Not An Angel

Not An Angel
26



Happy reading!


-


-


-


Hari ini rapat besar kedua para guru akademi, membahas mengenai ujian kelulusan untuk angkatan penyihir akhir tahun ini dan ujian masuk akademi nanti.


Dominic datang ke ruang rapat, beberapa guru masih belum berkumpul, tetapi pria itu datang lebih awal sebenarnya bukan karena dia adalah seorang guru yang teladan.


Dia hanya ingin tidur sebentar sebelum rapat tiba.


Dominic memilih posisi yang tidak terlalu terlihat oleh kepala sekolah, pria itu tidak terlalu suka mencolok ketika menjadi guru, karena dia benci situasi dimana dia harus bersikap formal, rasanya menyesakkan.


Pria bersurai jingga itu menyandarkan tubuh nya ke kursi yang ia duduki, manik tosca nya akan tertutup untuk istirahat sementara.


Tetapi hal itu batal ketika sebuah buku di lempar ke perutnya, membuat rasa kantuknya hilang seketika.


"Aku tahu kau membenciku, tapi tidak seperti ini caranya, reithel..."


Pria bernetra biru itu duduk di samping dominic.


"Hespirvit mu pergi kemana?" Tanya reithel, dominic menaikkan sebelah alisnya.


"Aku melihat Valkyrie, arjuna dan achilles pergi." Dominic tersenyum sembari mendengus.


"Matamu tajam sekali tuan castillon~"


"Jawab saja." Reithel membalas singkat, dominic bangkit dan menegakkan duduknya, kemudian ia melipat kakinya bertumpu satu sama lain.


"Warzerten beraktivitas di hutan eastwood, aku berniat mencari informasi dari mereka, tapi tampaknya mereka memasang vocorgi di sekitar hutan yang membuat mereka tahu keberadaan hespirvit.


Awalnya aku meminta mereka mencari pemimpin kelompok di bagian itu tetapi, pemimpin mereka bunuh diri dengan sihir kutukan, dan anggota lainnya tampaknya juga di kendalikan ingatannya, karena achilles tidak berhasil melacak informasi dari ingatan mereka."


Reithel mendengus setelah mendengar penjelasan dominic.


"Mereka benar-benar menutup mulut mereka." Balas reithel, dominic mengedikkan bahunya.


"Setidaknya kita tahu bahwa kita harus lebih berhati-hati, karena kali ini anggota mereka benar-benar di kendalikan dengan sihir kutukan, jika kita asal bertindak itu akan menimbulkan masalah yang lebih rumit." Dominic kembali menjelaskan.


"Apa hanya itu?" Dominic menggeleng.


"Aku meminta mereka membawa bukti apapun yang ada di lokasi, kalau kau mau melihat, kau bisa datang setelah rapat ini." Reithel terdiam sebentar.


"Baiklah..."


⬛⚪⬛


Aku benar-benar terkejut.


Master datang bersama reithel, tetapi pria itu hanya diam dan menatap ke arah lain, sedangkan master memeriksa buku daftar peminjaman.


"Sepertinya semakin lama banyak yang meminjam buku ya, baguslah." Kemudian master menutup buku itu dan memberikan nya padaku.


"Kerja bagus eloise, dah aku ke ruangan ku dulu." Master berjalan masuk diikuti reithel, aku tidak ingin menatapnya dan memilih menatap kaki ku.


Setelah keberadaan mereka sudah jauh, aku mendengus panjang.


Entah kenapa ketika reithel berada di dekat ku, rasa tidak nyaman menjalar ke seluruh tubuhku, bukan rasa takut ataupun benci, karena Walaupun dia adalah reithel, tetapi reithel saat ini bukanlah reithel saat itu.


Karena itu rasa dendam padanya juga tidak begitu besar, aku hanya tidak ingin bertemu dengannya lagi.


Tetapi aku harus tetap berusaha untuk terbiasa, mengingat reithel adalah salah satu guru di akademi.


Aku hanya bisa berharap dia bukanlah guru yang akan terus aku temui nanti.


Aku menoleh ke arah jam besar perpustakaan, sebentar lagi jam makan malam tiba.


Karena reithel ada disini, aku harus membuat tiga set makan malam.


Aku menaruh buku daftar peminjaman, lalu berjalan menuju dapur.


Aku memeriksa persediaan makanan, dan di kotak pendingin aku melihat daging-daging segar, tampaknya martha baru mengisi bahan makanan lagi.


Karena melihat daging, aku berpikir untuk memasak stik daging dan sup krim manis.


Aku mulai membuat masakan nya, memotong daging, kemudian membumbuinya, aku merebus beberapa sayur untuk di sajikan bersama dagingnya.


Ketika daging itu selesai ku panggang, aku menaruh ketiga daging itu ke piring, dan menaruh beberapa sayur seperti brokoli dan wortel, tapi aku teringat kalau reithel tidak menyukai wortel, sehingga aku tidak menambahkan wortel pada piring stiknya.


Sup krim nya juga sudah jadi, aku juga ingat kalau reithel tidak begitu menyukai manis, sehingga aku menambahkan garam agar sup itu tidak begitu manis.


Aku mengambil kereta makanan kecil lalu memasukkan makanan yang baru saja selesai ku buat, kemudian aku mengisi sebuah teko dengan air dan mengambil 3 gelas.


Lalu aku mendorong kereta itu menuju ruangan master.


⬛⚪⬛


"Yah eloise membantuku merapihkan semua ini." Reithel terdiam dan menoleh ke arah lain.


"Kapan hespirvit mu kembali?" Tanya reithel, dominic terdiam sembari memegang dagunya.


"Mereka bilang sih sebentar lagi, tunggu saja, kau tidak buru-buru kan?" Tanya dominic, reithel menggeleng.


Tok-tok


"Master..." Reithel mengangkat kedua alisnya terkejut, netra biru nya menatap ke arah pintu, sedangkan dominic hanya tersenyum.


"Masuk eloise." Balas dominic, kemudian pintu di buka dan tampak eloise yang menbawa kereta makanan kecil.


Harum masakkan seketika tercium di hidung reithel dan dominic.


"Wahh kau sudah masak, oh iya sudah waktunya makan malam yah, ayo sini." Ujar dominic, kemudian pria itu dengan sihirnya menarik sebuah meja kosong dan ada 4 kursi yang di tumpuk di pojok ruangan, dominic mengambil 3 dan menatanya di dekat meja.


Jadilah meja makan dadakan.


"A-ah a-aku akan makan di kamar ku." Ujar eloise.


"Eh? Kau serius? Kenapa tidak makan disini saja? Kan lebih enak kalau bersama." Balas dominic, eloise menautkan tangannya satu sama lain dan menatap ke arah lain seakan berusaha agar reithel tidak terjangkau pada matanya.


"Ti-tidak, ku pikir sebaiknya aku–"


Reithel seketika memotong pembicaraan eloise dengan mengangkat seluruh masakan yang ada di kereta dengan sihir dan menatanya di atas meja.


"Dominic sudah memberikan tempat, kau makan saja disini." Ujar reithel, awalnya eloise tampak ragu, tapi setelah mendengus pelan gadis itu mengangguk.


"...ba....iklah..." Balas eloise, dominic tersenyum.


"Baiklah makanan ku yang mana?" Tanya dominic.


"Ah yang di tengah, dan duke castillon di sebelah sana." Unjuk eloise dengan sopan letak makanan mereka.


Dominic dan reithel duduk di dekat makanan yang sudah di tentukan, diikuti eloise, kemudian mereka mulai menyantap makanan nya.


Ketika reithel memakan makanan yang eloise buat, entah kenapa rasa hangat menjalar di hatinya, seakan makanan itu menjadi makanan ter enak yang ia makan.


Pria itu menatap sendu makanan itu sembari terus memakannya, sedangkan eloise terus fokus dengan makanannya.


Dominic menatap ke arah makanan reithel kemudian makanan eloise lalu dirinya.


"Hm? Aku baru sadar, reithel tidak ada wortel di stiknya, apa kita kehabisan wortel?" Tanya dominic.


"Ah tidak, duke castillon tidak suka wortel, jadi aku tidak memberi wortel." Jawab eloise.


"Ohh, hebat sekali kau bisa tahu." Ujar dominic, seketika eloise langsung merasa tersambar petir.


Dia baru saja berbicara seakan dia tahu banyak soal reithel bahkan seperti makanan, membuat eloise merasa menggali lubang kuburnya sendiri.


Untungnya dominic tidak menanyakan apapun lagi dan kembali menyantap makanannya, sehingga eloise tidak perlu repot-repot membuat alasan agar identitas sebagai mantan tunangan reithel tidak ketahuan.


Eloise mendengus panjang, kemudian kembali menyantap makanannya, reithel melirik sebentar eloise.


Stik miliknya sudah habis, ia pun menyantap sup krim yang menjadi pendamping stik daging ini.


Ketika sesuap reithel menyantap sup itu, ia terkejut, karena awalnya reithel berpikir kalau sup itu akan manis, ternyata tidak, bahkan sesuai dengan seleranya.


Pria itu kembali melirik eloise yang masih sibuk dengan makanannya.


Mendadak dada reithel sedikit sesak, dan terbesit di benaknya sosok eloise ketika tersenyum dan menyambut nya pulang di mansion miliknya.


Semenjak eloise keluar dari mansion Garthside, eloise tidak pernah lagi ada di mansionnya, setelah reithel kembali dari akademi, rasanya mansion Castillon sangat dingin.


Dari situ reithel baru menyadari, bahwa keberadaan eloise ternyata cukup penting untuknya.


Seketika, ia merindukan sosok eloise yang tersenyum untuknya.


"Aku tidak ingin menikah dengan duke castillon."


"Aku ingin putus dari duke castillon."


Ia teringat kembali ketika eloise mengatakan hal itu, jujur saja itu sangat membuat reithel terkejut.


Entah apa yang terjadi pada eloise, reithel saat itu merasa kalau hati eloise tidak lagi bersedia untuknya.


Sorot hangat mata ruby padanya saat itu.


Hilang seketika.


-


-


-