
Happy reading!
-
-
-
Kemarin, aku sudah menyelesaikan tugas, yaitu mencatat seluruh buku yg sudah ku rapihkan, aku sedikit memikirkan kedatangan ksatria roxane, seingatku seharusnya kakak sudah menjadi ksatria lebih cepat dari yang ksatria umumnya, karena kakak sangatlah berbakat terutama di pedang, tetapi dia tidak datang.
Apa mereka mungkin bukan utusan pangeran raven?
Dan omong- omong hari ini aku libur, aku memutuskan untuk menghafal seluruh catatan buku kemarin.
Tetapi aku sudah menghafal seluruhnya, yah aku cukup pintar terutama dalam menghafal, karena sejak kecil dulu di mansion Garthside aku selalu belajar segala pengetahuan terutama mengenai bangsawan.
Aku menoleh ke jam dinding yang berada di kamar ku, jarumnya menunjukkan pukul 11 siang lewat, awalnya aku ingin belajar tetapi menghafal semua tadi sedikit membuat kepala ku sakit, jadi aku memilih untuk istirahat dari buku sebentar.
Tapi, aku merasa bosan.
"Waktu makan siang masih lama." Guman ku, aku berpikir untuk pergi ke ruangan master dominic.
Malam tadi dia juga belum pulang hingga aku bangun pagi, aku sempat memeriksa ruangannya, masih kosong tidak ada seorang pun.
Walaupun dia bilang tidak perlu menunggu nya, tapi tetap saja aku merasa khawatir dan tidak tenang.
Aku bangkit dan memakai jaket ku, hari ini aku mengenakan gaun merah sederhana, di mansion aku hanya membawa gaun merah, semua gaun itu adalah pembelian kakak ku.
Marchioness Garthside selalu membelikan aku gaun yang mewah dengan uang reithel, dulu aku sering memakai nya walaupun menyesakkan tapi aku tetap melakukannya demi reithel dulu, dan tidak pernah memakai gaun dari kakak ku, aku sedikit merasa bersalah soal itu.
Tapi sekarang aku memakai nya, dan gaun ini lebih nyaman, kakak ku memang lebih mengetahui soal diri ku di banding kan aku sendiri.
Setelah berkaca dan merapikan rambut sebentar, aku keluar dari kamar menuju ruangan master dominic, aku mengetuk pintu tapi tidak ada jawaban, aku mendengus.
Sepertinya memang tidak ada orang, aku membalikkan tubuhku, tubuhku membeku ketika aku melihat seseorang di belakang ku yang muncul secara tiba-tiba.
"Eloise, kebetulan sekali." Master dominic menyapa, seketika aku langsung menghembuskan nafasku dan terengah engah, karena sekali lagi, kemunculan nya membuat jantung ku seketika berhenti sebentar.
"Kau tidak apa-apa eloise?" Aku mendengar suara achilles, dari belakang master.
"Untuk kesekian kalinya master, aku mohon, tolong beri tanda kemunculan mu." Ujar ku.
"Mau bagaimana lagi, begitu cara kerja sihirnya." Sembari mengedikkan bahunya, aku menghela nafas lebih panjang.
Ini kedua kalinya aku mendengar kalimat itu, aku harus cepat terbiasa, tapi sangat sulit, karena aku tidak bisa merasakan keberadaan nya hingga ia terlihat di mataku.
"Jika kau tidak ingin terus terkejut dengan kemunculan ku, maka cepat-cepat lah belajar sihir secara langsung, dengan begitu kau bisa merasakan keberadaan ku tanpa perlu mata mu." Ujar pria itu sembari tersenyum, aku hanya menpautkan bibir ku sembari alis ku mengerut.
"Omong-omong master, apa master sudah makan? Mau ku siapkan makan siang sekarang?" Pria itu mengibas tangan kanan nya.
"Tidak perlu, aku tidak lapar, hari ini ada tamu penting yang datang, kau bisa makan siang duluan kalau kau lapar, tapi aku minta siapkan teh dan kudapan dulu, bisa?" Aku mengangguk.
"Baguslah." Master menepuk tangannya sekali.
"Tumben sekali tuan.." ujar achilles, aku menoleh pada achilles dengan pandangan tanya.
"Yah setidaknya sekali-kali aku ingin menyambutnya dengan hangat bukan, ku dengar dia juga baru kembali dari perbatasan kekaisaran roxane, di kota lochby untuk mengusir musuh, dia pasti lelah sekali, selain itu." Master dominic melihat ke arah ku.
"Aku juga ingin menunjukkan sesuatu pada mereka." Sambil tersenyum padaku penuh arti.
⬛⚪⬛
Aku kini tengah di dapur dan sedang meracik adonan, lanjutannya master tidak mengatakan apapun, kemudian langsung meminta ku untuk membuat kudapan.
Aku memeriksa kulkas dan seluruh lemari dapur, memang tidak ada kudapan simpanan, walaupun master menyukai makanan manis.
Aku memutuskan untuk membuat kue coklat, dan kue kering mentega.
Aku menuang adonan kue coklat ke dalam cetakan dan menaruh mangkok untuk membuat adonan ke dalam wastafel.
Harum manis mentega menyeruak keluar ketika kue kering itu keluar kan, aku tersenyum melihat hasilnya yang sempurna, kemudian aku menaruh adonan kue coklat dalam pemanggang.
Sembari menunggu kue coklat matang, aku membuat krim kocok untuk lapisan kue coklat tersebut, setelah beberapa waktu kemudian.
Kue coklat sudah matang, aku melapisi kue itu dengan krim putih kocok dan di hias dengan buah stroberi.
Lalu aku menyajikan kue kering yang sudah ku dinginkan ke sebuah piring, lalu menaruh piring itu di meja di samping kue coklat yang ku buat.
Aku tersenyum puas melihat masakan yang ku buat, lalu aku mendengar sebuah langkah kaki, aku menoleh ke arah lorong dan melihat achilles datang.
"Oh Achilles, apakah tamu nya sudah datang?" Pria itu mengangguk, aku berjalan menuju sisi lain dapur dan mengambil sebuah pisau dan piring.
"Ada berapa tamu yang datang achilles?"
"Ada 5, bau nya harum sekali, eloise pandai memasak ya." Pria itu memuji, aku tersenyum.
"Terima kasih." Ujar ku.
"Kalau begitu, 5 piring untuk tamu 1 piring untuk master." Aku mengambil 6 buah piring dari sebuah lemari di dapur, dan mengambil sendok kecil.
Setelah memotong sesuai jumlah aku menaruh kue kering dan kue coklat yang sudah di potong ke sebuah nampan dan menaruh nampan itu ke kereta makanan kecil.
Lalu aku mengambil sebuah 2 teko berbeda ukuran dan 6 buah cangkir, aku membuat teh di teko besar.
Aku membuat teh earl gray, teh yang paling populer di kalangan bangsawan.
Walaupun aku tidak tahu pasti siapa tamu nya, tapi ku pikir aku harus menyajikan yang terbaik, dan dari perkataan master, seperti nya ini adalah tamu cukup penting dan teman dekat master, sebagai murid dan asisten aku harus memberi kesan baik.
Setelah selesai membuat teh nya aku menaruh seluruh perlengkapan teh di kereta makanan kecil di rak kedua.
Awalnya aku hendak membawa kereta tersebut, tapi achilles menahan tanganku.
"Biar aku saja eloise." Ujar nya.
"Oh baiklah terima kasih achilles, kalau begitu aku akan kembali ke kamar ku, kau bisa panggil aku jika ada keperluan lain." Balas ku hendak pergi.
"Ah tidak, tuan bilang Eloise juga harus ikut." Achilles menahan ku.
Aku menoleh mengangkat kedua alis ku, kemudian mengangguk, dan berjalan mengikuti achilles.
Kami sampai di sebuah pintu di ruang utama perpustakaan, aku tahu bahwa di ruang utama perpustakaan ada pintu ini, tapi aku tidak pernah memasuki nya, karena aku pikir itu bukan hak ku untuk asal masuk tanpa izin.
Achilles mengetuk pintu.
"Masuk." Aku mendengar master dominic menyaut ketukan pintu achilles, pria itu membuka pintunya kemudian membawa masuk kereta makanan tadi, sedangkan aku mengekor di belakangnya, aku melihat master dominic duduk di sebuah sofa besar, dan kedua sisi sofa itu ada sofa lain yang ukuran nya lebih panjang.
Manik merah ku membesar kala melihat tamu yang datang, karena sangat tidak ku duga.
"Eloise?"
"Kakak..." Aku mengucap pelan kata itu, kemudian mataku melihat tiga ksatria kemarin datang, kini mereka duduk di sofa yang berada di sebelah kanan, lalu alis mataku menurun kala melihat orang yang duduk di samping kakak di sofa sebelah kiri.
Pria berambut coklat kemerahan yang cukup panjang dengan manik zamrud yang sorotnya tajam.
Pangeran kedua dari kekaisaran roxane.
Yang sangat berperan penting dalam keamanan dan perang di kekaisaran.
Raven Blackwell Roxane.
-
-
-