
Happy Reading!
-
-
-
Seorang pria bersurai hitam berjalan memasuki kuil, bersama dengan dua ksatria dan seorang pelayan, mereka hendak menuju ke ruangan pendeta mathias.
Mata pelayan itu menangkap sosok gadis berambut pirang yang familiar baginya.
"Tuan duke, bukan kah itu..." Sang pelayan mengunjuk pada gadis itu, dan Pria bersurai hitam yang di panggil duke itu menoleh ke arah yang di maksud pelayan itu.
Seorang gadis bersurai pirang dengan gaun panjang warna merah yang baru saja keluar dari ruangan pendeta mathias dan berjalan ke arah lain, alis nya bertautan menatap gadis itu.
Walau wajah nya tidak terlihat tapi dari tubuh ramping kecil dan rambut panjang pirang gelombang itu, ia dapat mengetahui siapa gadis itu.
"Sedang apa dia di sini?"
⬛⚪⬛
Aku sudah keluar dari kuil, dan kereta kuda yang ku tumpangi masih menunggu ku di dekat gerbang, aku menghampiri kereta kuda itu dan berbicara dengan pengemudinya.
"Louis." Panggil ku, pria paruh baya yang terlelap itu langsung bangun.
"Oh nona, apa nona sudah selesai? Maafkan saya karena tertidur." Aku menggeleng.
"Tidak apa-apa, maaf aku mengejutkan mu, omong-omong louis aku mau pergi ke akademi sihir besar violet fay, mungkin akan pulang lebih sore dari biasanya, apa kau tidak apa-apa?" Tanya ku.
"Oh nona tidak perlu mengkhawatirkan saya, saya siap mengantar nona kemanapun dan kapanpun." Ujar pria itu dengan tertawa, aku tersenyum.
"Baiklah kalau begitu, aku masuk." Ujar ku kemudian, louis membuka kan pintu kereta untukku, lalu aku melangkah kan kaki ku masuk.
"Baiklah nona, kita berangkat."
⬛⚪⬛
Butuh waktu sekitar setengah jam dan akhirnya aku sampai di wilayah akademi sihir besar violet fay, benar akademi ini sangat besar.
Karena terdapat banyak fasilitas di akademi ini, aku tidak mendengar banyak seberapa lengkapnya, tetapi dulu ketika aku masih menjadi wanita bangsawan yang aktif dengan lingkar sosial, aku sering datang ke pesta teh, dan salah satu dari teman yang mengundangku memiliki saudara yang bersekolah di akademi sihir ini dan menceritakan sedikit soal akademi ini.
Ada tiga area di akademi ini, yaitu area sekolah, area asrama dan area umum.
Area sekolah berisi fasilitas sekolah sedangkan area asrama berisi fasilitas asrama, kalau area umum merupakan area khusus dimana area tersebut bisa di kunjungi oleh orang luar selain murid akademi.
Kereta kuda ku sampai di gerbang besar violet fay, seorang penjaga mendekati jendela kereta ku.
"Katakan tujuan anda nona." Ujar penjaga itu.
"Saya ingin ke area umum, untuk mengunjungi perpustakaan violet fay." Jawab ku singkat, penjaga itu mengangguk.
Kemudian ia berjalan ke arah louis, "Nanti anda bisa pergi ke arah kanan tuan." Unjuk penjaga itu mengarahkan louis.
"Baik, terima kasih." Jawab louis lalu melanjutkan perjalanan, jantung ku entah kenapa berdegup kencang, rasanya aku sangat antusias dengan hal ini.
Tidak lama kemudian, aku sampai di gedung perpustakaan violet fay, aku terpukau dengan besar nya gedung ini, ada kemungkinan lebih besar dari mansion Garthside.
"Saya akan menunggu di sebelah sana nona." Unjuk louis di sebuah area kosong depan gedung, aku mengangguk, kemudian melangkah masuk ke arah gedung.
Kupikir perpustakaan ini sangat ramai tapi nyatanya.
"Sepi sekali, dan berantakan..." Ucapku pelan, seperti dugaan ku perpustakaan ini sangat besar, tetapi buku-buku nya tidak tertata rapih dan bertumpuk tidak di lemarinya malah beberapa di antaranya berserakan di lantai.
'Sekarang aku tidak bisa membayangkan sama sekali seperti apa tuan dominic hartmann yang di maksud pendeta mathias...'
Aku menelusuri lebih dalam, gedung ini memiliki dua lantai terbuka, yang seharusnya diisi buku dengan rapih, dan ada dua lorong, seperti nya itu menuju ke tempat lain, tetapi aku mencari sosok tuan dominic hartmann yang di maksud.
Tapi aku tidak melihat seorang pun selain buku-buku disini.
'Sepertinya aku harus menunggu disini.'
Aku hendak mencari tempat untuk duduk, tetapi niat itu ku urungi ketika aku melihat buku-buku yang berantakan ini.
'Setidaknya aku bereskan sedikit.'
Aku mendekati salah satu tumpukan buku yang hampir setinggi ku, lalu aku mengambil buku paling atas, dan membaca judulnya.
"Sejarah sihir." Guman ku pelan.
Aku melihat ke arah lemari buku yang letaknya tidak jauh dari tempatku berdiri dan beberapa celah kosong pada lemari itu.
Aku berjalan mendekati lemari itu dan membaca judul buku yang berada di sana, dan semuanya mengenai sihir.
Aku menatap tumpukkan buku yang tadi.
'Ada kemungkinan semua buku ini berkaitan hal yang sama.'
"Baiklah kita rapihkan yang ini dulu, tetapi kita harus menurunkan buku yang di lemari ini dan mengurutkan ulang." Aku berbicara sendiri.
Setelah selesai menurunkan seluruh buku itu, kemudian aku mengelompokkan buku itu lalu merapihkan seluruhnya ke lemari, butuh waktu sekitar sejam, akhirnya aku menyelesaikan satu lemari.
"Hahaha, lihat ini sangat rapih, kerja bagus diriku." Ujarku sambil menepuk-nepuk bahu ku sendiri.
Aku mendengus pelan kemudian terpikir oleh sosok tuan dominic hartmann yang di maksud pendeta agung mathias.
'Pendeta mathias bilang, beliau memang tinggal disini, tapi aku tidak melihat penampakan nya sama sekali, bahkan di sini tidak ada seorang pun.'
"Wah Benar-benar hebat, kerja bagus nona, terima kasih telah meringankan pekerjaan ku." Ucap seseorang sembari mengelus kepalaku, seketika gerak ku berhenti dan aku terdiam, aku menoleh ke sosok yang tiba-tiba muncul di sampingku.
Sosok pria tinggi besar bersurai jingga cerah dengan manik mata hijau tosca yang tajam, pria itu menatap ku dan aku terkejut dalam diam menatapnya.
"Hei?"
"UWAHHHHHHH!!!!!" aku langsung menjauh dan memberi jarak dengan pria itu.
"Si-si-si-siapa kau??" Tanya ku dengan sangat terbata-bata.
"Oh maaf, apa aku mengejutkan mu?" Ujar nya sambil berjalan pelan menghampiri ku.
"Sangat..." Aku menekan kata ku dengan pelan, kemudian mendengus pelan dan mengelus dada.
"Tu-tunggu! Katakan siapa kau." Aku sedikit panik melihat dia memotong jarakku sedikit demi sedikit.
"Kau mencariku bukan, mathias yang memberi tahu ku." Jelas nya singkat seketika aku terdiam.
'hah? Dia memberitahu, kapan??'
"Barusan dia mengirimkan anigi miliknya untuk memberitahu ku." Tambahnya seakan membaca pikiranku.
"Anigi?" Tanya ku bingung.
"Kau tidak tahu? Ku pikir kau tahu, padahal itu hal sangat dasar dalam sihir." Ucapnya, Alisku mengerut menatapnya tidak mengerti.
"Baiklah, langsung saja agar tidak menjadi rumit, perkenalkan, aku dominic hartmann, penjaga perpustakaan ini sekaligus guru yang mengajar di akademi ini.
Mathias memberitahu ku bahwa kau butuh bantuan, sebenarnya aku malas, tetapi dia bilang kasus mu sangat menarik, jadi ceritakan secara singkat dengan satu kalimat." Pria itu menunjukkan jari telunjuk nya sembari tersenyum.
"Eh satu kalimat??" Aku terkejut mendengarnya, karena aku butuh banyak kalimat ketika menceritakan tentang diriku pada pendeta mathias.
"Cepat 10 detik dari sekarang, satuuu, duaaa." Pria itu mulai menghitung sembari mengayun-ngayunkan jari nya.
"Ah ituuu, tunggu sebentar!" Aku kebingungan, aku menatap ke berbagai arah secara acak.
"Limaaaa, enammmm." Hitungan nya semakin berkurang, sebenarnya orang ini benar-benar membuatku panik sekaligus kesal.
"AKU ADALAH ORANG YANG KEMBALI DARI MASA DEPAN!" ucapku dengan kencang.
"Kau tidak perlu berteriak." Ujar nya menaikkan sebelah alisnya.
"Kau membuatku panik...." Aku kembali menekan kalimat ku dengan pelan dan menatapnya sedikit jengkel, pria itu menghela nafas pelan.
"Buktinya?" Tanya pria itu, aku mengangkat kedua alisku.
"Buktikan, coba ceritakan salah satu yang akan terjadi di masa depan, apapun itu.
Aku tidak bisa langsung mempercayai mu, karena kau bisa saja berbohong, aku bukan Mathias yang polos dan baik hati ya." Jelasnya, sembari mengangkat kedua bahunya.
Aku terdiam sebentar.
'Wajar sih jika dia menanyakan hal itu.'
Aku tahu satu hal yang akan pasti terjadi, dan itu akan berpengaruh pada kekaisaran.
"Yang mulia kaisar gellius....akan mulai sakit keras empat tahun lagi."
Benar, saat hukuman matiku di putuskan olehnya, beberapa hari setelahnya aku mendengar dari sipir penjara kalau kaisar gellius sakit keras, kondisinya belum terlalu parah, ia masih bisa menghadiri beberapa hal penting, tetapi dengan syarat dia harus di awasi tabib dan meminum obat yang banyak.
Saat itu kondisi kekaisaran juga menjadi semakin kacau karena putri charol belum sadar hingga hukman mati ku dilakukan.
Aku terdiam menundukkan pandangan ku, sepertinya ia tidak akan percaya.
"Ternyata benar, baiklah aku akan membantumu." Ujarnya dengan ringan.
Aku mengangkat kepalaku dan menatapnya dengan mata berbinar-binar, perasaan ku sedikit lega karena ia bereaksi seperti pendeta mathias.
"Tentu saja dengan syarat." Tambah pria itu dengan senyum nya yang sedikit membuat ku jengkel.
'Ahh....'
-
-
-