
Happy Reading!
-
-
-
Raven meminum teh dari cangkir nya, lalu menaruh nya di meja, kemudian manik zamrudnya menatap ke arah dominic, pria itu menunggu sesuatu, tapi dominic tidak melakukan atau mengatakan apapun selain menyantap kudapannya dan perihal topik terakhir.
Pria itu mendengus, lalu membuka mulutnya, "dominic, kau bilang mau menunjukkan sesuatu, apa yang ingin kau tunjukkan?" Raven menegur, dominic menoleh dan terdiam sebentar.
"Ahh, itu maksudku, kau lihat tadi?" Ujarnya membuat alis raven berkerut tidak mengerti.
"Eloise, kau lihat kan?" Dominic memperjelas maksudnya, tapi tetap saja raven tidak dapat menangkap maksud pria itu, dominic menghela nafas.
"Dia adalah murid ku." Ujar dominic, raven mengangkat kedua alisnya.
"Itu cukup mengejutkan, kau menolak kakak ku tapi kau menerima gadis itu." Ujar raven, dominic membalasnya dengan senyum samar, kemudian ia memberi gestur pada achilles untuk menambah teh nya.
"Eh tuan dominic menolak putra mahkota?" Tanya tristan, harley dan feitan seketika melirik tristan tajam, menyadari kedua temannya tristan memberi tatapan bertanya.
Raven tidak menanggapi apapun, dan hanya menatap teh di cangkirnya, itu sedikit membuat harley lega karena raven tidak memarahi mereka karena ketidaksopanan tristan.
Dominic hanya tertawa pelan mendengar pertanyaan tristan, membuat ketiga ksatria itu sedikit kebingungan, raven kembali menoleh ke arah dominic.
"Alasannya?" Tanya singkat pria itu, raven sebenarnya sedikit terkejut, karena ia cukup tahu banyak soal dominic, si penyihir terkuat di kekaisaran roxane, putra mahkota, kakak dari raven, gionard Darnfroz Roxane pernah mengajukan diri sebagai murid dominic tapi dominic menolak nya dengan mengatakan, gionard tidak akan bisa memenuhi ekspektasi nya.
Mungkin sebagian orang berpikir itu sangat lancang mengatakan hal itu pada seorang pangeran yang akan menjadi kaisar di masa depan, tetapi dominic bukanlah penyihir biasa, ia mampu menghancurkan satu kerajaan maupun kekaisaran hanya dengan dirinya seorang diri, inilah kenapa keluarga kekaisaran tidak mengambil masalah itu lebih serius, karena membuat marah dominic itu sama saja dengan bunuh diri.
Kaisar gellius sudah mengirimkan surat ajuan menjadi penyihir agung pada dominic agar pria itu mengabdi pada kekaisaran, tetapi sampai sekarang dominic tidak membalas apapun, walau begitu kaisar tetap menghormati dominic, karena walaupun dominic tidak menjadi penyihir agung, setidaknya pria itu tidak akan mengancam kekaisaran selama keluarga kekaisaran tidak memancing dominic.
Dan sekarang mendengar dominic memiliki murid yang notabene nya bukanlah seorang bangsawan bahkan dia adalah seorang gadis rasanya aneh sekali.
"Karena dia punya potensi menjadi penyihir agung." Jawab dominic sembari meminum teh nya.
"Apa?" Ucap tristan dan Harley bersamaan, sedangkan raven dan feitan mengangkat kedua alisnya.
"Jangan bilang penyihir agung yang kau maksud untuk menghancurkan jantung ketujuh penyihir setelah kehancuran, adalah dia?" Raven memastikan, dan dominic mengangguk untuk membenarkan itu.
"Darimana kau bisa mengetahui hal itu?" Tanya raven Lagi, dominic tertawa pelan dan menatap raven dengan sorot misterius.
"Apa kau meragukan mataku pangeran?" Tanya pria itu, raven menurunkan alisnya, dan mendengus, pria itu memilih tidak menjawab nya.
"Berapa lama?" Dominic mengangkat kedua alisnya mendengar pertanyaan raven.
"Berapa lama gadis itu bisa mampu menjadi seorang penyihir agung?" Raven memperjelas.
"Mungkin sekitar 4 tahunan? Semuanya tergantung tekad gadis itu." Jawab pria itu membuat alis raven mengerut, dan mendengus keras.
"Yang benar saja, bukankah kita tidak punya waktu? Kenapa tidak kau saja yang mencari dan menghancurkan jantung ketujuh penyihir setelah kehancuran itu?" Tanya raven tidak mengerti pikiran dominic, raven adalah tipe pria yang serius dan kurang rasional, sehingga itu membuatnya sedikit tidak sabaran, dan hal itu sedikit membuat kewalahan para ksatria yang berada di tim raven.
"Bukankah sudah ku bilang, sesuatu yang dilakukan tidak pada waktunya tidak akan menghasilkan sesuatu yang baik, jadi tenang saja, tetapi tetap waspada, saat ini kita tidak bisa melakukan apapun selain menunggu." Jelas dominic sembari mengibas-ngibas tangannya, raven tampak berusaha menenangkan dirinya.
Ia tidak ingin ada peperangan yang terjadi di kekaisaran, ia tidak ingin ada banyak orang yang meninggal sia-sia hanya karena ulah warzerten, karena itu setelah mendengar ramalan dari kuil dimana akan terjadi peperangan, raven yang melindungi kekaisaran layaknya anjing penjaga langsung mencari tahu hal itu.
Pada awalnya saat penyelidikan, ia berpikir kalau peperangan itu berasal dari kerajaan yang berkhianat atas janji perdamaian dengan kekaisaran, tetapi kaisar gellius mengatakan.
Pertemuan pertama raven dengan dominic saat itu berada di kuil, kebetulan pria itu menemui ayah rohani nya, pendeta agung mathias, dan di situlah pertemuan terjadi.
Kesan pertama dominic yang dilihat raven adalah.
"Dia adalah orang yang berbahaya."
Tok-tok
Terdengar suara ketukan dari pintu, achilles datang dan membuka pintu itu, tampak eloise dan shannon datang.
Mata raven langsung tertuju pada eloise, melihat hal itu eloise menenggak ludah, gadis itu sedikit takut dengan raven, terutama ada rasa sesak di dadanya yang mengingat dimana raven membunuh rinni di hadapannya.
Eloise memilih menundukkan pandangannya, kemudian raven menoleh ke arah lain.
"Oh kalian sudah selesai, bagaimana?" Tanya dominic basa-basi.
"Ya begitu lah, setidaknya semuanya membaik." Ujar shannon, dominic tersenyum.
"Kau tidak mengenalkan adikmu pada kami?" Tritan bicara, shannon mengangkat kedua alisnya, kemudian menoleh ke arah eloise, gadis bermanik ruby itu mengangkat kedua alis nya, lalu matanya melirik ketiga ksatria yang tengah duduk di hadapan raven.
"Eloise kenalkan, mereka ada rekan setim ku, tristan, feitan adalah teman seangkatan di masa pelatihan sedangkan harley adalah senior kami di tim pangeran raven." Kemudian mata shannon mengarah pada ketiga ksatria itu.
"Dan kenalkan ini adikku." Shannon tersenyum, eloise membungkuk kan dirinya, ya karena secara kasta, eloise berada di bawah mereka karena mereka adalah ksatria.
"Eloise Somnivera, senang bertemu dengan anda." Ujar eloise.
"Ah tidak perlu formal pada kami, eloise kan adik shannon, kau bisa lebih santai dengan kami, omong-omong aku harley dexter versalion, senang bertemu dengan mu eloise." Harley tersenyum, eloise membalas anggukan dan senyum.
"Ah kalau aku tristan gouw dan ini feitan gouw, sama seperti harley, kau tidak perlu formal ya, senang bertemu denganmu eloise!" Ucap tristan dengan senang sembari merangkul feitan.
Sedangkan pria bermata amber itu hanya mendengus dan mengangkat tangannya menyapa eloise.
Eloise membalas senyum tristan, melihat hal itu dominic ikut tersenyum kemudian melirik raven.
"Pangeran tidak memperkenalkan diri?" Tanya dominic dan mengangkat sebelah alisnya, raven melirik dan mengerutkan dahinya.
"Dia sudah tahu aku, dan aku sudah tahu dia, maka tidak perlu." Ujar raven singkat.
"Dingin sekali~" ucap dominic, raven mendengus, kemudian bangkit dari duduknya, diikuti ketiga ksatria di hadapannya.
"Pembicaraan nya sudah selesai kan? Kalau begitu kami pergi, tidak perlu mengantar kami, sampai jumpa." Dominic mengangguk, shannon membukakan pintu untuk raven, kemudian pangeran kedua itu berjalan keluar dari ruangan diikuti ketiga ksatria rekan setim shannon, ketika mereka keluar, mereka melambaikan tangan pada eloise, dan eloise membalasnya sembari tersenyum, terakhir shannon pergi, gadis itu memeluk adiknya.
"Aku akan kembali lagi nanti." Ujar nya lalu tersenyum, eloise mengangguk, kemudian shannon keluar dari ruangan.
Eloise terdiam menatap pintu dimana pangeran, para ksatria dan kakaknya pergi ke situ, dominic menepuk punggung eloise.
"Apa kau lelah?" Tanya dominic, eloise mengangkat kedua alisnya dan menggeleng, dominic tersenyum.
"Kalau begitu ayo bersihkan ruangan ku."
-
-
-