarik kerah baju yang di pakai pria itu, raven terkejut bisa memegangnya, lalu dia menarik lebih dekat pria itu ke wajahnya.


"Siapa kau, kenapa aku merasakan aura yang tidak baik darimu?" Raven curiga, karena pria itu seakan mengeluarkan hawa sihir gelap, bukan kutukan, tetapi seperti kutukan.


"Aku adalah roh yang mendiami pedang itu, bisa dibilang aku adalah bagian tubuh iblis itu." Ucap pria itu dengan santai.


"Apa?" Raven semakin mengerutkan alisnya.


"Omong-omong, namaku Leviathan, senang berkenalan dengan mu, pangeran." Pria itu mengulurkan tangan nya pada raven.


Raven mendorong pria itu ke belakang sofa hingga kepala pria itu menubruk dinding, "jangan sok akrab padaku." Dingin raven.


"Eh kok begitu, pangeran kan sudah menjadi tuan ku, karena itu aku bersikap seperti ini." Raven menatap pria itu tidak mengerti.


"Pangeran, kau sudah memakai ku untuk membunuh monster itu kan, secara otomatis tubuh mu akan menerima sihir ku, biasanya manusia akan mati hahaha, tapi pangeran hebat sekali, kau mampu menahan sihir ku, walaupun pada akhirnya membutuhkan bantuan penyihir sok suci itu." Pria itu mengedikkan bahunya sembari mengangkat kedua tangannya.


Tangan kanan pria itu menyentuh pipi raven, kemudian manik merah darah Leviathan dan manik zamrud raven bertemu.


"Sebagian tubuh mu sudah mengandung sihir ku pangeran, sekarang kau jauh lebih kuat, jika kau menggunakan ku dengan baik, maka kau bisa menjadi manusia setengah iblis, yang berumur panjang dengan tubuh abadi.


Karena itu pangeran," Leviathan menyentuh kedua pipi raven.


"Lepaskan segelnya dan gunakan aku." Sambung pria itu dan mata merahnya menyala menatap raven.


Raven terdiam, menatap manik darah Leviathan seakan terhipnotis.


"Raven."


Seketika raven tersadar ketika ada orang yang menepuk bahunya, lalu menoleh ke belakang dan tampak dominic yang menatap raven dengan wajah serius.


"Apa yang kau lihat?" Tanya dominic, raven terdiam melihat dominic, lalu dia menatap Leviathan yang menatap nya dengan senyum tipis.


"Sebutkan ciri-ciri nya pada ku, dan katakan apa yang ia katakan padamu." Dominic menekan kalimatnya, pria itu curiga karena ia juga merasakan hawa yang tidak baik di sekitar sofa itu, lebih tepat nya di dekat tangan raven, ia melihat tangan raven seakan sedang mencengkeram sesuatu, tapi dominic tidak melihat apapun.


"Itu..." Raven menatap Leviathan yang masih diam dengan ekspresi yang sama, pria itu mendengus lalu melepaskan cengkeramannya dari kerah Leviathan, dan membalikkan tubuhnya menatap dominic.


"Eh kau mengabaikan ku?" Leviathan bertanya, raven hanya mendelik dan tidak mengatakan apapun, lalu kembali menatap dominic.


"Ya sudah terserah, tapi kalau kau berpikir ingin mengusirku maka percuma saja, selama pedang itu ada disini dan sihir ku yang ada di dalam tubuh mu tidak menghilang, maka aku akan tetap berada di sekitar mu pangeran." Ujarnya sembari tersenyum, raven diam tidak membalas apapun.


"Seorang pria dengan surai panjang hitam, tubuhnya jangkung melebihi kau, dia mengenakan pakaian kemeja hitam dan jubah berwarna senada, mata nya berwarna merah dan memiliki gigi taring yang lebih besar dari duke castillon miliki, dia bilang kalau dia adalah roh yang mendiami pedang itu, dia merupakan bagian tubuh iblis, dan namanya Leviathan." Panjang raven menjelaskan sosok Leviathan, pria yang di jelaskan bersiul sembari tersenyum, sedangkan dominic, reithel, izolda dan Mathias memasang wajah seakan berusaha memahami penjelasan raven.


"Begitu aku mengerti, sepertinya kenapa hanya kau yang bisa melihat nya, karena kutukannya ada didalam tubuh mu sekarang." Kesimpulan dominic, raven mengangguk.


"Apa bedanya?" Tanya raven dengan dingin sembari menoleh kearah Leviathan, dominic mengangkat kedua alisnya.


"Sihir iblis bukan lah kutukan, melainkan sihir murni yang bersifat kebalikan dari sihir risilv, memang ada sihir kutukan tapi itu hanyalah cabang dari sihir iblis, jadi sihir itu tidak murni, lebih tepatnya di sebut seperti virus.


Dan kenapa manusia-manusia sebelumnya mati ketika menyentuh sihir ku, itu karena di tubuh mereka hanya mengandung sihir risilv setidaknya 15%, dan ketika manusia menyentuh ku, secara cepat sihir ku akan masuk ke dalam tubuh, dan mengakibatkan terjadi tabrakan sihir, dan tubuh mereka tidak mampu menahan sihir ku karena ini adalah sihir iblis." Jelas Leviathan.


"Lalu kenapa aku tidak mati?" Tanya raven, Leviathan tersenyum sembari mengangkat sebelah alisnya.


"Itu karena kau kuat pangeran, dari yang kurasakan, tubuhmu mengandung sepenuhnya sihir risilv, sekitar 100%, itu pasti karena kau adalah keturunan kekaisaran, aku cukup tahu sejarahnya kalau keturunan kekaisaran sudah pasti memiliki tubuh yang di penuhi sihir risilv murni, karena sihir itu lah, kau masih bisa bertahan hidup, tabrakan sihir memang terjadi dalam tubuhmu tetapi itu sudah di tangani oleh manusia elf itu." Leviathan menunjuk izolda, Raven menurunkan alisnya kala mendengar keturunan kekaisaran.


Kemudian terbayang di benaknya, ibu raven yang meninggal ketika pria itu menginjak usia 4 tahun, surainya lurus berwarna coklat dan matanya berwarna biru gelap, dengan wajah yang cantik dan lembut.


"Aku bukan sepenuhnya keturunan kekaisaran." Raven seakan menepis dan mengatakan kalau dia bukanlah anggota keluarga kekaisaran.


Mathias mengangkat kedua alisnya dan menatap raven dengan sorot sedih, lalu terdiam.


"Tidak peduli soal ibu mu apakah dia selir atau apa, tapi yang pasti ayah mu itu kaisar kan, maka sudah pasti darah nya mengalir dalam tubuhmu, juga keturunan sihir nya pasti menurun pada mu." Leviathan mengakhiri penjelasan, raven terdiam.


"Karena itu pangeran~" raven menoleh, dengan seringai Leviathan mengulurkan tangannya.


"Lepaskan segelnya dan pakai kekuatan ku." Leviathan kembali mengajak raven, pria itu mendengus lelah dan mengabaikan Leviathan.


"Cih." Leviathan memasang wajah jengkel lalu mendengus dan menyandarkan tubuhnya ke sofa kemudian melipat kedua tangannya di depan dada.


"Raven?" Tanya dominic, pria bermata zamrud itu mengangkat wajahnya.


"Dia bilang itu bukan kutukan melainkan sihir iblis." Ucap raven.


"Bukankah sama saja?" Tanya reithel, raven menggeleng.


"Sihir iblis adalah sihir murni, hanya saja sifatnya berkebalikan dari sihir risilv, sihir kutukan hanyalah cabang dari sihir iblis, tetapi sifatnya lebih seperti virus, itu penjelasan darinya." Jawab raven, dominic mengangguk, kemudian ia menoleh ke arah mathias yang wajahnya tampak sendu.


"Ya sudah, istirahat lah pangeran, izolda ayo kembali, dan reithel ikutlah bersama kami." Ajak dominic.


"Tidak, aku harus kembali untuk mengerjakan pekerjaan ku sebagai duke, belakangan ini terbengkalai karena kesibukan ku di akademi." Tolak reithel.


"Ayolah kau bisa menyerahkan nya pada Sebastian bukan, sudah ikut saja sebentar." Dominic memaksa, reithel mendengus.


"Jika ujungnya tidak jelas aku akan memukul mu." Ancam reithel, dominic tertawa renyah, izolda memukul kepala dominic dengan tongkatnya lagi.


"Sudahlah, ayo, eloise menunggu kita, aku yakin dia ingin cepat melanjutkan latihan nya." Ucap izolda, dominic mengangguk.


"Baiklah, sampai jumpa pangeran dan mathias." Kemudian ketiga penyihir itu berteleportasi meninggalkan tempat itu.


Mereka sampai di depan gerbang hutan witchweed, izolda mengayunkan tongkatnya dan gerbang itu terbuka, izolda, dominic dan reithel masuk ke dalam.


Mereka berjalan menuju danau besar hutan witchweed, mereka terkejut kala melihat api berbentuk bola besar di atas danau.


"Apa itu realisasi sihir? Dominic?" Reithel menoleh, sedangkan dominic mengerutkan alisnya, mencoba memahami situasi.


Valkyrie dan tudishen datang pada mereka dengan wajah panik.


"Tuan! Eloise!" Seru valkyrie.


"Ada apa? Apa yang terjadi?" Tanya dominic sedikit keras.


"Nona, Phoenix memasukkan eloise kedalam realisasi sihirnya." Ucap tudishen membuat Izolda terbelalak.


"Gawat! Dominic! Eloise dalam bahaya!"


-


-


-


To be continued