Not An Angel

Not An Angel
prolog



Happy Reading!


-


-


-


Telah tiba.


Hari dimana hidupku akan berakhir.


Aku telah di jatuhkan hukuman mati oleh pengadilan kekaisaran, atas tuduhan perencanaan pembunuhan pada putri mahkota.


Semua itu hanya karena sebuah kebetulan, dimana aku sedang berdua saja di ruangan bersama putri mahkota ketika kejadian itu terjadi, sang putri pingsan setelah meminum tehnya.


Melihat hal itu aku dengan panik, keluar dan meminta bantuan pada setiap orang yang ku temui, para pelayan segera menghampiri putri mahkota dan berusaha menyadarkan calon permaisuri itu.


Tidak lama putra mahkota datang bersama duke castillon, yang merupakan tunangan ku, juga bersama beberapa bangsawan lainnya, putra mahkota segera menghampiri pasangannya, dan memeluknya, raut wajahnya tampak sangat khawatir.


"Apa yang terjadi?" Tanya putra mahkota pada salah satu pelayan di dekatnya.


"Putri charol telah di racuni, Pangeran." Ucap pelayan itu dengan getar pada suaranya.


"Siapa yang terakhir kali bersama putri charol?!" Tanya salah seorang bangsawan pada semua orang di ruangan itu.


"Tadi... A-aku melihat nona Garthside terakhir kali keluar dari ruangan ini." Seorang pelayan lain membuka suara, dan seketika tatapan tajam semua orang tertuju padaku.


"Tunggu! Tadi aku memang berada di ruangan ini berdua bersama putri charol, tetapi setelah tuan putri meminum tehnya, beliau pingsan." Jelas ku.


"Kamu kan yang membuat teh untuk Putri Charol?!" Tanya seorang bangsawan lainnya.


"Tidak! Aku berani bersumpah! Teh itu sudah ada sebelum aku datang!" Aku berusaha membela diriku.


"Tidak ada penjahat yang mengakui perbuatannya, Pangeran Gionard." Ucap salah seorang bangsawan lain dan menoleh ke arah putra mahkota Semua orang menatapnya.


Pria yang akan menjadi kaisar di masa depan itu mengatupkan bibirnya dan menatap ku dengan amarah.


"Kurung dia di penjara bawah tanah, jangan beri dia makan dan minum sedikit pun!" Titahnya, segera para penjaga menarik kedua lenganku, aku tersentak dan berusaha melepaskan diriku.


"TIDAK! TUNGGU PANGERAN! BUKAN AKU PELAKUNYA! AKU BERSUMPAH ITU BUKAN AKU!! REITHEL!"


aku memanggil tunangan ku, dan para penjaga terdiam sejenak, begitupun semuanya.


"Kamu.....percaya padaku kan?" Aku bertanya dengan penuh keyakinan sembari tersenyum getir, tetapi pria berambut hitam itu hanya diam menatapku dengan dingin, seketika aku terkejut membeku melihat netra biru muda nya yang memandang ku tidak peduli.


Para penjaga kembali membawa ku dengan paksa, aku meronta-ronta berusaha melepaskan diriku.


"TIDAK, KUMOHON! INI SALAH PAHAM! AKU MOHON TOLONG DENGARKAN AKU!"


Tapi tidak ada yang mendengar suaraku sama sekali...


⬛⚪⬛


Aku bisa mendengar suara langkah kaki yang menuju sel tahanan ku, orang tua ku, lebih tepatnya orang tua yang mengadopsi ku, mereka datang mengunjungi ku setelah sekian lama aku tunggu.


Aku menyunggingkan senyuman senang dan sedikit mengeluarkan air mata bahagia, dan dengan cepat aku berdiri dan bergerak cepat menuju pintu sel.


Crang!


Sayangnya dua rantai yang terikat di kaki ku menahan gerakan ku untuk mendekati mereka, dan membuatku jatuh di hadapan nya.


Aku mengangkat kepalaku, dan menatap mereka dengan tatapan memohon dan senyuman getir.


"Ayah...ibu...tolong, keluarkan aku dari sini." Ujarku masih dengan sorot yang sama.


Wanita berambut hitam dengan netra hazel itu menatapku dengan sorot kasihan, sedangkan pria yang ku panggil ayah hanya terdiam dengan alis bertautan dan ekspresi tidak jelas.


"Ayah...ibu..." Sekali lagi aku memanggil mereka dengan nada sedih.


"Eloise, terima saja." Mataku terbelalak, seketika aku terasa seperti di pukul sesuatu yang keras, aku sangat terkejut dengan ucapan pria yang ku panggil ayah.


"Ta-tapi ayah..."


"Eloise, semua bukti sudah tertuju padamu, tidak ada saksi di ruangan itu, dan saat kejadian hanya kamu dan putri charol di sana, jadi tolong terimalah dan tebus kesalahan mu." Ujar wanita yang ku sebut ibu dengan merintih.


Aku benar-benar terkejut, nafasku seketika sesak.


"Ta-tapi, itu benar-benar bukan aku! Percaya lah ibu-ayah!" Seru ku.


"Hentikan eloise, kamu harus mengakui dan tebus kesalahan mu." Tegas pria berambut hitam ke abu abu-an itu.


Aku terdiam membeku menatap mereka, kedua orang tua yang sudah ku anggap sebagai orang tua kandungku, mulai melangkah kan kaki mereka untuk pergi dari tempatku.


"Sampai jumpa eloise."


Aku sangat terkejut, dengan cepat aku kembali bangkit berusaha meraih pintu sel tetapi lagi-lagi tertahan oleh rantai berat yang mengikat kakiku, sehingga aku kembali terjatuh.


Aku berteriak memohon di tengah suara serak ku, tetapi mereka tidak berpaling sedikit pun, hatiku terasa sangat perih.


"Sungguh...bukan aku...bukan aku yang melakukannya...." Gumam ku merintih.


⬛⚪⬛


Dua hari setelahnya.


Di hadapan kaisar, aku menggunakan baju putih panjang lusuh, rambut pirang ku kusut, dan kaki tanganku di rantai, aku berdiri sembari menunduk.


Kini di adakan pengadilan kekaisaran, putri mahkota sampai saat ini belum sadar, dan seluruh kekaisaran sangat mengkhawatirkan hal ini, dan dalam kondisi seperti ini, membuatku berada di posisi yang terburuk.


"Aku memutuskan....untuk menjatuhkan hukuman mati pada Eloise Somnivera Garthside, dengan cara di gantung." Tegas kaisar.


Kalimat kaisar seketika membuat ku mengangkat kepala dan memandangnya dengan sorot terkejut.


"Tunggu yang mulia! Saya mohon! tolong percaya pada saya! Bukan saya pelakunya!" Aku berseru pada kaisar berambut darah tersebut, diriku berusaha bergerak mendekati nya, tetapi para penjaga menahan pundak dan rantai ku, netra zamrud nya menatapku tajam.


"Tetapi semua bukti sudah terlihat, aku tidak memberi belas kasih padamu." Ucap kaisar dengan tajam, lalu meninggalkan tempat.


"I-itu salah....ITU SALAH!! AKU BERSUMPAH BUKAN AKU YANG MELAKUKANNYA!! AKU MOHON TOLONG DENGARKAN AKU!!! SEKALI SAJA!!!" Aku berteriak dengan kencang setengah terisak.


"HUWAAAA!!!"


Sekali lagi, bahkan di tempat itu juga tidak ada satupun yang bersuara maupun mendengar ku.


⬛⚪⬛


Hari itu akhirnya tiba.


Dua penjaga datang kemudian membuka sel ku, lalu mereka membuka rantai kaki ku, dan menampakkan banyak memar di pergelangan kaki ku, hal ini karena rantai berat itu terus bertengger di kaki ku.


Setelah itu mereka menarik ku keluar dengan kasar dari sel, aku di tuntun ke sebuah lorong yang ujungnya sangat terang.


Ketika sampai, aku melihat sebuah panggung yang terbuat dari kayu dan di atas terdapat tali yang sudah di simpul untuk hukuman gantung.


Dan di sekitar panggung itu ada banyak orang yang merupakan rakyat roxane yang berkumpul.


Aku masih menatap tidak percaya dengan kejadian semua ini.


Hukuman mati ku bahkan di saksikan banyak orang, mereka mencerca ku dengan berbagai kalimat tuduhan atas perencanaan pembunuhan pada putri mahkota, yang dimana bukan aku pelakunya.


'Apa salah ku hingga mereka tega melakukan itu?'


Aku di tarik ke atas panggung, dan mereka menempatkan ku di depan simpul tali tambang yang cukup besar, di bawah kaki ku terdapat sebuah pintu kecil yang pasti akan membantu mencabut nyawaku.


Sang algojo mulai menempatkan simpul tali itu di leherku, ketika mereka hendak memberi aba-aba, tiba-tiba seseorang naik ke atas panggung kemudian berjalan ke hadapanku.


"Pendeta agung mathias." Sebut salah satu penjaga di dekat ku.


Pendeta mathias memberi hormat pada kaisar.


"Mohon maaf yang mulia, sebelum pelaksanaan hukuman mati ini, izinkan saya mendoakan terlebih dahulu gadis ini." Ujar sang pendeta.


Sang kaisar mengangguk, kemudian pendeta mathias bergerak dan berdiri tepat di hadapan ku, pria itu membuka sebuah buku kitab, dan mulai membacakan doa padaku.


Aku tidak tahu harus bereaksi apa, tapi mendengarnya cukup membuatku sedikit lebih tenang, setelah selesai membaca doa pria itu melepaskan sebuah kalung dengan liontin simbol kuil, kemudian mengalungkan nya padaku.


Aku tidak mengerti atas semua tindakannya, dia hanya tersenyum lembut padaku dengan sorot mata sedih.


"Maafkan aku tidak bisa membantu mu, tetapi," pria itu menahan ucapannya dan menatap ku sendu, "Jika memang omnia berbaik hati padamu, aku yakin dia melakukan sesuatu yang terbaik untuk mu." Jelas nya.


Kemudian pria itu berjalan dan berdiri cukup jauh di belakang ku.


Aku mengatupkan gigiku dan menatap kearah depanku, lalu mataku membesar, aku melihat orang tua ku yang duduk dan menatap ku dengan santai seakan tidak mempermasalahkan hal ini, kemudian tidak jauh dari sana aku melihat reithel yang duduk bersama seorang wanita, dari pakaiannya ia pasti merupakan seorang bangsawan.


Aku pernah mendengar sebuah rumor bahwa reithel berselingkuh, tetapi aku tidak pernah percaya, tetapi sekarang.


"Haha." Aku tertawa miris pada diriku.


Netra biru muda reithel bertemu dengan netra merah darah milikku, aku menatap nya dengan senyum nanar.


"Seharusnya aku tidak mengharapkan apapun..." Aku berguman.


"Hukuman mati di mulai!" Ucap sang algojo, semua orang langsung bersorak seakan senang dengan kematianku.


Detik-detik kematian ku, aku berkata, entah itu pada diriku atau pada dewa.


"Jika aku memiliki kesempatan, maka aku akan mengubah semua hidupku."


-


-


-